Category Archives: book

Berlangganan … Apa Saja

Ide tulisan ini muncul gara-gara sebuah post di salah satu grup di Goodreads dari member (orang Indonesia) yang membuat sebuah survey kecil tentang pendapat kita tentang Bookbox Subscription. Saya tadinya mengisi survey aja (salah satu hobi nih) sesudah membaca latar belakang kenapa dia membuat survey ini, tanpa komen. Eh ternyata dia membuat postingan sama di grup lain di Goodreads, dan dikomen oleh salah satu temen baik di Goodreads. Lalu ngobrollah di sana. Okey, diriku akui post ini lebih cocok dipasang di blogku yang satunya, tapi karena isinya tidak hanya tentang buku, ditulis di sini deh.

Balik ke Bookbox subscription. Jadi ini sebenarnya bukan ide baru. Di US, blog-blog untuk book-podcasts dan klub buku biasanya menawarkan subscription untuk Bookbox ini. Apa sih Bookbox? Jadi tiap suatu periode (misalnya 3 bulan, atau pas momen tertentu, misalnya Natal, Valentine, dsb), mereka mengirimkan satu paket ke subscribers. Karena namanya Bookbox, isinya tentunya buku, biasanya cuma 1, tapi ada juga yang beberapa buku tergantung tipe subscriptions. Bukunya biasanya buku yang bener-bener baru terbit (masih anget istilahnya), dan biasanya edisi hardcover. Yap edisi yang tidak pernah kubeli, karena mahalnya bisa 2-3 kali lipat harga mass paperback, tapi rata-rata di luar negeri buku pertama terbit dalam edisi hardcover. (Ingat Harry Potter books? Sejak buku 5, diriku beli edisi hardcover asli saking gak sabarnya bacanya karena kuatir spoiler bertebaran di internet dari para early readers yang bacanya cuma semalaman). Selain buku, isinya juga book-related things, seperti bookmark, lampu baca, kartu pos dengan doodle tokoh di literatur, totebag, pensil warna (dikaitkan dengan coloring book), syal bertema buku, kaos kaki, macam-macam deh, beda-beda tiap edisi kiriman.

Nah yang asiknya apa. Isinya surprise! Continue reading →

Advertisements

Minat Baca Warga Kalsel Rendah (?)

Judul di atas adalah salah satu headline di halaman Radar Banua di harian Radar Banjarmasin kemaren (26 Juni 2008). Sering menjadi pendapat umum bahwa minat baca orang Banjar, atau warga Kalsel, atau bahkan orang Indonesia rendah, entah dari mana mereka menyimpulkan hal itu. Saya selalu tergelitik (baca: tersinggung) kalau ada pernyataan seperti ini. Kenapa? Minat baca rendah identik dengan pengetahuan yang kurang luas dan tidak mutakhir. Bermuara pada kebodohan. Siapa yang mau dibilang begitu?

Saya teruskan membaca paragraf-paragraf di bawah headline tersebut. Maklum, dengan ledakan informasi baru setiap hari, saya terbiasa hanya membaca berita koran yang headline-nya menarik.

Dibandingkan dengan masyarakat Pulau Jawa, maka minat baca warga Kalsel terhitung masih rendah. Pendapat di atas diutarakan Kabid Pelestarian dan Pelayanan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (Bapustarda) Kalsel, Drs. Ridwan Map.

Oh, mungkin beliau menilainya pasti dari angka kunjungan perpustakaan dan jumlah transaksi harian di perpustakaan daerah akhir-akhir ini. Oh ya, betul, di paragraf di bawahnya dikatakan kunjungan hanya 70-80/hari. Hmmm… sebelum membahas itu, saya ingin mengenang tentang perpustakaan-perpustakaan dan taman bacaan di kota Banjarmasin pada dekade-dekade lalu.

Duluuu sekali, waktu saya masih SD sampai SMA (mungkin juga pas saya kuliah), semua Perpustakaan di kota Banjarmasin adalah tempat kunjung favorit saya.

Dimulai dari Perpustakaan Balai Wartawan yang dulunya berada tepat di lokasi halaman Hotel Batung Batulis sekarang (yang ada Rumah Makan Wong Solo). Saya dulu pulang sekolah selalu singgah dulu di kantor my mom di Departemen Agama Kodya Banjarmasin yang dulunya masih menghadap ke Jalan S. Parman (sekarang sudah menghadap ke Jalan Pulau Laut). Setiap habis makan siang, saya, my mom, dan teman my mom akan meneruskan melangkah ke Perpustakaan Balai Wartawan yang menurut saya dulu arsitekturnya bagus sekali. Sepanjang sisi luarnya yang melingkar terdapat teras. Pintunya menghadap agak serong ke arah jembatan dekat Mesjid Sabilal Muhtadin sekarang, namun sepanjang dindingnya berupa jendela kaca, sehingga perpustakaan itu terang-benderang. Buku favorit saya waktu itu adalah Dongeng Hans Christian Andersen yang terdiri dari beberapa jilid buku tipis, dengan ilustrasi yang sangat indah (membuat saya sampai sekarang senang dengan buku yang mempunyai ilustrasi bagus), dan Si Penidur, entah siapa pengarangnya, saya sudah lupa. Pada waktu itu saja, bukunya sudah berlubang-lubang hasil kreativitas hewan pelubang buku hihihi…. Perpustakaan ini beserta Balai Wartawannya kemudian dihancurkan, dan perpustakaannya pindah ke Pasar Baru. Sekarang Perpustakaan itu sudah tidak ada lagi di sana, entah pindah ke mana.

Pada waktu saya SMP dan SMA, perpustakaan favorit saya tentu saja perpustakaan sekolah dan Perpustakaan Daerah di Jalan Pierre Tendean (Pacinan kalo kita dulu menyebutnya). Counter peminjaman di Perpustakaan sekolah di SMPN 2 Seroja Banjarmasin dulu dikepalai oleh seorang ibu-ibu gemuk yang baik hati dan selalu menyimpankan buku baru untuk para fans beliau. Karya Agatha Christie, Trio Detektif, Tintin, Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Malory Towers, Noni, Astrid, sampai buku wayang dan banyak lagi saya peroleh dari sana. Saya sampai bersedia tidak jajan asal dapet minjam buku baru. Saingan waktu meminjam buku ini banyak sekali, sampai sekarang mereka semua masih jadi sahabat saya.

Jaman saya SMA, Perpustakaan SMAN 2 Banjarmasin juga mempunyai angka kunjungan yang sangat tinggi. Tersedia mulai dari segala ensiklopedi menarik yang serius-serius sampai terbitan Disney, majalah-majalah berbahasa asing (yang walau tidak mengerti artinya, tapi gambarnya bagus-bagus), sampai, tentu saja fiksi, baik berupa sastra Indonesia sampai fiksi terjemahan. Sastra Indonesia dulu cukup disukai, karena dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, sering diberi tugas menulis tokoh dan plot cerita, sehingga waktu saya SMA dulu, kita semua fasih sekali kalau suka mendadak ditunjuk menjelaskan sebuah karya terkenal dari penulis sastra Indonesia. Tidak tahu sekarang apa masih begitu. (Gara-gara ini, saya sampai tertarik dengan ilmu bahasa dan sastra, bahkan sampai sekarang.) Selain itu, jaman saya di sana, oleh Depdiknas (mungkin) diberlakukan Perpustakaan Bergulir, jadi setiap beberapa minggu, ada koleksi buku yang berpindah-pindah dari 1 perpustakaan sekolah ke perpustakaan sekolah lain. Buku-buku ini rata-rata buku baru, sehingga selalu ada koleksi baru untuk dibaca. Saya kenal serial Musashi, Senopati Pamungkas dan buku-buku Pearl S. Buck melalui perpustakaan bergulir ini. Saking nyamannya perpustakaan sekolah, dulu kalau ada waktu kosong, murid-murid duduk-duduk di perpustakaan. Kalau tidak membaca, kita menonton siaran TPI yang dulu masih menyiarkan acara-acara pendidikan.

Perpustakaan Daerah di Jalan Pierre Tendean berada di sebuah bangunan gelap gulita. Waktu itu buku-bukunya belum banyak, mungkin karena sebagian disiapkan untuk Perpustakaan Daerah yang lebih besar di Pal 6 yang waktu itu baru dibangun. Tetapi koleksinya cukup menarik bagi saya, sayangnya buku-bukunya begitu banyak yang rusak dan robek-robek.

Ketika Perpustakaan Daerah di Pal 6 akhirnya dibuka, saya lebih suka ke sana, dan akhirnya yang di Jalan Pierre Tendean ditutup. Bangunan Perpustakaan Daerah yang di Pal 6 bagus sekali, berbentuk rumah Banjar, dengan jendela-jendela tinggi. Sekitar bangunan itu tidak ada apa-apa, kecuali tanah kosong dan persawahan penduduk, sehingga kalau membaca dekat jendela, enak sekali, karena terasa angin segar sepoi-sepoi bertiup masuk, selain ruangan yang terang-benderang karena banyak cahaya masuk. Lantai terbawah untuk referensi, sedang lantai 2 untuk buku-buku yang bisa dipinjam. Favorit saya di perpustakaan ini adalah Reader’s Digest Condensed Books, kumpulan buku-buku populer dari pengarang terkenal yang dalam bentuk abridged (saya membaca To Kill A Mockingbird-nya Harper Lee dan Agony & Ecstasy-nya Irving Stone dari salah satu buku RD ini). Saat itu ruang bacanya sangat nyaman.

Bagaimana sekarang? Saya tidak tahu bagaimana perpustakaan sekolah jaman sekarang. Tetapi kalau melihat angka kunjungan perpustakaan kampus tempat saya bekerja, angka kunjungan dan transaksi cukup memprihatinkan. Mengapa memprihatinkan? Mahasiswa mengatakan koleksinya sangat tidak up-to-date. Kalaupun ada buku-buku baru, hanya tersedia 1 biji, sehingga menjadi buku referensi yang tidak boleh dibawa pulang. Sesudah itu, kilah mereka, dalam bahasa Inggris pula (!). [Entah ini menunjukkan bahwa kita perlu menyiapkan anak didik kita sejak SD untuk mau dan mampu membaca teks berbahasa Inggris, atau ini menunjukkan bahwa perlu ditingkatkan penerjemahan buku-buku ilmiah mutakhir yang berkualitas]. Belum bukunya sudah dicari, katanya, tidak sesuai katalog. Ini berlaku untuk perpustakaan di fakultas, maupun di universitas.

Bagaimana dengan Perpustakaan Daerah yang selalu saya bangga-banggakan kalau bercerita pada teman-teman dari luar daerah itu? Sepupu saya, yang tahun lalu mencari bahan untuk menyelesaikan skripsinya dengan membolak-balik buku-buku koleksi Perpustakaan Daerah Pal 6 mengatakan kepada saya: “Hih, kotor, kak! Masak ada t*i tikus di mana-mana, di kursi, di buku, di lantai” Oh Tuhan. Sudah koleksinya menyedihkan, kotor pula. Apa mereka tidak mempunyai petugas kebersihan? Apa itu berarti para staf jarang melongok ke rak buku dan ruang baca? Lalu apa dong yang mereka lakukan? Tidak heran angka kunjungan rendah, bukan? Dalam mimpi saya tentang negara utopis, toko buku dan perpustakaan ditangani oleh orang-orang terbaik dengan gaji di level atas. Mereka adalah orang-orang terpilih yang luas pengetahuannya dan pandai berkomunikasi, serta mencintai buku.

Balik lagi ke minat baca yang rendah yang dikaitkan dengan angka kunjungan perpustakaan yang rendah. Saya menganggap minat baca di sini adalah minat baca secara umum terhadap semua bahan bacaan. Bagaimana kita menilai minat baca? Tidak dari kunjungan atau transaksi peminjaman di perpustakaan, selama perpustakaannya masih belum mampu memuaskan keinginan konsumen pembaca. Angka itu hanya memenuhi sebagian kecil pembaca buku. Minat baca juga bisa dilihat dari:

  • Angka penjualan buku di toko-toko buku. Yang mempunyai uang akan langsung ke toko buku untuk membeli buku terbaru, tidak akan menunggu perpustakaan menyediakannya
  • Jumlah transaksi peminjaman buku di taman bacaan dan rental buku. Taman bacaan dan rental buku ini terkenal sangat sensitif pada buku yang populer, yah, tentu saja, sebagian besar berupa fiksi dan komik.
  • Jumlah pelanggan koran dan majalah di agen-agen.
  • Transaksi belanja buku online yang dilakukan dengan kartu kredit dan debit yang pemiliknya beralamat di Banjarmasin/Kalsel. Toko buku di Banjarmasin, apalagi Kalsel, isa dihitung dengan jari. Apalagi harga buku yang dijual di sini jauuuh lebih mahal dibanding harga buku yang sama yang dijual di toko buku di Jawa. Toko buku online memberikan opsi yang lebih menarik dengan diskon-diskonnya yang besar-besaran.
  • Jumlah peminjam buku dari koleksi buku saya (-lirik mereka-) hihihi. Tidak, kok, koleksi saya sedikit sekali, cuma kebetulan saja akhir-akhir ini dapat buntelan gratis.

Saya sangat yakin kalau angka-angka tersebut bisa ditelusuri, terbukti bahwa orang Kalsel itu suka membaca.

Terlepas dari apakah betul atau tidak minat baca orang Kalsel itu rendah, kalau konteksnya adalah perpustakaan, bagaimana agar kunjungan perpustakaan bisa tinggi? Mulai dari yang gampang-gampang dulu saja deh.

  • Jaga kebersihan dan kenyamanan perpustakaan. Tidak perlu ruangan keren ber-AC (konon, suhu tertentu akan merusak buku, silakan baca di sini dan di sini tentang pengaruh suhu, kelembaban dan cahaya terhadap buku) dengan rak-rak modern dan kursi-kursi sofa yang nyaman ala cafe buku. Cukup bersih dan tidak berdebu. Kalau kotor dan masuk perpustakaan saja kita jadi gatal-gatal dan bersin-bersin, bagaimana bisa suka ke sana?
  • Pemeliharaan buku. Buku yang rompal-rompal, kuning-coklat-merah bekas makanan, atau keriting karena basah sangat tidak menarik. Perlu ada penjadwalan pemeliharaan buku, misalnya setiap 2 bulan sekali, untuk menemukan buku-buku yang rusak, agar bisa diperbaiki atau dijilid ulang.
  • Katalogisasi yang up-to-date. Walaupun masih berbentuk lemari katalog, belum digital, selama selalu dimutakhirkan dan buku-bukunya diletakkan sesuai dengan yang tertulis di kartu katalog, tentu akan jauh lebih memudahkan daripada katalog digital tetapi peletakan yang asal-asalan. Keluhan sulit menemukan buku di rak juga membuat pengunjung malas balik lagi.
  • Alokasi dana untuk pembelian bahan pustaka baru. Kenapa kok bisa mampu membangun gedung keren untuk perpustakaan, tetapi tidak mengalokasikan dana untuk pemutakhiran koleksi? Selalu lebih cepat reaksi kalau ada permintaan AC, kursi dan meja tambahan untuk ruang baca dibanding apabila minta koleksi buku baru. Pendanaan tidak harus selalu melalui dana pemerintah. Perpustakaan bisa mengadakan kegiatan-kegiatan terkait buku yang bisa mendatangkan dana. Perpustakaan juga bisa bekerjasama dengan LSM-LSM, donatur-donatur, dan komunitas-komunitas baca yang mempunyai misi meningkatkan minat baca buku.
  • Penyediaan koleksi dalam bentuk elektronik. Sekarang pengunjung perpustakaan adalah generasi yang selalu silau dengan segala hal berbau elektronik. Selain memang lebih mudah dalam melakukan pencarian bahan spesifik, koleksi elektronik tidak memakan tempat dan kadang-kadang lebih menarik karena sebagian berbentuk interaktif, serta memadukan audio dan visual yang menarik.
  • Terakhir, tapi yang paling penting, membuat masyarakat merasa membutuhkan bacaan. Di zaman serba sibuk dengan jam belajar/kerja yang semakin panjang, dan daya tarik hiburan televisi yang tidak membutuhkan otak untuk berpikir, membuat waktu dan kemauan untuk melakukan kegiatan membaca buku for fun semakin kecil. Agaknya kebutuhan membaca ini harus ditanamkan sejak kecil. Saya saja, yang mempunyai keluarga besar penggila buku, masih sulit untuk duduk membaca lebih dari 1 jam, entah karena tidak ada waktu, mengantuk (OK, mungkin ini faktor U), sampai godaan Plurk, hihihi…… Acara review buku di radio atau televisi bisa meningkatkan minat baca penonton televisi. Sayang, di Indonesia belum ada ya?

Balik ke koran.

“Untuk meningkatkan minat baca masyarakat Kalsel, maka Pemerintah melalui Bapustarda pada tahun 2008 ini membuat dua program. Yaitu mengadakan penambahan tenaga kearsipan dan pustakawan masing-masing sebanyak 30 orang. … Selain ditambahnya tenaga profisional [sic] bidang perpustakaan, maka pemerintah Kalsel dalam waktu dekat akan menggelar perpustakaan sampai ke desa-desa.”

Agak kurang pas, bukan? Bukan tenaga pustakawannya yang kurang, bukan jumlah perpustakaannya yang kurang. -keluh-

Foto perpustakaan Isaac Newton Institute for Mathematical Sciences di atas diambil dari situsnya.

Ada yang Mau Buku Gratis?

Kami, Persekutuan KUtuBUkuGILa (Ku-bu-gil) membagi-bagi buku nih. Tapi untuk dapet mesti usaha dong hihihi…

Ini dia pertanyaannya (silakan jalan-jalan di MP-nya Ku-bu-gil untuk mencari jawabannya) :
1. Tanggal berapa ultah Ku-bu-gil?
2. Apa judul buku yang menjadi proyek baca bareng pertama Ku-bu-gil.
3. Sebutkan 3 saja nama dan alamat blog buku anggota Ku-bu-gil.

Ada sedikit kententuan bagi para peserta, yakni:
– Kuis ini terbuka hanya bagi siapa saja, asal memiliki blog di Multiply.
– Jawaban dikirimkan ke email Kubugil (kutubukugila@gmail.com) dengan menyertakan alamat blog Multiply masing-masing.
– Jawaban paling lambat sudah kami terima tgl. 16 Juni 2008
– Kami akan memilih 12 orang pemenang yang menjawab dengan benar kuis ini.
– Masing-masing pemenang mendapatkan satu biji buku sebagai hadiah.
– Pemenang kuis akan diumumkan pada 18 Juni 2008 di blog ini.
– Penetapan para pemenang mutlak menjadi hak kami sepenuhnya dan tidak boleh diprotes.
– Hadiah akan dikirimkan kepada masing-masing pemenang.
– Bagi pemenang yang berdomisili di luar Indonesia atau luar angkasa, hadiah akan kami kirimkan ke alamatnya di Indonesia (berkenaan dengan ongkos kirim dong).

Berikut adalah buku-buku hadiah itu:
1. Vienna Blood
2. Lost in Love
3. Golden Compass
4. Rumah Pelangi
5. Sherlock Holmes: Misteri Kematian Bintang Sirkus
6. Drunken Monster
7. Anatomi Kengerian
8. One for The Money
9. Imperia
10. A Thousand Splendid Suns
11. Winter and Night
12. IBumi

Dan ada bonus 1 voucher makan di Kareem Kebab-nya Maria di Dipati Ukur 21 Bandung seharga Rp 50.000 untuk 1 orang pemenang. Silakan dilihat-lihat foto-foto menunya di sini dan di sini nih….

Silakaaaan…..

Ku-bu-Gils are: Antie, Kobo, Tanzil, Endah, Q, Ferina, Maria, Jody, Gus Muh, Ida, Lina, Yuli, dan Mina.

Updated:

Pemenang kuis ini adalah:

  1. Abdul Fatah – Anatomi Kengerian
  2. Arie Poer – Sherlock Holmes + voucher makan di kareem
  3. Asriani Purnama – Imperia
  4. Atik Arini – One for The Money
  5. Barokah Ruziati – Drunken Monster
  6. Ladyellow – Vienna Blood
  7. Ratih Kusumawati – Rumah Pelangi
  8. Susi – A Thousand Splendid Suns
  9. Vera D. Damiri – Winter and Night
  10. Lysa Sagala – Lost in Love
  11. Tita Ernita – Ibumi
  12. Leila Niwanda – Golden Compass

Congratulations 🙂

Festival Mei – Diskusi “Menjadi Kutu Buku itu Keren”

Ini adalah cross-posting dari blog bukuku dan blogku di MP. Ya…. pemirsanya kan beda-beda hihihi…

Datanglah! Banjirilah! Sssst, gosipnya akan ada penulis, penerjemah, editor, dan perwakilan penerbit yang akan datang ke acara ini. Yang berminat untuk berfoto narsis dengan mereka, mewawancarai mereka, memalak mereka, menculik mereka, mencuri pengalaman mereka, atau yang ingin cari kerja jadi penerjemah (hihihi… -ditimpuk penerbit-), silakan datang! Bagi yang ingin bertemu dengan para blogger buku idola, siapa tahu mereka hadir di acara ini. Ya, saya hadir -menjawab pertanyaan para fans- Boleh bawa buku tanda tangan dan spidol, serta kamera DSLR untuk dihadiahkan kepada saya berfoto dengan saya.

Berikut ini undangannya:

*******************************************************************

Kepada
PARA SAHABAT PECINTA DAN PERESENSI BUKU

Salam buku!

Weblog atau blog adalah sebuah tren termutakhir dari sebuah abad yang berlari yang dijinjing internet. Istilah ini mulai diperkenalkan sejak 1997 yang merujuk pada kumpulan website pribadi yang diperbarui terus-menerus, berisi link ke website lain dan disertai komentar. Di dalamnya para pembuat blog atau blogger menampilkan foto dan tulisan mengenai berbagai topik. Blog adalah juga website. Jika website hanya sekumpulan arsip dan data, maka blog adalah fenomena termutakhir dari web.

Blog buku merupakan bagian dari generasi blog yang ingin merayakan sebuah buana yang bisa dilihat secara bebas dan personal. Mereka adalah generasi peresensi baru buku dengan menggunakan medium yang lebih egaliter. Jika generasi peresensi lama masih memperebutkan halaman-halaman koran nasional dan daerah dengan mempertimbangkan selera redaktur buku, maka generasi baru ini membaca buku dan menuliskannya kembali dengan semangat sangat personal tanpa jerih tulisannya ditampik.

Terkait dengan itu, maka Persekutuan Kutu Buku Gila (Ku-Bu-Gil—<http://kubugil.multiply.com) bekerja sama dengan Indonesia Buku dan penyelenggara “Festival Mei Veteran” menggelar perhelatan Temu Blogger Buku se-Indonesia dengan tajuk: “Menjadi Kutubuku Itu Keren”. Acara tersebut digelar pada:

Hari/Tanggal: Sabtu, 17 Mei 2008
Pukul 11 – 14 WIB
Tempat: Mata Hari Domus Bataviasche Nouvelles Café
Jl Veteran I / 30-33 Jakarta Pusat, telp 021-3840127,
e-mail: indonesiabuku@gmail.com
(sebelah barat Masjid Istiqlal atau utara Monas atau bersebelahan dengan Markas Besar AD)

Pembicara:
1. Taufik Rahzen (budayawan dan kolektor buku)
2. Hetih Rusli (editor Gramedia Pustaka Utama)
3. H Tanzil (moderator milis resensibuku dan pasarbuku) dan 12 Anggota Persekutuan KUBU-GIL para penyanyah buku dan kawan-kawan jauhnya.

Moderator: Endah Sulwesi

Kami mengundang Anda sekalian hadir dalam perhelatan itu. Acara ini terbuka untuk publik yang mencintai buku sepenuh-penuh hikmat dan para blogger buku. Dan tentu saja GRATIS. Demikian undangan ini, terimakasih atas perhatiannya.

Salam buku!

Jakarta, 10 Mei 2008

PANITIA PELAKSANA
Hernadi Tanzil (http://bukuygkubaca.blogspot.com), Endah Sulwesi (http://perca.blogdrive.com), M Baihaqi (http://qyu.blogspot.com), Muhidin M Dahlan (http://akubuku.blogspot.com), Ferina Permatasari (http://lemari-buku-ku.blogspot.com), Indah Nurchaidah, Berliani M Nugrahani, Maria Masniari Lubis, Jody Pojoh (http://jodypojoh.blogdrive.com), Dumaria Pohan (http://mon-secret-jardin.blogspot.com), Herlina Sitorus, Yulianto (http://yulibean.wordpress.com), Alfi Yasmina (http://bookquickies.wordpress.com)

* 50 peserta yang datang pertama akan mendapatkan buntelan gratis dari beberapa penerbit pendukung acara.

** Akan diadakan pemutaran film tentang buku nonstop: (1) Finding Forrester (2000); (2) You’ve Got Mail (1998); (3) Quills (2000); (4) Freedom Writers (2007); (5) Il Postino, The Postman (1994); (6) Notting Hill (1999); (7) The Disapperance of Garcia Lorca (1997);

*** No Kontak panitia dari beberapa kota: Ria/Veteran Jakarta (081328690269); Gus Muh/Jogja (08886854721); Perca/Jakarta (081586189316); Antie/Bandung (08156075171); Jody/Menado (081356045047); Kobo/Medan (08126044109)

ACARA INI DIDUKUNG OLEH:
1. Koran Kebudayaan Bataviasche Nouvelles (Jakarta)
2. Mata Hari Café (Jakarta)
3. Indonesia Buku (Jakarta)
4. Gramedia Pustaka Utama (Jakarta)
5. Serambi (Jakarta)
6. Bentang Pustaka (Yogyakarta)
7. Hikmah (Jakarta)
8. Mizan (Bandung)
9. Klub Sastra Bentang
10. Majalah EVE (Jakarta)
11. Lentera Hati (Jakarta)

Buku Aliran Sesat (?)

bookofatrus125p.gifMyst – The Book of Atrus.

Itu adalah judul buku. Apa pendapat kalian saat membacanya? Apakah judulnya mengarah pada buku yang mungkin akan dilarang edar oleh pemerintah? Seperti Ayat-Ayat Setan, mungkin. Atau ada kata Komunis, kalo jaman Orba.

Hari ini, karena buku itu, sepupu saya harus berurusan dengan Kejaksaan. Loh, kenapa?

Asal-muasalnya, saya me-mooch buku ini sebulan yang lalu dari Andie, di Amerika. Buku ini adalah buku pertama dari Myst Trilogy. Para penggemar game adventure tahun 1990-an pasti mengenal Myst, game PC terlaris sebelum adanya The Sims. Myst adalah satu dari game dengan desain gambar 3D yang indah, game yang membuat saya tergila-gila, sampai bersedia bergadang untuk menjelajahi berbagai dunianya yang mengagumkan dan memecahkan teka-tekinya. Myst ini kemudian menjadi Myst series, dengan alur cerita yang menarik. Nah, buku triloginya adalah companion untuk game-nya. Sulit sekali dicari, dan ketiga buku ini hanya bisa saya peroleh dari Bookmooch, situs “pertukaran” buku internasional, walau istilah pertukaran bukanlah kata yang tepat.

Buku 2 dan Buku 3 dari Myst Trilogy sudah saya mooch tahun lalu, dan sampai dengan mulus ke kantor pos di Banjarmasin. Seperti biasa, prosedurnya adalah: surat panggilan dikirim ke alamat rumah, surat panggilan itu saya tanda tangani, lalu dengan berbekal uang Rp 7.000 dan KTP saya, sepupu saya pergi mengambilkan buku itu ke bagian paket luar negeri di Kantor Pos Besar Banjarmasin. Kenapa bukan saya sendiri yang mengambil? Karena bapak-bapak penjaga counter meja pengambilan paket ini baru datang jam 10 pagi dan sudah menghilang jam 5 sore. Lah, saya saja harus berangkat ke kantor, yang letaknya di kota tetangga, jam 7 pagi dan pulang ke rumah jam 5 sore, bagaimana pula saya mengambilnya? Dulu dia berkeras agar saya mengambilnya sendiri, sesudah ketemu saya sekali, akhirnya beliau setuju paket ini diambilkan.

Ketika surat panggilan datang kemaren, saya sudah tahu itu buku Myst yang sudah saya tunggu-tunggu. Prosedur biasa saya lakukan. Ternyata, hari ini tadi jam 11 siang saya dihubungi sepupu saya (bahasa percakapan berikut ini telah di-Indonesiakan) via telpon.

Sepupu: Buku apa sih, kak, yang diambil ini? Kok aku disuruh ke Kejaksaan dulu?
Saya: Hah? –korek-korek kuping karena yakin salah dengar– Gimana?
Sepupu: Disuruh ke Kejaksaan.
Saya: Kok?
Sepupu: Kata bea cukai bukunya aneh dan harus menghadap dulu ke Kejaksaan.
Saya: Apa? (yah, memang mendekati jam makan siang, saya agak o-on).
Sepupu: Sudah kubuka, buku Myst nih kak.
Saya: Iya, memang Myst. Yang nomor satu. Bukannya dulu dirimu sudah pernah mengambilkan buku 2 dan 3-nya kok aman-aman aja?
Sepupu: Tau nih, sudah dulu ya, mau ke Kejaksaan.
Saya: Iya deh. –masih merasa ini mimpi

Sore harinya pas sampe rumah, sepupu saya muncul untuk membawakan buku heboh itu. Amplop sudah dirobek.

Saya: Jadi ceritanya gimana?
Sepupu: Gini, pas sampe kantor pos, aku disuruh ke Kejaksaan membawa bukunya, karena katanya ada catatan dari Bea Cukai, disuruh minta rekomendasi Kejaksaan setempat.
Saya: Kenapa tidak kau bawa pulang aja bukunya langsung, kan beres.
Sepupu: Lah, KTP kakak ditahan sama Kantor Pos.
Saya: Oh.
Sepupu: Sesampai di Kejaksaan, buku dilihat dan dibuka-buka. Terus kata si orang Kejaksaan, wah, buku mencurigakan nih, bahasa Inggrisnya ni ketinggian (HAH?). Ditanya juga apakah si penerima itu aku atau siapa? Kujawab itu punya kakak. Terus ditanyain alamat. Terus dia nanya-nanya kenal gak Haji X, Ibu Y, Bapak Z (yang mungkin rumahnya juga di jalan yang sama). Aku kan gak kenal, dia jadi curiga, dan nanya kok bisa gak kenal. Terus ditanya kakak kerjaannya apa, dan kenapa tidak ngambil sendiri. Terus ada bapak-bapak lain ikut membuka-buka buku, sambil nanya: ada gambar pornonya kali nih! (plis deh, pak, emang juga kalo ada gambar porno, tu buku mesti ditahan?).
Saya: Huh, terus?
Sepupu: Terus aku bilang aja, sudah sering banget pak, kita dapat kiriman begini. Yang Myst ini waktu nomor 2 dan 3-nya kok gak ditahan? Terus, mungkin karena gak ngerti dan gak nemu alasan kenapa Bea & Cukai menyuruh minta rekomendasi Kejaksaan, akhirnya tu surat rekomendasi keluar juga. Bapak-bapak itu pas aku pulang, sok ngomong Inggris gitu sama aku, huh.
Saya: Hekhekhek…. lain kali, kalo gini lagi, batalkan aja ngambilnya, nunggu besoknya, aku ikut. Kalo aku, aku suruh dia tunjukin kalimat mana di buku itu yang mencurigakan. Herman, deh.

Saya lihat memang ada surat dari Bea & Cukai Banjarmasin, ada nama pemeriksanya (hihihi, dirahasiakan yah), dengan catatan khusus:

  • Paket/kiriman pos dapat diserahkan dengan rekomendasi Kejaksaan setempat.
  • Lembar I setelah diberi tanda clearance, kirim kembali ke Ditjen Bea & Cukai Via Kantor Pos Lalu-Bea Banjarmasin.

Surat ini mau saya simpan, ah, lucu ;p

Akhirnya saya lihat-lihat buku itu, mencari-cari kalimat yang mungkin mencurigakan, mencurigakan ke arah apa saya juga tidak tahu. Apakah aliran sesat? Teroris? Buku magis? Er, emang kenapa kalo saya beli buku magis, heheheh… Jangan-jangan kalo me-mooch buku tentang Tarot, juga ditahan. Mungkin ada pembaca blog ini yang bisa menunjukkan hal yang bisa membuat petugas Bea & Cukai mengeluarkan catatan khusus tersebut.

Cover depan ini ada tulisan:

“A compelling exploration of creativity and the abuse of power… captures the Myst-erious atmosphere.” -Newsweek
Myst – The Book of Atrus
The Fascinating Prequel to the CD-ROM Phenomenon.
Rand and Robyn Miller, with David Wingrove.

Cover belakang:

The ages of Myst are worlds of adventure and awe; of mystery and beauty; of intrigue and betrayal; the world’s best-selling CD-ROM game is just a piece of the picture. Now, take a step into the fictional legend of Myst.
These pages are your link to the story of Atrus, son of Gehn, and the last of the race of the D’Ni–the masters of The Art, the craft of linking to other worlds through the descriptive art of writing in special books. For most of his young life, Atrus thought the stories his grandmother told were just strange legends. Then his time came to explore the magnificent underground realm . . . .
The Book of Atrus is a tale of son against father; of truth versus evil; and of love and redemption. You will travel to wonderful new ages and have all your questions answered–for this story ends where the world of the MYST game just begins.

Curiganya begini, karena buku-buku Myst lainnya lolos, kemungkinan petugas bea & cukainya ini baru dan tidak begitu paham bahasa Inggris. Juga petugas yang di Kejaksaan. Bukannya mereka minimal bisa bahasa Inggris pasif, ya? Bagaimana lagi mereka bisa menentukan suatu barang itu berbahaya? Kata “Myst” mungkin dia sangka artinya mistik. Jadi ini buku tentang mistik. Membahayakan bagi masyarakat, hihihi… Ntar masyarakat pada ngepet. Eh, pada tahu gak, ada film tentang istri yang menari striptease dan suami yang ngepet? Kehabisan bahan cerita 😀

Apakah kalau nanti saya me-mooch buku yang berjudul “The Zombie Survival Guide: Complete Protection from the Living Dead”, “The Dangerous Books For Boys”, dan “The Ambrose Bierce Satanic Reader”, akan ditahan juga?

Tulisan ini saya cross-post juga di blog saya yang satunya lagi.