Minat Baca Warga Kalsel Rendah (?)

Judul di atas adalah salah satu headline di halaman Radar Banua di harian Radar Banjarmasin kemaren (26 Juni 2008). Sering menjadi pendapat umum bahwa minat baca orang Banjar, atau warga Kalsel, atau bahkan orang Indonesia rendah, entah dari mana mereka menyimpulkan hal itu. Saya selalu tergelitik (baca: tersinggung) kalau ada pernyataan seperti ini. Kenapa? Minat baca rendah identik dengan pengetahuan yang kurang luas dan tidak mutakhir. Bermuara pada kebodohan. Siapa yang mau dibilang begitu?

Saya teruskan membaca paragraf-paragraf di bawah headline tersebut. Maklum, dengan ledakan informasi baru setiap hari, saya terbiasa hanya membaca berita koran yang headline-nya menarik.

Dibandingkan dengan masyarakat Pulau Jawa, maka minat baca warga Kalsel terhitung masih rendah. Pendapat di atas diutarakan Kabid Pelestarian dan Pelayanan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (Bapustarda) Kalsel, Drs. Ridwan Map.

Oh, mungkin beliau menilainya pasti dari angka kunjungan perpustakaan dan jumlah transaksi harian di perpustakaan daerah akhir-akhir ini. Oh ya, betul, di paragraf di bawahnya dikatakan kunjungan hanya 70-80/hari. Hmmm… sebelum membahas itu, saya ingin mengenang tentang perpustakaan-perpustakaan dan taman bacaan di kota Banjarmasin pada dekade-dekade lalu.

Duluuu sekali, waktu saya masih SD sampai SMA (mungkin juga pas saya kuliah), semua Perpustakaan di kota Banjarmasin adalah tempat kunjung favorit saya.

Dimulai dari Perpustakaan Balai Wartawan yang dulunya berada tepat di lokasi halaman Hotel Batung Batulis sekarang (yang ada Rumah Makan Wong Solo). Saya dulu pulang sekolah selalu singgah dulu di kantor my mom di Departemen Agama Kodya Banjarmasin yang dulunya masih menghadap ke Jalan S. Parman (sekarang sudah menghadap ke Jalan Pulau Laut). Setiap habis makan siang, saya, my mom, dan teman my mom akan meneruskan melangkah ke Perpustakaan Balai Wartawan yang menurut saya dulu arsitekturnya bagus sekali. Sepanjang sisi luarnya yang melingkar terdapat teras. Pintunya menghadap agak serong ke arah jembatan dekat Mesjid Sabilal Muhtadin sekarang, namun sepanjang dindingnya berupa jendela kaca, sehingga perpustakaan itu terang-benderang. Buku favorit saya waktu itu adalah Dongeng Hans Christian Andersen yang terdiri dari beberapa jilid buku tipis, dengan ilustrasi yang sangat indah (membuat saya sampai sekarang senang dengan buku yang mempunyai ilustrasi bagus), dan Si Penidur, entah siapa pengarangnya, saya sudah lupa. Pada waktu itu saja, bukunya sudah berlubang-lubang hasil kreativitas hewan pelubang buku hihihi…. Perpustakaan ini beserta Balai Wartawannya kemudian dihancurkan, dan perpustakaannya pindah ke Pasar Baru. Sekarang Perpustakaan itu sudah tidak ada lagi di sana, entah pindah ke mana.

Pada waktu saya SMP dan SMA, perpustakaan favorit saya tentu saja perpustakaan sekolah dan Perpustakaan Daerah di Jalan Pierre Tendean (Pacinan kalo kita dulu menyebutnya). Counter peminjaman di Perpustakaan sekolah di SMPN 2 Seroja Banjarmasin dulu dikepalai oleh seorang ibu-ibu gemuk yang baik hati dan selalu menyimpankan buku baru untuk para fans beliau. Karya Agatha Christie, Trio Detektif, Tintin, Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Malory Towers, Noni, Astrid, sampai buku wayang dan banyak lagi saya peroleh dari sana. Saya sampai bersedia tidak jajan asal dapet minjam buku baru. Saingan waktu meminjam buku ini banyak sekali, sampai sekarang mereka semua masih jadi sahabat saya.

Jaman saya SMA, Perpustakaan SMAN 2 Banjarmasin juga mempunyai angka kunjungan yang sangat tinggi. Tersedia mulai dari segala ensiklopedi menarik yang serius-serius sampai terbitan Disney, majalah-majalah berbahasa asing (yang walau tidak mengerti artinya, tapi gambarnya bagus-bagus), sampai, tentu saja fiksi, baik berupa sastra Indonesia sampai fiksi terjemahan. Sastra Indonesia dulu cukup disukai, karena dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, sering diberi tugas menulis tokoh dan plot cerita, sehingga waktu saya SMA dulu, kita semua fasih sekali kalau suka mendadak ditunjuk menjelaskan sebuah karya terkenal dari penulis sastra Indonesia. Tidak tahu sekarang apa masih begitu. (Gara-gara ini, saya sampai tertarik dengan ilmu bahasa dan sastra, bahkan sampai sekarang.) Selain itu, jaman saya di sana, oleh Depdiknas (mungkin) diberlakukan Perpustakaan Bergulir, jadi setiap beberapa minggu, ada koleksi buku yang berpindah-pindah dari 1 perpustakaan sekolah ke perpustakaan sekolah lain. Buku-buku ini rata-rata buku baru, sehingga selalu ada koleksi baru untuk dibaca. Saya kenal serial Musashi, Senopati Pamungkas dan buku-buku Pearl S. Buck melalui perpustakaan bergulir ini. Saking nyamannya perpustakaan sekolah, dulu kalau ada waktu kosong, murid-murid duduk-duduk di perpustakaan. Kalau tidak membaca, kita menonton siaran TPI yang dulu masih menyiarkan acara-acara pendidikan.

Perpustakaan Daerah di Jalan Pierre Tendean berada di sebuah bangunan gelap gulita. Waktu itu buku-bukunya belum banyak, mungkin karena sebagian disiapkan untuk Perpustakaan Daerah yang lebih besar di Pal 6 yang waktu itu baru dibangun. Tetapi koleksinya cukup menarik bagi saya, sayangnya buku-bukunya begitu banyak yang rusak dan robek-robek.

Ketika Perpustakaan Daerah di Pal 6 akhirnya dibuka, saya lebih suka ke sana, dan akhirnya yang di Jalan Pierre Tendean ditutup. Bangunan Perpustakaan Daerah yang di Pal 6 bagus sekali, berbentuk rumah Banjar, dengan jendela-jendela tinggi. Sekitar bangunan itu tidak ada apa-apa, kecuali tanah kosong dan persawahan penduduk, sehingga kalau membaca dekat jendela, enak sekali, karena terasa angin segar sepoi-sepoi bertiup masuk, selain ruangan yang terang-benderang karena banyak cahaya masuk. Lantai terbawah untuk referensi, sedang lantai 2 untuk buku-buku yang bisa dipinjam. Favorit saya di perpustakaan ini adalah Reader’s Digest Condensed Books, kumpulan buku-buku populer dari pengarang terkenal yang dalam bentuk abridged (saya membaca To Kill A Mockingbird-nya Harper Lee dan Agony & Ecstasy-nya Irving Stone dari salah satu buku RD ini). Saat itu ruang bacanya sangat nyaman.

Bagaimana sekarang? Saya tidak tahu bagaimana perpustakaan sekolah jaman sekarang. Tetapi kalau melihat angka kunjungan perpustakaan kampus tempat saya bekerja, angka kunjungan dan transaksi cukup memprihatinkan. Mengapa memprihatinkan? Mahasiswa mengatakan koleksinya sangat tidak up-to-date. Kalaupun ada buku-buku baru, hanya tersedia 1 biji, sehingga menjadi buku referensi yang tidak boleh dibawa pulang. Sesudah itu, kilah mereka, dalam bahasa Inggris pula (!). [Entah ini menunjukkan bahwa kita perlu menyiapkan anak didik kita sejak SD untuk mau dan mampu membaca teks berbahasa Inggris, atau ini menunjukkan bahwa perlu ditingkatkan penerjemahan buku-buku ilmiah mutakhir yang berkualitas]. Belum bukunya sudah dicari, katanya, tidak sesuai katalog. Ini berlaku untuk perpustakaan di fakultas, maupun di universitas.

Bagaimana dengan Perpustakaan Daerah yang selalu saya bangga-banggakan kalau bercerita pada teman-teman dari luar daerah itu? Sepupu saya, yang tahun lalu mencari bahan untuk menyelesaikan skripsinya dengan membolak-balik buku-buku koleksi Perpustakaan Daerah Pal 6 mengatakan kepada saya: “Hih, kotor, kak! Masak ada t*i tikus di mana-mana, di kursi, di buku, di lantai” Oh Tuhan. Sudah koleksinya menyedihkan, kotor pula. Apa mereka tidak mempunyai petugas kebersihan? Apa itu berarti para staf jarang melongok ke rak buku dan ruang baca? Lalu apa dong yang mereka lakukan? Tidak heran angka kunjungan rendah, bukan? Dalam mimpi saya tentang negara utopis, toko buku dan perpustakaan ditangani oleh orang-orang terbaik dengan gaji di level atas. Mereka adalah orang-orang terpilih yang luas pengetahuannya dan pandai berkomunikasi, serta mencintai buku.

Balik lagi ke minat baca yang rendah yang dikaitkan dengan angka kunjungan perpustakaan yang rendah. Saya menganggap minat baca di sini adalah minat baca secara umum terhadap semua bahan bacaan. Bagaimana kita menilai minat baca? Tidak dari kunjungan atau transaksi peminjaman di perpustakaan, selama perpustakaannya masih belum mampu memuaskan keinginan konsumen pembaca. Angka itu hanya memenuhi sebagian kecil pembaca buku. Minat baca juga bisa dilihat dari:

  • Angka penjualan buku di toko-toko buku. Yang mempunyai uang akan langsung ke toko buku untuk membeli buku terbaru, tidak akan menunggu perpustakaan menyediakannya
  • Jumlah transaksi peminjaman buku di taman bacaan dan rental buku. Taman bacaan dan rental buku ini terkenal sangat sensitif pada buku yang populer, yah, tentu saja, sebagian besar berupa fiksi dan komik.
  • Jumlah pelanggan koran dan majalah di agen-agen.
  • Transaksi belanja buku online yang dilakukan dengan kartu kredit dan debit yang pemiliknya beralamat di Banjarmasin/Kalsel. Toko buku di Banjarmasin, apalagi Kalsel, isa dihitung dengan jari. Apalagi harga buku yang dijual di sini jauuuh lebih mahal dibanding harga buku yang sama yang dijual di toko buku di Jawa. Toko buku online memberikan opsi yang lebih menarik dengan diskon-diskonnya yang besar-besaran.
  • Jumlah peminjam buku dari koleksi buku saya (-lirik mereka-) hihihi. Tidak, kok, koleksi saya sedikit sekali, cuma kebetulan saja akhir-akhir ini dapat buntelan gratis.

Saya sangat yakin kalau angka-angka tersebut bisa ditelusuri, terbukti bahwa orang Kalsel itu suka membaca.

Terlepas dari apakah betul atau tidak minat baca orang Kalsel itu rendah, kalau konteksnya adalah perpustakaan, bagaimana agar kunjungan perpustakaan bisa tinggi? Mulai dari yang gampang-gampang dulu saja deh.

  • Jaga kebersihan dan kenyamanan perpustakaan. Tidak perlu ruangan keren ber-AC (konon, suhu tertentu akan merusak buku, silakan baca di sini dan di sini tentang pengaruh suhu, kelembaban dan cahaya terhadap buku) dengan rak-rak modern dan kursi-kursi sofa yang nyaman ala cafe buku. Cukup bersih dan tidak berdebu. Kalau kotor dan masuk perpustakaan saja kita jadi gatal-gatal dan bersin-bersin, bagaimana bisa suka ke sana?
  • Pemeliharaan buku. Buku yang rompal-rompal, kuning-coklat-merah bekas makanan, atau keriting karena basah sangat tidak menarik. Perlu ada penjadwalan pemeliharaan buku, misalnya setiap 2 bulan sekali, untuk menemukan buku-buku yang rusak, agar bisa diperbaiki atau dijilid ulang.
  • Katalogisasi yang up-to-date. Walaupun masih berbentuk lemari katalog, belum digital, selama selalu dimutakhirkan dan buku-bukunya diletakkan sesuai dengan yang tertulis di kartu katalog, tentu akan jauh lebih memudahkan daripada katalog digital tetapi peletakan yang asal-asalan. Keluhan sulit menemukan buku di rak juga membuat pengunjung malas balik lagi.
  • Alokasi dana untuk pembelian bahan pustaka baru. Kenapa kok bisa mampu membangun gedung keren untuk perpustakaan, tetapi tidak mengalokasikan dana untuk pemutakhiran koleksi? Selalu lebih cepat reaksi kalau ada permintaan AC, kursi dan meja tambahan untuk ruang baca dibanding apabila minta koleksi buku baru. Pendanaan tidak harus selalu melalui dana pemerintah. Perpustakaan bisa mengadakan kegiatan-kegiatan terkait buku yang bisa mendatangkan dana. Perpustakaan juga bisa bekerjasama dengan LSM-LSM, donatur-donatur, dan komunitas-komunitas baca yang mempunyai misi meningkatkan minat baca buku.
  • Penyediaan koleksi dalam bentuk elektronik. Sekarang pengunjung perpustakaan adalah generasi yang selalu silau dengan segala hal berbau elektronik. Selain memang lebih mudah dalam melakukan pencarian bahan spesifik, koleksi elektronik tidak memakan tempat dan kadang-kadang lebih menarik karena sebagian berbentuk interaktif, serta memadukan audio dan visual yang menarik.
  • Terakhir, tapi yang paling penting, membuat masyarakat merasa membutuhkan bacaan. Di zaman serba sibuk dengan jam belajar/kerja yang semakin panjang, dan daya tarik hiburan televisi yang tidak membutuhkan otak untuk berpikir, membuat waktu dan kemauan untuk melakukan kegiatan membaca buku for fun semakin kecil. Agaknya kebutuhan membaca ini harus ditanamkan sejak kecil. Saya saja, yang mempunyai keluarga besar penggila buku, masih sulit untuk duduk membaca lebih dari 1 jam, entah karena tidak ada waktu, mengantuk (OK, mungkin ini faktor U), sampai godaan Plurk, hihihi…… Acara review buku di radio atau televisi bisa meningkatkan minat baca penonton televisi. Sayang, di Indonesia belum ada ya?

Balik ke koran.

“Untuk meningkatkan minat baca masyarakat Kalsel, maka Pemerintah melalui Bapustarda pada tahun 2008 ini membuat dua program. Yaitu mengadakan penambahan tenaga kearsipan dan pustakawan masing-masing sebanyak 30 orang. … Selain ditambahnya tenaga profisional [sic] bidang perpustakaan, maka pemerintah Kalsel dalam waktu dekat akan menggelar perpustakaan sampai ke desa-desa.”

Agak kurang pas, bukan? Bukan tenaga pustakawannya yang kurang, bukan jumlah perpustakaannya yang kurang. -keluh-

Foto perpustakaan Isaac Newton Institute for Mathematical Sciences di atas diambil dari situsnya.

29 responses

  1. atau kayak di perpusda sini… ada hotspot gratis….

  2. @mansup: oh, kok aku baru baca yah… padahal kulanggan feednya hihihi… berarti nida benar tentang kondisi perpustakaan itu -sigh-

    @ira: perpusda mana tuh?

  3. Bisa jadi juga bukunya kurang menarik ? hehehehe

  4. tempat bertapa auk dulu, ah lama sekali tak bersua, sekotor itukah dikau libby? dulu koleksi bundel hai pun sering auk ubek-ubek, cuma untuk ngebaca cerita-nya bubin LantanG …

  5. Halo..salam kenal.
    mau numpang komen ya..

    Sedih emang liat perpus di indo…harus siap-siap sapu tangan buat bersin-bersin
    dan tatapan acuh cuek ketus petugasnya..
    sedih lagi ketika mendapat kesempatan ke sydney dan ternyata perpus mereka keren bgt…
    bisa dibandingkan dengan caffe shop or mall mini

    negara yang maju makin maju
    kita..hiks..

  6. Persoalan minat baca bisa bersifat kultural. Masyarakat Indonesia (khususnya masyarakat Banjar) itu lebih lekat dengan budaya verbal (bertutur) ketimbang literal. Bahasa halusnya, urang banjar tu pamander. Buktinya, di terminal-terminal walaupun sudah ada rute yang tercetak di badan kendaraan, toh sang kernet masih belum pede kalau tidak berteriak:”Pasar Antasari…Antasari” atau “Pal Anam…pal anam” atau “Gambut…gambut”……

  7. TAMBAL BAN-jar | Reply

    saya termasuk orang yg kurang berminat untuk mbaca…yg saya liat paling gambarnya doang…hehe..soalnya mbacanya blom lancar-car hehe

  8. @raff: bisa jadi hehehe

    @war: pokoknya aku gak mau ke sana lagi, war. mending di rumah :p

    @eni: eni…. online dari UI ya?

    @uyi: seluruh dunia dulunya lebih dekat ke budaya verbal. tapi apakah dengan timbunan bahan bacaan cetak sekarang ini, budayanya tidak bergeser sedikit? apalagi dengan adanya tabloid lampu merah hihihi -emangnya ada? :p-

    @tambal ban: ohh… suka komik?

  9. mungkin kalau di Perpustakaan ada yang bagi2 BLT dan BBM gratis, minat baca akan semakin meningkat,, Nyambung ga ya??🙂

  10. biasanya keperpustakaan cm kalo lg nya bahan buat tugas, itupun juga kadang bukunya ga ada. Sekarang mending minjem ajah ke siapa yg punya hehehehe….

    btw, senopati pamungkasnya ternyata 1600-an halamannya.. br liat td totalnya & br dibaca 550 halaman😦

  11. kesadaran kurang mungkin min….
    atau,emang bnr2 ga butuh bacaan….

    lebih nyamn hidup dgn kehidupan tribal..kekkeke

  12. jadinya boleh baca sambil minjem buku di rumahmu, min ?😀

  13. Willy Ediyanto | Reply

    Eh, kan kita sekarang bacanya di blog. Internet kan laboratorium super raksasa. Males sih memang ke perpustakaan. Bukunya buluk, berdebu, petugasnya, ya ampun tuh cueeknya.
    Dulu sebelum ada internet sih rajin ke perpus, sekarang, lebih baik bayar ke telkom atau cari yang gratis yang ada hotspot atau yang gratis di tempat kerja biar dapat tatapan aneh dari kepala sekolah. pakei telkomnet instan sih.

  14. oya? pernah liat saya? iya memang kadang saya ke amplaz, terutama utk nonton bioskop… oya kl boleh tahu, bahri itu domisili nya di jogja? terus, mina ini lokasi di kalimantan? koq bisa ke jogja?😀 trmksh…

  15. Komentar dikau tentang ” Minat Baca Warga Kalsel Rendah (?)headline di hal Radar Banua di harian Radar Banjarmasin ( 26 Juni 2008 ), saya sependapat sekali.Bahkan saya berbangga sekali melihat siswa baik SMP maupun SMA berjubel di Perpustakaan Sekolahnya diwaktu istirahat meminjam buku atau membaca di tempat.Ini terutama selolah yang diperkotaan, kecuali perpustakaan yang di sekolah pinggiran sangat memperihatinkan.
    Saya sering memonitor ke sekolah2 maka saya tahu.Bahkan siswa sering mengeluh keterbatasan koleksi perpustakaan dan ketiadaan kenyamanan tempat yang bau keringat dan apak. Mestinya ada sarana AC setidaknya kipas angin yang berparfom. Dan lebih bangga lagi anak2 SD tidak puas dengan perpustakaan yang monoton mencari solusi ke warnet mencari tugas PR.Jadi hemat saya bukan rendahnya minat baca tapi minimnya koleksi perpustakaan dan kekurangaripan petugas perpustakaan. Sebab perpustakaan itu sangat menolong peminat baca, apa lagi harga buku di Kalsel melangit. Tambahan lagi alangkah bahagianya seandainya ada penyumbang buku yang sekiranya ada buku2 yang nganggur di rumah atau perpustakaan pribadi yang “sasak” di raknya yang tidak “taharagu” disumbangkan keperpustakaan.Semoga.***

  16. yah minat masyarakat yang kurang, malah pegawai perpus yang ditambah..

    menurutku karena manage dari perpusnya yang kurang..
    buku2nya juga ga menarik.
    gmana orang mau berkunung??

    emang berani naruh komik di perpus??
    klo berani pasti jadi rame deh..
    Trus minat baca bisa diindikasikan naik gitu??
    sedih amat…

  17. Ho oh.kadang-kadang online dari UI..
    kadang-kadang di net cafe
    kadang-kadang di netnya temen
    kadang-kadang…he..he..
    masih musafir neh..
    pindah-pindah melulu

  18. setuju…setuju….

  19. tenang… bukan di kalsel ajah… gw yang gak tinggal di kalsel pun punya minat baca super rendah kok… heuheuheu

  20. entah kenapa kalo mendengar kata perpus langsung headache…

    karena bayangannya cuma buku tebal dan serius…

    tobatttt!!!!!!!

  21. @refri: kalau wajib mereview satu buku dulu baru dapet BLT dan BBM gratis, mungkin baru laku tuh perpustakaan😀

    @anna: semangat, an, semangat!😀

    @pepeng: tapi sang pangeran tribal juga pembaca buku kan?🙂

    @willy: membaca gak harus ke perpustakaan memang😀 eh itu Jinke Hanlin v.3 (ebook reader) katanya bakal masuk Indonesia loo… pengeeeen…

    @bang arsyad: berarti di sekolah-sekolah, minat baca masih tinggi kan ya? -lega-

    @proletarman: masalahnya apa… cara pemecahannya apa, gak nyambung ya… pemerintah memang aneh.

    @ichanx: gwahahahahaha

    @B: duh yang baru pulang dari sekolah di Ostrali😀

  22. 1. konteksnya lokal, kalimantan selatan, tapi ilustrasinya potret perpustakaan di luar negeri. komposisi macam ini yang bikin aku sakit gigi.

    2. andai setiap perpustakaan mengoleksi buku porno dan tabloid esek-esek, insya alloh minat baca masyarakat akan meningkat. kan yang jadi masalah cuma “minat baca”, tidak berlanjut pada perkara “apa yang semestinya dibaca”.

    3. ini ramalanku buat mina: …”dengan ini saya nikahkan, mina binti … dan … bin … dengan mas kawin seperangkat alat baca-tulis dan buku berjudul … .”

  23. 1. mana ada gambar perpustakaan kalsel di internet?
    2. lagi-lagi, dasar cowok.
    3. begitulah. bahkan souvenirnya pun pembatas buku.

  24. Coba perpustakaannya ada sarana wifi nyalah…, pasti banyak deh pengunjungnya. betah berlama-lama di perpustakaan

  25. kayak di UGM kak, lah…

  26. makasih dah main ke blog aku.

    kurang minat baca??????
    hmmm kyak nya gak juga.coba liat berapa byk orang liat2 atau beli buku di toko buku di banjarmasin.sebagian besarnya adalah orang suku Banjar/kalsel.

    mungkin penilaian bapak kepala perpustakaan daerah itu hanya mengacu pd tingkat kunjungan di perpustakaan milik pemerintah.
    ya jelas agak sepi, coz buku nya lama baru di up date.bahkan buku yg lg byk di buru aja, perpustakaan milik pemerintah itu gak punya kok.

    gak hanya di banjarmasin/kalsel, kayaknya perpus lain di kota lainnya jg sama.ini menurut aku aja lho….
    yg jelas, aku salah satu orang banjar yg suka sekali membaca.terutama koran n buku.

  27. Bagi yang berminat untuk membeli Jinke Hanin V.3 Bisa hubungi saya di ebook_mania20@yahoo.com

    Thnx

  28. pustakawan menilainya dari kunjungan ya sangat wajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: