Kalau Jatuh Sakit di Belanda

Tulisan ini sebenarnya dibuat untuk Kompetiblog 2011. Tetapi karena sejam sebelum deadlinenya, server yang mengadakan lomba menjadi down (mungkin karena diakses oleh seluruh dunia :p), maka login aja saya gak bisa. Kabar baiknya, saya jadi bisa menulis lebih dari 500 kata. Disuruh menulis dengan batasan jumlah kata itu sangat menyakitkan buat saya, omong-omong. “Is this a sign?” teriak seseorang di latar belakang. 

Edited: Eh, ternyata pemilik webnya tahu bahwa servernya down, ditunda deh deadlinenya sampai besok. Akhirnya artikel ini saya ikutkan juga dalam Kompetiblog itu, dalam versi lebih ringkas.

Oke, mari kita lihat apakah aku masih bisa menulis, sesudah, er….. satu dekade.

******************************************************************

He who has health, has hope. And he who has hope, has everything.”

Sebagai pekerja di bidang kesehatan di Indonesia, yang setiap hari melihat orang-orang mengalir ke UGD dalam keadaan menderita, diriku paling takut sakit. Sayangnya, penyesalan selalu datang kemudian, sesudah sakit, baru kita menatap lagi ke belakang (yah, setidak-tidaknya untuk orang yang reflektif), kenapa ya saya kemarin tidak begini, kenapa ya saya kemaren melakukan itu? Ditambah lagi, selain penderitaan fisik karena sakit, batin juga menderita mengingat ongkos yang harus dikeluarkan. Sekarang masyarakat cenderung berpikir kalau tidak ke spesialis atau ke rumah sakit swasta, tidak akan dilayani dan diperiksa dengan baik. Spesialis menjadi terbebani dengan jumlah pasien yang melebihi kapasitas, menurunkan waktu komunikasi yang sangat diperlukan antar dokter-pasien. Dirawat di rumah sakit swasta perlu biaya bisa di atas 6-7 digit. Asuransi kesehatan? Layanannya begitu bervariasi. Asuransi pemerintah hanya berlaku untuk pegawai negeri. Asuransi swasta lumayan mahal, dengan kriteria pelayanan terbatas tergantung premi. Dan secara logika saja, asuransi lebih suka menerima klien sehat daripada sakit. Semakin sakit dan semakin berisiko kondisinya, semakin mahal preminya. Tidak heran, pasien yang sudah sembuh, bisa langsung jatuh sakit lagi karena stress memikirkan biaya.

Mari kita melihat ke pelayanan kesehatan negara lain. Karena pelayanan kesehatan Indonesia suka dibandingkan dengan Singapura, bosan juga kan lama-lama. Sekarang saya akan mencari role model yang jauh sekalian, yaitu salah satu negara di Eropa yang menduduki posisi pertama sebagai pemegang pelayanan kesehatan terbaik menurut Euro Health Consumer Index (EHCI) tahun 2009. Indeks ini membandingkan 32 negara Eropa dalam 34 indikator, yang dikelompokkan menjadi 6 kategori, yaitu hak dan informasi untuk pasien, e-health, waktu tunggu untuk diterapi, outcome terapi, luasnya layanan yang diberikan, dan obat-obatan. Negara manakah itu? Yap, benar, Belanda. Bahkan dibandingkan Inggris, Kanada, Jerman, Australia, Amerika, dan Selandia Baru, Belanda tetap memegang peringkat tertinggi, dinilai dari 5 indikator pelayanan kesehatan, yaitu kualitas, efisiensi, akses pelayanan, persamaan, serta kemampuan untuk terus menjalani hidup yang sehat dan produktif. Dari segi indikator Ibu dan Anak, Belanda termasuk top 10 (peringkat 9) negara paling aman dan nyaman untuk ibu dan balita, menurut laporan “State of the World’s Mothers 2011” yang dikeluarkan oleh organisasi Save the Children. Bahkan Obama menyebut Belanda sebagai referensi untuk reformasi sistem pelayanan kesehatan di Amerika, sesudah syok karena melihat posisi Amerika yang tertinggal jauh.

Kenapa Belanda bisa mengalahkan negara-negara besar dengan anggaran kesehatan berlimpah itu?

Pertama, reformasi pembiayaan kesehatan yang dilakukan Belanda tahun 2006. Semua warga negara harus ikut asuransi kesehatan ini. Pelayanan kesehatan dibiayai oleh 2 sistem: untuk terapi jangka panjang seperti rawat inap semi-permanen dan biaya disabilitas seperti kursi roda, dibiayai oleh asuransi yang dikontrol negara; untuk terapi jangka pendek, dibiayai oleh berbagai asuransi kesehatan swasta yang diharuskan memberikan paket asuransi yang diregulasi jenis dan kualitasnya oleh negara. Menariknya, premi tidak tergantung pada status kesehatan dan usia (ekualisasi risiko). Dengan demikian, paket asuransi ini bisa diperoleh semua warga negara dengan biaya yang terjangkau tanpa perlu dinilai dulu risiko kesehatannya oleh perusahaan asuransi swasta. Pembiayaan kesehatan untuk semua tanpa kecuali, tanpa diskriminasi.

Kedua, Belanda termasuk salah satu negara (selain Denmark) terdepan dalam implementasi e-health di Eropa. Penggunaan sistem informasi rumah sakit berbasis teknologi, digitalisasi data dokter dan catatan medis pasien yang bisa diakses secara nasional (unique ID), electronic medication service, e-prescribing, integrated disease management, e-consult, web-based referral service, dan lain-lain, dapat menurunkan error dalam pelayanan kesehatan, termasuk medication error. Mungkin memerlukan biaya mahal saat pemasangan infrastruktur dan merubah mindset pengguna, namun menghemat biaya dalam jangka panjang, baik biaya pemberi pelayanan kesehatan, biaya yang dikeluarkan asuransi dan negara. Pelayanan kesehatan yang diberikan juga bisa lebih cepat dan memuaskan.

Ketiga, sumber daya manusia tenaga kesehatannya dihasilkan oleh sekolah untuk tenaga profesional kesehatan (dokter, perawat, laboran) yang unggul di bidangnya. Fakultas Kedokteran di University of Groningen menempati posisi tertinggi di Belanda, dan masuk peringkat 103 bidang Life SCiences & Medicine menurut QS World University Rankings 2010. Reformasi pendidikan kedokteran menjadi berbasis problem-based learning dan mengutamakan komunikasi antara dokter/perawat-pasien salah satunya bersumber di School of Health Professions Education di Maastricht University, dan sampai sekarang para profesornya selalu menjadi rujukan di Indonesia untuk berbagai filosofi dan pengalaman terkait PBL ini.

Kapan kita bisa menjadi seperti itu ya? Yang jelas reformasi pendidikan kesehatan sudah mulai kita lakukan, terlepas dari pro-kontra dari berbagai pihak. Langkah kedua sudah mulai nampak di berbagai rumah sakit besar di Indonesia, walau kebanyakan masih berbenturan dengan mindset pengelola dan pengguna. Sementara itu, asuransi pelayanan kesehatan juga harus kita benahi. Suatu hari, mudahan kita bisa menyusul Belanda : )

Pics diambil dari sini dan sini.

9 responses

  1. membaca tulisan di atas saya jadi teringat akan sebuah film dokumenter berjudul SICKO yg sampai sekarang kalau tidak salah ingat pisidi orijinalnya masih ada ditempat manusiasuper😐 yg memukul telak citra industri kesehatan di US.

    khusus untuk di indonesia, saya terkesan dengan pelayanan yg diberikan oleh GRIU RS. Dr. Soetomo Surabaya, mantap. tapi tetap saja semantap-mantapnya pelayanan kesehatan, jangan sampai ke rumah sakit.

  2. @wahyu: aku belum nonton, cari ah.

  3. membaca tulisan di atas saya jadi teringat akan sebuah film dokumenter berjudul SICKO yg sampai sekarang lupa saya taruh di mana padahal itu punyanya MWahyuNZ😐 yg memukul telak citra industri kesehatan di US.

    ini update per 6 bulan dan kelipatannya, begitu?

  4. anda perhatian sekali, mansup, terhadap blog saya, terimakasih :p

  5. Mba mina.. kenapa blog bukunya dibiarkan menjadi sarang laba2 mba?

  6. Halo mbak ana, iyaaaa, dorong saya dong😀

  7. buset ini postingan setahun yg lalu😐

  8. tepatnya besok ya setahunnya. makasih sudah mengingatkan, war😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: