Being judgemental

dowager-countess2

Diiih judulnya. Gak ada judul yang pas dalam bahasa Indonesia? Ada yang bisa bantu? “Sok menghakimi”, mungkin?

Dari konotasinya aja terasa bahwa being judgemental itu bukan karakteristik yang bisa dibanggakan. Tapi kita ini manusia. Being judgemental itu sangat manusiawi, kok. Walau kenyataan bahwa itu manusiawi bukan berati kita bisa seenaknya saja melakukannya. Rahasianya adalah jangan menunjukkan bahwa kita being judgemental tentang seseorang. Biar nampak kayak orang baik gitu.

Nah, sebagai manusia, diriku tidak lepas dari sifat ini. Duh, kalimat ini mengingatkan pada buku agama jaman dulu hihihi. Anyway, diriku mengakui, diriku mungkin orang paling judgemental sedunia (lagi-lagi, merasa paling judgemental sedunia juga being judgemental, judgementalception gitu) untuk hal tertentu, yaitu segala sesuatu yang berkaitan dengan buku, musik, dan film.

Mau tahu apakah kalian termasuk golongan yang sama dengan diriku, yang kelak akan jadi salah satu pertimbangan di hari akhir apakah kita lebih banyak berbuat kebaikan daripada keburukan? Yang berikut ini spesifik untuk my kind of being judgemental, tapi silakan pikirkan sendiri analoginya ke your kind of being judgemental🙂 Yuk, lihat cirinya:

First and foremost, adalah jawaban terhadap pertanyaan: apakah dirimu suka membaca buku/menonton film/mendengarkan musik? Jawaban Ya kepada minimal salah satunya: aman. Jawaban Ya kepada ketiganya: let’s add each other’s social media accounts, and hangout in real life! Jawaban Ya pada additional question memberi point lebih: apakah dirimu suka nge-game (not smartphone games)? Tapi jawaban Tidak pada ketiganya membawa kepada tatapan kasihan.

Di tengah percakapan (entah di dunia nyata atau di social media), mendadak menyebut satu kalimat dari sebuah buku/film/lirik lagu yang kita suka banget, lalu melihat reaksi teman bicara atau khalayak social media yang ikut baca komen kita. Hakimi mereka berdasarkan kemampuan mereka mengenali sumber buku/film/lagu yang kita sitir.

Pesan t-shirt/sweater/totebag/tempat pinsil/mug/topi/kaos kaki/handuk/asesoris/cover henpon, dan sebagainya, yang dicetak atau ditulisi dengan tulisan yang diambil dari buku/film/lirik lagu, lalu berkeliaran atau lambai-lambaikan item bertulisan itu di depan hidung khalayak ramai. Pilih teman berdasarkan kemampuan mereka mengenali sumber tulisan itu. Hmmm, nampaknya postingan kali ini akan penuh dengan “garis miring”.

Ada poster atau iklan di social media atau pengumuman di radio (yes, I still listen to the radio. what? you don’t do that anymore? *being judgemental again) tentang grup band A atau penyanyi B akan konser. Mereka adalah band atau penyanyi dari era sebelumnya, sudah tua tapi tidak lekang dimakan waktu, buktinya masih konser ke mana-mana. Kita suka banget sama mereka, kemudian mengajak khalayak ramai untuk pergi menonton. Jadikan mereka yang antusias ikut nonton sebagai saudara kandung (*mengubah surat warisan), dan menghapus nomor telpon mereka yang tidak pernah mendengar nama band/penyanyi itu, apalagi yang menyangka nama band sebagai nama sejenis makanan.

Mari lanjut ke hal lebih spesifik: genre dalam buku/film/musik. Kamu pembaca Science Fiction/Fantasy (SF/F) books? You’re highest on my unjudged list. Kamu pembaca manga? Ya, dirimu juga masuk dalam unjudged list. Kamu pembaca buku Dono Warkop (ya, dia menulis novel, sodara-sodara) dan Fredy S? Go away to Timbuktu (sepertinya diriku sudah membuat populasi Timbuktu terdiri dari all men gara-gara klasifikasi ini). Tapi diriku juga punya quirkiness. Tahu (with a bold there) Abdullah Harahap, penulis buku horor yang super jorok? I love his books, dan sangat menghormati pencinta buku Abdullah Harahap. He is a gem dalam literatur Indonesia asli. Sekarang lanjut ke musik. Dirimu pencinta Dave Matthews Band, Bach, Jamie Cullum, Depapepe, Yovie and Nuno, Roxette, Bryan Adams, Boyzone, X-Japan, Adam Lambert, BtoB? (you see, really there is no pattern at all here, hihihihi.) Approved! Dirimu pencinta Cita Citata? (Who is this person? Did she (or he) sing a song?) *mute WA-nya, hihihihhi.  Gak, kok, Ratih, dirimu tetep temen kok. Blogmu terlalu rempong dan galau untuk dilewatkan.

Untuk yang sudah high-level, mereka merasa dirinya sendiri tidak mempunyai karakteristik yang orang bisa hakimi. Merasa pilihannya adalah yang terbaik. Kalo merujuk ke definisi psikosis, kalo dirinya tidak menyadari bahwa dirinya menderita penyakit psikologis tertentu dan sangat mempercayai keyakinan itu, dia sudah termasuk psikotik. Kalau sudah sampai tahap ini, sudah tidak tertolong. Pilihan tinggal dua: tetap tinggal di dunia fantasi, atau pergi ke psikiater. Ah, nonsense. Mereka merasa normal, so why they bother? Dan, tidak, saya sih tidak masuk golongan yang ini….. *mass groanings are heard in the background.

Gimana? Segolongan gak kita?

Dan percayalah, sementara kita sibuk menghakimi orang, orang juga sibuk menghakimi kita. Which I don’t care. Dan diriku yakin mereka juga gak peduli dihakimi. Terutama karena masing-masing pura-pura senyum tapi dalam hati being judgemental. So, I guess we’re even.

Picture diambil dari situs kumpulan quotes keren dari karakter yang super karismatik ini.

10 responses

  1. saya fans kelas Berat bang Rhoma, tak bisa berpaling Dari karya2 bubin LantanG’, silakan hakimi diriku haha

    1. Hihihihi. Apakah komen akan berisi orang-orang yang minta dihakimi? Btw diriku suka lagu Rhoma Irama, at least yang terkenal.

  2. Daku juga judgemental. Nyahahahaha… Mungkin secara aku INFJ ya. But for me, it’s more like, “I’m judging you. Prove it to me if my judgment is wrong.”. And you know, one does not simply impress me just by talking. Mhuahahaha….

    1. Wow, INFJ! The rare one! Diriku belum pernah (atau pernah tapi lupa) ngecek sih dirku tipe apa.
      Btw, gak heran diriku kalo dirimu tersangkut ke sini, pasti karena the foto the awesome Lady Dowager kan😀

  3. Timbuktu itu konon malah punya perpustakaan yang keren lho

    1. Ini nih satu yang terkirim ke Timbuktu yah😀
      btw, barusan meng-google tentang library di Timbuktu, waaaaw koleksinya.

  4. Aku belum pernah baca buku-buku Abdullah Harahap. Kita masih bisa jadi teman? #halah

    1. #halah😀
      tapi dirimu pembaca buku!

  5. diriku sekarang ternyata juga suka menghakimi.. dalam konteks begitu banyaknya galau-ers di sosmed, saya simpulkan orang-orang pake sosmed yang sering update status adalah buat mengasihani diri sendiri & mengumbar kemarahan 😀

    jadilah bingung saat ingin menjadikan sosmed itu lahan bisnis, yang muncul “galau” semua.. gak optimis #curcol hihihi

    1. diriku yang status nyebelin macam itu ku-skip aja gak dibaca di Timeline hihihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: