Monthly Archives: October, 2008

[Blog Action Day 2008]: Kemiskinan dan Tuberkulosis

Siapa sih yang mau miskin? Tidak ada, pastinya.
Anehnya, kalau ditanya: Siapa yang merasa miskin? Di jaman sekarang ini, mungkin banyak yang bersedia angkat tangan, karena mengaku miskin akan diganjar Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari pemerintah, dapat beasiswa pendidikan buat anak, dan gratis berobat di rumah sakit pemerintah. Ada juga yang ngaku-ngaku miskin bandwidth, jadi bisa nebeng online dari rumahku hahahaha…. Selain itu, ada saja yang sudah kaya, namun karena selalu iri pada rumput tetangga, juga selalu berkeluh-kesah miskin.

Jadi jangan terlalu percaya kalo orang mengaku-aku miskin. Pemerintah menetapkan bahwa yang disebut miskin adalah ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran, dan penduduk miskin adalah penduduk yang mempunyai rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan. Apaan tuh Garis Kemiskinan (GK)? Aku tahunya Bawah Garis Merah aja, di Kartu Sehat bayi, hihihi…. Jadi, konon, GK itu terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (nilai pengeluaran kebutuhan minimum untuk makanan setara 2100 kalori/kapita/hari, yang diwakili oleh 52 komoditi bahan makanan) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (nilai pengeluaran kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan, yang diwakili oleh 47-51 komoditi). Disebut “tidak miskin” kalau pengeluarannya > 1,5 GK.

Sekarang mari kita melihat angka-angkanya.
Menurut BPS melalui berita resminya, pada Maret 2008 jumlah penduduk miskin di Indonesia masih 15,42%, yang sebagian besar (63,47%) berada di pedesaan. Padahal target pemerintah, jumlah penduduk miskin hanya tinggal 12-14% pada tahun 2009. Data ini agak berbeda dengan perhitungan Bank Dunia, yang menyatakan bahwa separo populasi di Indonesia berada di bawah garis kemiskinan. Pada tahun 2008 Bank Dunia menetapkan kemiskinan adalah apabila pengeluaran di bawah $1,25 sehari. Sementara itu, Kalimantan Selatan termasuk propinsi dengan tingkat kemiskinan yang ketiga rendah di Indonesia (6,48% pada tahun 2008) sesudah Jakarta dan Bali.

Berdasarkan kriteria Bank Dunia tersebut, 1,4 milyar orang di dunia menderita kemiskinan. Menurut UNICEF, pada tahun 2005, 1 dari 2 anak di dunia berada dalam kemiskinan. Di negara yang sedang berkembang, setiap 1 dari 3 anak tidak mempunyai tempat berteduh yang memadai, setiap 1 dari 5 anak tidak mempunyai akses pada air bersih, dan setiap 1 dari 7 anak tidak mempunyai akses pada pelayanan kesehatan. Akibatnya, sebanyak 26.500-30.000 anak meninggal setiap hari karena kemiskinan.

Kemiskinan ini membawa orang kepada lingkaran setan. Karena miskin, maka nutrisinya kurang, sehingga perkembangan fisik dan mentalnya kurang baik, mudah lelah, dan rentan terhadap penyakit. Akibat miskin, akses pada pelayanan kesehatan berkualitas menjadi rendah, sehingga kesehatannya semakin terpuruk, tidak bisa mempertahankan pekerjaan, dan akhirnya menjadi pengangguran, dan mungkin berakhir pada keterpaksaan melakukan pencurian demi sedikit uang. Karena miskin, akses pada pendidikan sangat terbatas, padahal pendidikan adalah cara terbaik untuk melangkah keluar dari jerat kemiskinan suatu keluarga. Akibat miskin, tidak bisa memperoleh perumahan yang layak, sehingga rentan terhadap bahaya penyakit, kejahatan, sampai pungli. Begitulah, yang miskin semakin miskin. Habis itu, para penipu senang sekali menipu mereka yang sudah miskin dan kurang informasi ini. Menurut data Bank Dunia pada tahun 2006, malnutrisi terjadi pada 1 dari tiap 4 anak balita di Indonesia. Di antara anak usia 16-18 tahun pada 1/5 populasi termiskin di Indonesia, hanya 55% yang lulus SMP. Akses pada air bersih hanya 43% di pedesaan, dan 78% di perkotaan.

WHO menyebut tuberkulosis, malaria, HIV/AIDS, campak, pneumonia, dan diare sebagai penyakit akibat kemiskinan, karena seringnya penyakit ini diderita oleh orang miskin, dan mengakibatkan kemiskinan mereka menjadi semakin parah, akibat biaya yang harus dikeluarkan untuk berobat dan kehilangan hari kerja pada saat sakit. Saat ini Indonesia menjadi negara penyumbang jumlah penderita tuberkulosis nomor tiga terbanyak di dunia sesudah India dan Cina. Kalau urusan begini, Indonesia pasti peringkat atas ya. Tuberkulosis menjadi penyebab kematian nomor 1 di antara penyakit menular lainnya dan nomor 3 dalam daftar 10 penyebab kematian utama di Indonesia. Ditemukan 500.000 kasus baru setiap tahun dan sekitar 300 pasien tuberkulosis meninggal setiap hari. Sebagian besar penderita TBC adalah penduduk pada golongan usia produktif (15-55 tahun). Tuberkulosis mengakibatkan 3-4 bulan waktu produktif hilang dan menyebabkan kehilangan 20-30% pendapatan setiap tahun, membuat keluarga miskin semakin terpuruk. Selain itu, stigma sosial yang ditimbulkannya juga menyulitkan bekas penderita tuberkulosis untuk kembali pada pekerjaannya.

Mengapa angka tuberkulosis dan kematian akibat penyakit ini masih terus tinggi, padahal Indonesia sudah mencanangkan strategi Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS) dari WHO, case detection rate-nya melebihi target WHO pada tahun 2006, dan biaya pengobatan sudah digratiskan melalui paket obat Kombipak di Puskesmas?

Ternyata beberapa dari sekian banyak penyebabnya lagi-lagi ada kaitannya dengan kemiskinan:

  • Pasien tidak berobat secara teratur karena keterbatasan aksesnya ke pusat pelayanan kesehatan. Tidak jarang keluarga miskin harus memilih antara menggunakan uang untuk transportasi ke tempat berobat atau menggunakannya untuk makan sehari-hari. Terapi tuberkulosis yang seharusnya harus teratur dan sampai selesai (6-8 bulan) menjadi terputus, sehingga infeksi akan berkembang kembali. Selain itu, terapi tuberkulosis yang tidak sesuai dosis dan tidak komplit akan memunculkan strain kuman tuberkulosis yang resisten terhadap obat tuberkulosis sendiri, sehingga perlu obat lini kedua yang cenderung lebih mahal, dan belum digratiskan. Sayangnya sampai saat ini data nasional tentang pasien yang resisten ini masih belum ada, tapi WHO memperkirakan angka nasional sekitar 2%.
  • Pasien berhenti berobat karena merasa obatnya membuat dirinya bertambah sakit. Obat-obat tuberkulosis Kombipak terdiri dari 4 jenis obat yang kadang menimbulkan efek samping mengganggu seperti mual, tidak nafsu makan, sakit sendi, kencing berwarna kemerahan, kesemutan, gangguan penglihatan, dan lain-lain. Informasi yang kurang dan tingkat pendidikan yang rendah menyebabkan pasien menghentikan obat.
  • Masalah higiene, pencahayaan, dan ventilasi rumah. Kuman tuberkulosis terkenal mampu bertahan hidup selama 20 tahun asalkan berada pada tempat yang gelap, lembab, dan jarang dibersihkan. Rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan, atau seperti yang disebut-sebut dalam kriteria rumah orang yang berhak mendapat BLT, akan meningkatkan penularan kuman ke anggota keluarga lain, sehingga satu keluarga tidak sembuh-sembuh dari tuberkulosis.
  • Masalah overcrowding. Tingginya jumlah anggota keluarga di sebuah rumah akan meningkatkan kontak dengan pasien. Kurangnya informasi dari tenaga kesehatan dan kurangnya pemahaman (sebagian karena tingkat pendidikan yang rendah) oleh pasien bahwa tuberkulosis aktif dengan adanya kuman pada dahak (BTA sputum positif) sangat menular, membuat terjadinya penularan cepat pada anggota keluarga yang lain. Seorang pengidap tuberkulosis dengan BTA positif bisa menularkan penyakit itu pada 10 sampai 15 orang dalam setahun. Pengobatan lebih dari 1 anggota keluarga membuat mereka enggan berobat, walaupun obatnya gratis. Akibatnya terjadi fenomena ping-pong, anggota-anggota keluarga itu saling menginfeksi, apalagi apabila si pasien tidak mengkonsumsi obat secara teratur.
  • Kurangnya nutrisi. Seorang penderita tuberkulosis harus mendapat kalori yang tinggi, karena diit yang cukup dapat meningkatkan status gizi penderita dan meningkatkan kekebalan yang membantu mempercepat penyembuhan penyakit. Kalau di ruang paru waktu saya koass dulu, saya lihat mereka mendapat jatah makanan Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP) dengan ekstra telur dan susu. Bagaimana ketika pulang ke rumah, mereka yang untuk makan sehari-hari saja tidak 4 sehat 5 sempurna, disuruh memberikan makanan ekstra untuk si sakit?

Sebenarnya pemerintah sudah membuat kebijakan perbaikan bidang kesehatan yang pro kemiskinan, namun hasilnya memang belum signifikan:

  • Pemerataan tempat pelayanan kesehatan sampai saat ini masih belum mencapai pelosok, sebagian besar karena infrastruktur jalan ke sana belum memadai. Tenaga kesehatannya, terutama dokter, jarang mau berada di tempat yang tidak ada fasilitas listrik, air bersih, dan sinyal telpon seluler. Kalaupun ada yang mau, sudah bisa dipastikan setiap ada undangan seminar di kota atau setiap akhir minggu dia akan dengan senang hati meninggalkan tempat bertugasnya (sering melihat ambulans Puskesmas parkir di mall?). Begitu masa tugasnya habis, dan karena umumnya para dokter daerah terpencil ini dapat prioritas untuk mengambil spesialis, tenaga kesehatannya akan segera berganti dengan yang baru, yang memerlukan waktu untuk memahami masalah kesehatan di wilayah tugasnya. Apalagi sejak tahun 2007 lalu dokter tidak lagi diwajibkan PTT untuk mendapatkan Surat Izin Praktek, makin jaranglah ada dokter di daerah pedesaan miskin, padahal untuk yang tetap mau PTT di daerah sangat terpencil boleh hanya sampai 6 bulan sampai 1 tahun saja, dengan tambahan insentif 5 juta sebulan di luar gaji, bayangkan. Bakal kaya raya karena toh tidak bisa dibelanjakan duitnya hahaha…. Oya, di tempat terpencil distribusi obatnya juga menyedihkan.
  • Kebijakan Kartu Sehat (KS) yang sayangnya banyak tidak mencapai sasaran yang tepat dan dana yang disediakan masih kurang memadai. Selain itu, memang banyak keluarga miskin beneran yang mengetahui adanya kebijakan ini, karena mereka biasanya miskin akses pada informasi, dan agak ngeri datang ke rumah sakit, takut disuruh bayar mahal, sehingga utilitas KS ini menjadi rendah. Selain itu, para pemegang KS biasanya diperlakukan dengan berbeda oleh tenaga kesehatan, karena dianggap berobat gratisan, padahal Pemerintah keluar duit banyak untuk mensubsidi rumah sakit untuk menangani pasien KS ini. Pelayanan di apotik juga dibedakan. Ah, orang Indonesia masih suka terpengaruh stigma sosial dan melihat orang dari penampilan luar.
  • Pemberdayaan masyarakat belum maksimal, dalam rangka meningkatkan masyarakat sendiri untuk melakukan promosi kesehatan, ya, sesuai dengan kalimat “lebih baik mencegah daripada mengobati”. Kabarnya banyak Posyandu tutup karena krisis kader. Dulu waktu saya masih praktek di sebuah klinik bersama yang dikelola oleh organisasi profesi, kita punya 10 kader yang dedikasinya boleh diacungi jempol. Sepenuhnya sukarela membantu di klinik, baik dalam promosi kesehatan sampai membantu beberes, sama sekali gak digaji, padahal mereka bukan orang kaya. Para kader ini sebenarnya bisa dilatih dan dimobilisasi untuk penyuluhan kesehatan pada penderita tuberkulosis berkaitan dengan pencegahan penularan, terapi obat, dan nutrisi.
  • Meningkatkan peran swasta dalam menyediakan layanan kesehatan untuk masyarakat miskin. Agak susah mengharapkan ini, karena rumah sakit swasta kan profit-oriented. Ada lo, rumah sakit swasta yang menolak pasien miskin.

Agaknya untuk mengatasi masalah eradikasi tuberkulosis ini, diperlukan komitmen lebih besar dari pemerintah dan semua pemberi layanan publik, terutama untuk masyarakat miskin. Sumber masalah utama, yaitu kemiskinan, yang disebabkan oleh multifaktor, juga harus dieliminasi sampai ke akar-akarnya. Kedengarannya mustahil, tapi usaha ke arah sana pun layak dihargai. Seperti tahun lalu, saya menyarankan untuk memulai dari diri sendiri. Coba lirik ke sini, anda akan menemukan 88 cara agar orang awam seperti kita bisa melawan kemiskinan.

Post ini dibuat untuk gerakan blogger global Blog Action Day 2008, dan menyambut International Day for the Eradication of Poverty 17 Oktober 2008.

Pics diambil dari blog Jakarta Butuh Revolusi Budaya dan situs Pekka.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 30 other followers

%d bloggers like this: