Blog Action Day 2009: Air Conditioning

Hari-hari yang super panas. BMG bilang suhu maksimum hari ini dan besok sekitar 33 derajat, namun hari-hari lalu suhu maksimumnya mendekati suhu badan manusia.

Diri saya ini manusia yang lahir di negara tropis, di pulau yang kelewatan garis katulistiwa. Walau kota Banjarmasin berada lumayan jauh di selatan garis, saya sudah biasa dengan suhu panas menggelantangnya yang mungkin bisa membuat turis-turis dari Inggris  bergeletakan mati dalam kondisi kering di pinggir-pinggir jalan. Tapi tetep saja ya, rasanya panasnya hari semakin meningkat saja. Jadi manja dan inginnya ruang kantor ber-AC. Apa? Kantor kalian semua sudah ber-AC? Ya, ruangan saya memang ber-AC, tetapi, dasar banyak maunya, saya lebih senang menggusur analis saya dari mejanya yang berada di ruangan yang hanya disegarkan oleh banyak jendela dan sebuah kipas angin. Walau mungkin, itu hanya karena saya lebih senang ngobrol di ruang analis daripada bekerja serius di ruangan sendiri. Tetapi kalau panas, tetap saja mengeluh, maka, mumpung kantor lagi berfoya-foya merenovasi kantor, akhirnya ruangan analis juga dipasangi AC.

Nah, beberapa hari lalu, kantor kami yang gedungnya sangat banyak itu didatangi orang kantor pusat, diintipi ruangan-ruangannya. Pasalnya, sejak bulan-bulan terakhir ini, pada siang hari yang harusnya  merupakan waktu bagi orang-orang kantoran seperti saya sibuk-sibuknya menggunakan komputer untuk bekerja (sebelum ada yang menyela, oke, kadang untuk internetan juga), listrik di sebagian besar gedung kantor saya mati, umumnya dari jam 11 sampai waktu yang tak terbatas. Ya, kantor saya gak punya generator listrik, kecuali untuk gedung utama. Saya adalah staf yang berada di gedung non-utama, 3 gedung intervalnya dengan gedung utama. Sebagai makhluk yang tidak sanggup hidup tanpa listrik, komputer, dan telpon yang kehabisan batre, saya memilih pulang, di rumah saya lebih keren: mati lampu hanya kalo saya lagi di luar rumah atau kalau saya sedang tidur (bertolak belakang dengan mati air: selalu terjadi kalau saya ada di rumah). Nah, orang-orang kantor pusat itu datang untuk menjenguk, kenapakah kok ada laporan mati lampu melulu, padahal kapasitas listrik baru saja ditingkatkan beberapa bulan sebelumnya?

Sesudah inspeksi tersebut, mereka memutuskan bahwa: terlalu banyak AC di kantor saya. Tentunya. Kita punya 12 ruang diskusi kecil yang masing-masing muat untuk 15 mahasiswa,plus 12 ruang skillab kecil, semua ber-AC. 5 ruang kuliah besar dengan 4 AC di masing-masing ruangan. 4 ruang kuliah kecil dengan minimal 1-2 AC per ruangan. 1 ruang kuliah teater dengan 2 AC biasa plus 1 standing AC yang besar. Ada 4 gedung dengan 3 lantai, plus 1 gedung dengan 2 lantai dan 1 gedung lagi dengan 1 lantai, tiap lantai mempunyai 2-3 ruang dosen/kepala bagian, masing-masing ber-AC. Perpustakaan dengan AC segabruk. Lab komputer dengan 3 AC. Laboratorium Biologi Molekuler yang penuh AC. Semua ruang administrasi di Gedung Utama ber-AC (ada 2 lantai dengan banyak sekali ruangan). Apalagi dengan renovasi semua gedung saat ini, ruangan-ruangan di semua gedung disekat-sekat lagi, dan dikasi AC lagi masing-masing. Apalagi kalau Aula Utama dinyalain, ada 2 standing AC yang gede, dan banyak sekali AC biasa.

Itu baru AC. Belum listrik yang digunakan untuk komputer/laptop dan segala pirantinya, LCD projector, sound system, lampu, kipas angin (ya, semua ruangan kuliah dan aula itu ada banyak kipas anginnya juga di langit-langit), kulkas, TV, jaringan internet, alat-akat laboratorium yang lapar listrik. Tapi, tentunya, alat-alat ini sangat diperlukan untuk kelancaran belajar-mengajar. Nah, kalau AC, bagaimana?

Waktu saya kuliah dulu (hahahaha, mahasiswa pasti langsung males bila kalimatnya dimulai dengan kata-kata ini), mana ada sih AC di ruang kuliah? Oke, deh. Jaman saya kuliah itu memang jaman yang cukup jadul sehingga teknologi henpon pun masih khayalan saja bisa dimiliki oleh saya, apalagi sampai bisa dimiliki tukang becak. Padahal ruang kuliah yang sekarang adalah ruang kuliah yang saya pakai dulu juga. Makanya ruangannya penuh jendela di sepanjang sisinya. Kok tenang-tenang aja ya mahasiswa waktu itu.

Mahasiswa sekarang pasti berkomentar: sekarang kan lebih panas daripada dulu (sok tau). Dan memang ternyata menurut NASA, tiap dekade, suhu rata-rata di bumi meningkat sekitar 0,2 derajat celsius selama 30 tahun terakhir. Jadi dibanding tahun 1970-an, sudah naik 0,6 derajat! Kalau ini terkesan kecil, coba bayangkan suhu naik 0,5 derajat celcius aja dari suhu normalmu, badan meriang-meriang gak enak kan? Yah kalau badan demam, bisa diturunkan dengan Parasetamol, kalau bumi yang demam? Kalau suhu bumi terus meningkat dengan kecepatan itu, maka gunung-gunung es akan mencair, permukaan laut naik, beberapa daratan akan menghilang (bye-bye Belanda, jangan-jangan Banjarmasin juga tenggelam), topan badai meningkat, hilangnya habitat dan spesies tertentu,  munculnya banyak penyakit akibat suhu dan bencana yang terjadi, dan banyak lagi.

Ayo tunjuk siapa yang menyebabkan suhu bumi naik? Menggunakan mekanisme defensif proyeksi, maunya menunjuk hidung orang lain dulu. Suhu bumi naik, konon, karena gas yang memerangkap panas di atmosfir bumi, sehingga bumi menjadi panas kayak wajan. Atau sering disebut efek rumah kaca. Bukan, bukan grup band yang itu. Bukan berarti efek rumah kaca adalah sesuatu yang jelek, malah tanpa efek ini, bumi kita akan sedingin es, bisa sampai minus 18 derajat celsius, kecoak aja gak bisa hidup.

Lalu kalau efeknya bagus begitu, kok ya diributkan? Karena manusia mengakibatkan lepasnya gas-gas yang meningkatkan efek rumah kaca ini (gak sadar mulai menunjuk hidung sendiri). Maksudnya, gas dari flatus? Jadi kita gak boleh flatus dong? (ada yang sotoy nanya). Er…. yah, walau gas flatus memang mengandung CO2 dan metana, bukan gas dari sana, ya, yang saya maksud. Gas-gas yang dimaksud antara lain adalah CO2, metana, NO, ozon, dan CFC.

Mari kita balik ke AC tadi. Hari panas (kadang, pada hari tidak panas pun), AC dinyalakan. Untuk menyalakan AC, memerlukan listrik. Menurut perhitungan Carbonrally.com, 1 AC saja sudah menghabiskan 16% rekening listrik tahunan sebuah rumah, atau diperkirakan hampir 950 kWh listrik per tahun untuk rumah dengan AC model window unit. Kalau di sini biaya listrik 700 rupiah-an per kWh, maka rata-rata sistem AC itu berharga 665.000 rupiah setahun. Mungkin angka yang kecil buat orang yang mampu memasang AC di rumah, tetapi kalau kita lihat harga yang harus dibayar akibat pelepasan CO2 karena penggunaan listrik bersumber sumber daya minyak, gas alam, dan batu bara untuk menyalakan AC ini? Kita tahu bahwa suplai listrik yang suka bergiliran mati-nyala di Kalselteng ini selain diperoleh dari tenaga air dari PLTA Riam Kanan, juga dari tenaga uap dan diesel dari PLTU Asam-asam, dan beberapa PLTD.

Jadi, kantor saya kelihatannya merupakan salah satu penyumbang pelepasan CO2 yang besar di Kalimantan Selatan. Saya rasa kantor anda juga. Himbauan kantor pusat untuk melepas sebagian AC ditanggapi dengan rengutan oleh para staf. Apa? Panas-panas gini disuruh mendinginkan diri dengan kipas? Permintaan seekstrim itu di bulan-bulan panas akan ditanggapi seperti angin lalu. Lalu bagaimana dengan efek rumah kaca dan segala peningkatan suhu bumi itu?

Kalau tidak tahan hidup tanpa AC, paling tidak kita bisa:

  • Memposisikan AC di tempat yang tidak kena sinar matahari langsung. Penggunaan listriknya akan lebih tinggi bila kepanasan.
  • Mengatur suhu AC. Kalau tidak terlalu panas, posisikanlah suhu AC pada suhu kamar, sekitar 24-25 derajat Celsius. (Kalau nenek saya malah menganggap suhu 25 derajat itu masih sangat dingin, walau salah seorang dosen saya bilang suhu begitu seperti berada dalam neraka).
  • Mematikan AC kalau meninggalkan ruangan dalam waktu cukup lama.
  • Sering-sering membersihkan filternya, agar tidak berdebu. Semakin sulit AC-nya mengisap udara melalui filter, semakin tinggi penggunaan listriknya. Lagian, filter berdebu bisa mendatangkan penyakit pernafasan.
  • Gunakan kipas angin, man. Penggunaan listriknya lebih kecil daripada AC.
  • Kalau tidur (ada ya yang tidur di kantor? hehehhe maksud saya, ini kalau AC-nya di rumah), diatur secara otomatis agar mati pada jam tertentu. Umumnya, kecuali pada puncaknya musim kemarau, mulai tengah malam ke pagi suhu cenderung lebih dingin. Kalau perlu, buka jendela (warning: ini hanya berlaku kalau jendela terbuka tidak menarik maling, atau kelelawar, masuk. Tahu-tahu pas bangun sudah jatuh miskin atau menjadi vampir. Atau dua-duanya).
  • Kalau ini dilakukan di Jepang: staf gak usah pakai jas, gak usah pakai dasi. Kalo ini mah sudah saya lakukan sejak dahulu kala sejak saya tahu saya bekerja di kota sebelah. Kalau orang ke kantor pakai blazer, saya pakai kemeja atau blus pendek. Sebuah perusahaan di jepang, meadownics, malah memproduksi baju yang eco-friendly: baju ber-“AC”, jadi badan tetap dingin walau di luar panas. Jadi bajunya dikasih kipas angin (diameter 10 cm) 2 biji, dengan dial buat mengatur aliran udaranya. Sounds primitive :p

Walau AC hanya satu hal kecil yang meningkatkan salah satu gas rumah kaca, tapi perubahan kecil yang kita lakukan di kantor kita mungkin bisa memberi kontribusi bagi melambatnya terjadinya peningkatan pemanasan bumi.

Bagaimana di kantor Anda?

Tulisan ini dibuat dalam rangka Blog Action Day 2009 (Topik: Climate Change).

12 responses

  1. Thank you atas commentnya di blog saya.

    Apapun yang bisa kita lakukan, tidak peduli berapa kecil, paling tidak kita sudah melakukan sesuatu untuk membantu bumi kita yang tercinta ini. Kalau bisa lakukan lebih banyak, kenapa tidak? The most important thing is to DO something. There is no point just THINKING about climate change, right?

    Learn and Grow!

  2. hehoo🙂
    thx yiaa kunjungannya..
    saya sneng tnyata msh ada yg shati utk mendukung Blog Action DAy 2009.
    salam knaal😉

  3. Saya ngajar pake sasirangan, pake T-Shirt, pake batik, yang penting adem… ga pernah pake baju dinas yang gerah itu… karena lupa bikin

  4. Kalau pake AC yang non-CFC? Gimana bos? Namun, Indonesia memang belum ketat.. Knalpot kenderaan bermotor saja masih banyak (bahkan hampir seluruh kenderaan produksi dalam negeri) yang tidak menggunakan katalisator untuk mengubah gas CO yang beracun menjadi CO2 yang “agak mendingan”🙂

  5. Aku suka banget baca updatemu, Fi! nambah pengetahuan tapi tetep fun!ditempatku ngajar, Fi…mengkhayal kale punya AC, tp ngga pernah kepikiran aja. Yg namanya pengabdian tuh apapun the show must go on…tak ada batang akarpun jadi.Aku jadi kangen rumah tua nenekku dulu, aku bilang “the house of spirit”, rumah bubungan tinggi jaman kuda gigit besi, jendela lebar-lebar dan besar-besar..jumlahnya banyak, heran maling jarang masuk, rumah sekarang sudah pake gembok dan teralis maling bisaaa aja masuk…setiap sore aku selalu berdiri di depan jendela, kepalaku kelihatan separu waktu itu masih kecil banget, angin sepoi-sepoi yang bertiup disela-sela pohon rambai…adeeeem banget sgituambil lihat bunglon manggut-manggut…gimana kalau kantor-kantor juga dibikin kayak rumah jadul gitu plus pohon-pohon rambai disekelilingnya.

  6. ehm…..bingung..apa saya bisa berpartisipasi

  7. Kantornya dimana ya…???
    Hehehe

  8. Bagus tuh komentar Misfah. Sayang rumah saya di kompleks perumahan yang saling berimpit. Tapi saya lebih suka membuka jendela dan pintu lebar-lebar. (Padahal belum sanggup pakai AC; lagi pula istri gak tahan dingin).

  9. ….pasti dah ikutan nonton 2012 yg sensasional dan mengundang kritik sebahagian MUI itu..? nah relevan kah yg dicerikan film tsb dgn tulisan yg anda buat (..lumayan informatif kok..), tp kalo crita masalah panas sih, di Papua disiang hari temp dah biasa pada kisaran 41 derajat celcius, akibatnya – antara lain sih – wajar kalo penduduk asli pada gelap kulitnya..

  10. tentang global warming nec ..

    nec inpo

    happy new year …

    ane AnggOTa KB jW …..

  11. save our forest

  12. wah aku baru tau soal AC ini. terima kasih ya!
    kucatat di antara 10 blog indonesia yg ikut BAD10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: