Susahnya kuliah

Besok mulai UAS – Ujian Akhir Semester. Amin belajar. Dengan tekun. Sudah terkenal kalau kuliah-kuliah semester atas yang dipegang oleh dokter-dokter di Rumah Sakit biasanya bahannya nauzubillah banyaknya dan ujiannya sangat sulit. Entah memang mahasiswa jaman sekarang yang bolot atau soalnya memang tidak disesuaikan untuk menguji kompetensi mahasiswa sesuai tujuan belajar mata kuliah itu. Pokoknya Amin tidak mau sampai tidak lulus, karena dia ingin lulus 4 tahun, maklum kuliah jaman sekarang mahal. SPP naik, uang bensin naik (mana kampus di dua tempat yang berjarak 1 jam perjalanan dengan sepeda motor), diktat bahan kuliah semakin tebal dan semakin mahal, fotokopi slide kuliah yang berpuluh-puluh lembar, uang makan dan uang kos yang dengan sadisnya dinaikkan oleh ibu kos. Banyak pokoknya yang harus ditanggung orang tuanya. Untungnya Amin cukup pandai, dan IPK-nya saat ini 3,6.

Tiga minggu kemudian, semua nilai sudah keluar. Oke, A-B-A-B-A-B-C-B-B-C-E.. loh? E???? Gak mungkin! Apa tadi mata kuliahnya? Etika dan Hukum Kedokteran? Digosok-gosoknya matanya. Masak sih? E untuk Etika adalah harga mati. Tidak ada mahasiswa yang bisa yudisium kalau Etika-nya E. Di mana kesalahannya? DIa yakin jawabannya sudah sebagian besar benar, sudah dia cek jawaban-jawabannya, minimal di atas 6 nilainya. Amin juga bukan tipe mahasiswa kurang ajar atau tidak beretika.Amn melirik ke daftar nilai Etika. Hah, banyak yang E, minimal ada 10 orang. Yang D juga banyak. Sebentar. Ina juga E? Sita, Ari, Enny, Eva, Lisa, Gatot. E juga. Aneh, padahal mereka semua IPK-nya di atas 3 semua, nilai rata-rata mata kuliah mereka B. Ada juga sih yang memang nilainya rata-rata rendah yang juga dapat E.

Amin menghubungi teman-temannya sesama E. Semua yakin mereka rata-rata bisa menjawab dengan baik. Mungkinkah ada dosen yang tidak sempat memeriksa lembar jawaban mahasiswa, sehingga pada waktu mengeluarkan nilai asal tulis saja? Gak mungkin ah, dia kan dosen Etika. Akhirnya mereka sepakat untuk bertanya kepada dosen pengampu mata kuliah Etika. Tapi… sesampai di depan pintu, mereka balik kanan. Gak usah aja deh. Dosen ini terkenal menyeramkan, kalau coba-coba mempertanyakan nilai yang dikeluarkan, bisa-bisa tidak lulus-lulus, kapan selesainya kuliah? Ah sudahlah, tahun depan, tahun terakhirnya kuliah di pendidikan sarjana, sebelum pendidikan profesi atau koass, dia masih bisa mengulang. Tidak terpikir olehnya bahwa dosen pengampu mata kuliah Etika tahun depan masih orang yang sama.

Di institusi pendidikan negeri di mana-mana saat ini, masih banyak dosen yang lupa bahwa kalau sudah menerima pekerjaan sebagai dosen, maka dia menanggung seluruh tanggung jawab menyelenggarakan mata kuliah yang diampunya. Mulai menyiapkan panduan mengajar (Satuan acara Pengajaran = SAP, Kontrak perkuliahan, Study Guide, Diktat, Buku Ajar) berbasis pada kurikulum (yang pada gilirannya berbasis pada kompetensi lulusan yang ingin dicapai). Lalu melakukan proses belajar mengajar berdasarkan panduan yang telah disusunnya. Kemudian mengevaluasi keberhasilan mahasiswa (dan dirinya) dalam proses belajar mengajar itu: tercapaikah tujuan belajar yang dia tuliskan di SAP? Kalau tidak tercapai, dimanakah letak kesalahannya? Pada panduan, atau pada proses belajar-mengajar, atau pada evaluasi? Pada dirinya atau pada mahasiswa?

Kalau tunjangan dan gaji tidak naik-naik, ribut (dan langsung membandingkan gajinya dengan gaji DPR), menyalahkan sistem yang tidak mau mendukung perkembangan dunia pendidikan. Dosennya saja gajinya kecil, bagaimana bisa memberikan pendidikan dan pencerahan pada manusia kalau perut lapar? Saya jadi harus cari makan di luar juga nih. Kalau saya sampai tidak sempat mengurusi mahasiswa, jangan salahkan saya loh.
Tapi kalau sudah naik gaji, lalu diajak bicara tentang apa yang sudah dilakukannya untuk mendidik dan mencerahkan manusia didiknya seperti yang digembar-gemborkannya itu? Berkilahlah lagi dengan menyalahkan sistem pendidikan yang (lagi-lagi) tidak bisa menyediakan dana cukup untuk membeli fasilitas belajar yang lebih canggih dan ruang kuliah yang nyaman dan ber-AC. Lalu fasilitas internetnya kok tidak disediakan, bagaimana saya mengajar kalau saya tidak bisa cari bahan lewat internet?

Dengar-dengar rumpian, muncul cerita-cerita “lucu” tapi menyakitkan bagi mahasiswa tentang proses perjalanan kuliah mereka:

1. Seorang dosen yang terlalu sibuk, banyak pekerjaan nih, proyek penelitian saya yang ini sudah deadline, mana saya mesti rapat-rapat akreditasi lagi di Fakultas, saya kan sibuk karena perintah pimpinan juga. Karena waktu batas nilai akhir masuk sudah sampai, dan karena lembar-lembar jawaban mahasiswa terselip entah ke mana, ya sudahlah, nilainya dikira-kira saja. Yang namanya agak intelek, dikasih nilai bagus deh. Lah, ini namanya kok agak kampung, biasanya kurang berpendidikan, saya kasi D+ aja deh.

2. Seorang dosen yang terlalu malas. Terlalu banyak lembar jawaban yang harus diperiksa. Soalnya essay lagi. Mudah membuat, tapi malas memeriksa. Tulisannya banyak yang jelek lagi nih. Sudahlah, mana daftar namanya. Saya isi sajalah nilai yang bagus-bagus, nilai mata kuliah ini gak krusial juga, paling kalau ilmu ini mau dipakai pas mereka kerja, mereka ditraining lagi. Tenang… Gak bawa bahaya kok. Alhasil, mahasiswa yang ternyata sudah membatalkan untuk mengikuti mata kuliah itu pun (dan tidak pernah masuk sama sekali), nilainya keluar A.

3. Seorang dosen yang baik hati. Buat apa sih menyusahkan mahasiswa. Bikin soal tu tidak usah sulit-sulit. Nanti kalian akan saya beri kisi-kisi. Soalnya nanti ada 5. Essay semua lo. Catat ya, nomor satu soalnya tentang jenis-jenis bentuk sediaan obat beserta keuntungan dan kerugiannya. trus nomor 2, ….. dst. Oya, kalau soal pilihan berganda, kan sulit bikinnya. Mesti banyak mikir. Sudahlah, mana soal tahun lalu, saya tandai, kita campur-campur dengan soal yang tahun lalunya lagi deh. Yang gampang-gampang aja. Yang sulit-sulit nanti nilai mereka jelek. Kasian kan.

4. Seorang dosen super pintar. Kalau ngajar gak bawa apa-apa. Bisa langsung nyerocos di luar kepala. Tidak perlu apa itu namanya, SAP? Bikin kaku mengajar. DIktat kuliah? Study Guide? Keenakan mahasiswa tidak perlu susah-susah nyari bahan belajar. Nanti tidak mau belajar dari buku lain lagi. Slide kuliah? Menguntungkan tukang fotokopi saja.

5. Dosen yang tidak terorganisir. Mau ujian akhir. Bagian akademik menagih soal. Oke, nih soalnya. Ujian berjalan. Mahasiswa protes, ini ujian Mata 2, kok soalnya bahan dari Mata 1? Bu, kok soalnya dari Mata 1? $#%#^&^$^*&%%!!! Gak lulus kamu!

6. Dosen hobi cari duit. Saya persulit saja soal semester ini. Tuh kan, mahasiswa banyak yang tidak lulus. 75% nilainya D ke bawah. Ah mahasiswa payah, kurang belajar. Oke kita adakan semester pendek yah. Mahasiswa yang tidak lulus kuliah saya di reguler, silakan ikut semester pendek. Oh ya saya lupa bilang, 1 SKS-nya bayar 100ribu ya? Satu lagi, saya mau ngadain seminar tentang masalah yang berkaitan dengan kuliah kamu ini. Besok acaranya. Kalian semua wajib ikut ya. Bayarannya Rp 150.000 per orang. Nanti soalnya semua dari makalah saya di seminar itu.

7. Dosen super rajin. Bagi yang ingin membuat skripsi, sini saya mau jadi dosen pembimbing. Eh ssst, ini ada proposal sudah jadi saya bikinkan, kamu tinggal seminar aja. Ya gak papa, aduh, kamu tidak perlu sampai menyembah-nyembah saya begitu. Saya kan pembimbing kamu. Ngomong-ngomong, depan rumah saya itu sering banjir, maklum musim hujan gini. Sudah lama saya berniat meninggikan tanahnya, yah, sekaligus membuat taman kecil lah di depan rumah, biar asri. Oh, kamu tidak tahu alamat rumah saya? Ini kartu nama saya. Silakan kapan-kapan bertandang ke rumah.

8. Dosen super mesum. Tidak usahlah ini dipanjanglebarkan.

Jadi mahasiswa ternyata susah.

Pic taken from University of Kent website.

20 responses

  1. udahlahhh..jangan ngomongin yang bertema ujian, kampus, dosen, lulus, IPK……arrrrggghhh!!!!!
    *seperti kisah hidup saya aja*

  2. huahahaha…. beruntunglah mereka yang sudah lepas dari masa sulit sebagai mahasiswa…
    tapi disisi lain… berbahagialah juga kalian kebanyakan mahasiswa yang masih bisa nebeng jatah dari orang tua….
    hidup itu emang masalah kok mulai dari kita lahir..😀

  3. wah nilai kuliah kalo ga berwarna-warni tu ga kereeeen
    ibarat pelangi, kalo warnanya cuma putiiiiih aja ga bagus di mata😛

  4. hehe.. bagus n lucu2 rumpian tentang dosen2nya.
    kalo di
    sini, rata2 dosennya masuk kriteria no. 4, mereka jarang mengajar bawa buku or diktat sudah di luar kepala semua.

    Salam kenal.

  5. Yusuf Alam Romadhon | Reply

    saya saat ini dah sangat merasa beruntung alhamdulillah udah lulus… telah melalui ruwetnya, serba salahnya, carut marutnya kampus berurusan dengan dosen… selamat berjuang… just enjoy aza.. salam kenal yah dengn diriku..

  6. aku pernah dapet dari A sampai E :p *bangga*.

  7. “Susahnya jadi dosen…..”. Aku gak termasuk kriteria di atas…karena aku dosen yang ngiler……eh killer.

  8. makanya cepetan lepas status mahasiswa, hahaha…trus abis itu gantian jadi dosen..=)

  9. nah bu dosen masuk kriteria yg mana nih..😀

  10. Duhh, kesindir deh. Barusan mata kuliah saya lulus semua, padahal ga pernah ngasih bocoran dan tidak berniat berbaik hati. Jadi kriteria yang mana nih, 3.a apa 3.b ?

    Baiknya gimana dong ?

  11. wah bagaimana nasib Ngatimin, Tukiman, Tukijo, Paijo, Sarimin kalo dapet tipe dosen no 1 yah hwehehee

  12. semoga ini ga akan terjadi sama saya yang kebetulan ga kuliah di indo… bukan ga mungkin di sini kayak gitu juga sih. tapi moga2 aja ngga…

  13. Baru dapet E sekali kan? yah anggep aja variasi :-p

  14. kuliah? apaan tuh?
    *ngacir…*

  15. Susahnya kuliah ? Lebih susah bayar kuliah,…eh susah lagi kalau dah lulus kuliah. *Ngga bisa ikutan demo- he..he

  16. Susah seneng itu relatip Mbak…..pokoke orang hidup sekali mah harus gumbira atuh!!!

    Nuhun

  17. aduh,, Ma kesindir nih, jadi inget masa masa itu (halah!),, di sini sih (Unsri) nilai E itu dikeluarkan dengan gampang,, bencii!!! kalo ujian koas yang lisan,, tergantung dosen banget,, ada lho dosen yang suka warna pink, jadi kalo pake pink lulus,, kebayang aja kalo cowo yang ujian sama dia,,🙂

  18. Buat dosen2 yang suka mempersulit mahasiswa/siswi, dimohon untuk sadar akan pentingnya melaksanakan kewajiban mulia ini sebenar-benarnya. jangan mempermainkan nilai-nilai mahasiswa. Menurut hemat saya, jikalau 60% keatas dari jumlah mahasiswa/siswi failed dalam suatu pelajaran, yang bermasalah adalah antara dosennya yang tidak bisa mengajar atau kurikulumnya. dosen-dosen seperti ini sangat tidak membantu Negara Indonesia untuk menciptakan Sumber Daya Manusia yang baik.

    Mungkin sudah menjadi rahasia umum bahwa masih banyak sekali dosen yang seperti ini. bahkan dosen-dosen yang kalau dilihat dari umurnya sudah harus menjadi panutan (dalam hal sifat dan sikap dan perilaku yang baik). berilah contoh pada kami semua. Apakah di Indonesia mahasiswa/siswi tidak memiliki hak dalam proses belajar dan mengajar. Sampai saat ini pun, dosen bisa marah, apabila mahasisa/siswi ingin melihat hasil pemeriksaan ujian (karena mereka merasa dapat mengejarkan dengan baik)

    Terima Kasih kepada dosen-dosen / guru-guru yang sudah benar-benar menjalankan kewajiban mulia ini dan untuk ilmu yang sudah diberikan.

  19. Nomor 5 sampai 8 parah banget ya, semoga saya gak dapat dosen seperti itu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: