Haiku: Gara-gara Email Berantai

31

Beberapa waktu lalu diriku dapat kiriman email berantai. Ya, semacam surat berantai. Prinsipnya kayak MLM gitu. Kayak piramida, down the chain, makin banyak orangnya secara eksponensial. Dan kayak piramida juga, dia mudah runtuh kalo 1 aja dari orang-orang di distal-nya chain tidak melanjutkan apa yang dilakukan orang-orang di proksimal.

Kirain model surat berantai ini sudah gak ada lagi di jaman surat elektronik ini. Duluuuu waktu masih sekolah, pernah dapat juga surat berantai beneran dari orang tidak dikenal. Entah dapat dimana alamatku. Mungkin dari Album Sahabat Pena di Bobo (ya pemirsa, Album ini beneran ada, lengkap dengan foto kita, alamat lengkap, dan hobi. Diriku kayaknya masih nyimpan deh di rumah). Kita diharuskan mengirim uang ke orang di nomor 1 di list, lalu nama kita sendiri ditaruh di nomor 10. Lalu surat serupa kita kirim ke 10 orang lain. Tulis tangan. Are you kidding me? Jelas tidak mungkin kulakukan, walau suratnya penuh ancaman akan kecelakaan lah, mendapat musibah keuangan lah, dsb dsb, kalau tidak meneruskan surat berantai tersebut. Mana mencari 10 alamat orang lain itu kan pe er tersendiri.

Anyway, kembali ke email berantai. Jadi email ini isinya menyuruh diriku mengirim puisi favorit ke orang di nomor 1 (hanya ada 2 nama di dalam email itu). Sesudah itu, kita diminta meneruskan email berantai itu ke 20 orang berikutnya dalam 5 hari. Tidak ada ancaman sih di email ini. Hanya himbauan kalau tidak bisa melakukannya, kasitau yang mengirim. Setidaknya email ini lebih baik lah dari surat berantai jaman dulu.

Hmmm, ada beberapa hal yang membuatku enggan.
Pertama, kayak di atas, diriku sudah dari sononya antipati dengan yang berantai-rantai. Ini termasuk rantai beneran, misalnya hip chain yang suka ada di pinggang cowok hip hop (*pengen mendatangi sambil bawa gunting rantai), rantai di kaleng Marie Regal (membuat seisi rumah tahu setiap diriku diam-diam membuka kaleng ini waktu kecil), rantai sepeda (yang nampaknya selalu berkonspirasi untuk putus saat diriku pakai sepedaan waktu masih sekolah), rantai karbon (I just hate chemistry in general). Rantai makanan aja yang diriku tidak antipati.

Kedua, mengirim puisi! Aku bahkan tidak membaca puisi. Terutama karena tidak pernah mengerti bagaimana memahami sebuah puisi. Menurutku, kayaknya setiap puisi harus dikasi konteks dulu biar tahu gimana memahami maksud si pembuat puisi. Or maybe it’s just me, karena nampaknya orang oke-oke aja sih. Sebagai non-pembaca puisi, bagaimana mungkin diriku punya puisi favorit? Kalau disuruh mengirim judul buku favorit, nah …..

Ketiga, memforward ke 20 orang yang mungkin akan mau melanjutkan email berantai ini! (Ingat prinsip piramida di atas, kalau 1 aja tidak meneruskan, putuslah rantai ini.) Apa yang impossible dalam kalimat tersebut? Diriku tidak punya alamat email 20 orang teman. Sebagian besar email dalam daftar teman di Gmail adalah my students’ email addresses. Masak mengirim ke mahasiswa? Mereka akan berpikir, oh my, guru gue! Diriku gak mau dong reputasi tercoreng #ehwhat? Sisanya adalah alamat email temen-temen dekat yang gak suka puisi. Dan alamat email guru-guru. Sementara teman-teman yang mungkin suka puisi semuanya adalah teman di social media, yang sebagian besar diriku tidak punya alamat emailnya (bisa kontak via socmed, buat apa minta alamat email?).

Jadi kusampaikanlah dengan jujur kepada si pengirim bahwa diriku gak punya 20 teman. Trus kena omel. Sebagai orang yang tidak bisa bilang TIDAK pada teman (resolusi untuk mencoba menghentikan hal ini gagal terus setiap tahun), akhirnya diriku melakukannya juga. (Pemirsa: Apa? Sesudah kami terpaksa membaca alasan panjang lebar, ternyata tetap dilakukan?) Ya, diriku ternyata tidak setidak peduli yang kusangka. Tapi diriku menghibur diri, setidaknya, yang dikirim adalah puisi, yang menerimanya akan senang membacanya.

Diriku berpikir keras sambil makan coklat berbungkus-bungkus. Diriku kemudian teringat bahwa diriku memang tidak suka puisi, tapi suka haiku. (Pemirsa: Lah, apa bedanya?). Diriku suka karena dia pendek, dan cenderung deskriptif membicarakan nature. Well, at least the traditional ones. Jadi most of the time diriku tahu apa yang dibicarakan. Mana gak bertele-tele. Dengan hanya 17 syllables, sebuah haiku menyampaikan 1 ide/konsep lengkap. Independen, tidak perlu konteks.

Dulu waktu masih di Jogja dan suka ke Periplus, yang masa itu (2002-2005) masih suka menjual murah (sekali, I am talking of Rp 3,000-5,000/book here) buku terjemahan dari karya penulis Jepang terbitan Tuttle, diriku memborong segambreng. Salah satunya adalah buku kumpulan haiku tradisional dan populer.

Yang paling diriku suka adalah the popular “Old Pond” oleh Matsuo Basho.

Furu ike ya
kawazu tobikomu
mizu no oto

Ada berbagai versi terjemahannya, tapi paling senang yang terjemahan di buku yang kubeli dulu. Sayang bukunya di rumah nenek, tidak bisa mengecek. (waw, kalimat ini berima!)
Tapi terus ketemu situs ini, yang menuliskan berbagai versi terjemahannya. Sayangnya tidak ada satu pun yang nampak sama dengan yang di buku.

Terjemahan literalnya: Old pond – frog jumping into – water sound.

Mungkin ini yang paling mendekati terjemahan yang kusuka:

Old pond,
leap-splash –
a frog.
– Translated by Lucien Stryk

Simple, kan, haikunya? Tapi membawa imajinasi ke (bayanganku tentang) musim semi. Peaceful nature. Kesegaran yang didapat saat melompat ke kolam. Familiar and safe environment (di sebelah rumah nenek ada kolam. Plus kodok). Kangen rumah kayaknya diriku nih.

Pendeknya, diriku akhirnya mengirim haiku ini ke si nomor 1 di email berantai. Dan melanjutkan email berantai ini dengan penuh rasa bersalah pada 12 orang. Ya, hanya 12, itu pun gak yakin akan diforward terus. Mereka semua sibuk. Apakah dirimu juga dapat emailnya? Hihihi. Mungkin kalian lebih tegas.

Picture is taken from this site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: