KLB* 2 tahunan (Subject: My Cell Phone)

Artikel Kompas Minggu lalu (edisi 13 Agustus 2006) berjudul “Separuh Otakku Kujinjing Semua” membicarakan tentang seberapa besar arti sebuah benda bagi seseorang. “Benda” yang dibicarakan di sini adalah gadgets yang sudah begitu lengket dengan kita, macam laptop, ponsel, PDA. “Apabila kehilangan itu mampu membuat dia melakukan refleksi diri yang mendalam dan berpikir ulang tentang hidup, benda itu pastilah sesuatu yang sangat bermakna dalam hidupnya.” Hmmm, aku mengalami hal serupa dua kali, terakhir awal bulan ini, walau tidak sampai segitunya bikin “refleksi mendalam dan berpikir ulang tentang hidup”, hihihi….

Pada tahun-tahun 90-an, aku sering melihat dosen menenteng-nenteng hape segede batu bata ke sana kemari, dan waktu itu aku berpikir: bodoh banget sih mau-maunya bawa barang gak penting (bagiku) sebesar itu kemana-mana, dan diam-diam bilang dalam hati bahwa aku tidak akan pernah tertarik trend telpon genggam seumur-umur.

Mulai bekerja sambil kuliah pada akhir tahun 1990-an, mulai merasakan enaknya punya gaji sebagai seorang single. Bingung mau ngapain dengan gaji itu, mulailah hobi belanja buku. Tahun 2000 akhir, sesudah kenal internet dan jadi banyak kenalan yang rata-rata punya hape, kok jadi berpikir-pikir punya. (Tanda bahwa dengan peningkatan pendapatan, kebutuhan kita juga bertambah.) Akhirnya terbelilah Nokia 5110, “henpon seribu umat” yang tebal itu. Waktu itu harga barunya masih Rp 1 juta. Wah, bangganya bukan kepalang (sudah lupa dengan celaan pada dosen bertahun-tahun sebelumnya). Sejak itu jadi hobi baca berita ponsel (saking sedikitnya perkembangan ponsel waktu itu). Tapi aku tidak ketergantungan dengan ponsel. Belum.

Tahun 2002, ketika mau sekolah lagi, Nokia 5110 mulai ngadat. Harap maklum, aku sering sekali menjatuhkannya. Ponsel yang satu ini kan memang tahan banting. Karena bakal pindah tinggal, orang-orang rumah protes dong kalo susah dihubungi. Berpindahlah aku ke Nokia 3110: lebih tipis, tapi masih cukup besar. Tahun 2004, ponsel ini dicopet di bis di Jogjakarta (gara-gara ini, jadi kenal yang mana copet, yang mana yang cuma bertampang copet padahal mahasiswa biasa).

Bertahan 2 minggu tidak pake ponsel, akhirnya sesudah didesak-desak teman dan family, aku beli lagi, Nokia 3100. Fitur organizernya benar-benar simpel tapi memuaskan plus kemudahan aku upload macam-macam midi: aku maunya ringtone yang orang lain gak ada yang punya. Ponsel yang satu ini ketahanannya luar biasa, sama dengan N5110, sudah kebanting ribuan kali, masih bagus-bagus aja. Palingan cuma beset-beset. Perilakuku terhadap ponsel yang sebenarnya paling aku sukai ini tetap macam enggak butuh: sering ketinggalan di mana-mana. Di laci kantor pas weekend, di meja rumah makan, di meja orang lain, di mana-mana. OK, aku akui deh, aku orangnya pelupa.

Nah, awal bulan ini, akhirnya kena batunya juga. Ponsel itu, habis dipakai nelpon-nelpon dan sms-an, ketinggalan di taksi di Jakarta. Aku baru menyadarinya sekitar 1,5 jam kemudian. Huh. Langsung misuh-misuh, karena itu kan lagi di luar kota. Aku perlu banyak nomor telpon, mulai teman di Jakarta, bos proyek di Jogja, taksi, penginapan, dsb. Baru sadar ternyata tu barang penting banget. Sebagai orang yang sulit mengingat angka, yang ada di otak cuma nomor hape sendiri dan nomor rumah😛 Sesudah usaha memperoleh kembali hape yang hilang (minimal kartu SIM-nya deh *sok gak perlu ponselnya*) tidak berhasil, akhirnya aku beli juga. Kali ini cuma tahan gak punya ponsel 4 hari. Tanpa perlu refleksi diri mempertanyakan tentang arti hidup. Pokoknya aku gak bisa pisah dengan ponsel, titik.

Sialnya, tidak seperti dulu, sekarang pilihan ponsel begitu bervariasi sehingga aku langsung pusing begitu masuk toko ponsel. Padahal sudah doing research di internet, tetap aja serasa ditimbuni dengan produk-produk ponsel. Akhirnya, lagi-lagi, beli Nokia. Oya, ini bukan iklan Nokia lo ya. Aku itu sebenarnya gak “brand-minded” (ah bohong kamu min), tapi karena temen saya (yang orangnya keren dan karismatik) kerja di Nokia, jadinya kebeli Nokia deh (paling lemah hati sama yang karismatik).

Apa kalian melihat ada pola di sini? 2000: pertama beli. 2002: rusak dan beli lagi. 2004: dicopet dan beli lagi. 2006: hilang dan beli lagi. Ini kejadian yang berulang tiap 2 tahun sekali! Sudah digariskan Tuhan kali ya? -sok penting- Berarti 2008, bakal beli lagi, hmmm….. Kali ini, hilangnya lebih keren dong lokasinya: jatuh dari puncak Himalaya, gitu. Atau dicopet gorila di hutan Amazon. Atau ketinggalan di Mars pas survey kelayakan air bersih di sana.

* KLB = Kejadian Luar Biasa. Istilah Ilmu Kesehatan Masyarakat. Biasa digunakan untuk menyatakan kejadian luar biasa (*roll your eyes*) dari penyakit di daerah tertentu. Misalnya wabah diare, wabah demam berdarah, dsb, yang muncul musiman dan berulang setiap periode tertentu.

4 responses

  1. huuu… capek gw ngecek2, kok fotonya gak mau muncul ya? padahal url nya sudah bener.

  2. fotonya lg error ya? setuju setuju. buatku ponsel malah udah kek soulmate aja hehehe….wah min biar ilangnya di tempat keren sekalipun…kalo bisa sih jangan sampe ilang lagi deh…kan sedih😦 salam merdeka!😀

  3. hai kris!
    lama tak berjumpa euy! ho oh gak ngerti deh sama Blogger ini, satu bagian baik, satu bagian gak bener.
    Iya ya, hape ku jangan sampai hilang lagih! 

    Posted by mina

  4. […] 1 dicuri pas turun di bis di Jogja (2004). […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: