Kangen ikan asin…

agi

Makan malam temen. Pic dari FB-nya.

Hari ini teman saya yang kuliah di Thailand memasang foto makanan home-made dia tadi malam: nasi panas, ikan sepat asin (Banjar: iwak karing sapat), dan telur dadar (yang saya sangka mandai). Dia sedang sekolah S3. Sudah jamak banget bahwa seseorang yang jarang atau tidak pernah memasak di rumahnya sendiri di Indonesia, ketika sekolah dan tinggal sendiri di luar negeri, mendadak jadi suka memasak dan sangat menghargai segala jenis bahan makanan dari Indonesia. Ini karena kita cenderung lebih menghargai sesuatu bila sesuatu itu sudah tidak ada atau susah didapat, dan juga karena orang sekolah dan lagi banyak kerjaan (tugas kuliah dan macam-macam yang school-related) itu suka sekali berprokrastinasi melakukan hal-hal yang dalam kondisi normalnya di rumah sendiri itu tidak suka dia lakukan. Apa pun asal jangan mengerjakan tugas wajib.

Dia beruntung masih tinggal di Asia, yang orang-orangnya juga menggunakan bumbu dan bahan makanan berbau sama kerasnya dengan kita. Tapi kalau tinggal di Eropa, bahkan di Belanda yang orang-orangnya sebagian besar suka masakan Indonesia, agak ribet kalau ingin makan ikan asin. Saya beruntung tinggal di rumah orang Turki, dengan dapur sendiri yang terpisah dari dapur mereka. Tapi karena dapur saya ini dapur-dapuran istilahnya, bukan dapur set lengkap dengan exhauster di atas stove, jadi exhauster-nya adalah jendela (kecil) yang dibuka lebar-lebar kalo lagi memasak. Saya tidak menyadari hal ini kalo di Indonesia, tapi sesudah di sini, saya sensitif sekali pada bau yang melekat di baju/rambut/segala sesuatu berbahan kain (misalnya penutup sofa, jemuran, tirai jendela) di ruangan yang sama dengan ruangan tempat kita memasak. Apalagi mereka ya kan. Mungkin karena sistem rumah yang tertutup rapat (kalau lagi tidak musim panas). Diriku bisa tahu seseorang habis duduk di dapur orang Asia atau habis makan di rumah makan Asia atau rumah makan yang dapurnya jadi satu dengan ruang makan, hanya dengan sekilas dia lewat. Continue reading →

Berlangganan … Apa Saja

Ide tulisan ini muncul gara-gara sebuah post di salah satu grup di Goodreads dari member (orang Indonesia) yang membuat sebuah survey kecil tentang pendapat kita tentang Bookbox Subscription. Saya tadinya mengisi survey aja (salah satu hobi nih) sesudah membaca latar belakang kenapa dia membuat survey ini, tanpa komen. Eh ternyata dia membuat postingan sama di grup lain di Goodreads, dan dikomen oleh salah satu temen baik di Goodreads. Lalu ngobrollah di sana. Okey, diriku akui post ini lebih cocok dipasang di blogku yang satunya, tapi karena isinya tidak hanya tentang buku, ditulis di sini deh.

Balik ke Bookbox subscription. Jadi ini sebenarnya bukan ide baru. Di US, blog-blog untuk book-podcasts dan klub buku biasanya menawarkan subscription untuk Bookbox ini. Apa sih Bookbox? Jadi tiap suatu periode (misalnya 3 bulan, atau pas momen tertentu, misalnya Natal, Valentine, dsb), mereka mengirimkan satu paket ke subscribers. Karena namanya Bookbox, isinya tentunya buku, biasanya cuma 1, tapi ada juga yang beberapa buku tergantung tipe subscriptions. Bukunya biasanya buku yang bener-bener baru terbit (masih anget istilahnya), dan biasanya edisi hardcover. Yap edisi yang tidak pernah kubeli, karena mahalnya bisa 2-3 kali lipat harga mass paperback, tapi rata-rata di luar negeri buku pertama terbit dalam edisi hardcover. (Ingat Harry Potter books? Sejak buku 5, diriku beli edisi hardcover asli saking gak sabarnya bacanya karena kuatir spoiler bertebaran di internet dari para early readers yang bacanya cuma semalaman). Selain buku, isinya juga book-related things, seperti bookmark, lampu baca, kartu pos dengan doodle tokoh di literatur, totebag, pensil warna (dikaitkan dengan coloring book), syal bertema buku, kaos kaki, macam-macam deh, beda-beda tiap edisi kiriman.

Nah yang asiknya apa. Isinya surprise! Continue reading →

Razia di Sekolah

Gara-gara tadi pagi ngobrol sama dia ini, terus diriku jadi teringat jaman sekolah dulu. Sebelumnya, warning dulu ya, karena diriku sekolah zaman baheula, mungkin cerita di bawah agak mengherankan para generasi muda (Pemirsa: Sebenarnya mina lahirnya kapan sih?).

Yang teringat bukan tentang berbagai ujian asik di mata pelajaran ketrampilan, suasana sekolah siang penuh aroma masakan saat sekolah numpang di gedung kantor (a la pedesaan) karena sekolah habis kebakaran, guru bahasa yang gak suka muridnya punya buku pelajaran yang dia gunakan untuk mengajar, perpustakaan sekolah yang selalu menyediakan buku cerita baru dan penjaganya pilih kasih hanya menunjukkannya pada murid kesukaannya (yours truly termasuk), perasaan keren kalau senam pagi paling depan, merasa sudah kayak Beethoven waktu diminta memainkan pianika buat acara apel pagi, pergeseran penggunaan gender-based games di kalangan anak SD (anak cowok main tali, anak cewek main kelereng), dan banyak lagi. Nanti saya ceritakan kalau ada yang request.

Sebenarnya mau menceritakan tentang razia sekolah. Dia ini kan guru. Katanya sekarang sih malas kali merazia murid. Benda-benda yang curiganya akan kena razia sudah mereka titipkan duluan di paman penjual apa gitu di depan sekolah. Beda jaman dulu sih. Kurang pinter kita dulu mungkin. Dan juga karena pagar sekolah tertutup rapat kalo jam sekolah. Ini berbagai jenis razia yang pernah diriku alami: Continue reading →

Rantai Makanan di Sekitar Rumah

Gara-gara ngomongin rantai di postingan sebelumnya, jadi inget komentarku bahwa my mom (tepatnya mungkin seisi rumah) menyebabkan gangguan ekologi dengan mem-bypass satu atau dua link di rantai makanan.

Seisi rumah itu orangnya gak tegaan. (Mungkin ini salah satu penyebab diriku susah bilang TIDAK. Pemirsa: Very good, mina, you blame your family for your inability to control your weakness). Dan ini berkontribusi pada perubahan rantai makanan di sekitar rumah.

Di sebelah rumah ada kolam (sebenarnya sih sungai yang buntu, dulunya dia mengalir, tapi dengan pembangunan berbagai hal dan pembuatan jalan, sungainya berubah jadi kolam). Tentunya banyak ikan, haruan terutama. Kolam dan ikan di dalamnya ini menarik seisi kampung untuk mendatangi dan memancing (atau langsung aja ditangkap pake tangan saking pemalasnya ikan-ikan ini). Continue reading →

Haiku: Gara-gara Email Berantai

31

Beberapa waktu lalu diriku dapat kiriman email berantai. Ya, semacam surat berantai. Prinsipnya kayak MLM gitu. Kayak piramida, down the chain, makin banyak orangnya secara eksponensial. Dan kayak piramida juga, dia mudah runtuh kalo 1 aja dari orang-orang di distal-nya chain tidak melanjutkan apa yang dilakukan orang-orang di proksimal.

Kirain model surat berantai ini sudah gak ada lagi di jaman surat elektronik ini. Duluuuu waktu masih sekolah, pernah dapat juga surat berantai beneran dari orang tidak dikenal. Entah dapat dimana alamatku. Mungkin dari Album Sahabat Pena di Bobo (ya pemirsa, Album ini beneran ada, lengkap dengan foto kita, alamat lengkap, dan hobi. Diriku kayaknya masih nyimpan deh di rumah). Kita diharuskan mengirim uang ke orang di nomor 1 di list, lalu nama kita sendiri ditaruh di nomor 10. Lalu surat serupa kita kirim ke 10 orang lain. Tulis tangan. Are you kidding me? Jelas tidak mungkin kulakukan, walau suratnya penuh ancaman akan kecelakaan lah, mendapat musibah keuangan lah, dsb dsb, kalau tidak meneruskan surat berantai tersebut. Mana mencari 10 alamat orang lain itu kan pe er tersendiri. Continue reading →

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 38 other followers