Day 2: 10 Likes and Dislikes

10 Likes dan Dislikes. Apa ini berarti 10 fakta, campur-campur Likes dan Dislikes? Atau 10 Likes dan 10 Dislikes? *cerewet*

Okey, Dislikes dulu deh, biar tulisan ini berakhir dengan hepi.

My Dislikes:

  • Kecambah. Kecambah versi kecil-kecil itu. Ya, yang itu, yang nampak seperti spermatozoit. Apalagi kalo belum dibersihkan, masih ada kulit hijau-hijaunya itu, hiiiiiii, melihatnya aja diriku merasa kotor, kok gak dibuang dulu sih? Dan rasa kecambah ini seperti….. rasa kecambah. Langu. Kalo yang besar-besar kayak di Pad Thai, bolehlah.
urap-urap

Kalau beli urap, selalu minta tanpa kecambah (Sumber gambar)

  • Pedas. Once upon a time saya adalah pemakan sambal, literally. Ulekan di cobek, yang bergelimang sambal, itu pasti berakhir di piring saya, gelimang sambalnya itu diolesin ke nasi. Lalu sambalnya sendiri, tentunya, dimakan bersama nasi. Ya, bukan nasi dimakan bersama sambal. Saya lupa kapan titik baliknya, mendadak saya tidak suka, dan tidak bisa lagi makan sambal. Kayaknya waktu episode Jogja masih makan sambal, karena hobinya makan di, kalo gak Sego Penyetan (yang tentunya segalanya dipenyet dengan sambal), ya di SS (Serba Sambal). Omong-omong, SS ini sudah jadi chain warung gitu ya. Dan sudah jadi keren, bukan warung tenda lagi. Eh, tapi ya, tapi, kalo pedasnya itu adalah kimchi, atau tom yam, kok saya bisa makan ya. Yah, konsistensi bukan nama tengah saya sih.
6a00d8341e8e5953ef0147e0f102e3970b-320wi

Atau nasinya yang pindah ke cobek (Sumber gambar)

  • Berkebun. Lagi-lagi, di zaman dahulu kala, paling seneng kalo disuruh menyiram tanaman setiap hari, pagi dan sore, pake teko penyiram tanaman itu. Waktu itu halaman depan rumah memang penuh tanaman bunga dan rerumputan. Bahkan waktu itu saya suka sekali main bersama teman-teman di kebun, ya main tanah gitu, dibulet-buletin dibikin kayak bolu gulung, lalu dipotong-potong (belakangan sesudah agak besar baru tahu, katanya sih itu kotoran cacing ihik). Juga suka maen drama-dramaan pake jari, ceritanya tinggal di hutan gitu, dan karena di samping kebun ada sungai berbatu waktu itu, ada episode berenang di danau juga sih ceritanya (jarinya yang berenang). Dan diriku lupa juga, kapan titik penanda yang membuat saya jadi tidak suka kebun dan proses berkebunnya. Sekarang kebun depan rumah sudah tidak ditanami macam-macam lagi. Gak ditanami aja tumbuh sendiri, ya tentunya rumput, tapi juga tanaman aneh-aneh, termasuk pohon kurma. Sekarang, kalo rumput mulai banyak, tinggal bayarin tukang becak depan rumah untuk menebasnya. Dulu? Pake celana pendek, ambil cangkul, lalu mencangkul (dengan begitu tidak ahlinya sehingga yang ada tangan sudah lecet, tapi satu sudut kebun pun belum selesai dicangkul).  By the way, kalian mengalami gak sih di SMA ada mata pelajaran Tata ….. apa ya, lupa, pokoknya intinya tentang bercocok tanam (mulai ragu, diriku SMA zaman prasejarah kali ya, di Masa Bercocok Tanam?). Ujiannya? Lisan dengan si guru, dengan pertanyaan-pertanyaan ala Kelompencapir (“Bagaimana cara mencangkok tanaman?” “Bagaimana agar tanah gembur?” “Bagaimana cara menumbuhkan jamur?”). Dan ujian prakteknya: Mencangkul sepetak tanah. Serius. Oh masa SMA saya begitu asik. Ada mata pelajaran Tata Busana. Ujiannya? Membuat baju ukuran manusia, pake kertas roti. Dijahit beneran pake jarum dan benang. Mata pelajaran Tata Boga: memasak di kelas. Semua bawa kompor dan penggorengan. Saya membuat apa? Kacang goreng. Er…… sebentar, apa judul post saya ini tadi?
GaaJdZ0tLI

Ini waktu saya masih suka berkebun dulu.

  • Dibilang kurus. Obviously. Fakta itu tidak usah diperjelas ya. Anda belajar bergaul dan berkomunikasi sama siapa, ya? Kalau saya bilang “Kamu kok tambah gendut, siiiih” Sakit hati, gak? Exactly.
SONY DSC

Kalo thin yang ini, sih…..

  • Jam karet. Walau lukisan favorit saya adalah “Jam Karet”, eh “Jam Lunak” (aka. Persistence of Memory)-nya Salvador Dali, bukan berarti lantas saya suka di-jam-karet-in ya. Sungguh tinggal di Belanda ini menyuburkan kesukaan saya pada ketepatan waktu. Di sini, kalo janji jam sekian, tepat sampe ke menit-menitnya harus sudah ada. Kalo gak, ya ditinggal, atau gak jadi.
the_persistence_of_memory_1931_salvador_dali

Ini dia lukisan kesukaanku itu

  • Orang masuk ke area kehidupan saya (maksudnya kamar dan dapur dan kamar mandi) pake sepatu/sandal yang datang dari luar. Tidak perlu dijelaskan saya rasa? *nyalain vacuum cleaner sambil bersungut-sungut*

My Likes:

  • Buku diskonan! Hhhhhh… kayaknya hal ini akan muncul terus deh di postingan Blog Challenge ini. Gimana lagi, saya tergila-gila pada buku. Tadi pagi ya, ada janji ngambilin barang teman di daerah Oudegracht, dekat Centraal Station. Pas balik jalan ke Centraal, kan mesti menembus Pasar Kaget, Open Market-nya Utrecht di Centraal ini yang adanya cuma Rabu dan Sabtu. Em… sebenarnya gak harus menembus ni pasar sih dalam kondisi normal. Cuma ya karena beras saya habis, dan toko Cina yang jual beras Basmati adanya di belakang pasar itu, ya harus lewat situ lah (sudah 5 bulan di sini, saya tetap keukeuh makan nasi setiap pagi hahaha, gak papa repot bikin lauknya. kalo cuma makan roti mau berapa tangkup pun, jam 11 pagi saya sudah bunyi-bunyi perutnya, ya, bapak-bapak ibu-ibu). Hari ini kan Rabu ya. Saya menembus pasar dengan harap-harap cemas. Berharap, tentunya. Cemas, karena kuatir akan beli buku lagi. Hyaaaa iya penjual buku bekas itu ada! Jejeran meja yang di atasnya digeber aja buku-buku. Sebagian besar bahasa Belanda. tapi buku-buku bahasa Inggrisnya suka banyak yang gak disangka-sangka ketemu! Mana kondisinya bagus-bagus. Dan harganya, tahukah anda berapa sodara-sodara? “On this table, 0,5 euro per book, and on this other table, the price is 1 euro each.” Mati gak lo? Gak peduli tu buku tipis, tebel, fiksi, nonfiksi, paperback, hardcover, buku komik, buku seni, semua harganya sama. Terpuruk lah diriku di situ sampe jam 10 pagi, lupa bahwa harusnya langsung ke kampus. Dan kebeli aja gitu 2 buku, 1 adalah buku ke-12-nya Wheel of Time, dan 1-nya buku Ken Follett yang Fall of Giants, hardcover sodara-sodara! Masih Like New! Hhhh, tadi juga ada Harry Potter edisi satuan yang pake kotak-kotak keren! Juga boxset Wheel of Time *sigh* Itu boxset isi 3 buku, juga 1 euro😦 Sayang yang boxset itu nomor 4, 5, dan 6, saya sudah punya. 
IMG_7263

Pamer dulu😀 Harga keduanya ini cuma 3 euro

  • Nonton film. Kalo di Banjarmasin, semua film ditonton, kecual film Indonesia (kecuali [kecualinya ganda nih] cukup menarik untuk ditonton). Biasanya kalo gak pulang kerja, ya hari Minggu, dengan gerombolan nonton film yang biasa. Kadang kalo lagi pas pada bisa, nonton midnight juga bareng-bareng. Nah, di Belanda sini, harga nonton film mahal, ya, kaka. 7-8 euro sekali nonton. Huh, mending donlot torrent, 3 GB bisa selesai hanya dalam 1 jam saja. Well, itu waktu di kos saya sebelumnya ya. Di kos saya yang sekarang, gak bisa secepat itu lagi sih. Tapi masih cepat lah. Nah, tapi kan ya, nonton di laptop ini suka ketiduran. Jadi nonton ke bioskop jadi perlu. Jadi berlanggananlah abonemen nonton di salah satu jaringan bioskop di sini, yaitu Pathe. Nama abonemennya Pathe Unlimited (ada deh tuh di buku Negeri van Oranje), cuma 19 euro saja, bisa nonton sampai mabok, gratis! Ya, all-you-can-watch gitu. Omong-omong, Pathe yang di Utrecht ini (namanya Pathe Rembrandt) mencanangkan ada istirahat/break di tengah film. Ya, setengah film, lampu nyala, film berhenti. Semua pada keluar untuk ke toilet, atau, lagi-lagi, beli popcorn. Sungguh ya, orang Belanda ini, suka sekali popcorn. Itu popcornnya sudah seember gede ukurannya, kaka, pas awal masuk bawa seember, eh, pas break, keluar, masuknya bawa seember lagi. Melihatnya aja eneg. Sampai saat ini menurut saya Pathe terbagus itu yang di Rotterdam, ada 2 di sana, dan bioskop yang terbagus itu adalah yang jauh dari pusat kota, yaitu yang de Kuip. Beuuuh, walau gak bisa ngalahin Blitzmegaplex, sudah lumayan lah untuk ukuran Belanda yang maunya segalanya ukuran kecil dan tidak begitu tahu bagaimana caranya menonton yang nyaman itu. Studionya banyaaak. Pathe yang de Kuip cukup cepet film barunya, yang di Utrecht bener-bener payah. Sampe sekarang masih muterin Skyfall aja, cobaaak. Dan studionya kalo gak salah cuma ada 2 apa 3, gitu.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ini loh Pathe Rembrandt yang nista itu

  • Makan Nasi Goreng Ayam dan Nasi Padang (yang sebenarnya juga adalah Nasi Goreng) di Warung Akong, di Oude Binnenweg 138, Rotterdam! Hihihi…. Setiap habis nonton, makannya pasti di Akong. Itu sampe Akongnya hapal. Minumnya kalo gak teh hijau panas, atau aloe vera (astagaaaaa, ni minuman enak banget tauuuuk). Bahkan pernah makan siangnya di situ, lalu nonton 2 film, habis nonton makan lagi di Akong, baru balik ke Utrecht. Warung Akong ini rumah makan Suriname, tapi diriku menganggapnya warung makan Cina, soalnya yang jualan orang Cina. Yang makan di sini kalo gak orang Cina, ya orang Indonesia hihihi. Kalo Belanda yang makan ke sini, biasanya makan roti (nama Warung Akong ini sebenarnya adalah Broodje Akong). Dua menu di atas, plus Bihun gorengnya juara, enaaaaaak banget! Porsinya gak kira-kira. Itu saya makan sama Adi dan Miss Uyung, cukup pesan 2 menu saja, sudah blenger menghabiskannya. Tahu kan makannya Adi dan Miss Uyung gimana? Mereka berdua ni jawara banget kalo makan all-you-can-eat di Sumo (resto Sushi di sini), bisa sampe 4 course! Satu course aja sudah bisa bikin pingsan.
405018_4096145290190_1308352810_n

Di Akong bareng Miss Uyung, Adi, dan Boy

  • Uang. Kayaknya ini gak perlu penjelasan.
images

Dalam kondisi sebenarnya, gak ada sih uang pecahan segini

  • Puzzle. Yang di atas 500 pieces, maunya sih yang 1.000-an pieces atau lebih, cuma di Indonesia kan susah nyarinya yang harganya gak mencekik leher dan gambarnya cukup bikin semangat untuk menyusunnya. Yang di Amazon itu loooh, bikin ngiler. Pernah beli 2 sih di Amazon. Habis tu bangkrut hehe. Daaaan di sini banyak aja gitu, termasuk yang 3D. Saya sudah beli 3 biji, dengan semangat (dan berharap) bahwa kalo Minggu akan menyusun puzzle ini. Tapi sampe sekarang kotaknya aja belum dibuka. Gimana enggak, weekend selalu ngelentjer (oh Tuhan bahasa jaman apa ini). dan kayaknya, minggu depan, karena akan ada Boekenfestijn di Nijmegen, yang merupakan pameran buku besar-besaran bulanan yang pindah-pindah kota di Belanda, yang selain menjual buku juga menjual staionery, barang hobi, termasuk puzzle. Ffffuh, selamatkan saya, kaka. Kemaren waktu Boekenfestijn yang di Rotterdam, melakukan perdebatan mental, beli enggak ya, puzzle-nya? Lukisan Monalisa, 1000 pieces! Dan enggak dibeli aja gitu *sigh
Trefl-Mona-Lisa-puzzle_Trefl,images_big,19,PT-10002

Ini loh, ada yang mau membelikan?

Fuuuh, itu dulu deh. Nanti gak ada lagi bahan untuk dibicarakan besok-besok. Kan temanya mirip-mirip gitu. Sudah sepuluh gak sih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: