Being judgemental

dowager-countess2

Diiih judulnya. Gak ada judul yang pas dalam bahasa Indonesia? Ada yang bisa bantu? “Sok menghakimi”, mungkin?

Dari konotasinya aja terasa bahwa being judgemental itu bukan karakteristik yang bisa dibanggakan. Tapi kita ini manusia. Being judgemental itu sangat manusiawi, kok. Walau kenyataan bahwa itu manusiawi bukan berati kita bisa seenaknya saja melakukannya. Rahasianya adalah jangan menunjukkan bahwa kita being judgemental tentang seseorang. Biar nampak kayak orang baik gitu.

Nah, sebagai manusia, diriku tidak lepas dari sifat ini. Duh, kalimat ini mengingatkan pada buku agama jaman dulu hihihi. Anyway, diriku mengakui, diriku mungkin orang paling judgemental sedunia (lagi-lagi, merasa paling judgemental sedunia juga being judgemental, judgementalception gitu) untuk hal tertentu, yaitu segala sesuatu yang berkaitan dengan buku, musik, dan film. Continue reading →

Menonton Orang Makan

aaa

Tinggal di sini berarti koneksi internet yang cepat. Kabarnya Belanda mempunyai koneksi internet tercepat ke-6 sedunia (ke-4 di Eropa), dengan rerata kecepatan 15.6 Mbps. Apa akibatnya? Diriku lebih memilih nonton segala hal streaming daripada download dulu.

Sejak tahun 2014, diriku punya kebiasaan baru: kalau lagi makan di rumah (maksudnya di kosan) selalu disambi nonton streaming video yang berkaitan dengan makanan. Semuanya bermula dari hobi nonton streaming drama Korea yang lucu-lucu di Dramago, biasanya nonton 1 episode tiap kali makan. Salah satunya adalah K-drama Let’s Eat. Drama yang ringan dan lucu dengan aktor utama leader-nya Beast ini (the handsome and gorgeous Yoon Doo-joon) begitu penuh dengan makanan enak, dan setiap karakternya makan dengan begitu lahap dan penuh kenikmatan (Yoon Doo-joon melakukannya sambil membahas dengan antusias dan full-of-geekiness tentang makanan yang dia kunyah), sehingga kalau pas di tengah episode diriku sudah selesai makan, kepingin melipir ke dapur dan ngambil makanan lagi. Jadinya kayak fenomena tambah-nasi-tambah-lauk gitu. Episode belum habis, makanan habis, ambil makanan lagi, di tengah makan, episode habis, buka episode baru, makanan habis, ambil makanan, dst. The dinnertime may go on and on and on sampai persediaan makanan di dapur habis. Suatu hari akan kubahas semua K-drama dan film tentang makanan yang paling meninggalkan jejak di hatiku *halah Continue reading →

To subscribe or not to subscribe. (Ngomongin Netflix)

maxresdefault (1)

Lagi rame-ramenya kabar bahwa layanan TV internet dari Netflix yang masuk Indonesia awal tahun ini, diriku jadi berpikir-pikir kepingin. Diriku penggemar serial TV dan pernah mencanangkan kepingin nonton 1 movie per minggu. Tapi karena gak punya langganan TV kabel (TV-nya sih ada, punya bapak kos yang dulu), plus ke bioskop mahal, jadi, you know lah, main donlot. Gak usah menatap diriku seperti itu, akui saja kalian semua pernah menonton sesuatu secara tidak legal, baik streaming, donlot torrent, atau nonton video bajakan. Tapi kepingin juga melakukan semua hobi ini dengan legal, tapi kalo bisa murah meriah (*banyak maunya gini). Seperti yang sudah kumulai sejak akhir tahun lalu dengan ebooks/audiobooks via Scribd (diriku menulis tentang ini di blogku yang satunya).

Okey, balik ke kepingin langganan Netflix. Ya diriku tinggal di benua lain sih, dan ketika mendengar salah satu teman di sini langganan Netflix, tidak tergugah juga kepingin. Tapi pas kehebohan Netflix di Indonesia itu muncul, trus jadi pengen *sukanya ikut-ikutan gitu. Continue reading →

Resolusi

Sudah 2016 aja. Diriku merasa agak ngeri dengan tidak terasanya waktu berlalu. Less time left in this world, still so much to do, either from a physical or a mental perspective.

calvin-hobbes-new-years-resolutionsTiap tahun diriku mempunyai resolusi hiperbolis yang tidak benar-benar serius ingin kuwujudkan (diriku “perfect the way I am“). Tahun ini ingin berbeda. Percakapan dekat mesin kopi dengan teman se-Divisi, an Iranian, memberikan  sedikit pencerahan: to be happier with ourselves (yang agak susah didapatkan kalo kita lagi sekolah S3 tahun terakhir di negara jauh, dan dengan uang beasiswa sekedar cukup), rather than trying to tackle a big project with a big objective to be achieved far in the future, kita perlu memecah semua task menjadi kecil-kecil, dengan objective masing-masing yang jelas dan mudah diukur serta bisa diselesaikan dalam sehari, atau lebih baik lagi kurang dari itu. Dengan demikian, kita mendapatkan sense of achievement setiap hari: we become happier. Jadi itulah yang akan kulakukan dengan resolusi tahun ini. Make them small, but still meaningful, sebagai langkah untuk mencapai sesuatu yang lebih besar dalam beberapa tahun ke depan. Continue reading →

My Mobile Phone(s): The Journey

girl-looking-down-roadSetahun sudah berlalu sejak postingan terakhir. Banyak yang ingin ditulis, tapi karena ilmu pengetahuan masih belum menelurkan alat untuk menuliskan segala hal yang kita pikirkan dengan kecepatan yang sama dengan proses berpikir, maka aktivitas ngeblog ini nampaknya akan terus ngadat. Sampai sesuatu yang luar biasa terjadi.

Dan untuk membuktikan bahwa diriku masih se-menyanyah yang dulu, mari kita menatap ke belakang sejenak. Bagi yang tidak sabar dan tidak berminat membaca sejarah perjalanan henpon saya, silakan langsung ke bagian The Present. Continue reading →

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 33 other followers