Telpon Tengah Malam

cat on phone

Tidak tahu apakah kalian seperti diriku: pas tidur telpon ditaruh di samping bantal, tidak di-silent. Sebagian besar orang mungkin tidur dengan henpon dimatikan. Tidak buat diriku. Bukaaaan, bukan karena ada emotional attachment dengan henpon. Um, okey, diriku punya emotional attachment pada setiap henpon yang diriku punya (setiap henpon punya cerita panjang yang akan bisa memenuhi blog ini berminggu-minggu), tapi attachment-ku bentuknya bukan gitu.

Anyway, kebiasaan meletakkan henpon dalam kondisi on dekat bantal ini bersumber dari long long time ago.

Jadi suatu hari diriku jadi dokter. Ini berarti seluruh keluarga dan orang satu kampung tempat diriku tinggal punya pikiran sama: wah, asik, bisa ngukur tensi dan berobat gampang nih, gak perlu susah-susah ke praktek dokter (diriku praktek jauh dari rumah). Anytime of the day. Mau pagi sebelum sarapan (sekaligus beli nasi kuning di warung sekalian singgah ngukur tensi), sore sebelum magrib (sekalian beli pisang goreng di warung, sekaligus singgah nanya obat sakit gigi, mumpung belum keburu magrib), tengah malam (daripada gak bisa tidur semalaman nahan sakit perut, mending ngetuk rumah si mbak dokter itu deh). Kita satu rumah sudah biasa dilihat dalam kondisi tidak appropriate: dasteran, muka bangun tidur, masih belum pada mandi, rumah belum disapu, sedang sarapan (mom dan granny orangnya baik hati berlebihan, tetangga ditawarin makan, diambilin piring, berakhir dengan tetangga numpang makan juga, not that I am complaining, tapi terpaksa makannya jadi harus agak sopan, biasa kaki diangkat sebelah, hihihi), dsb. Eh tapi kalo dipikir-pikir, biasa aja sih di kampung kami ini pergi dasteran ke warung belum mandi, cuma pake kerudung disaputkan ke kepala.

Ketika kami kemudian memasang telpon rumah saat diriku mulai koass (penting kalau mendadak ada visite tengah malam dari dokter spesialis di RS sementara kita lagi pulang sebentar buat ngantar cucian ke rumah atau tidur sebentar di rumah, mumpung lagi gak jaga), dimulailah era dimana ketukan pintu tengah malam berkurang tapi telpon berdering tengah malam jadi lebih sering. Orang-orang cenderung sakit di tengah malam atau early morning, entah kenapa. Dan orang sakit tengah malam ini biasanya kondisinya lebih gawat atau lebih menyakitkan daripada yang sakit siang-siang.

Setahun sesudah jadi dokter, datanglah masa henpon sejuta umat, Nokia 5110. Sebagai pencinta teknologi dan masa itu selalu ingin jadi pencoba pertama teknologi baru (gaji habis gak papa, toh tinggal di rumah nenek hihihi), diriku menghabiskan 1 bulan gaji buat beli hape ini. Beda dengan telpon rumah yang lokasinya di ruang tengah, henpon ini diletakkan dekat bantal kalo tidur. Satu kampung dan seluruh keluarga tahu telpon lokasinya jauh dari kamar, sedang henpon pasti deket orangnya. Jadi mereka sekarang menelpon ke henpon (Yes, they know my number, masak gak dikasitau kalo orang nanya nomor?)

Somehow, telpon tengah malam lebih mengagetkan dan menakutkan daripada ketukan tengah malam. Kenapa? Karena ketukan tengah malam biasanya selalu dari tetangga (yang walaupun kita sudah kenal lama sejak kecil, hubungan emosional gak sedalam kalau itu keluarga sendiri); tetapi kalo telpon tengah malam, itu bisa dari tetangga, bisa dari keluarga, baik jauh ataupun dekat. Pernah denger istilah: no news is good news? Kalo keluarga nelpon malam-malam, pasti bad news, ya kan? Apalagi saat itu oomku yang tinggal sekota (he and his family is the closest to mine, in fact he is one of the persons who makes me the kind of doctor I am now) mulai menderita stroke dan jantung koroner, dan serangan nyeri dada atau stroke ringan/TIA-nya paling sering muncul malam-malam atau early morning. Hal ini yang menyebabkan diriku tidak pernah mematikan henpon kalo malam dan sebelum tidur selalu memastikan bahwa batrenya cukup sampe pagi.

Jadinya tiap henpon bunyi tengah malam, itu satu rumah kaget terbangun, dan pada menjenguk ke kamar, nanya dengan muka cemas siapa yang sakit atau apa ada berita buruk. Living with a doctor in the house is not an easy life🙂

Ada satu tambahan lagi nih yang bikin diriku ngeri dengan telpon tengah malam. Diriku punya teman yang suka iseng. Gak tau sudah pernah diceritakan belum di blog ini. Kalo sudah tau tinggal diskip aja bacanya hihihi. Jadi diriku traveling ke kota lain untuk pekerjaan. Karena ada keluarga tinggal di kota itu, disempatkan nginap di rumah mereka satu malam, malam Jumat. Temenku yang satu ini tahu bahwa diriku nginap di situ malam itu, bahwa diriku tinggal di kamar di loteng, dan bahwa jendela kayunya bunyi-bunyi kena angin (yeah, I send texts about things in excruciating details, sometimes). Pas diriku tidur, diriku dikagetkan oleh bunyi henpon, kulihat ada missed call dari temenku ini. Trus masuk sms isinya gini: “Diriku barusan meninggal malam ini, bukakan jendela, tolong lepaskan dong ikatan bungkus kain kafanku ini.” Pas banget dengan jendela bergerak-gerak kena angin kencang. Can you imagine how I felt, di kamar yang unfamiliar dan gelap, tengah malam Jumat, jendela berderak, angin berderu kencang, dan sms kriptik dan horor? Trus dia pake me-missed call sekali lagi (kayaknya memastikan bahwa diriku bener-bener bangun). Sebel. Jadi sekarang kondisinya gini: kalau malam henpon on, gak di-silent, tapi kalo yang nelpon orang tertentu akan di-ignore😀

Sekarang kondisi ini tidak relevan lagi, karena diriku tinggal di benua berbeda, dengan perbedaan waktu 6-7 jam. Tapi kebiasaan ini susah dihilangkan. The phone stays on. Sekarang fungsinya untuk alarm dan buat baca ebook sampe ketiduran (lebih aman daripada membaca ebook di tablet, pernah merasakan muka kejatuhan tablet ukuran 10 inci saat ketiduran di tengah membaca?).

Picture diambil dari halaman ini: http://collegecandy.com/2015/07/31/cat-call-responses/

9 responses

  1. Luar biasa. Hebat ya mental dokter. Salut.

    1. Yang hebat itu justru orang rumah….

  2. diriku handphone tentu saja sebagai alarm.
    dan sekarang setelah berbisnis, henpon selalu bunyi saat tengah malam, sms/wa/bbm, sukses membuat mata ga bisa merem..
    pegang henpon dan hp 5″ jatuh akibat ketiduran-tentu saja-, baterai terhambur, ga bisa ditutup & sekarang pake plester.. xixixixi

    1. Hwaaaaah orang-orang me-WA/sms/BBM tengah malaaaaam? Jaringan bisnismu itu nampaknya tidak pernah tidur, ya, An. Sampai tehambur batrai😀

      1. kadang bingung jua ka.. kapan mereka tidurnya hihihi

  3. saya sih, biasa menjauhkan hape jauh2 saat tidur, kalo pas rajin alarm hidup, tapi kebanyakan kolernya pang hehehe

    1. saurang bisa kada tebangun kada be-alarm. guring aja gawian pang :p

  4. Aku HP juga kalo di rumah gak pernah di silent, karena kadang sibuk di rumah, jadi naro Hp sembarangan, suka lupa taro di mana. Hehehe, dan kalo tidur biasanya berfungsi sebagai alarm, meski kadang gak efektif *anaknya kebo banget* sedih

    Mina hebaaatt!!!

    1. Sekarang alarmnya Renner, ya, chan😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: