Fotografer amatir

Beberapa hari lalu aku baca di blog-nya Fahmi (dia sendiri dikasi tau paman tyo), tentang link pameran foto bagi fotografer amatir di sebuah museum fotografi di Lausanne, Perancis, yaitu Musee de l’Elysee. Dengan mengusung tema ‘We are all photographers now!’, mereka mengajak semua fotografer amatir di seluruh dunia untuk mengirimkan hasil besutan mereka untuk dipamerkan di museum itu antara tanggal 8 Pebruari sampai 20 Mei 2007 (bukan Maret, Mi!), untuk meng-explore “the rapid mutation of amateur photography in the digital age”. Pastinya paman tyo punya banyak foto yang dipamerkan di sana. Fahmi memasukkan foto bis (yang mana ya ini, Mi, aku ingat pernah ada di salah satu postingan di blogmu ya?).

Aku jadi penasaran, pengen juga. Terus terang saja, aku bukan fotografer. Ngambil foto hanya dengan kamera digital tanpa optical zoom, merk Kodak, udah lama banget, hadiah dari my dad, makanya gak diganti-ganti. Kalau lagi gak bawa kamera, ya pake kamera hape. Jadi hasilnya mohon dimaklumi.

Waktu masih di Jogja, aku dapet temen baik banget, namanya Woe Lan (cara menulis namanya yang tidak akurat ini sepenuhnya kesalahanku), tetangga kamar. Dia makhluk terunik di dunia, dan satu-satunya teman yang bisa ngertiin hobi dan tujuan hidupku yang berubah dalam hitungan menit. Soalnya dia juga sama hehehe… Sewaktu kami masih di Jogja, kami biasa berkeliaran setiap malam (setelah paginya mengecek halaman iklan pameran di koran KR dan Kompas Jogja) menjelajah pameran, pertunjukan musik, pasar seni, pawai (yang kayaknya sering banget diadakan di Jogja), dsb, sambil membawa-bawa kamera: aku membawa kamera digital di atas, dia membawa kamera analog lengkap dengan lensa tele warisan ayahnya. Aku dengan batre kamera yang selalu habis di saat-saat penting, dan Woe Lan dengan film yang selalu habis gara-gara digunakan untuk hal-hal duniawi (seperti cowok, cowok, dan cowok). Waktu itu kami merasa sebagai fotografer amatir, dan jadi punya alasan ngobrol-ngobrol dan berkenalan dengan fotografer-fotografer keren itu hihihi… Sampai kami bertemu dan berkenalan dengan Ajie (fotografer profesional), dan dia begitu baik dan sabar sampai kami sendiri akhirnya sadar, bahwa di atas langit masih ada langit (ini hanya tentang foto-memfoto loh, hehehe…).

Pendeknya, jadi gak pede urusan foto-memfoto ini. Tetapi, apa salahnya iseng-iseng nyoba? Aku mengirim ke pameran itu (dengan agak bernafsu) 7 foto: 3 foto yang diambil di Mantangai (desa hilir sungai Kapuas, Kalteng), 1 di Tumbang Nusa (desa di tepi sungai Kapuas, Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng), 1 foto di Timpah (desa di hulu Sungai Kapuas, Kalteng), dan 2 foto di Sungai Sebangau (Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng). Tadi dapat email dari Museum tersebut, bahwa 3 foto Mentangai masuk pameran.

Date: Mon, 5 Mar 2007 13:35:30 +0100
Subject: All Photographers Now! – Your photos have been displayed!
From: “Musee de l’Elysee”

Dear Photographer,
Your images were shown in the Musee de l’Elysee’s exhibit ‘We are all photographers now!’ in the last few days. Enclosed you will find some installation views of your images that show them in the wall…

Ini satu dari 3 attachmentnya:

Weh, gak nyangka, yang kupikir gak menarik, malah masuk. Tentu saja ketiga foto ini hanya masuk installation view, jadi belum tentu akan masuk permanent collection dari museum itu (kejauhan kali angan2nya). Ini ketiga foto tersebut.

Yang ini foto waktu menyeberang dari Kapuas ke Mantangai. Di sini aku jatuh terduduk pas pulangnya.

Yang ini foto jembatan ke arah “batang”, tempat mandi, mencuci, dsb. Waktu itu aku harus mengambil sampel di titik terujung desa, adanya ya di sini. Tu jembatan panjang banget, dan karena aku paling takut menginjak sesuatu yang tidak solid menancap ke tanah, aku hanya sukses berjalan sampai setengah jembatan, lalu balik. Tiap langkah membuat jembatan reyot itu bergoyang-goyang. Jadi inget jembatan gantung di Loksado.

Ini foto teman, cewek paling rajin dan inovatif dari Mantangai. Satu dari 2 teman baru dari Kalteng yang bikin aku kagum (satunya adanya di Sebangau, cowok). Ini dia sedang membantu aku mengambil sampel air minum. Tidak habis pikir aku, dia bisa lari-lari naik turun seperti itu tanpa patah kaki.

Gimana? Tertarik untuk join the exhibition?

9 responses

  1. Suit-suit! Asyik nih!  

    Posted by Paman Tyo

  2. wah.. info yang menarik.. ikutan, ah..😀

    eh, kemuat potonya?

    makan-makan berarti.. :D 

    Posted by zam

  3. oh, sampek mei toh? maap saalh keitk :p

  4. haduh ada paman tyo!malu…. hiks *mengubur kepala dalam pasir*

    zam ini, kalo gak jalan-jalan, ya makan-makan ya, kalo gak ya foto-foto.

  5. [Singsot]
    TOP deh!

  6. waks! salut….mainannya kelas internasional… (kebanting mode) hiks… (Bakhri-Sydney)

  7. Udah bisa nih kayaknya… heheheh

  8. di bwh amatir apa ya…😦

  9. Kalo aku jurinya ku pilih yang nomor 2….artistik. Tangga yang menjulur ke sungai….Berakhir dimana ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: