Lagi-lagi Hilang

Ternyata memang bener kata my friend: kalau gak ketinggalan/kehilangan barang, bukan mina namanya. Saya ini mungkin sudah mulai pikun. Ada seorang teman yang begitu pelupa, sampai-sampai habis ngantar ibunya ke mall (di Jogja), habis nurunin ibunya (dia tidak suka berbelanja jadi lebih suka nunggu di parkiran), bukannya duduk menunggu dengan sabar, eh, malahan pulang dan tidur. Kalo ibunya tidak menelpon, tidak ingat dia bahwa dirinya tadi mengantar ibunya. Keparahan pelupanya memang keterlaluan sampai akhirnya disuruh mengamalkan baca Shalawat. Kelihatannya manjur, karena tu anak kalo masalah mengingat kata-kata saya sampai detil-detilnya paling jago. Terutama kalau berkaitan dengan traktiran.

Jadi, kemarin, saya tergesa-gesa pulang ke Banjarmasin dari Banjarbaru, naik taksi seperti biasa (ingat, di Banjarmasin, taksi = angkot, dalam hal ini angkot antar kota, L-300). Taksi yang dinaiki ini kosong, saya duduk di depan dengan teman saya. Seperti umumnya taksi, mereka tidak mau rugi berangkat jarak jauh dengan penumpang seadanya, karena sudah sampe tepi kota Banjarbaru cuma terisi kami berdua (sesudah lama ngetem di pasar dan ngantri panjang di POM bensin), kami diturunkan dan dipindahkan ke taksi lebih-jarak-jauh-lagi, yaitu taksi Hulu Sungai yang terkenal dengan lajunya dan ketidakpeduliannya dengan aturan lalu-lintas dan keselamatan penumpang. Saya sih asik-asik saja, semakin cepat sampai, semakin baik.

image022.jpgBegitu sampai terminal Banjarmasin, saya mencari dompet mau bayar. Lho? Tidak ada? -flashback ke 45 menit sebelumnya- Saya naik taksi di depan kantor, dompet tidak sempat memasukkan ke tas, saya tarus sementara di sebelah saya. -flashback ke 30 menit sebelumnya- Saya turun dari taksi itu ke taksi satunya tanpa ingat membawa dompet. TIDAAAAAAAAAAAKKKK!!! Hiks…. Tidak ada duitnya sih, karena saya lebih suka menaruh uang dalam amplop-amplop (yang tentu saja kemudian terselip di mana-mana, bahkan di arsip surat lama di lemari file di kantor saya). Yang menyedihkan itu di sana ada: 2 ATM saya, 1 ATM bagian saya bekerja (mati saya kalo jebol), Karpeg, Kartu Askes, Kartu Kolegium (mosok saya harus tes lagi untuk mendapatkan kartu ini?), kartu fitness (gak penting banget heheheh), kartu Matahari Club (-halah-), dan yang paling penting KTP! Arrrghhhhh…. Padahal besoknya (maksud saya hari ini) saya harus berangkat ke negerinya si bebek goreng ini, gimana masuk bandara tanpa KTP?

Jadi saya segera mengabarkan berita sedih ini kemana-mana: ke rumah (minta didoain supaya ketemu), ke Aji (buat jemput my friend karena aku berencana ke Banjarbaru lagi), ke Nida (minta temeni ke Banjarbaru). Lalu bertanya-tanya di terminal siapa tahu ada yang tahu siapa nama sopir dan berapa nomor mobilnya. “Seperti apa mbak orangnya?” “Keriting, rambutnya agak panjang, seperti Jaja Miharja gitu deh, kaos oblong biru, topi biru, jeans biru.” “Orangnya kecil ya?” “Biasa aja deh perasaan. Agak tua.” “O, si Asan tuh.” Yang lain menimpali: “Asan Kacip kah?” Tambah banyak yang yakin bahwa itu lah nama si sopir. “Ya, yang badannya kecil,” kata yang lain. “Lo badannya gak kecil kok,” kata saya. “Iya ai Asan Kacip, dia suka pake topi. Rumahnya di Martapura.” komentar saya dicuekin. Yah, pokoknya saya titip pesan kalo-kalo si supir berciri mirip seperi yang saya sebut (tidak harus si Asan itu) itu muncul di terminal, mohon saya ditelpon.

Lalu saya berangkat ke Banjarbaru dengan satu-satunya kendaraan yang paling logis digunakan ssat itu karena saya harus memanjangkan leher melihat sopir-sopir taksi yang berlawanan arah. Jadilah saya naik sepeda motor di tengah jalan (biar lihat taksi di sisi seberang) di panas terik di siang bolong. Sampe ke Banjarbaru, gak nemu sopir dengan ciri tersebut. Sampailah saya di terminal Martapura, sekitar 40 km dari Banjarmasin. Di sana saya bertanya-tanya lagi, dan para sopir yang mejeng di sana dan kedengaran keasikan mendengar cerita saya, mulai mengajukan nama-nama yang mungkin: “Wah si Jali tuh, suka pake topi.” “Loh, katanya namanya Asan?” “Asan? Siapa itu? Jali pasti, rumahnya di Banjarmasin, di Pal 7.” “Orangnya kecil kan?” Kenapa sih topik ini muncul terus. “Tidak, biasa kok.” “Pasti itu si Jali. Apa warna bajunya?” “Biru, oblong.” “Ya, Jali pasti.” “O, tadi ada ke sini ya pak?” “Gak ada melihat sehari ini” Loh kok tahu bajunya biru. Yang lain menimpali,”Tapi Jali tu banyak. Ada Jali Amat, ada Jali Ceper. Jali yang mana maksudnya?” Lo? emang siapa yang bilang namanya Jali. Saya mendesah dan titip pesan kali-kali aja ada yang lihat orang berdeskripsi sama agar menghubungi saya.

anday784.jpgDan ternyata waktu wira-wiri gak jelas itu, tutup batre henpon saya ilang. Aneh, kapan jatuhnya dan dimana? Ihiks… -ngelirik ke foto di sebelah- yah begitulah sekarang batre saya telanjang. Masih menunggu Andriya (dia kerja di Nokia) untuk mencarikan tutupnya. Na kalo Andriya sih sudah biasa dengan berbagai keluhan saya yang kehilangan berbagai piranti. Er, gede banget ya tangannya si Aji.

Balik ke Banjarmasin sambil kepala celingak-celinguk sampe pegel. Sampe di terminal Banjarmasin, saya shalat Zhuhur dulu sambil berdoa dengan khidmat sambil membayangkan bahwa saya terpaksa mengurus surat kehilangan KTP hari ini. Sesudah itu, saya beli minum karena haus banget (sebenarnya perut sudah keroncongan). Di terminal, saya menanyakan lagi, dan orang-orang meributkan lagi, tapi tetep…. naman-nama baru keluar. Hhhhh…. Saya pikir ya sudahlah mungkin harus diikhlaskan, sambil berjalan gontai ke arah parkiran sepeda motor. Saya menatap siluet bayangan di kanan. Oits, Jaja Miharja! Er, maksud saya Asan a.k.a Jali a.k.a siapa pun juga itu namanya ada di sebelah saya lagi ngobrol dengan temannya. “Pak, pak, masih ingat saya?” “O, iya, dompetnya ketinggalan kan?” Saya speechless. Dia mengasihkan dompet ke saya, “Tidak saya buka kok mbak, silakan dicek uangnya.” Saya yang masih syok cuma melongo. APa? Dompet saya ditemukan? DAN DIKEMBALIKAN? -sampe sekarang masih syok- Hampir saja saya peluk pak supir itu andaikata dia adalah Johnny Depp. Dan by the way, saudara-saudara, ternyata dia tidak mirip Jaja Miharja, rambutnya tidak terlalu keriting, badannya tidak kecil, topinya putih, celananya bukan jins. Begitulah, kemampuan observasi saya yang payah.

Jadi, seperti all fairy tales, cerita ini berakhir dengan happy ending. Tetapi masalah utama tetap belum selesai: saya selalu meninggalkan dompet. Menurut teman-teman saya yang ngumpul untuk membicarakan kisah saya hari ini (kurang kerjaan sekali mereka), ada 3 solusi: 1. dompet ukurannya diperkecil dan dikasi rantai ke pinggang (dompet saya adalah dompet hadiah Telkomsel yang gede kayak buku agenda itu). 2. tas saya diperbesar karena alasan saya sering ketinggalan dompet karena dompet saya tidak muat di ransel laptop saya. 3. beli mobil. Ahem….

