"Jalan-jalan" ke Kalteng

Jumat dan Sabtu minggu lalu, dalam rangka prasurvey penelitian, saya berkesempatan berkunjung ke salah satu desa di Kalimantan Tengah. Dulu, tahun 2000 kalau tidak salah, sebelum kerusuhan Dayak-Madura itu, saya sempat ke Palangkaraya, ikut acara pengabdian masyarakat, kerjasama dengan Universitas Palangkaraya, sekaligus menjenguk teman. Waktu itu, jalan ke Palangkaraya masih menyedihkan banget, belum beraspal, tanah merah semua, mana banyak lubang lagi. Kami pakai bis, dan karena jendelanya terbuka, tas hitam saya sudah berubah menjadi merah muda pas sampai lagi di Banjarmasin. Badan serasa aneh, karena kena vibrasi sepanjang jalan.

Sekarang, sangat jauh berbeda, semua jalan sampai Palangkaraya sudah di aspal bagus sekali. Pakai mobil travel ber-AC (Kijang), Banjarmasin-Palangkaraya dicapai dalam 4 jam, termasuk singgah 30 menit di Pulang Pisau untuk makan *halah* Pulang Pisau ini memang jadi persinggahan untuk makan bagi perjalanan antara Kalsel-Kalteng (ke barat), sama seperti Binuang dan Pulau Pinang untuk perjalanan dari Banjarmasin ke Hulu Sungai (ke utara).

Ada beberapa rumah makan di sana, dan rumah makan tempat saya singgah aneh juga, karena dindingnya, kecuali bagian bawah, semuanya adalah cermin. Maksudnya rupanya supaya kelihatan luas (padahal sudah gede bener tu rumah makan), tapi yang ada jadinya pusing (paling gak itu terjadi pada saya). Sempat tercengang melihat jendela yang sepertinya melayang, tetapi ternyata itu karena letaknya di sudut ruangan. Sayang hasil foto tidak kelihatan seperti saya melihatnya di dunia nyata. Omong-omong, makanannya gak enak hehehe… Pilihannya banyak banget, apa saja ada, berbagai masakan ayam, ikan, udang (kecil sampai besar), macam-macam sayuran, belum berbagai snack dan minuman. Saya cuma nyobain “Gery Salut Coklut” (kenapa sih bukan coklat?), dan saya jadi memahami makna kata “salut” di bungkusnya. Pulangnya saya juga menyempatkan beli buah kuini (orang-orang non Banjar bilangnya kweni), haduh baunya itu loh, memabukkan! Rasanya juga syedap tidak ada duanya (mungkin cuma kalah sama buah kesturi).

Dulu, waktu saya singgah di sini bersama teman-teman adik angkatan (ketahuan ya suka gaul sama daun muda), maklum masih muda dan cuek, makanannya bawa sendiri, singgah ke restoran hanya buat pesen teh manis dan pinjem piring dan sendok, bikin cemberut yang punya restoran.

Palangkaraya juga sudah berubah besar, bersih, tapi masih sepi seperti dulu, padahal sudah tengah hari. Saya lihat banyak bangunan baru, bertingkat lebih dari satu. Dulu, cuma satu-dua gedung yang punya tingkat di atas lantai dasar. Maklum tanahnya luas, kantor-kantor seluruh kegiatannya bisa di lantai dasar. Nyaman sekali dilihatnya. Saya lihat juga ada pembangunan Mall Palangkaraya. BCA juga sudah buka cabang di sana.

Dari kantor LSM tempat kami kerjasama survey, kami (saya dan teman-teman dari kantor dan LSM) berangkat ke Kabupaten Kapuas Upstream, yang diperkirakan 4 jam lagi dari Palangkaraya, diantar pake mobil. Saya pikir pasti ketiduran (paling tidak tahan duduk kelamaan di mobil), ternyata tidak bisa, karena jalannnya sebagian besar masih berbatu-batu. Sepanjang tepi jalan tampak bekas kebakaran lahan, serasa lewat di neraka, eh, belum pernah ya. Begini saja, pada pernah main game Silent Hill kan? Atau paling gak sudah nonton? Nah, penampilan lahan di tepi jalan itu persis seperti penampilan Silent Hill saat masuk ke Alternate World. Hitam-kuning mengerikan. Terbayang bagaimana seramnya pas masih terbakar, pasti serasa lewat di neraka. Untungnya kabut asap sudah terangkat sebagian, jarak pandang cukup jauh, di atas 400 m. Di kota Palangkaraya malah bersih sekali.

Sebelum sampai ke desa tujuan, yaitu Timpah, mobil harus melalui 2 sungai kecil, yang sayangnya tidak ada jembatan penghubung antara 2 sisi sungai. Yang ada cuma “ferry” yang dibuat dari 2 buah kelotok (perahu bermesin, berbunyi tok-tok-tok-tok) yang di atasnya dipasangi papan, cuma muat 2 mobil dan 2 kendaraan. Lumayan biayanya Rp 30.000 per mobil. “Ferry” pertama tidak menyeberangkan, tapi mengikuti arus sungai, paling 5-7 menit sudah sampai. Yang lama adalah proses menaikkan dan menurunkan mobil dari “ferry”. Saya takut duduk di dalam mobil, jadi saya memilih turun dan duduk langsung di atas “ferry”. Wah, kalo driver-nya gak ahli, pasti kecemplung.

Saya juga kagum pada tim “ferry” yang terdiri dari 4-5 orang. Mereka menarik dan mempaskan posisi “ferry” agar mobil bisa naik dengan selamat. Ada beberapa “ferry” yang ada di tepi sungai, kelihatannya mereka gantian. Ada yang saya lihat wajah-wajahnya mirip sekali, rupanya masing-masing “ferry” dipegang satu keluarga. Waktu pulang, kami kepagian, dan mereka masih mandi di sungai, cuma pake celana dalem hihihi… rupanya mereka tinggal di “ferry”-nya itu.

“Ferry” untuk sungai kedua lebih konyol lagi. Yang ini bener-bener menyeberangkan, tidak sampai 1 menit deh perasaan sudah sampai ke seberang. Lurus gitu. Yah mau gimana lagi, tidak ada jembatan. Lebih lama naik-turun dan bayarnya daripada perjalanannya sendiri.

Saya sampai di Timpah hanya dalam waktu 2,5 jam, lebih cepat dari perkiraan. Di sana penduduknya ramah sekali, erm, maksud saya ramah sama orang-orang LSM yang datang bersama saya. Mana kenal mereka sama saya. Untung mereka bisa bahasa Indonesia sedikit-sedikit, jadi saya gak bingung. Kadang mereka bicara bahasa Dayak, yang menurut saya terdengar mirip sekali dengan bahasa Madura (maaf), minus logatnya. Rumah-rumahnya sederhana, dari kayu, tapi…. setiap rumah punya parabola loh. Saya saja tidak punya.

Di Timpah saya tidur di rumah penduduk yang disewa LSM itu. Untuk ukuran rumah penduduk yang sehari-harinya MCK-nya di sungai, teramat sangat bagus, karena ternyata ada kamar mandinya, ada pompa air (dari sumur), dan ada septic tank yang meyakinkan. Air (hasil pompa)-nya bersih sekali, jernih, kalah dengan Palangkaraya yang airnya kuning. Cuma memang berbau dan berasa logam.Tadinya saya sudah kuatir harus mandi dan ke toilet di jamban di sungai. Fffiuh. Padahal waktu kecil saya juga MCK di sungai, sekarang kok jadi takut ya.

Tujuan ke sini sebenarnya mau ketemu sama orang LSM yang kebagian urusan GIS, untuk pemetaan daerah survey, dan kebetulan base-nya di Timpah. Mereka sedang sibuk sekali, sehingga daripada kasian mereka yang turun ke kota, kamilah yang ke sana. Lucunya, listrik di desa Timpah hanya menyala mulai jam 6 sore sampai jam 12 tengah malam. Jadi, sesudah makan malam di rumah penduduk, kami cuma punya waktu 3-4 jam untuk diskusi. Laptop kan tahannya paling berapa lama. Gak tahu juga orang-orang yang punya parabola itu apa worth it ya, wong nyala lampu cuma 6 jam. Sejak keluar Palangkaraya juga tidak ada sinyal hape samasekali, termasuk Flexi. Di Timpah malah tidak ada sambungan telpon, ada wartel telpon satelit. Jadi kalau sudah ke desa di Kalteng sudah lepas hubungan dengan mana-mana, gak tahu deh apa sakit, apa tenggelam, apa diculik.

Oya, makanannya enak sekali, tadinya saya kuatir juga, karena orang Dayak kan makan apa saja, ada yang beternak babi segala. Untung makanannya “aman”, oseng kelakai pedas (enaknya!) dan masak habang haruan. Kelakai (Stenochlaena palustris) adalah sejenis paku-pakuan, yang dimakan adalah bagian pucuknya (katanya pucuknya yang merah berkhasiat obat). Haruan itu ikan gabus (daging ikan haruan dipercaya memperceoat penyembuhan luka, sering disuruh makan pada anak habis disunat). Padahal saya tidak suka haruan, karena sejak kecil dicekoki haruan, sampai bosen. Tapi malam itu kok enak ya. Driver kami yang vegetarian (keren amat sih ni orang) terpaksa digorengkan telur. Lucu juga loh, karena punya driver yang vegan gini, kalo makan, kita mesti milih, supaya dia juga bisa makan.

Tengah malam, tup, lampu mati. Ya sudah, tidur deh. Jam 4 pagi ayam sudah berkokok, ya ampyun. Aku tidur lagi, heran tidak ada nyamuk, padahal dinding dan lantai tidak rapat. Juga tidak dingin. Jam 5 terdengar anjing berkelahi di bawah rumah (yap, rumahnya didirikan di atas tiang), saya terbangun. Jam 6 kami harus segera berangkat kembali ke Palangkaraya, karena driver kami penganut Advent yang taat, hari Sabtu jam 9 harus ke gereja.

Jam 8 sudah sampai di Palangkaraya, dan dari sana langsung ke Banjarmasin pake bis. Sumpah, saya gak mau lagi naik bis. Sudah panas (padahal pake AC), lebih mahal dari mobil travel, terguncang-guncang keras lagi. Oke, besok saya jalan-jalan ke Kalteng lagi, mudahan tidak hujan, karena saya akan ke Kabupaten Kapuas Downstream, menyusuri sungai Kapuas pake speedboat. Waduh, pertama kali nih naik speedboat. Doakan saya ya!

Karena saya tidak sempat mengambil foto oseng kelakai, maka saya ambil pic di atas dari postingan JustKay di forum eGullet.

14 responses

  1. wow.. perjalanan panjang ya..🙂
    jadi penasaran mau merasakan langsung.. terutama tempat2 makannya :p

  2. Huaaaa… pengenn ni jalan-jalan ke kalimantan 😀

    Pasalnya cwek gw urang banjar dan tinggal di banjarmasin. Sementara selama 3 tahun pacaran gw belum pernah juga ke banjar :D 

    Posted by dudidam

  3. Hello Mina.
    My name is Andrew. I am from Peru.
    I don’t know too much write English, so so.
    My Answer o Question is about Recent Comment.
    I don’t understand why got this pop-up box:
    Error: hearsay: could not process comment: undefined.
    Why?
    I have a blog help.
    I wish public about this recent comment.
    Could you help me?
    Bye.
    PD: Sorry by don’t comment this post.

  4. mobil naek ‘feri’?? kasian feri yahh dinaik2in mobil seberat itu… hikz… kyakakakaka… :p

  5. wah… perjalanan yg menarik tuh, keliatannya seru banget!
    *jadi pingin jalan2*

  6. Palangkaraya itu kota nya seperti apa ya?

    Aku punya temen deket, tinggal di situ..

  7. wah bagi dong oleh2nya…

  8. Padahal waktu kecil saya juga MCK di sungai, sekarang kok jadi takut ya. >>>>wakakakkakaka

  9. sayurnya kok ‘tidak meyakinkan’ ya?? tidak mengundang selera, maksudnya :p

  10. seru seru, jadi pengen ke kalteng nih

  11. @fahmi:
    mungkin aku sudah ketularan vegetarian😀 mosok kayak gitu keliatan gak enak seh?

  12. GILEE!!!

    mbacanya aja bikin saya jadi pengen ke sana!!

    menyenangkan sekali bisa jalan-jalan gitu..

    MANTAB!!! 

    Posted by zam

  13. Kayaknya kok gak mewakili ceritamu yah… dari inti kaltengnya.
    Justru masak habangnya kok gak ditampilkan komplit, dan kalakainya yg sangat unik yg hanya ada di kalteng.

    Lebih bagus, judulnya :beratnya perjalananan dari banjarmasin ke palangkaraya melalui darat. Itu saja. 

    Posted by Toyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: