Tipuan di Angkot

Hari ini puanas buanget deh! Pulang kantor hari ini pake angkot jarak jauh antar kota (Banjarbaru-Banjarmasin) serasa di dalam oven. Angin yang masuk dari jendela aja panas. Pake kipas, yang terasa angin panas. Pas pulang, aku cek situs Weather Underground, glek, dia bilang suhu Banjarmasin (berdasarkan stasiun pengamatan di Syamsuddin Noor, bandara yang terletak antara Banjarmasin dan Banjarbaru) adalah 36 derajat Celcius!!! Ckckck…. Sepanas suhu tubuh dong? Gila, lebih panas dari Surabaya.

Anehnya, sesampai terminal di Km 6, aku bukannya mempercepat perjalanan dengan mode angkutan yang lebih cepat, eh, malah dengan bodohnya memilih angkot lagi untuk pulang ke terminal berikutnya. Rupanya memang ditakdirkan, biar ada bahan nulis blog hari ini hehehe…

Pas aku naik, sudah ada beberapa orang di dalem. Aku naiknya bukan di Terminal, tapi di depan terminal, karena angkot yang di terminal penuhnya lama deh, bisa berjam-jam. Benar saja, gak sampai 10 menit angkotnya sudah penuh (isi 14 orang). Begitu angkot mulai berjalan, bapak-bapak di depanku yang bertampang Jawa (kita sebut saja Mr. A)bertanya pada bapak-bapak di sampingku (kita sebut aja Mr. B). “Ke Pasar Lima jauh pak?” Dijawab: “Dekat, paling 15 menit. Begitu sampai terminal Malabar nanti, jalan dikit aja pak. Kenapa?”
Mr. A: “Gak papa.”
Aku mulai merasakan deja vu.

Diam sesaat.

Mr. A: “Sekarang biaya bis mahal ya pak?”
Mr. B: “O iya, apalagi dekat Hari Raya ini. Pesawat, kapal naik semua.”
Mr. A: “Iya, saya tadi mau ke Samarinda sekeluarga sama istri dan anak saya. Uang saya tidak cukup. Naik betul tiket bisnya.”
Mr. B: “Memang pak, apalagi nanti makin dekat ke hari rayanya. Sekarang anak dan istri bapak mana?”
Mr. A: “Di terminal Km 6. Saya kekurangan uang, jadi mau menjual sesuatu dulu ke Pasar Lima.”

Deja vu-ku semakin kuat.

Mr. B: “Mau jual apa Pak?”
Mr. A mengeluarkan sesuatu dari kantung kemejanya, kelihatan ragu, lalu memasukkannya kembali.
Mr. B: “Mau jual apa itu, Pak?”
Mr. A akhirnya mengeluarkan sebentuk cincin dengan pengikat suasa, dengan sebuah batu kuning besar dikelilingi batu-batu berlian imitasi. Cincin besar seperti yang suka dipakai cowok-cocok itu loh.

Sekarang aku yakin ini memang pernah kualami sebelumnya. Sebal. Sebal. Ini yang ketiga kalinya aku melihat orang menipu tanpa bisa ngasi tahu orang yang tertipu.
Selalu pas naik angkot jalur yang ini.
Selalu pas sore hari.
Selalu posisi orang-orang yang sama.
Dan lagi-lagi, selalu ada yang tertipu.
Hhhh, dasar orang banjar paling suka dengan cincin batu. Lagian selalu ada yang cukup kemaruk dengan uang sehingga tanpa ba-bi-bu beli cincin tanpa memastikan dulu keasliannya.
Oke, I spoiled the rest of the story. Biarin.
Semakin sebal lagi karena pengen motret kejadian gak bisa. Huh!
Lagian, aku tidak tahu batu permata. Yaqut itu mungkin tidak hanya kuning, menurut my granny ada juga yang putih, tapi yang kuning lebih mahal, dan kelihatannya khasiatnya juga lebih bagus, misalnya membuka pintu rezeki, cocok untuk berdagang. Sayang gak ada fotonya, hiks.

Mr. B mengambil cincin itu dari tangan Mr. A.
Mr. B: “Wah, ini yakut. Mahal ini.”
Seseorang bapak berkopiah haji (sebut saja Mr. C) di ujung lain angkat suara.
Mr. C: “Coba lihat sini.”

Cincin berpindah tangan ke Mr. C. Waktu pertama kali ketemu skenario ini, kupikir si Mr. A adalah orang jujur yang bener-bener perlu duit, yang bajingannya adalah Mr. B dan Mr. C yang mau nyuri tu cincin. Jadi tu cincin kuikuti terus, dengan mata tentunya.

Mr. C menatap tu cincin dengan seksama, lalu tahu-tahu menggosokkan batunya ke lantai angkot, trus menggosokkannya ke celananya, trus mengeluarkan kaca (mungkin kaca khusus untuk tukang batu permata) dan mengintip tu batu pake kaca khususnya itu.

Mr. B: “Wah, bapak siapa pak? Dagang batu permata ya?”
Mr. C: “Iya. Saya dagang batu di Martapura. Ini saya baru datang dari Martapura. Wah, ini yakut ini pak. Berapa kemaren belinya?” (Red: Martapura adalah kota yang terkenal dengan penjualan batu permata, terletak lebih jauh dari Banjarbaru, mungkin sekitar 40 km dari Banjarmasin).
Mr. A: “Saya kemaren dikasih saudara saya juga, mungkin belinya 450 rial pak.”
Mr. C: “Saya beli ya. Tapi saya gak bawa uang kontan. Saya ada urusan sebentar di Pasar Lima juga. Nanti bapak ikut saya saja ke Martapura. Saya beli di sana.”
Mr. A: “Aduh jangan pak, dibeli di sini saja pak.”
Mr. C: “Saya gak bawa uang sekarang. Saya beli 900 ribu nanti.”
Mr. B: “Na ayo pak, ikuti saja bapak itu, beliau jual batu, jadi tahu harga.”
Mr. A: “Waduh jangan pak, kalo bisa dibeli di sini saja. Saya tidak sempat lagi ke Martapura.”
Mr. C: “Gimana, saya tidak membawa uang?”
Mr. B: “Sini saya saja yang beli. Tapi sekarang saya ada cash 100 ribu saja. Nanti sisanya bapak ikuti saja saya, saya ke Kayutangi pulangnya, kita ambil uangnya di rumah.” (sambil mengeluarkan uang 100 ribu.)
Mr. A: “Jangan pak, lebih baik dibayar di sini saja.”
Mr. B: “Soalnya uangnya tidak cukup pak.”
Mr. A: “Ya sudah 500 ribu saja lah pak, saya jual.”

Saat ini semua perhatian sudah tertuju pada mereka bertiga. Termasuk perhatianku juga dong, yang berdebar2 kali ini apa ada yang cukup bego untuk tertipu, sambil berdoa dalam hati, kali ini jangan ada yang tertipu Ya Tuhan.

Seorang anak muda (cailaa) yang dari tadi mukanya aku liatin kok licin bener (ciahahah) tiba-tiba buka mulut (punya mulut juga ternyata dia, karena dari tadi diem ajah dan keliatan gak punya duit hehehe), kita anggap aja dia Mr. D.
Mr. D: “Berapa tadi pak? 500 ribu?” (sambil meraba-raba dompetnya di saku belakang celana jinsnya).
Mr. A: “Iya pak.”
Mr. C: “Beli aja dulu dik, nanti saya beli 900 ribu. Datangi aja saya besok di Pasar Martapura, saya di Pasar Batuah dekat bla-bla-bla (sensor) seberangnya toko si bla-bla-bla (sensor).”
Mr. D: “Ya sini saya beli. Nanti saya jual ke Bapak 900 ribu ya?” (Red: Dasar, cakep-cakep kemaruk lu.) Lalu dia mengeluarkan dompet dan menghitung 500 ribu (amboi banyak juga bawa duit yah mas). Lalu mengasihkan tu duit ke Mr. A. Cincinnya? Dia masukin ke kantong celana jinsnya. Masya Allah. Kok gak dipake? Apa gak takut jatoh? -aku jadi curiga lagi- Sementara itu Mr. C sibuk menuliskan alamat tokonya di Martapura untuk Mr. D.
Mr. B: “Adik kerja apa?”
Mr. D: “Saya jual kerudung, jilbab, di Pasar Hanyar. Besok saya ke Martapura. Hari ini saya cuma ngantar adik saya di depan itu (menunjuk ke bagian depan angkot). Besok saya ke toko Bapak.” (sambil memandang Mr. C.)

Haduh, kasian amat sih adik yang cakep tapi loba ini hiks hiks….

Di Terminal Malabar, Mr. A, B, dan C turun dan berpisah jalan. Mr. D pindah angkot bersama adiknya ke arah Belitung. Mudahan uangnya yang 500 ribu rupiah cepat kembali dari sumber rezeki lain.

Sementara aku meneruskan pulang dengan becak saja, mual dengan kejadian tadi.

9 responses

  1. itulah kalo kemaruk, hari gene masih ketipu… 

    Posted by topan

  2. waduh, kok ngga ilang-ilang juga penipu gituan ya? di jakarta pa lagi tuh… 

    Posted by bangsari

  3. jadi sebenernya siapa yang ketipu ya?
    *sambil garuk-garuk kepala*
    saya lebih suka kalo Mr. A, Mr. B, Mr. C dan Mr. D itu diganti dengan Ayam, Bebek, Celepuk dan Dajah (susah cari nama binatang dgn hurup depan “D”) :D 

    Posted by Fernando

  4. jadi sebenernya siapa yang ketipu ya?
    *sambil garuk-garuk kepala*
    saya lebih suka kalo Mr. A, Mr. B, Mr. C dan Mr. D itu diganti dengan Ayam, Bebek, Celepuk dan Dajah (susah cari nama binatang dgn hurup depan “D”)😀

  5. kejadiannya hampir sama dengan yang saya alami, tapi alhamdulillah saya masih disadarkan :) 

    Posted by ali

  6. Ngaturaken Sugeng Riyadi, nyuwun gunging samudra pangak sami
    Shoutbox-nya manna..???

  7. waaa… menarik nih, sayang ndak ada fotonya yah :D 

    Posted by fahmi jelek

  8. harusnya dengan 900 ribu per orang bisa dapat 300 ribu. kalo cuma laku per orang cuam dapet 166 ribu. tapi lumayan, daripada ngga dapet sama sekali khan😛

    pinter juga ya… menipunya dengan mempermainkan dan mempengauhi psikologi korban 

    Posted by wedhouz

  9. saya kira tentang jahanamnya  sopir2 angkot di bjm…
    tapi ya worth to tell about lah… 

    Posted by manusiasuper

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: