My Pet Peeves While Travelling By Plane

Tidak kenal budaya antri. Terutama antri di loket check-in. Juga antri pas boarding. Antri pas turun pesawat. Sayang sekarang sudah tidak sepanas dulu hihihi. Dulu kalo disalip pas antri di bank, saya tarik kerah bajunya (Mana ada cowok akan memukul cewek? Yang penting buat keributan biar dia malu). Entah bagaimana ya kalau naik AirAsia yang katanya tanpa nomor tempat duduk (apakah ini benar atau hanya gosip?). Jangan-jangan kayak naik busway ya.

Penjaga loket check-in super jutek. Saya tahu saya telat. Tapi tidak perlu diomelin karena mestinya dia tahu betapa saya sudah mengomeli diri sendiri sepanjang perjalanan ke bandara.

Teman seperjalanan yang suka santai. Datang pas jam check-in hampir lewat. Padahal dia yang bawa semua tiket.

Airlines yang suka melakukan overbooking. Teman saya pernah mengalaminya. Sebagai orang yang sabar dan jadi pengantri terakhir karena terus-menerus disalip orang, akhirnya dia tiba di check-in counter pada saat pesawat sudah penuh, padahal dia sudah pegang tiket yang sudah confirmed. ternyata kata teman saya yang punya keluarga yang bekerja di airline, memang selalu dilakukan overbooking, karena katanya tidak pernah 100% datang. Hmm… aneh.

Semua juga gak suka hal ini: pesawat delay. Enak sih kalo pas di bandara yang nyaman. Kalau pas di bandara yang kecil dan tidak ada tempat atau sarana menghibur diri (toko buku, misalnya), sediiiih deh.

Orang sok pejabat yang merasa bahwa peraturan itu dibuat hanya untuk rakyat jelata. Mereka merokok di bawah tanda Tidak Boleh Merokok. Yang kalau saya tegur hanya menatap saya dengan tatapan meremehkan.

Kru pesawat memberikan sapaan ramah “Selamat Pagi” atau “Terima kasih”, sementara para penumpang yang naik atau turun sama sekali tidak menyahut. Bahkan tersenyum atau menganggukkan kepala pun tidak.

Orang yang berkeras bahwa kursi yang didudukinya memang sudah sesuai dengan nomor kursi di boarding passnya. Dan menuduh bahwa kitalah yang salah. Waktu diminta melihat boarding passnya, menuduh kita menganggapnya bodoh gak bisa membaca (membuatku jadi ikut berpikir apakah dia memang tidak bisa membaca angka). Sesudah dibantu pramugari, masih saja menggerutu sambil pindah. Oh, ya, ini juga sering terjadi di bioskop. Mungkin di seri Pet Peeves berikutnya.

Membawa tas besar-besar, lalu menjejalkannya ke dalam tempat bagasi tanpa mempedulikan apakah barang orang lain jadi penyet.

Menaikkan kedua kaki ke atas kursi.

Menumpangkan kaki, dan mengarahkan telapak kaki (yang tidak semuanya patut ditampilkan) ke arah kita.

Anak-anak kecil borju yang jelas merasa berada di dunia yang levelnya lebih tinggi dari penumpang lainnya. Terus mengoceh dengan suara keras tentang: “Pah, kok bisa sih kita tidak duduk di kelas Bisnis?” “Makanannya gak enak gini?” “Tar kita nginapnya di Hyatt kan, pah?” “Kapan kita ke Singapur lagi, Pah?”

Businessman sok eksekutif yang rupanya tidak dapat kursi di kelas Bisnis dan terpaksa harus duduk di kelas Ekonomi (tapi memesan dua kursi sekaligus, yang satu untuk tasnya yang rupanya sangat mahal dan berharga, sampe harus dipasangi seatbelt) sambil terus menerus mendesah-desah dan menatap arloji berkali-kali.

Mengajak ngobrol hal-hal pribadi seperti: “Rumahnya di mana?” Yang ketika dijawab secara general, masih diikuti dengan pertanyaan: “Tepatnya di jalan apa?”

Smelly, entah itu BB, bau minyak angin, bau balsem, bau parfum yang menyengat, bau baju yang tidak diganti berhari-hari, dan segala bau lainnya yang mengganggu.

Cowok-cowok yang pedekate di pesawat. Padahal jelas bertampang sudah punya keluarga. Seorang perempuan ramah duduk di sebelah seorang bapak-bapak. Perempuan itu dengan ramah mengajak mengobrol. Bapak-bapak itu rupanya menganggap ini sinyal tertarik. Setelah pesawat berjalan setengah jam, si Bapak-bapak tiba-tiba merogoh-rogoh kantong dan berdiri, melihat kursi, lalu bertanya pada si perempuan: “Lihat hape saya gak?” Perempuan: “Saya lihat tadi pas saya duduk, bapak lagi megang hape, terus gak tahu disimpan di mana.” Bapak-bapak: “Missed call-in hape saya dong, aduh, di mana ya jatuhnya?”
Sunyi beberapa detik.
Perempuan: “Kan gak boleh menelpon di pesawat.”
Bapak-bapak: “Oh iya ya.” Sambil merogoh-rogoh lagi. Dan akhirnya menemukan hapenya di kantong jaketnya.
Dasar. Mestinya trik ini dilakukan pas sudah turun. Huh!
Oya, perempuan ramah itu bukan saya.

Pramugari kasar. Ini, seperti biasa, terjadi di beberapa airlines tertentu yang kita semua sudah tahu. Tas bagasi dilemparkan, sergahan kasar, melempar Aqua ke pangkuan (emang di kereta?). Bahkan di airlines sekelas Garuda pun, pernah seorang teman (untung saya tidak pernah mengalami) bercerita bahwa dia disodori gelas dengan tangan menutup mulut gelas (tidak dengan default: memegang gelas di badan gelas atau menyerahkan gelas dengan beralas baki). Ketika teman saya menegur dengan sopan, si pramugari menjawab kasar: “Terserah saya, dong.” Saya tahu mereka tentu lelah, tetapi pramugari, sama halnya dengan dokter dan perawat di UGD, adalah pintu depan badan usaha tempat mereka bekerja, Gak peduli capek, ngantuk, harus selalu ramah walau klien menyebalkan dan sok.

Pernah memperhatikan bagaimana kondisi pesawat ketika penumpang sudah turun? Saya suka turun paling akhir (kecuali kalo sampai di bandara Banjarmasin dan kebetulan memasukkan bagasi lebih dari satu), dan melihat bahwa kita memang jorok. Koran-koran, gelas, tissue, bekas makan, bungkus kripik, berhamburan di lantai. Kenapa tidak diletakkan dengan rapi di kursi atau di kantong belakang kursi? Ini juga terjadi di Garuda.

Satu pesawat dengan rombongan kru artis. Bagasi mereka begitu banyak dan rupanya sudah bayar pada petugas bagasi agar diprioritaskan (pastinya), sehingga menunggu bagasi di bagian Kedatangan bisa lebih dari sejam.

Satu pesawat dengan rombongan Umrah yang baru pulang dari Tanah Suci Mekkah. Senang melihat mereka begitu bahagia habis datang dari Tanah Suci. Tapi tidak lagi begitu kita mengambil bagasi. Mereka kan membawa Air Zam-zam yang dimasukkan ke bagasi. Yang dibungkus dengan plastik tahan bocor bertuliskan SafeWrap. Yang tidak seperti namanya ternyata sama sekali tidak tahan bocor. Setiap kali saya mengingatkan diri untuk mengepak semua bagasi saya dengan plastik (tersedia di Bandara Soekarno-Hatta), terutama kalau bawa paket buku, tapi setiap kali lupa sesudah sampai bandara. Ya, bagasi saya dan kotak buku saya basah kuyup😦

Setiap orang yang memasukkan barang ke dalam bagasi mestinya tahu bahwa cairan itu tidak boleh dimasukkan sebagai bagasi ataupun diletakkan di kotak bagasi di atas kepala. Ada saja yang tidak peduli. Bagasi saya pernah berlumuran cairan lengket yang ternyata adalah madu.

Pas mencari troli, habis dipegang semua oleh portir. Ini terutama terjadi di bandara Banjarmasin. Atau habis dipegang keluarga penjemput orang datang Umrah, karena mereka kan biasanya bawa barang segambreng. Oya, katanya khasnya kalo ada orang Banjar naik pesawat tuh, pasti bawaannya banyaaaaak banget, banyak dus-dus, tas tambahan, belum yang dijunjung naik pesawat. Hehehe… itu mungkin karena traveller tertinggi dari Banjarmasin adalah pedagang. Dan kalo di Bandara Jakarta menjinjing-jinjing Dunkin’ Donuts dan Rotiboy segambreng, hampir bisa dipastikan tujuannya ke Banjarmasin, karena di Banjarmasin gak ada yang jual donat dan Rotiboy. Oya, denger-denger di Padang juga gak ada.

Fiiuh…. ain’t I feel bitchy today. Now back to work.

Pics taken from The Travel Doctor.

26 responses

  1. hehehehehe…. kacau….. begitulah airlines kita…. demi ngejar untung semua dihalalkan… kalo terjadi accident baru dirombak abis tapi cuma bertahan sebentar abis itu balik lagi ke awal…. saya jadi ingat accident salah satu airline kita di solo n jokja dulu… kabarnya saat berangkat ke solo si pesawat overload dan tiba2 mesin rusak parahnya lagi si pesawat ternyata tidak mematuhi prosedur soal bahan bakar… disebutkan bahwa pesawat diwajibkan membawa bahan bakar untuk 2 kali perjalanan misal kalo terbang ke jokja bawa 200 liter ya mesti bawa 400 liter tujuannya klo ada apa2 bisa RTB ( Return To Base) nah ini enggak… cm bw bwt 1 kali jalan karena udah dikurangi bwt bagasi and the gank…. dan terjadilah accident itu… yg di jokja juga kabarnya gtu… pantesan aja airline kita gak boleh terbang ke eropa…. masih mending kopata dah… biar bobrok supir n kondektunya baik2…sopan pula….

  2. yah nasib punya negara yg kondisi penerbangannya masih seperti ini ya…😀

  3. ra tau numpak pesawat.. wong ndeso..😀

  4. yang membuat kesal memang kalau ada yang cuek aja pake hp pas pesawat lagi jalan…..

  5. Idem Zam, jarang naik pesawat.. Paling siyal pas naik bus Surabaya – Bali yang sepanjang jalan dihibur VCD bajakan trio macan…

  6. numpak pesawat saiki sengsoro yo…
    mbiyen ketokane ora ki..

  7. wakakakkakaka…kamu emang bakat cuman naik yg kelas ekonomi itu..kekkeke

  8. naek pesawat cuma pernah saat dengan mu bu… & bener, yang ttg hape, baru juga tuh roda pesawat nyentuh landasan,sudah ada yang nyalain hape, ga ngerti deh maksudnya

  9. …masih beruntung bisa naek pesawat, min… kalo mengalami kejadian ituh paling auk ngingetin saat-saat indah di tengah badai atas kapan laut selama 24 jam lebih , dan berkali-kali… gak bisa dibandingin deh🙂
    eh, tapi lelaki yg minta miscall itu bukan auk, bukaannn !!

  10. Saya takut naek pesawat. Nanti kalo tiba-tiba diatas ngerem / parkir gimana?

    .::he509x::.

  11. wa…….
    ada tentang akunya tuh (sok geer)…

    eh tapi bener kan?

    bagiku pengalaman menyebalkan naik pesawat ketika banyak yang ga bisa diatur…
    termasuk tentang menyalakan hape di pesawat…

    tampangnya sih intelek…
    tapi kelakuan….
    ngalah-ngalahi yang tidak berpendidikan…

    MENYEBALKAN!!!

  12. Heran ya..bukannya udah banyak kasus di dunia penerbangan kita? Eh..ternyata masih nambah lagi!

  13. Pelayanan publik?…. Di kita masih payah… emang gue pikirin… begitu kira2 kata mereka. Bah…

    O..ya, satu lagi di bandara biasanya orang2 merokok juga seenaknya…. ampun….

  14. […] dokter hewan yang hebat bikin komik , pak guru yang suka dikira keren dan gak nyadar potensi diri, bu guru yang jarang nulis tapi rajin jalan-jalan, bapak guru yang punya obsesi tersembunyi terhadap anaknya, dan sang tukang obat ..hehe banyak yang […]

  15. aduh panjang banget ya ceritanya
    baca aja udah capek, apalagi kasih comment..tambah capek deh. hehe…

  16. @yogi: waaaa seram ya…..

    @fisto: lebih ke orang-orangnya sih, fis…

    @zam: ah zam… kudengar dirimu sekarang sudah berubah jadi anak kota kan ya… bawa-bawa Blackberry😀

    @itikkecil & @anna: iya, kayak yang orang penting aja yang kalo gak segera dinyalain hapenya, ada gedung yang akan runtuh.

    @mansup: -gak berani komen kalo sama yang ini-

    @ngodod: kalo bisa via darat, mending via darat😀

    @pepeng: yah begitulah peng, kelas rakyat jelata😀

    @war: jadi orang itu kamu?

    @manongan: kalo parkir, tinggal turun buat pipis sebentar😀

    @B: apalagi orang yang penampilan sih kaya-raya, tapi sopan-santun kayak gak pernah diajari. musnahkan mereka semua, B! -habis nonton Dark Knight-

    @swamp: habis dianggap bukan kasus sih….

    @coretanpinggir: iyaaa… itu mah di mana-mana kan ya… di angkutan umum, di mall ber-AC, bahkan di bioskop!

    @herry: berarti baru pertama kali ya berkunjung ke blog saya? saya terkenal sebagai orang yang suka menyanyah panjang lebar :p

  17. Tempat pengambilan bagasi di ruang kedatangan bandara Syamsudin Noor Banjarmasin memang sudah tidak layak! Hampir semua bandara sekelasnya sudah mempunyai conveyor dengan sistem balik yang berjumlah lebih dari 2 dan ruang kedatangan yang lapang serta bebas polusi (asap rokok), membuat kita tetap segar setelah turun pesawat. Huh!

    Conveyor Syamsudin Noor yang seupil itu, kayaknya hanya cocok untuk Treadmill….

  18. sense of service berbanding terbalik dengan kecantikan. pramugari yang kasar=cantik…he..he…

  19. wih ternyata benerbangan kita tu “Indonesia banget” ya… amburadul ck ck ck

  20. sebegitunya kah?

    untuk aku dulu gak ngalamain hal-hal kayak gitu pas naik pesawat jakarta-solo… soalnya numpang naik hercules…..😆

  21. sumpah, suka banget ma ceritanya

  22. trik minta no hp nya emang basi banget ya,

  23. Oh ya satu lagi, kelakuan anak muda jaman sekarang, yang nggak peduli, kalau liat nenek/kakek bawa beban banyak, atau cuekin mereka, padahal kelihatan mereka butuh pertolongan.Ah..mana..mana katanya kita bangsa yang ramah.

  24. kalau tidak ada kasus-kasus seperti itu, bukankah tak ada yang bisa dibuat cerita?

  25. hihihi…. aku cerewet ya?

  26. yah, turun paling akhir itu memang lebih enak… bisa kenalan ma pramugarinya juga.😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: