Day 3: My typical day

Sejak tinggal di sini, terus terang kehidupanku monoton, deh.

Jadi tidak tahu apa menariknya diceritakan ya.

avoid monotony

Okey, pemirsa, gak perlu sampai menguap gitu juga, kali

Mari kita pilih hari Selasa aja, ya, karena pertemuan mingguan para mahasiswa selalu pada hari ini.

Okey, alarm selalu ku-set ke jam 4.50 pagi. Tu setting alarm tidak pernah kuubah sejak diriku datang ke sini. Jadi, diriku selalu bangun jam 4.50 pagi. Kalau sudah bangun, susah sekali untuk menahan diri untuk mandi. Padahal kalo di rumah sendiri, mandi pas mau berangkat ke kantor, habis sarapan hehehe. Yah, mungkin karena pernah ngekos di tempat yang orangnya banyak dan mau pergi pagi semua, sedangkan kamar mandi cuma satu. Jadi daripada antri, mending jadi yang paling pagi mandinya sekalian. Berlanjut deh sampai sekarang. Termasuk di musim dingin kayak gini. Katanya orang Belanda mandinya jarang. Jarang dalam artian kita kan, gak mandi dua kali, cuma sekali sehari. Nah, jarang-nya mereka tu beneran jarang, sehari belum tentu mandi. Kadang mereka mandinya malam, paginya bangun 15 menit sebelum jam berangkat: cuci muka, pake baju, sudah langsung berangkat. Ini budaya yang tidak akan pernah bisa kuadaptasi, seperti makan nasi😀

Saat ini Shubuh-nya jam 05.49 pagi, menurut Islamic Finder. Habis shalat Shubuh, langsung nyiapin sarapan, ya nasi tadi dan lauknya yang biasanya sudah dibikin malam sebelumnya, supaya gak terlalu gedebak-gedebuk pagi-pagi. Diriku kan tinggal di lantai 3 (lantai 2 kalo orang sini nyebutnya) rumah keluarga Turki, seluruh lantai 3 itu terdiri dari kamarku, lalu ada selasar tempat dapur, ada kamar mandi, juga ada balkon. Lantai 2-nya (lantai 1 kata mereka) itu kamar-kamar tidur mereka (ada si bapak, si ibu, si anak laki-laki paling besar 18 tahun yang cakepnya nauzubillah, si anak perempuan yang sekolahnya setara SMP-an lah, dan si anak laki-laki terkecil yang masih SD – juga cakep). Mereka biasanya pada belum bangun jam 6 itu. Anehnya, pas diriku berangkat jam 8 nanti, sudah pada berangkat, kayaknya tanpa mandi dan tanpa sarapan, sama sekali tidak ada bunyi.

Jam 7.15 pagi biasanya sarapan sudah selesai, piring sudah dicuci, siap-siap berangkat. Karena masih winter, dan diriku paling gak suka kehujanan apalagi kesaljuan, jadi sementara pake bis dulu. Bis lewat di halte dekat tempatku ngekos ini setiap 15 menit. Karena dinginnya minta ampun dan berangin, semua orang di sini sebelum keluar rumah mesti ngecek 9292.nl dulu, untuk tahu jam berapa tepatnya bis nomor sekian lewat di halte yang namanya A, misalnya. Maklum bisnya tepat waktu. Dan gak bisa dikejar-kejar macam di Jakarta, trus lompat naik dari sembarang tempat. Jadi karena tu bis (nomor 26) lewatnya jam 7.44 pagi, diriku baru keluar rumah jam 7.35-an gitu.  Sudah terbungkus rapat dengan jaket, syal, dan topi.

Jam 8.30-an biasanya sudah sampe di kampus. Kenapa segitu lama, karena bisnya lewat Centraal dulu, lalu naik bis lain ke arah kampus de Uithof yang letaknya di Utrecht coret hehehe, semacam UI-nya Depok lah.

Gedung di de Uithof ini aneh-aneh, terlalu modern arsitekturnya, tidak seperti kampus Janskerkhof yang gedungnya dari Abad Pertengahan.

Minnaert

Minnaert, kampus Faculty of Sciences

6642813161_908b74779a_n

Hijmans van den Berghgebouw, bagian dari Utrecht Medical Center (FK-nya Utrecht Uni)

Sampai kampus (kubilang sih kantor hehe, karena di sini kita disebut medewerker, dianggap staf), naik ke common room lantai 4 dulu, buat ngambil coklat panas atau teh panas. Kantorku di DdW, singkatan dari David deWiedgebouw, sebuah kantor modern berdinding kaca semua (mungkin untuk mendapatkan cahaya matahari sebanyak-banyaknya), dengan tipe kantor open space, gak ada batasan antar orang. Yang punya ruangan (yang juga berdinding kaca) cuma para bos, Dekan, misalnya, dan Sekretaris. Kita para mahasiswa? Open space. Masing-masing punya meja sih, dengan komputer berlayar segede gaban. Mejanya berjejer-jejer gitu sambung-menyambung berhadap-hadapan, memenuhi seluruh lantai. Yang punya meja di sini hanya para daily full-time student, yang parttime student harus puas dengan meja yang tidak tetap, dimana kosong, di situ dia duduk. Jadinya tidak ada privacy sama sekali, misalnya mau ketiduran pas baca artikel, ya gak bisa. Mau nge-Plurk atau Facebook-an, ya gak bisa. Yah bisa aja sih, tapi Plurk kita bisa dilihat seluruh dunia dari sisi mana pun, dari kiri kanan atas (kecuali dari bawah ya). Mmmm… sampai mana saya tadi? Ya habis ngambil coklat, taruh jaket di gantungannya, lalu nyalain komputer. Semua punya password sendiri-sendiri, jadi mau buka komputer dari meja mana pun, bisa aja sih, karena dokumen kita adanya di Network. Ya gak nyamannya bukan meja sendiri adalah settingan kursi dan meja yang suka berubah-ubah. Mejanya bisa diturunnaikkan, kursinya bisa naik-turun, jeblak ke depan, atau baringan ke belakang haha. Sebagai orang berbadan kecil, settingan kursi dan tinggi mejaku itu kalo diubah, diriku suka sebel😀

IMG_6290

David de Wiedgebouw – my office

2012-09-17_14-33-15_113

Kantor open space

IMG_6588

Jalan dari halte ke office, musim gugur lalu

Sambil menunggu komputer nyala, ngeluarin bekal dong. Mulai bekal lunch sampai cemilan segabruk, permen, dan minuman. Kalo jumlahnya gak banyak, diriku lapar ya sodara-sodara. Kayaknya mejaku paling penuh makanan deh. Kadang menu lunch sudah kumakan di meja itu juga jam 11 siang.

Anyway, jam kerja diriku biasanya mulai jam 8.30 atau jam 9 sampe jam 5 atau 6 sore. Suka-suka aja sih, tapi rata-rata yang lain kerjanya malah sampe jam 8 malam, ada yang sampe jam 11 malam. Padahal jam 7 malam lampu sudah dimatikan, cuma tiap meja ada lampu terang-benderang gitu.

Nah khusus hari Selasa, jam 11.15 ada DIMI meeting. Duh apa ya kepanjangan DIMI, gak tau hihihi. Prinsipnya, itu adalah pertemuan mingguan, isinya kalo gak presentasi hasil penelitian anak PhD, ya anak Master. DIMI meeting ini khusus untuk Divisi tempat aku kerja aja. Divisi lain punya meeting-nya sendiri-sendiri. Biasanya meeting ini selesai jam 12 lewat-lewat dikit. Biasa orang Belanda sukanya nanya. Tapi semangatnya memang bukan nanya menguji gitu, kelihatan bahwa semangatnya untuk memberi masukan.

Jam 12-1.30 biasanya orang pada makan siang di common room. Waktu masih rajin bawa nasi atau mi untuk makan siang, dan duduk bareng mereka di meja-meja panjang common room, diriku merasa malu dan repot sendiri. Makanannya orang Indonesia kan variatif gitu, habis tu kan diriku makannya lama, ya bawanya porsinya banyak juga sih biasanya. Jadi tetangga lunch sudah ganti 2 kali, diriku masih aja makan. Dan makanan mereka itu yaaaa, masak lunch cuma roti yang dikasi keju dan daging asap, 2 tangkup. Dingin-dingin. Ada yang cuma makan sepotong roti (doang) dan cairan berwarna kekuningan (buat yang koass di RSUD Ulin, ingat kuah “cairan pleura” dong? Makanan koass sehari-hari dari Bagian Dapur RS?). Kutanya itu apa? Katanya sih kuah kari. Yang pasti rasanya hambar.  Daaaan, ada yang cuma makan sebiji pisang! Untuk makan siang! Kalo diriku lunch hanya makan pisang, baru jalan balik ke meja sendiri kalii sudah pingsan kelaperan.

lunch2H

Dutch lunch, no-nonsense.

Habis makan siang, diriku biasanya shalat. Problemnya, di gedung itu mana ada musholla. Dan karena seluruh lantai open space, gak mungkin shalat di open space itu. Jadi biasanya turun ke resepsionis lantai dasar, pinjam kunci ruang P3K, dan shalat di sana. Itu para resepsionis sudah hapal sama diriku hahaha. Semua muslim yang ada di gedung ini (mahasiswa Master biasanya dan segelintir mahasiswa PhD, yang rata-rata kalo gak Turki, Maroko, ya Iran) shalat di sana, bergantian pinjam kunci. Para cewek yang bareng diriku shalat suka terkagum-kagum pada mukena. Mereka tidak pernah meihat mukena kayaknya. Apalagi diriku bawa mukena yang praktis itu kan, yang bisa dilipat sampe kecil, dimasukin kantong seukuran genggaman tangan. Pada nanya beli di mana? Kubilang aja bawa dari Indonesia. Pas cerita sama my mom tentang ini, mom sudah semangat mau membelikan beberapa, tar katanya pas pulang, tu mukena bawa ke Belanda, kalo ada yang nanya, kasihkan aja ke mereka. Mom… selalu begitu🙂

M3361S-3034

Yang kayak gini ni yang bikin orang Turki/Maroko bingung

Jam 5 atau jam 6, tergantung mood, pulang pake bis, biasanya juga lewat Centraal. Nah Centraal ini adalah sebuah pusat bis plus stasiun keretanya Utrecht (Utrecht Centraal Station), yang digabung dengan pusat perbelanjaan Hoog Catharijne. Jangan bayangkan mall ya. Mana ada mall di sini. Deretan toko dan orang jual makanan. Biasanya diriku belanja bahan makanan di Albert Heijn, supermarket (yang seukuran minimarketnya kita)-nya Belanda, atau Kruidvat yang jual segala macam kecuali bahan makanan (ada sih permen, coklat, tapi gitu-gitu aja), atau ngesot dikit ke belakang Hoog Catharijne, ke toko Cina Tjiau Jiang atau toko Cina Centraal, buat beli bahan makanan Indonesia dan bumbu-bumbu. Apa aja ada. Indomie? Kacang hijau? Pete? Sambal terasi? Beras ketan? Jahe? Kacang panjang? Daun salam? Teh kotak? Tepung bumbu Kobe? You name it. Suka berlama-lama di sini, menatapi bumbu-bumbu, serasa gak percaya diriku begitu suka melihat nama bumbu. Di supermarket Indonesia mana pernah menatap rak bumbu hahaha.

Jam 6 atau jam 7 malam biasanya sudah sampe rumah, habis shalat, langsung nyiapin nasi dan lauknya. Makan malam sambil (akhirnya) membuka Plurk. TV dinyalain tapi yang dipilih adalah salah satu channel radio-nya yang muterin nonstop lagu-lagu lama jaman 90-an. Kalo lagi mood, download torrent film, sambil menonton film yang sudah didonlot. Biasanya sih, kalo nonton di laptop suka ketiduran. Tinggal pindah aja ke tempat tidur. Untungnya diriku tu di mana aja gak pernah susah tidur. Jadi di sini mau dinginnya kayak apa aja, tidurnya tetap nyenyak. Nah kalo kebiasaan orang Belanda itu ya, pake heater sekedarnya (maklum mereka kan sudah terpapar dingin sejak bayi ya, cuma di sini aja yang di bawah guyuran hujan salju mereka tetap jalan kaki bawa kereta bayi), dan jam tidur heater dimatikan, kan tinggal masuk selimut. Listrik mahal sih di sini. Orang pakai sekedarnya saja.

Lopen in de sneeuw - walking in the snow

Orang Belanda bangga dengan ketahanan mereka terhadap cuaca dingin

Well, begitu aja terus hari-hariku. Membosankan gak, sih? Yang agak menarik paling cuma weekend, but then it’s not typical day🙂

9 responses

  1. I demand pictures of those cakep boys! Eh, iya lho Ka, kalo di kita mah makan siang itu yang ,makan besar ya. Aku juga pernah heran lho liat Christian dulu kok makan siang cuma yogurt 1 cup sama jeruk 2 buah. Gitu itu mah ngemil doang kali ya namanya kalo di kitaaaa!

  2. eike suka open space working spot nyaa, kayak di education center disini….

  3. […] ini sudah seminggu lewat ya sejak posting Blog Challenge terakhir. Yah, harusnya sih daily nulisnya, tapi saya tidak bisa menulis semingguan ini karena …. eh, […]

  4. suka dengar yang mama mo bagi2 mukena… sambil mikir, cukup gak sih mukena kita ke org2 turki itu??

  5. waaa… kereen mbak alfi.. *bermutu tulisannya qaqa🙂

    Pengen buat yg begini, tapi udah kedualuan mbak Alfi.. -_-

  6. Ronal, ini kan meme, jadi siapa saja boleh membuat postingan 30 hari ini.

  7. ehm… “meme” itu sejenis apakah? *lugu *beneran ga tau kok.
    “Meme” itu Menu Baru Dapur basinweg Apa ya??O_o

  8. kata Om Gugel: “A meme 1] is “an idea, behavior, or style that spreads from person to person within a culture.” ” hihihi

    1. ouch… scientific person ^_^

      baiklah… walau beberapa point kita coincide each other activity nya mbak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: