Razia di Sekolah

Gara-gara tadi pagi ngobrol sama dia ini, terus diriku jadi teringat jaman sekolah dulu. Sebelumnya, warning dulu ya, karena diriku sekolah zaman baheula, mungkin cerita di bawah agak mengherankan para generasi muda (Pemirsa: Sebenarnya mina lahirnya kapan sih?).

Yang teringat bukan tentang berbagai ujian asik di mata pelajaran ketrampilan, suasana sekolah siang penuh aroma masakan saat sekolah numpang di gedung kantor (a la pedesaan) karena sekolah habis kebakaran, guru bahasa yang gak suka muridnya punya buku pelajaran yang dia gunakan untuk mengajar, perpustakaan sekolah yang selalu menyediakan buku cerita baru dan penjaganya pilih kasih hanya menunjukkannya pada murid kesukaannya (yours truly termasuk), perasaan keren kalau senam pagi paling depan, merasa sudah kayak Beethoven waktu diminta memainkan pianika buat acara apel pagi, pergeseran penggunaan gender-based games di kalangan anak SD (anak cowok main tali, anak cewek main kelereng), dan banyak lagi. Nanti saya ceritakan kalau ada yang request.

Sebenarnya mau menceritakan tentang razia sekolah. Dia ini kan guru. Katanya sekarang sih malas kali merazia murid. Benda-benda yang curiganya akan kena razia sudah mereka titipkan duluan di paman penjual apa gitu di depan sekolah. Beda jaman dulu sih. Kurang pinter kita dulu mungkin. Dan juga karena pagar sekolah tertutup rapat kalo jam sekolah. Ini berbagai jenis razia yang pernah diriku alami:

Razia kuku. Zaman SD ni, kalo sudah SMP atau SMA akan sangat riddikulus. Sebelum pulang, kedua lengan disuruh julurkan ke depan, lalu guru keliling dengan mata melotot dan penggaris kayu panjang di tangan. Yang kukunya panjang dipukul dengan penggaris. Sunggu tidak menyelesaikan masalah, ya? Mestinya bukan dipukul, tapi disodori pemotong kuku.

Razia kelereng. Ini berhubungan dengan list saya di atas, tentang genre-based games. Jadi kan ya, kalau SD jaman dulu, kalau jam istirahat, habis makan jajanan gitu biasanya masih panjang waktu istirahatnya. Kalau cewek, jenis mainnya (atau sebenarnya olahraga ya?) seperti main tali, mulai tali yang dipegang aja melintang gitu kayak orang olahraga lompat tinggi, sampai tali yang diputar (di Banjar disebutnya main tali ulai); atau main saman-saman. Yang anak cowok main kelereng (Banjar: keleker) atau main belogo. Ada juga permainan yang unisex: seperti main kejar-kejaran (Banjar: beajakan), main polisi & penjahat (maklum halaman sekolah dlewati sungai dan banyak pepohonan bambu, cocok banget dijadikan penjara dan buat ikat-ikat penjahat. Pemirsa: morbid banget permainan masa kecilmu, Min); main gobag sodor (Banjar: asinan); main bekel, dan sebagainya. Nah pada suatu masa, pas saya kelas 5 SD, mendadak yang cewek sukanya main kelereng, sementara yang cowok main tali ulai dan saman-saman. Tidak ada yang merasa aneh sih dengan keadaan ini. Kadang mainnya campur gender juga. Tapi nampaknya guru dan kepala sekolah (penampilan beliau luar biasa, tiap hari ke kantor pakai kain kebaya) tidak begitu senang. Suatu hari dirazialah kelas. Saya kedapatan punya segambreng koleksi kelereng. Dapatnya padahal susah, kan kalo menang, dapat kelereng yang kalah. Mungkin dianggap judi sama guru. Padahal kan dapatnya bukan karena lucky, tapi skill, bu, skill! Diambil semua sama guru, gak tau diapakan.

Engklek-5-rumahbacabuku.wordpress.com_

Ini loh main saman-saman. Pic dari sini.

Razia undas. Jadi yang namanya undas itu adalah benda yang kita lemparkan buat main saman-saman. Bisa juga buat main belogo, tapi benda yang dilemparkan atau dipasang adalah undas. Undas ini biasanya kita dapat dari pecahan keramik di runtuhan rumah orang atau tumpukan buat nguruk tanah sebelum dibangun rumah (ini gak dikategorikan nyuri, kan, ya?). Senang banget kalau dapat yang motifnya bagus-bagus (padahal jangan-jangan itu pecahan dari kamar mandi). Dikoleksi, dan dibawa tiap hari ke sekolah, biar bisa pamer pas main saman-saman. Tas beratnya kayak karung, dan bukan karena buku pelajaran. Belum tanah-tanahnya yang menempel mungkin. Aduh kalau diriku yang dulu adalah diriku yang sekarang, diriku mungkin akan memegangnya pake tisu, membawanya ke rumah, lalu mencucinya pake sikat dan sabun. Diambil juga sama guru.

Razia mainan balon. Ada kan zaman dulu jualan tube isinya benda liquid lengket gitu, dan sebuah pipa kecil, lalu liquid itu kita tempelin di ujung pipa, kita tiup, jadi balon? Itu dirazia, man! Kita sekolah kan uang jajan terbatas, ya. Kalau kita beli mainan terus diambil guru, gimana rasanya sedihnya?

tiup

Ini yang saya maksud. Pic dari sini.

Razia sisir dan bedak. Zaman saya sekolah itu gak biasa anak perempuan bawa peralatan dandan. Pas SD, kalo ketemu diambil. Ya, habis jam pelajaran olahraga gak pake mandi dan sisiran apalagi bedakan. Langsung aja kembali belajar. Entahlah guru zaman dulu mungkin punya indra penghidu yang ditumpulkan. Pas SMP, sisir, bedak badan, deodoran, dan spray parfum murahan masih boleh. Anak sudah mulai umuran segitu pasti lebih bau habis olahraga, hihihihi. Tapi lipstick, bedak padat, apalagi maskara, ya gak mungkin boleh. Ya tapi diriku tentunya gak pernah kena razia yang ini. Sekarang pun dirazia gak akan ditemukan di tas saya :p *mendorong tas make-up ke bawah tumpukan buku

Razia buku silat. Anak usia belasan mana sih yang gak tertarik baca buku silat? Selain ceritanya seru, suka ada gambar-gambar gimana gitu, hihihih. Mana zaman itu lagi gencar-gencarnya penyewaan buku cerita pake gerobak gitu di Banjarmasin. Jadi gerobaknya kecil aja, tapi penuuuuh banget bukunya. Biasanya satu yang nyewa, bacanya giliran. Paling epik pas kelas 2 SMA. Mendadak kita tahu ada razia, gurunya baru sampe kelas sebelah. Sialnya, diriku yang pas kena giliran baca silatnya, jadi ada di tasku. Panik dong. Gimana iniiii, kataku. Tumpukan buku itu bergerak dengan cepat berpindah tangan ke arah jendela. Lalu yang duduk dekat jendela melemparkannya ke luar. Kelas itu kebetulan sampingnya ada sungai (heran ya, selalu ada sungai dalam cerita saya?). Tepi sungainya ada rerumputan tinggi. Agak becek. Serasa berhenti jantungku melihat buku dilempar keluar. Lah kalo masuk sungai, gimana ganti bukunya? Untungnya cerita yang ini berakhir ceria. Para guru dengan kecewa meninggalkan kelas karena tidak ditemukan satu benda pun yang menurut mereka ofensif. Dan buku silatnya ternyata jatuh di rerumputan. Agak basah, tapi gak rusak.

Razia rok, sepatu, dan ikat pinggang. Menurutku ini urusan style ya. Guru terlalu mengurusi pakaian muridnya itu rasanya agak berlebihan. Mulai warna rok. SMA kan warna roknya abu-abu. Tapi abu-abu spesifik gitu. Teman sebangku saya tuh abu-abu roknya agak gelap, mungkin salah beli dan keburu dibikin rok, masak gak dipakai. Dipanggil dan pokoknya dia besok harus ada rok baru warna yang benar. Kemudian ikat pinggang. Semua siswa wajib pake ikat pinggang hitam. Nah rok saya kan dibikin di penjahit ya, jadi pas di badan, termasuk pinggang. Menurut otakku, buat apa pake ikat pinggang kalo roknya pas? Saya dipanggil dong, ditanya kenapa tidak pake ikat pinggang HITAM. Pak, saya tidak pake ikat pinggang karena tidak perlu pake ikat pinggang. Guru: Kamu harus pakai ikat pinggang HITAM mulai besok. Trus sebagai hukumannya hari itu diriku dikasi tali rafia untuk dipasang sebagai ikat pinggang. Diriku memakainya dengan bangga tapinya hari itu, merasa rebel😀 Kemudian sepatu. Tali sepatu HARUS berwarna putih. Zaman itu lagi hype tali sepatu warna-warni. Banyak yang kena panggil, lalu tali sepatu disuruh lepas, dan disodori tali rafia buat dipasang sebagai tali. Seriously, sekolahku dulu kayaknya nyetok tali rafia banyak banget deh. Oya, pernah juga pas SMP temenku yang cowok kena razia karena celana pendek birunya terlalu ketat *masih geli ketawa kalo teringat.

Benda-benda yang dirazia dulu kayaknya terdengar cupu ya dibanding sekarang. Sekarang razianya henpon, VCD porno, obat terlarang, senjata. Entahlah ya, kalau saya masa kecilnya pada periode sekarang. Mungkin di tas saya akan ditemukan buku terlarang, pedang (tasnya bentuknya kayak apa?), koleksi film bajakan😀

Btw tadi browsing cerita razia sekolah buat nyari pandangan guru tentang razia pada muridnya, eh dia ini menceritakan kisah lucu saat dia merazia, ketemu benda yang er……

4 responses

  1. dulu waktu SD, saya masih inget dan sangkal: razia mainan. mobil-mobilan seharga tabungan entah berapa lama dirazia dan tidak dikembalikan lagi,padahal toh kada dimainkan jua pas belajar😦

    1. tapi kenapa dibawa ke sekolahan😀 habis tu pang pas habis trimester dibulikakan lah

  2. Biasanya kalau razia gitu barang2 yg dirazia sama gurunya disimpen buat dikasih ke anaknya, sih. *berdasarkan pengakuan teman SD saya dulu yang orang tuanya guru

    Klo saya yang paling aneh waktu SMP, razia isi HP oleh guru, siapa tau ada konten pornonya. Tapi gurunya masih gaptek dan gak ngerti cara buka HP. -____-

    1. Kalah hape gurunya dibanding muridnya, makanya gak bisa buka hpnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: