everyday’s tidbits

May 20, 2008

The Chronicles of Narnia: Prince Caspian

Filed under: Movie — mina @ 10:06 pm

Walt Disney Pictures & Walden Media
Sutradara: Andrew Adamson
Tagline: Everything you know is about to change forever.

Satu lagi film yang didasarkan pada sebuah buku, dan kali ini bukunya adalah salah satu dari serial klasik The Chronicles of Narnia oleh CS Lewis, yang terdiri dari 7 buku. Salah satu judul dari seri ini, The Lion, The Witch and the Wardrobe sudah difilmkan dan dirilis pada tahun 2005, dan cukup berhasil meraup keuntungan serta memenangkan Oscar untuk Best Make-Up. Aku sendiri menganggap film pertama tersebut so-and-so, dan walaupun pemainnya cakep-cakep, tetap saja aku beri bintang 3 (dari 5).

FIlm Prince Caspian ini masih dimainkan oleh 4 pemain utamanya dulu, yaitu William Moseley sebagai Peter, Anna Popplewell sebagai Susan, Skandar Keynes sebagai Edmund, dan Georgie Henley sebagai Lucy. Tentu saja mereka kelihatan sudah lebih dewasa dan semakin keren. Lucy yang dulu masih imut sekarang sudah lebih besar dan cantik. Susan pipinya semakin endut dan bibirnya semakin seksi, dan Edmund, ya ampun cakep bener, pengen mengijon deh. Skandar Keynes adalah keturunan Lebanon, dan menurut isu, anak ini menyatakan dirinya adalah ateis, ya ampun. My cousin bilang, wajah Edmund kok mirip dengan salah satu tokoh keren Adam Banks (dimainkan oleh Vincent Larusso) di trilogi klasik Mighty Ducks. [Dia mah setiap orang cakep berwajah ke-Inggris-Inggrisan langsung teringat si Larusso ini.] Kenapa ya orang-orang Inggris ini cakep-cakep?

Ah sudahlah, balik ke film ini. Prince Caspian adalah buku ke-4 (secara kronologis) dari serial ini, entah kenapa yang ini yang dipilih, tapi diduga karena inilah urutan logis sesudah The Lion, The Witch and the Wardrobe, sekaligus menyempati agar pemainnya tidak terlalu tua. Film fantasi ini berdurasi 2 jam 35 menit.

Cerita dimulai dengan Prince Caspian (Ben Barnes) yang terpaksa melarikan diri dari istana Telmarine karena pamannya, Lord Miraz (Sergio Castellitto), bermaksud membunuhnya untuk menyerahkan tahta yang seharusnya menjadi milik Caspian kepada anak laki-lakinya yang baru lahir. Pelariannya membawa Caspian bertemu dengan makhluk-makhluk dari dunia Narnia yang dianggap sudah punah, karena sudah ratusan tahun ditinggalkan oleh keempat Raja dan Ratunya dan terpinggirkan oleh tekanan orang-orang Telmarine. Terjepit di antara makhluk-makhluk Narnia dan para prajurit yang mengejarnya, Caspian mengeluarkan sebuah terompet (horn) yang diberikan gurunya, Doctor Cornelius, dengan pesan bahwa benda itu hanya boleh digunakan kalau berada dalam keadaan darurat. Terompet itu ditiup, dan layar berganti ke dunia nyata.

Anak-anak keluarga Pevensie sedang duduk di kursi stasiun di London, dan nampak keren. Aku sudah bilang belum bahwa Edmund, yang pemainnya di dunia nyata hebat taekwondo ini, jadi jauuuh lebih cakep daripada film Narnia yang pertama? Bagi kalian yang familiar dengan cerita Narnia, atau sudah menonton film pertamanya, tentu mengetahui bahwa terompet yang ditiup Caspian adalah terompet milik Susan yang digunakan untuk memberitahukan bahwa Narnia dalam bahaya dan memohon bantuan. Tiupan terompet ini mampu menarik keempat bersaudara Pevensie yang dulunya adalah Raja-raja dan Ratu-ratu Narnia, untuk kembali ke Narnia. Dulunya? Yayaya, rupanya dunia Narnia bergerak dalam hitungan jauh lebih cepat daripada dunia kita. One lifetime di Narnia mungkin hanya beberapa detik di dunia kita.

Cerita selanjutnya kemudian dipenuhi dengan berbagai perang memperebutkan tahta untuk Caspian, yang memiliki seluruh Narnia di pihaknya. Sebagai cerita anak, tentu sudah bisa diduga bagaimana endingnya, dengan Aslan yang selalu datang terakhir sebagai sang penyelamat, dan cairan “anti-death” dari Lucy. Tetapi film ini jelas dibikin untuk orang dewasa. Adegan-adegannya kelam dan perangnya penuh dengan adegan-adegan kekerasan dan kematian (walau dengan jumlah darah yang segelas pun gak sampai). Pokoknya, bagi orang dewasa, OK, maksudku bagi aku, adegan perangnya cukup memuaskan, jauuuh lebih banyak daripada film pertamanya, lengkap dengan taktik perang yang keren dari pihak Narnia. Selain itu banyak adegan dan kalimat lucu, seperti komentar-komentar sarkastis dari Trumpkin, dwarf yang menemani perjalanan Pevensies di Narnia; serta tokoh-tokoh komikal seperti tikus Reepicheep yang berpenampilan seperti Puss in Boots dalam Shrek 2, cuma lebih haus darah. Bahkan monster hag pendukung the White Witch pun terlihat lucu, dengan gaya berjalan seperti Aming :p Kayaknya yang cekakakan terus cuma kami deh. Aslan, lagi-lagi, terlihat kurang besar dan gahar untuk karakternya yang mestinya sebagai The Noble One. Apalagi adegannya dengan Lucy di bagian dekat-dekat ending yang hampir-hampir seperti anjing dan tuannya, cuddling each other. Edmund digambarkan jauh lebih dewasa dalam film ini, kontras dengan Peter yang masih berkutat dengan kesombongan dan kesadaran diri bahwa dia adalah the High King.

Lokasi pengambilan gambar juga sangat indah, apalagi pada scene ketika keempat Pevensie kembali dari dunia nyata ke Narnia. Sebuah pulau indah yang dipenuhi pohon dan reruntuhan istana Cair Paravel, dikelilingi laut yang sangat biru. Kabarnya film ini di-shoot di berbagai lokasi di berbagai negara, dan tentu saja Selandia Baru termasuk di antaranya. Istana-istananya juga believable sekali, maklum ini yang bikin Disney yang paling pengalaman bikin istana. Aslan’s How, istana bawah tanah Narnia dibangun di Praha. Adegan perang di jembatan diambil di Slovenia, sedangkan adegan perang besarnya diambil di Ceko.

Menonton film ini serasa menonton film Lord of the Rings dalam skala imut. Mungkin dirasakan secara tidak sengaja karena tampilan alamnya yang kurang-lebih sama, adanya dwarf yang berlidah tajam (Trumpkin), pangeran yang ingin merebut tahtanya kembali, serta adegan perang yang mengerahkan berbagai makhluk dari dunia fantasi, termasuk burung purba (dalam film ini gryphon) dan pohon (ingat Treebeard?) .

Cerita di film ini agak berbeda dengan di bukunya. Perangnya tidak diceritakan mendetail seperti di film, White Witch sebenarnya tidak pernah muncul dalam seri ini, dan tentu tidak ada adegan romantis antara Susan dan Caspian. BBC pernah memproduksi Prince Caspian pada tahun 1999 dalam satu seri Chronicles of Narnia (hanya 4 yang difilmkan). dengan pemain utama Richard Dempsey sebagai Peter, Sophie Cook sebagai Susan, Jonathan Scott sebagai Edmund, dan Sophie Wilcox sebagai Lucy. Rasanya aku punya deh, karena CD film ini dijual murah di Gramedia dan Hero, tapi belum ditonton hihihi…

Tahun 2010, seri lain juga akan diangkat ke layar lebar, yaitu The Voyage of the Dawn Treader. Apakah keempat pemainnya masih sama? Mudah-mudahan. Kalau mengikutinya bukunya, Prince Caspian akan muncul lagi dalam film ini.

Jadi, apakah film ini layak tonton? Layak sekali. Wajib. Layak koleksi juga.

Beberapa info diperoleh dari Wikipedia. Pics diambil dari The New York Times dan imdb.

51 Comments »

  1. Saya kok malah kecewa dengan seri buku Narnia ini ya? Mungkin karena baca yang terjemahan? Kalau pilemnya seh, nunggu traktiran empunya blog ini saja…

    Comment by ManusiaSuper — May 20, 2008 @ 10:39 pm

  2. -ahem- aku baca serial Narnia ini ketujuh-tujuhnya yang versi ebooks, waktu masih di jogja, saking gak ada kerjaannya :p
    baca bukunya sih memang kurang seru, apalagi kalo abis baca LOTR. maklum kan cerita ana-anak. filmnya ini kan dibikin biar kita gak ketiduran di dalem.

    Comment by mina — May 21, 2008 @ 6:34 am

  3. walaupun saya gak terlalu suka ceritanya, tapi filmnya emang bagus sih….layak tonton lah….

    Comment by fisto — May 21, 2008 @ 6:47 am

  4. udah nonton ya, fis? ini pertama kali aku nonton lagi sesudah 2 bulan gak nonton sama sekali, habis masak di sini filmnya film Indonesia semua. garing. Stardust aja gak diputer di sini. Golden Compass juga enggak :(

    Comment by mina — May 21, 2008 @ 7:20 am

  5. belum nonton sih… saya lebih suka the lion, the witch and the wardrobe itu.

    Kenapa ya orang-orang Inggris ini cakep-cakep?

    memang…. jadi inget James mcAvoy :oops:

    Comment by itikkecil — May 21, 2008 @ 10:27 am

  6. ooo si Mr Tumnus? :p

    Comment by mina — May 21, 2008 @ 8:31 pm

  7. jadi ingat si Asan (bukan Aslan lho?)…dulu dia juga sering jadi penyelamat (maksudnya menyelamatkan makanan) yang berbadan bongsor….Kayaknya si Aslan juga big body ya?

    Comment by mashuri — May 22, 2008 @ 9:24 am

  8. udah punya e-booknya, tapi blm sempet baca :p

    Comment by ARS — May 22, 2008 @ 11:04 am

  9. balik ke wp lagi? Alhamdulillah, yang di multiply harus register dulu.
    belum sempat nonton nih, menurut saya cerita nya biasa aja, tapi efeknya yang ok

    Comment by yetty — May 22, 2008 @ 10:35 pm

  10. saya belum nonton sih, tapi apa sebagus LOTR(kayaknya sih gak…)? oia, cerita anak-anak yah?
    kelebihannya bukan cuman pemainnya tambah cakep aja kan? ceritanya bener2 persis buku gak sih?maklum, saya merasa belum ‘tergerak’ buat mbaca kronikel narnia ini…masih mengikuti a series of unfortunate event..(yg di sini gak terbit2 versi terjemahannya!)

    Comment by swamp — May 23, 2008 @ 1:57 pm

  11. yup, bagus nih.. setuju aku :)

    Comment by galih — May 23, 2008 @ 7:58 pm

  12. pengen nonton ini sebenernya… tapi kayanya kalah sama Indiana Jones dulu deh…

    eh ga tau deh…

    gimana lelaki kecil saja nanti :D

    Comment by natazya — May 25, 2008 @ 8:21 am

  13. @uyi: yiii, bangun, yi, banguuun!

    @ARS: hehehehe… aku bacanya juga versi ebooks aja :D

    @yetty: WP jalan, MP juga tetep jalan yet. register doong di MP, menyanyah lebih enak di MP, lebih interaktif.

    @swamp: pasti baca post saya loncat-loncat. semua pertanyaanmu dah ada jawabannya :D

    @galih: toss, galih!

    @nat: sopo sih si lelaki kecil itu? :p aku hari ini mau nonton Indy horeee… tadi malam dah mau kilas balik ketiga filmnya dulu, eh, pas nyalain Indy yang Raiders of Lost Ark itu, aku langsung tertidur dengan sukses.

    Comment by mina — May 25, 2008 @ 11:44 am

  14. Aku juga lagi mikir2 untuk nonton film ini, pengalaman dari nongton Narnia sebelumnya :)
    Btw terimaksih telah menulisnya.

    Salam kenal

    Popop

    Comment by coretanpinggir — May 25, 2008 @ 12:21 pm

  15. waduh…
    sepertinya ini bukan zone aku…
    dari LOTR sampai Narnia aku tidak nonton…

    sepertinya film jenis ini tidak masuk ke agendaku…
    tapi bukan berarti aku bilang jelek….
    sampai saat ini aku belum pengen nonton…

    ayo dong dikomporin… hahaha

    Comment by bakhrian — May 25, 2008 @ 1:56 pm

  16. @popop: ayoo cepetan nonton, tar gak ada lagi di bioskop hehehe…

    @b: ya dari dulu pas nonbar di jogja juga dirimu gak suka kan LOTR. waktu Narnia ini juga kemaren diajakin nonbar, dirimu gak mau kan?

    Comment by mina — May 25, 2008 @ 5:29 pm

  17. aku merasa bagusan ini daripada yang pertama..

    Comment by AreefCauthon — May 25, 2008 @ 8:10 pm

  18. Kalau Prince Caspian ini di kasih bintang berapa Mbak?

    Comment by Rafki RS — May 26, 2008 @ 1:21 am

  19. @areef: setuju, rif :)

    @rafki: aku kasih bintang 5 dari 5 deh :p

    Comment by mina — May 26, 2008 @ 7:30 am

  20. akhirnya ada sesuatu utk dibaca disini :) ngebaca resensinya serasa udeh nonton filmnya, ah jd pengen nonton narnia episot pertama …

    Comment by warmorning — May 26, 2008 @ 11:26 am

  21. uanjret… aku baru aja donglot… nanti malem ahhh

    Comment by Raffaell — May 26, 2008 @ 12:23 pm

  22. Aku kurang suka dengan jenis film spt ini…….

    Comment by indra1082 — May 26, 2008 @ 12:56 pm

  23. Wah, iya…kurang teliti nih mbacanya..maklum, kan browsingnya di Lab..keburu dipake praktikum mbak…. ;P
    Memangnya film adaptasi mana sih yang bisa bener2 mirip sama aslinya(setelah kecewa dengang Harry Potter 5, hikz…) kayak LOTR?? jarang bangettt kali….
    eh, tapi A Series of Unfortunate Events detil juga sih…

    Comment by swamp — May 26, 2008 @ 1:32 pm

  24. @war: hihihi… lama hiatus ya akunya :p eh udah nonton Indy belum? seru banget!

    @raff: buset, raff, donlooot? ngopi dong -loh- hehehehe

    @indra: tiap orang tentu beda-beda kesukaan kan? :)

    @swamp: ASOUE detil tapi filmnya gabungan 3 buku ya…. hihihi….

    Comment by mina — May 26, 2008 @ 4:49 pm

  25. wah kermain diajakin nonton indiana jones. terimakasih infonya. bagus juga rupanya

    Comment by kw — May 26, 2008 @ 8:21 pm

  26. ko filmnya ngga di upload sekalian disini??? hehehehe…

    Comment by arda86 — May 26, 2008 @ 9:47 pm

  27. @kw: memang beda genre narnia an indy, tapi sama-sama seru.

    @arda: waduuh, koneksi internet saya tidak sehebat itu, hehehe…

    Comment by mina — May 27, 2008 @ 5:19 am

  28. … pengen juga sih nonton, tapi tugas kuliah menumpuk dan tidak bisa disingkirkan, huh…
    salam kenal,
    tabik!

    Comment by ahsani taqwiem — May 27, 2008 @ 2:07 pm

  29. Duh, aku belum nonton tuh, Min.
    Yang aku mau nonton dulu seri ke empat Indiana Jones. Bikin ulasan dong!

    Salam kenal!

    Tabik!

    Comment by Zul ... — May 27, 2008 @ 2:35 pm

  30. Jadi pingin liat :D

    Comment by Jauhari — May 27, 2008 @ 3:19 pm

  31. @ahsani: ya, nyewa aja tar kalo tugas kuliah dah selesai, bentar lagi ujian kan…

    @Pak Zul: bagi penggemar Indy seperti saya, pak Zul, saya beri bintang 5 dari 5 untuk Indy 4 :) saya bikin ulasan nanti saja habis nonton bareng (lagi) Jumat ini.

    Comment by mina — May 27, 2008 @ 10:02 pm

  32. Belum nonton IJ juga?
    Bareng dong, biar abis itu kita bisa diskusi abis.

    Jika berkenan bareng, silakan kontak ke e-mailku.

    Tabik!

    Comment by Zul ... — May 28, 2008 @ 12:38 am

  33. saya sudah nonton, tapi janjian nonton bareng lagi sama teman-teman jumat ini habis jumatan. mau ikutan?

    Comment by mina — May 28, 2008 @ 12:39 am

  34. Saya hampir nonton bajakannya.

    Hebat bener, selang 2-3 hari premiere diputar bajakannya udah muncul.
    Bajakannya bahkan HQ (High Quality).

    Comment by sagung — May 28, 2008 @ 9:06 pm

  35. saya mah demennya LOTR… ndak gitu suka sama Narnia… dulu sempet nonton bajakannya sih…

    Comment by khofia — May 28, 2008 @ 9:23 pm

  36. @sagung: tapi memang beda dengan nonton bioskop, apalagi kalo bareng teman-teman kan.

    @khofia: yang ini agak dilebih-lebihkan dibanding bukunya, jaid beda dengan Narnia yang dulu kok…

    Comment by mina — May 28, 2008 @ 9:28 pm

  37. bagusan baca bukunya langsung… lebih dalem….

    Comment by ichanx — May 29, 2008 @ 12:59 am

  38. @ichanx: tentunya :)

    Comment by mina — May 29, 2008 @ 2:42 am

  39. salam kenal, min. wah, kamu sampe mau nonton dua kali? mustinya bagus banget tuh. aku sendiri belum tertarik buat nonton, padahal sering lihat thriller-nya kalau lagi nonton di bioskop. thriller-nya sih okeh.

    Comment by marshmallow — May 30, 2008 @ 12:08 pm

  40. @marshmallow: hihihi…. ayoo nonton bajakannya aja :p

    Comment by mina — May 31, 2008 @ 12:39 am

  41. Wah, ketinggalan info film nih saya.
    Lama tak berkunung kemari.

    Comment by Willy Ediyanto — May 31, 2008 @ 9:27 pm

  42. maksudnya, saya sudah lama tak berkunjung kemari.

    Comment by Willy Ediyanto — May 31, 2008 @ 9:33 pm

  43. janjinya abis nonton IJ, mau bikin ulasan.
    Ayo, Kamu bisa!

    (Aku nonton IJ tgl 28 tadi.
    Mengecewakan, bukan filmnya.
    Pelayan studio 21-nya ngaco. Beberapa kali lampu padam dan film tersendat-sendat)

    Tabik!

    Comment by Zul ... — May 31, 2008 @ 10:10 pm

  44. @willy: halo…. hehehe… pasti karena blog saya jarang diupdate ya :p

    @zul: bang, aduuh iya janjinya gitu ya. habis nonton ulang, langsung nemenin temen-temen jagain pos kesehatannya ungu, pulang tengah malam, sabtu seharian di kantor sampe malam, pulang langsung tepar hihihi…. tar sore atau malam deh bikinnya :p

    Comment by mina — June 1, 2008 @ 7:09 am

  45. udah nonton jugaaa..
    lucu k0q…cukup menghiburlaaah…
    palagi pas bagian si lucy (bener kan ya) ngeluarin piso yang seuprit di jembatan ituh..
    heuheuheue

    Comment by tc — June 9, 2008 @ 6:47 pm

  46. aku lebih suka nonton pilemnya ketimbang baca bukunya…. eh, endingnya juga bagus kan? yang the call ama this is home itu…

    Comment by fenny — June 10, 2008 @ 12:59 am

  47. @tc: iyaaa itu bagian yang lucu banget, lemah gemulai lagi gayanya gyahahaha…
    @fenny: iya di bukunya gak ada detail perang dan kurang seru dibanding filmnya ya…

    Comment by mina — June 11, 2008 @ 6:17 am

  48. Somehow i missed the point. Probably lost in translation :) Anyway … nice blog to visit.

    cheers, Gunfighter.

    Comment by Gunfighter — June 19, 2008 @ 12:02 pm

  49. Saya setuju tuh kalo Skandar emang mirip sama Adam Banks … makanya waktu nonton ini dulu kok keingetan sama seseorang ya ?? ternyata tuh cowok ganteng satu … hahahaha

    Comment by Fenty — September 7, 2008 @ 10:21 pm

  50. film’a lebii seruu dibanding bc buku’a yg dataar bgt alur crita’a .
    mklm kan tuwh buku ditujukan bwt anak-anak .

    Comment by dee2 — November 7, 2008 @ 12:25 pm

  51. coba aja kalo pemain film narnia datang ke indonesia,pasti seru dech!!!!!………………….

    Comment by vivi — November 11, 2008 @ 11:23 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

Blog at WordPress.com.