16 responses

  1. jangan lagi deh kehilangan dompet itu…
    bikin pusing,, dan laper ya ka….

    Sepertinya,, tuh dompet harus dipake kan tali deh…

  2. coba dompetnya dipasang rante kapal…
    mungkin malah rante kapalnya yg ilang…
    hihihi..

  3. Asyik… ada yang mau beli mobil nih….. setuju….

  4. ternyata masih ada manusia jujur di dunia ini..😀

    eh, keknya pernah baca cerita ini, pas kehilangan henpon di angkringan sebul..😀

  5. @anna: hohoho…. ikut merasakan ya.
    @fahmi: kok banyak yang bilang gini ya😀
    @bahri: ahem! ahem!
    @zam: iya, persis sama, zam. -lalu memburu zam balik ke pohon- belajar sana! kan mau pendadaran?

  6. kaya apa mun dompetnya kada usah di isi apa2😀

  7. kawa unda jadi makelar neh…

  8. Untung masih bisa mengingat orangnya. Saya parah sekali mengingat orang. Mantan murid yang belum genap setahun, yang ketika jasi murid begitu akrab pun segera terlupa. Eh, ternyata banyak pelupa, ya. Mungkin ada vitamin atau suplemen lainnya yang bisa meningkatkan daya ingat. Bukan yang diiklan televisi. Itu sih cuma bikin mata melotot, tapi otak tetap loyo.

  9. wah… gila =))
    seru banget ya demi sebuah KTP…. tapi bagus dong kalau ketemu.. hihihihi..
    dan syukur banget ya dompetnya selamat beserta isinya.
    hati2 atuh sistah…🙂 jangan sampai kayak gitu lagi.
    kejadian yang cukup complicated gini, harusnya bisa jadi pecut untuk selalu perhatian sama barang bawaan🙂

  10. wah, sampai parah gitu sering ninggalin dompet. untungnya bapak sopir taksi (baca:angkot) itu baik hati ya Mbak.. coba kalo dia jahat pasti udah diapa2in tuh dompetnya. boro2 ngaku. tapi syukurlah semuanya happy ending🙂

    btw selain 3 solusi itu, kayaknya bagus juga tuh Mbak Mina konsultasi ke dokter kira-kira makanan apa yg bagus dikonsumsi untuk meningkatkan daya ingat. siapa tau bisa bermanfaat🙂

  11. wah…mbak mina, doanya terdengar tuh ^^
    dompetnya dikembalikan. saluut ama pak supir. menjunjung tinggi kejujuran. semoga kejujurannya dibalas oleh Tuhan😀

  12. aku juga sering kehilangan barang. barang-barang yang ditaruh di atas meja selalu saja hilang entah kemana. AAArg! T_T fufufufu ^_^

  13. Keseringan bolak-balik jogja tuuuh… Makanya pikunnya berakselerasi
    *apa hubungannya???*

    Btw, next time, call me kalo minta jemput, ongkosnya ga mahal2, cukup Harry Potter edisi terbaru, hohoho…

  14. wah, mbak keknya perlu curiga sama golongan darah tuh…

    golongan darah Mbak apa sih?

    hm…bisa dilihat di sini
    😎

  15. hahaha…………

    tau aja kan klo supir di banjarmasin tuh rada2 nakal…..
    pasti tuh si supir yg pegang tuh dompet

  16. fren….tanpa sengaja aku tadi nyari gambar Jogja (kotaku tercinta) ehh kok ngliat foto yg kayaknya aq pernah liat sebelumnya di kompinya IKA,kamu temenyya IKA ya, aku temen kerjanya (dulu sih..skarang aq dah pindah)di Xmantan,IKA anak blitar bener gak ya? atw mataku yang salah ngliat…tapi kayaknya bener dech…tapi kok di blogmu yang kamu ceritakan kotaku tercinta (Jogja) melulu,klo kamu org Jogja brarti kmungkinan aq salah….he..he…kayak detektif ya pake analisa situasi segala…..tapi…ya gak taulah…klo aku salah brarti ya salam kenal aja dari aku….tapi bukan bermaksud untu sok kenal lho…thanks fren

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: