Steamboat

Pada tahu kan aku suka sekali makan. Untungnya bodi gak bisa gemuk *walau pengen juga sih gemukin lagi dikit* walau bahaya penyakit jantung koroner mulai mengintai (hiperkolesterolemia *hiks*).

Sekitar sebulan yang lalu, aku sampai bosan beberapa hari mendengar adikku menyebut-nyebut steamboat melulu. Katanya steamboat di Restoran Oriental yang baru buka di Banjarmasin (Mal Posindo) rasanya uenak. Lama-lama penasaran juga. Steamboat apaan sih? Restoran Oriental, sounds tidak halal, don’t you think? Waktu aku tanya adikku, dia hanya senyum-senyum gak jelas. SUka gitu memang dia, sok enigmatik.

Jadilah aku melangkahkan kaki, er, sebenarnya sih menumpang ikut kendaraan my cousin, Nida (sekaligus mengajak dirinya buat menghabiskan makanan, kalau-kalau tidak enak), ke Restoran Oriental. Terus terang belum pernah ke Mal Posindo. Hmm, pas sampai, kayaknya masih banyak ruang kosong, maklum, baru. Kami naik ke lantai 3, ah itu dia Resto-nya sebelahan dengan Bakso Lapangan Tembak. Sepi, kosong. Bakso Lapangan Tembaknya lumayan rame. Interupsi dikit: menurutku segalanya di Bakso Lapangan Tembak overprized dan gak enak, kecuali I Fu Mie-nya. Itu pun tergantung yang masak siapa.

Kami masuk ke Restoran Oriental yang sama sekali tidak bersuasana Oriental itu. Tempatnya kecil. Kami duduk di dekat kaca, dan mulai memesan. Tentu saja Steamboat 1 porsi. Menurut Nida, porsinya besar, jadi cukup pesan 1. Terus kita juga pesan Sapi Lada Hitam 1 porsi. Dan Ayam Asam Manis (kalo gak salah nih, sudah bulan lalu sih). Dan seperti biasa, aku pesen Freshtea 2 for myself dan Nida pesan es jeruk.

Datanglah Steamboat-nya. At least, itulah yang aku duga namanya Steamboat. Alamak, gedenya pancinya. Satu panci berbentuk kayak cetakan bolu jaman dulu yang berlubang di tengah ditaruh di atas meja dengan asap mengepul-ngepul. Di dalamnya ada sup berisi potongan-potongan ayam, udang, tahu, jamur, sawi, ikan, bakso sapi, cumi-cumi, kubis, kacang polong, kentang, dan entah apa lagi. Baunya aneh, agak-agak berbau asap gitu. Rasanya juga. Tapi kok enak ya….. Kami mulai menimba dari panci dan makan sop bermangkok-mangkok.

Habis itu, diantarlah Sapi Lada Hitam dan Ayam Asam Manis-nya. Haaaah! Porsinya porsi kuli! Piring lonjong besar penuh berisi sapi dan ayam. Aku dan Nida agak tercengang. Mbak-mbak yang nganter makanan lebih heran lagi. Mereka bilang gini: “Banyak banget mbak pesannya, ini kan porsi 1 keluarga”. Kami mesem-mesem gak jelas. “Lapar, mbak,” kata my cousin. Tanpa ba bi bu lagi, semua makanan langsung diserang. Sapi Lada Hitamnya uenaaaaak banget!

Gini ya teman-teman, trik biar semua makanan di meja habis tanpa bersisa, adalah dengan mengurangi makan karbohidrat. Makan nasi sesedikit mungkin, juga sesedikit mungkin mi, kentang, dan singkong. Makan lauknya saja. Lagi makan, si pemilik resto (bapak-bapak setengah baya) mendekati kami dan ngomong sambil senyum (sok) menenangkan: “Santai aja makannya, gak usah tergesa-gesa.” Heh? Dia pikir kami tidak bisa menghabiskannya? Tunggu saja.

Akhirnya, sukses juga menghabiskan semuanya, kecuali steamboat-nya. Sisa steamboat kami bawa pulang, bisa buat 1 kali makan lagi.

Yang tidak tahu Steamboat, rugi deh. Bagi yang hobinya makan all-you-can-eat, steamboat asik banget. Steamboat, atau hotpot, atau huo guo, atau da been lo, adalah makanan yang aslinya dari Mongolia, lalu kemudian menyebar dan populer di Cina. Steamboat terdiri dari sebuah panci (pot) panas (hot) mengepul-ngepul yang ditaruh di atas meja, berisi sup ayam, dikelilingi oleh piring-piring berisi macem-macem irisan tipis daging, ayam, telur, ikan, kerang, udang, bakso ikan, bakso daging, cumi-cumi, jamur, tahu, kentang, dan sayuran; irisan-irisan itu dicelupin di steamboat lalu dimakan panas-panas pake macam-macam saos. Kalo isinya sudah habis, dimasukkan mie, jadi mie kuah deh. Nah, karena bentuk pancinya yang mirip steamboat, ada lubang di tengah-tengah tempat api lewat, maka makanan ini dinamai steamboat. Steamboat biasa dimakan pas musim dingin.

Kata Wikipedia, di Cina, steamboat mempunyai makna kultural kebersamaan, karena steamboat biasanya dimakan sekeluarga, makan langsung dari 1 panci yang sama. Duduk mengelilingi steamboat melambangkan persatuan dalam keluarga/klan. Biasanya mereka makan perlahan-lahan dan santai, sambil ngobrol-ngobrol, kadang bisa seharian penuh (ya ampyun, apa gak kekenyangan tuh?). Korea juga punya steamboat, cuma lebih pedas. Di Jepang, ada macam-macam variasi steamboat, termasuk Sukiyaki dan Shabu-shabu.

Steamboat yang di restoran Oriental agak aneh juga, gak ada saos-saosnya. Jadi kalo mau, pake saos botol ABC aja. Dan rasa asapnya kentara banget. Tapi ya abis juga kan akhirnya. Sayangnya, restoran ini tutup sekarang, gak tau apakah hanya pas puasa ini, atau tutup selamanya. Kenapa ya tutup? Kok jadi curiga.

Pics diambil dari Wikipedia dan Yummy Corner.

One response

  1. i love steamboat🙂 klo makannya di resto vietnam pilihan saosnya bisa lebih banyak loh!  

    Posted by reygreena

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: