Category Archives: Culture

Alkmaar Cheese Market

IMG_20160805_084138
Tadinya tulisan ini lebih untuk memberi tips buat yang mau ke the famous Alkmaar Cheese Market, tapi rasanya tidak lengkap kalau diriku tidak berbagi tentang kenapa diriku begitu excited mau ke sana.
Jadi buat yang ke sini cuma buat baca tips, silakan skip langsung ke bagian habis tanda ++++++.
Buat yang suka baca langsung tentang hari-H, langsung skip ke bagian ********.
Buat yang punya hobi aneh baca biografi gak penting yang panjang-lebar kemana-mana, silakan baca terus dari sini.

Jadi waktu diriku masih SMP, senang mendengarkan radio luar negeri yang mempunyai slot radio Indonesia. Dulu (mungkin sekarang masih) kita bisa menangkap siaran radio luar negeri di gelombang pendek (SW), dan ada hari-hari dan jam tertentu didedikasikan oleh radio-radio tersebut khusus untuk siaran berbahasa Indonesia oleh penyiar orang Indonesia yang tinggal di sana. Juga ada pelajaran bahasa Inggrisnya. Paling sering mendengarkan Radio Australia siaran Indonesia. Dulu mereka begitu terkenal (setidaknya menurut kami di rumah) sampe kami hapal muka-mukanya, karena suka ada artikel tentang mereka di majalah. (Gak aneh sih, secara orang rumah dulu juga bahkan hapal muka dan nama para model di majalah Femina dan Gadis). Continue reading →

Advertisements

Kangen ikan asin…

agi

Makan malam temen. Pic dari FB-nya.

Hari ini teman saya yang kuliah di Thailand memasang foto makanan home-made dia tadi malam: nasi panas, ikan sepat asin (Banjar: iwak karing sapat), dan telur dadar (yang saya sangka mandai). Dia sedang sekolah S3. Sudah jamak banget bahwa seseorang yang jarang atau tidak pernah memasak di rumahnya sendiri di Indonesia, ketika sekolah dan tinggal sendiri di luar negeri, mendadak jadi suka memasak dan sangat menghargai segala jenis bahan makanan dari Indonesia. Ini karena kita cenderung lebih menghargai sesuatu bila sesuatu itu sudah tidak ada atau susah didapat, dan juga karena orang sekolah dan lagi banyak kerjaan (tugas kuliah dan macam-macam yang school-related) itu suka sekali berprokrastinasi melakukan hal-hal yang dalam kondisi normalnya di rumah sendiri itu tidak suka dia lakukan. Apa pun asal jangan mengerjakan tugas wajib.

Dia beruntung masih tinggal di Asia, yang orang-orangnya juga menggunakan bumbu dan bahan makanan berbau sama kerasnya dengan kita. Tapi kalau tinggal di Eropa, bahkan di Belanda yang orang-orangnya sebagian besar suka masakan Indonesia, agak ribet kalau ingin makan ikan asin. Saya beruntung tinggal di rumah orang Turki, dengan dapur sendiri yang terpisah dari dapur mereka. Tapi karena dapur saya ini dapur-dapuran istilahnya, bukan dapur set lengkap dengan exhauster di atas stove, jadi exhauster-nya adalah jendela (kecil) yang dibuka lebar-lebar kalo lagi memasak. Saya tidak menyadari hal ini kalo di Indonesia, tapi sesudah di sini, saya sensitif sekali pada bau yang melekat di baju/rambut/segala sesuatu berbahan kain (misalnya penutup sofa, jemuran, tirai jendela) di ruangan yang sama dengan ruangan tempat kita memasak. Apalagi mereka ya kan. Mungkin karena sistem rumah yang tertutup rapat (kalau lagi tidak musim panas). Diriku bisa tahu seseorang habis duduk di dapur orang Asia atau habis makan di rumah makan Asia atau rumah makan yang dapurnya jadi satu dengan ruang makan, hanya dengan sekilas dia lewat. Continue reading →

Berlangganan … Apa Saja

Ide tulisan ini muncul gara-gara sebuah post di salah satu grup di Goodreads dari member (orang Indonesia) yang membuat sebuah survey kecil tentang pendapat kita tentang Bookbox Subscription. Saya tadinya mengisi survey aja (salah satu hobi nih) sesudah membaca latar belakang kenapa dia membuat survey ini, tanpa komen. Eh ternyata dia membuat postingan sama di grup lain di Goodreads, dan dikomen oleh salah satu temen baik di Goodreads. Lalu ngobrollah di sana. Okey, diriku akui post ini lebih cocok dipasang di blogku yang satunya, tapi karena isinya tidak hanya tentang buku, ditulis di sini deh.

Balik ke Bookbox subscription. Jadi ini sebenarnya bukan ide baru. Di US, blog-blog untuk book-podcasts dan klub buku biasanya menawarkan subscription untuk Bookbox ini. Apa sih Bookbox? Jadi tiap suatu periode (misalnya 3 bulan, atau pas momen tertentu, misalnya Natal, Valentine, dsb), mereka mengirimkan satu paket ke subscribers. Karena namanya Bookbox, isinya tentunya buku, biasanya cuma 1, tapi ada juga yang beberapa buku tergantung tipe subscriptions. Bukunya biasanya buku yang bener-bener baru terbit (masih anget istilahnya), dan biasanya edisi hardcover. Yap edisi yang tidak pernah kubeli, karena mahalnya bisa 2-3 kali lipat harga mass paperback, tapi rata-rata di luar negeri buku pertama terbit dalam edisi hardcover. (Ingat Harry Potter books? Sejak buku 5, diriku beli edisi hardcover asli saking gak sabarnya bacanya karena kuatir spoiler bertebaran di internet dari para early readers yang bacanya cuma semalaman). Selain buku, isinya juga book-related things, seperti bookmark, lampu baca, kartu pos dengan doodle tokoh di literatur, totebag, pensil warna (dikaitkan dengan coloring book), syal bertema buku, kaos kaki, macam-macam deh, beda-beda tiap edisi kiriman.

Nah yang asiknya apa. Isinya surprise! Continue reading →

Prewedding, mina’s style

Posting pertama sesudah sekian lama, huuuuf. Saya tahu kalian pasti menyangka (kepedean)  posting pertama ini akan berisi kaleidoskop tahun lalu, atau paling gak resolusi tahun ini.  Huh, kalian salah.  Kali ini tulisan(-tulisan) saya di tahun 2010 akan diawali (atau jangan-jangan menjadi satu-satunya) posting ikut-ikutan tentang prewedding. Tentunya biar blog ini ikut terkunjungi kalau orang lagi nyari fatwa MUI tentang prewedding, hahahahaha….

Yap, kita tahu, pertengahan bulan ini orang ribut-ribut tentang pengharaman rambut rebonding (bener gak sih nulisnya, I don’t even know the meaning of this word), rambut rasta, rambut punk, rambut dicat (keempat masalah perambutan tersebut khusus untuk wanita single),  sampai foto prewedding. Menggelikan membaca masalah rambut ini, dan saya rasa tidak semua orang menganggapnya serius. Tetapi begitu sampai ke foto prewedding, jadi heboh deh, karena kelihatannya semua calon pengantin saat ini paling bersemangat menyiapkan pemotretan prewedding ini. Biar hasilnya bisa dipamerkan di undangan, dalam bentuk hasil cetak besar yang dipigura di hari resepsi, sampai dijadikan kalender buat gimmick acara resepsi perkawinan. Maklum, generasi ini adalah generasi narsis, yang sebagian besar dipicu oleh kemudahan menemukan fasilitas foto-memfoto ini di banyak piranti elektronik saat ini.

Saya tidak ingin membahas haram atau tidaknya urusan rambut dan urusan foto-foto prewedding ini. Yang ingin saya bicarakan tu ini: kemarin lusa (istilah apa ini?), saya membaca tulisan bagus yang mengomentari masalah pengharaman prewedding ini. Menarik sekali blognya, membawa saya ke blog-blog lain tentang prewedding. Bisa dibilang tulisan saya ini terinspirasi (sebenarnya sih meniru ide) blog yang itu. -menatap ke atas, oke kayaknya saya masih tetap bisa mempertahankan Meracau Award tahun ini- Mari kita langsung ke inti permasalahan.

Mengutip pendapat Quraisy Syihab, foto prewedding boleh saja, asal jangan melanggar tata aturan dalam agama dan budaya. Nah, ini contoh-contoh setting foto prewedding yang tidak diharamkan itu, versi saya:

  • Lokasi: padang rumput, dengan pohon-pohon rindang, atau bisa juga di taman-taman universitas keren kayak di luar negeri. Pose: Si cewek duduk di bawah pohon, sedang lost in reading, kayak gambar di bawah (kalo bisa bukunya yang keren, yang kalau mendadak mati kita tidak malu memegangnya), sedangkan si cowok duduk agak jauh, juga sedang megang buku, sambil memandang ke cewek dari jauh (jangan pasang muka mupeng, tentunya). Cocok untuk pasangan yang suka membaca buku. Foto di bawah ini diambil dari Flickr seseorang 🙂

  • Lokasi: padang hijau dengan banyak pepohonan rindang. Si cewek berlari riang di padang hijau, baju yang dipakai agak 70s berupa baju terusan selutut, sementara si cowok pake kemeja dan vest (tanpa jas), tangan di kantong celana, melihati dari belakang sambil senyum. Oke, ini terinspirasi (nyuri ide) dari foto ini (dari situs JarvieDigital Photography).

    • Kalau sang cowok-cewek waktu kecil berteman, foto preweddingnya cukup berupa kumpulan foto-foto bermain mereka berdua waktu kecil. Kalau susah mencari foto mereka berdua, bisa juga foto mereka berombongan sama teman-temannya, tapi cari foto yang pas si cowok melihat ke si cewek, atau sebaliknya. Biasa kan pas kecil suka dikasi baju-baju daerah atau baju profesi (polisi, dokter, er…..) kalo pas 17-an. Nah, siapa tahu ada yang pas berdua, kan lucu banget 🙂 Foto di bawah diambil dari situs made for mums.

    • Atau…. nah ini susah nih, tapi asik juga kalau keluarga masing-masing punya darah narsis dan punya koleksi foto lengkap. Dicari foto-foto si cewek dan si cowok dari kecil sampai besar dengan pose sama/mirip, lalu ditaruh bersebelahan, diatur pake Sotosop :p
    • Buat yang suka manga, bisa dibuat gambar coretan khas manga, dengan wajah dan ekspresi sesuai aslinya, berdiri saling bersandar punggung, dengan gaya cool. Nah ini kalau mau dibilang haram karena saling bersandar punggung, kan bisa ngeles :p Atau bisa juga kalau berani (keluarganya harus liberal sekali), sekalian aja cosplay, pilih manga serial cantik, Mei-chan no Shitsuji seperti di bawah ini, misalnya. Eh tahu gak, ada perkawinan, di mesjid, itu seluruh keluarga sampai ke penghulunya, pakai kostum Star Wars? Di Bandung loh! Menjura saya kepada kedua keluarga.

    • Bikin sebuah poster ukuran raksasa, dibuat dari foto cowoknya, dengan gaya khas cowok korea, termasuk  gaya rambut sampai style pakaian, dipasang di dinding sebuah gedung besar yang biasanya untuk konser musik/pemutaran film, lalu si cewek berfoto di depan poster, dengan gaya alay mengangkat jari berbentuk V :p Tentunya, cowoknya harus cukup keren yah buat dijadiin poster. oke oke, ini terinspirasi dari postingan Echan, yang dengan-urat-malu-sudah-putus berfoto alay di depan poster Rain.
    • Lokasi: museum foto/lukisan, kalo bisa di Paris atau London :p Si cewek menjadi obyek foto/lukisan surrealisme ukuran sebesar dinding, sedangkan si cowok memegang guide museum (dibikin khusus, dengan halaman-halaman berisi repro foto/lukisan di dinding), sambil menatap ke arah foto cewek. Tentunya, biar klop, cowoknya harus berpakaian elegan dan kelihatan kaya. Cocok untuk yang suka seni. Bisa dibuat lebih jauh lagi, tu museum guide bisa dijadikan gimmick pesat pernikahannya hahahahha. Macam Album Foto artis-artis Asia gitu.
    • Setting: ruang praktek dokter gigi. Jadi si cowok duduk di kursi dokter gigi, sedang menganga (cowoknya giginya harus bagus dan gak ada sariawan), sementara ceweknya sedang memasukkan kaca mulut dan sonde ke dalam mulut si cewek. Sangat cocok kalau si cewek pengen jadi dokter gigi, tapi tidak kesampaian, karena di Banjarmasin Program Studi Kedokteran Gigi baru buka tahun 2009 kemarin (*halah*). Tentunya ide main dokter-dokteran yang dokter umum is out of the question hahahahaha…
    • Ingat film My Sassy Girl, one of the most romantic movies abad ini? Nah, salah satu dari 3 adegan paling menyentuh di My Sassy Girl (selain adegan si cowok (Gyeon-woo) menjelaskan list “the ten rules” pada cowok lain yang dijodohkan ke si cewek, kemudian adegan duduk berdua di atas gunung sambil memandang ke arah berbeda, so simple, yet so romantic) adalah yang adegan di bawah pohon, 2 tahun sesudah janji bertemu mereka di tempat time capsule dikubur. Ada seorang kakek tua menjelaskan pada si cewek tentang apa yang sebenarnya terjadi, tentang pohon pelindung time capsule yang mati disambar petir, tetapi ditanam kembali oleh si Gyeon-woo, demi si cewek. Menurut salah satu interpretasi film ini, kakek tua itu adalah Gyeon-woo yang datang dari masa depan (mengikuti alur cerpen yang ditulis si cewek, yang sangat suka tema time travel). Nah, jadi, settingnya di padang rumput (what’s with me and padang rumput?) dengan pohon persis seperti di film itu, si cowok didandani agak tua, tapi masih jelas wajahnya, lalu duduk di bawah pohon besar di padang dalam posisi sedang menjelaskan, sementara si cewek (lengkap dengan baju mirip seperti di film: kemeja dilapis kemeja terbuka, celana pendek, dan tas bahu), berdiri di dekat si cowok, memandang ke kejauhan. Of course, ini hanya penonton Sassy Girl yang mengerti. Kalo gak mengerti, yang melihat foto ini di resepsi bengong: ngapain sih? Foto diambil dari blog ini.

    • Lokasi: halte bis. Hari sedang hujan rintik-rintik, dan si cewek memegang payung, sementara si cowok memegang daun pisang. Si cowok tinggi besar, berwarna biru dengan perut putih, serta agak kelihatan mirip kucing, dan sangat excited setiap daun pisangnya ketitikan hujan. Er……. salah artikel. *deleted*
    • Ingat tidak dengan serial film Korea berjudul Hotelier? Ingat pada pembuka atau penutup, itu ada foto resmi seluruh karyawan hotel? Sebuah foto yang sangat romantis. Semua menatap ke depan, kecuali si Manajer (Han Tae Jun) yang sedang menatap ke kiri ke arah wanita yang dicintainya (Suh Jin Young), sedangkan Suh Jin Young tersenyum pura-pura tidak tahu tetapi sambil melirik ke kanan, mereka berdiri terpisah beberapa orang. Sayang tidak menemukan fotonya di internet. Tinggal ditiru saja, misalnya dibuat foto akhir tahun kuliah (gak mungkin kan foto akhir tahun SD atau SMP atau SMA, kecuali pasangan yang menikah masih di bawah umur),  semua menatap ke depan dan serius, sedangkan si cowok dan si cewek yang terpisah berdiri saling menoleh sambil senyum cerah. Kalo perlu pake nama tempat kuliah dan tahun, warnanya dibuat sephia atau black & white. Lebih asik lagi kalau pasangan ini beneran seangkatan, dan teman-teman seangkatan diajak berfoto. Tuh susah gak, harus reuni dulu hahahahha.
    • Lokasi: taman di Belanda. Si cewek dibuatkan patungnya ukuran manusia atau lebih besar, si cowok sedang menyandar di sebelahnya, atau sedang berdiri di bawah payung. Cocok untuk cewek yang gak suka difoto. -hah, diriku dong-
    • Lokasi: Toko buku. Difoto sebuah rak buku-buku New Release atau buku-buku Laris, di cover buku ada foto berdua. Atau bisa juga berlokasi di sebuah cafe, yang disorot adalah seseorang yang sedang duduk di meja lagi ngopi, mukanya gak kelihatan, karena sedang memegang buku yang covernya ada foto mereka berdua. Bisa juga yang ditampilkan adalah orang sedang duduk di cafe, sedang browse internet di laptop, dia sedang membuka situs foto wedding, dan ada foto mereka berdua di sana. Cafe ini bisa sekaligus jadi sponsor foto preweddingnya, dengan penempatan merk di latar belakang :p
    • Trotoar ramai penuh orang di daerah bisnis (supaya pakaian orang-orang yang lewat bagus, kecuali memang mau mengerahkan figuran banyak dengan wardrobe yang disediakan), si cowok dan si  cewek berjalan ke arah berlawanan, dari jauh tersenyum, warna untuk mereka berdua dibuat cerah (di-Sotosop tentunya), yang lainnya disephia atau di-hitam putih. Cocok untuk yang budget dan waktunya gak banyak, tapi kebetulan bekerja di daerah bisnis di Jakarta. Pas makan siang, tinggal telpon sang fotografer, lalu berfoto-foto di jalan. Kerugian: kelaparan sampai sore karena gak akan sempat makan siang.
    • Foto diambil di 2 ruang kerja/duduk/kamar, sesuai style masing-masing, gambar diambil dari samping, menunjukkan masing-masing sedang mengetik di komputer dengan wajah ceria (soalnya lagi chatting atau fesbukan). Cocok banget untuk yang ketemu pasangan di internet.

    Ada lagi yang mau menambahkan?

    My Pet Peeves While Travelling By Plane

    Tidak kenal budaya antri. Terutama antri di loket check-in. Juga antri pas boarding. Antri pas turun pesawat. Sayang sekarang sudah tidak sepanas dulu hihihi. Dulu kalo disalip pas antri di bank, saya tarik kerah bajunya (Mana ada cowok akan memukul cewek? Yang penting buat keributan biar dia malu). Entah bagaimana ya kalau naik AirAsia yang katanya tanpa nomor tempat duduk (apakah ini benar atau hanya gosip?). Jangan-jangan kayak naik busway ya.

    Penjaga loket check-in super jutek. Saya tahu saya telat. Tapi tidak perlu diomelin karena mestinya dia tahu betapa saya sudah mengomeli diri sendiri sepanjang perjalanan ke bandara.

    Teman seperjalanan yang suka santai. Datang pas jam check-in hampir lewat. Padahal dia yang bawa semua tiket.

    Airlines yang suka melakukan overbooking. Teman saya pernah mengalaminya. Sebagai orang yang sabar dan jadi pengantri terakhir karena terus-menerus disalip orang, akhirnya dia tiba di check-in counter pada saat pesawat sudah penuh, padahal dia sudah pegang tiket yang sudah confirmed. ternyata kata teman saya yang punya keluarga yang bekerja di airline, memang selalu dilakukan overbooking, karena katanya tidak pernah 100% datang. Hmm… aneh.

    Semua juga gak suka hal ini: pesawat delay. Enak sih kalo pas di bandara yang nyaman. Kalau pas di bandara yang kecil dan tidak ada tempat atau sarana menghibur diri (toko buku, misalnya), sediiiih deh.

    Orang sok pejabat yang merasa bahwa peraturan itu dibuat hanya untuk rakyat jelata. Mereka merokok di bawah tanda Tidak Boleh Merokok. Yang kalau saya tegur hanya menatap saya dengan tatapan meremehkan.

    Kru pesawat memberikan sapaan ramah “Selamat Pagi” atau “Terima kasih”, sementara para penumpang yang naik atau turun sama sekali tidak menyahut. Bahkan tersenyum atau menganggukkan kepala pun tidak.

    Orang yang berkeras bahwa kursi yang didudukinya memang sudah sesuai dengan nomor kursi di boarding passnya. Dan menuduh bahwa kitalah yang salah. Waktu diminta melihat boarding passnya, menuduh kita menganggapnya bodoh gak bisa membaca (membuatku jadi ikut berpikir apakah dia memang tidak bisa membaca angka). Sesudah dibantu pramugari, masih saja menggerutu sambil pindah. Oh, ya, ini juga sering terjadi di bioskop. Mungkin di seri Pet Peeves berikutnya.

    Membawa tas besar-besar, lalu menjejalkannya ke dalam tempat bagasi tanpa mempedulikan apakah barang orang lain jadi penyet.

    Menaikkan kedua kaki ke atas kursi.

    Menumpangkan kaki, dan mengarahkan telapak kaki (yang tidak semuanya patut ditampilkan) ke arah kita.

    Anak-anak kecil borju yang jelas merasa berada di dunia yang levelnya lebih tinggi dari penumpang lainnya. Terus mengoceh dengan suara keras tentang: “Pah, kok bisa sih kita tidak duduk di kelas Bisnis?” “Makanannya gak enak gini?” “Tar kita nginapnya di Hyatt kan, pah?” “Kapan kita ke Singapur lagi, Pah?”

    Businessman sok eksekutif yang rupanya tidak dapat kursi di kelas Bisnis dan terpaksa harus duduk di kelas Ekonomi (tapi memesan dua kursi sekaligus, yang satu untuk tasnya yang rupanya sangat mahal dan berharga, sampe harus dipasangi seatbelt) sambil terus menerus mendesah-desah dan menatap arloji berkali-kali.

    Mengajak ngobrol hal-hal pribadi seperti: “Rumahnya di mana?” Yang ketika dijawab secara general, masih diikuti dengan pertanyaan: “Tepatnya di jalan apa?”

    Smelly, entah itu BB, bau minyak angin, bau balsem, bau parfum yang menyengat, bau baju yang tidak diganti berhari-hari, dan segala bau lainnya yang mengganggu.

    Cowok-cowok yang pedekate di pesawat. Padahal jelas bertampang sudah punya keluarga. Seorang perempuan ramah duduk di sebelah seorang bapak-bapak. Perempuan itu dengan ramah mengajak mengobrol. Bapak-bapak itu rupanya menganggap ini sinyal tertarik. Setelah pesawat berjalan setengah jam, si Bapak-bapak tiba-tiba merogoh-rogoh kantong dan berdiri, melihat kursi, lalu bertanya pada si perempuan: “Lihat hape saya gak?” Perempuan: “Saya lihat tadi pas saya duduk, bapak lagi megang hape, terus gak tahu disimpan di mana.” Bapak-bapak: “Missed call-in hape saya dong, aduh, di mana ya jatuhnya?”
    Sunyi beberapa detik.
    Perempuan: “Kan gak boleh menelpon di pesawat.”
    Bapak-bapak: “Oh iya ya.” Sambil merogoh-rogoh lagi. Dan akhirnya menemukan hapenya di kantong jaketnya.
    Dasar. Mestinya trik ini dilakukan pas sudah turun. Huh!
    Oya, perempuan ramah itu bukan saya.

    Pramugari kasar. Ini, seperti biasa, terjadi di beberapa airlines tertentu yang kita semua sudah tahu. Tas bagasi dilemparkan, sergahan kasar, melempar Aqua ke pangkuan (emang di kereta?). Bahkan di airlines sekelas Garuda pun, pernah seorang teman (untung saya tidak pernah mengalami) bercerita bahwa dia disodori gelas dengan tangan menutup mulut gelas (tidak dengan default: memegang gelas di badan gelas atau menyerahkan gelas dengan beralas baki). Ketika teman saya menegur dengan sopan, si pramugari menjawab kasar: “Terserah saya, dong.” Saya tahu mereka tentu lelah, tetapi pramugari, sama halnya dengan dokter dan perawat di UGD, adalah pintu depan badan usaha tempat mereka bekerja, Gak peduli capek, ngantuk, harus selalu ramah walau klien menyebalkan dan sok.

    Pernah memperhatikan bagaimana kondisi pesawat ketika penumpang sudah turun? Saya suka turun paling akhir (kecuali kalo sampai di bandara Banjarmasin dan kebetulan memasukkan bagasi lebih dari satu), dan melihat bahwa kita memang jorok. Koran-koran, gelas, tissue, bekas makan, bungkus kripik, berhamburan di lantai. Kenapa tidak diletakkan dengan rapi di kursi atau di kantong belakang kursi? Ini juga terjadi di Garuda.

    Satu pesawat dengan rombongan kru artis. Bagasi mereka begitu banyak dan rupanya sudah bayar pada petugas bagasi agar diprioritaskan (pastinya), sehingga menunggu bagasi di bagian Kedatangan bisa lebih dari sejam.

    Satu pesawat dengan rombongan Umrah yang baru pulang dari Tanah Suci Mekkah. Senang melihat mereka begitu bahagia habis datang dari Tanah Suci. Tapi tidak lagi begitu kita mengambil bagasi. Mereka kan membawa Air Zam-zam yang dimasukkan ke bagasi. Yang dibungkus dengan plastik tahan bocor bertuliskan SafeWrap. Yang tidak seperti namanya ternyata sama sekali tidak tahan bocor. Setiap kali saya mengingatkan diri untuk mengepak semua bagasi saya dengan plastik (tersedia di Bandara Soekarno-Hatta), terutama kalau bawa paket buku, tapi setiap kali lupa sesudah sampai bandara. Ya, bagasi saya dan kotak buku saya basah kuyup 😦

    Setiap orang yang memasukkan barang ke dalam bagasi mestinya tahu bahwa cairan itu tidak boleh dimasukkan sebagai bagasi ataupun diletakkan di kotak bagasi di atas kepala. Ada saja yang tidak peduli. Bagasi saya pernah berlumuran cairan lengket yang ternyata adalah madu.

    Pas mencari troli, habis dipegang semua oleh portir. Ini terutama terjadi di bandara Banjarmasin. Atau habis dipegang keluarga penjemput orang datang Umrah, karena mereka kan biasanya bawa barang segambreng. Oya, katanya khasnya kalo ada orang Banjar naik pesawat tuh, pasti bawaannya banyaaaaak banget, banyak dus-dus, tas tambahan, belum yang dijunjung naik pesawat. Hehehe… itu mungkin karena traveller tertinggi dari Banjarmasin adalah pedagang. Dan kalo di Bandara Jakarta menjinjing-jinjing Dunkin’ Donuts dan Rotiboy segambreng, hampir bisa dipastikan tujuannya ke Banjarmasin, karena di Banjarmasin gak ada yang jual donat dan Rotiboy. Oya, denger-denger di Padang juga gak ada.

    Fiiuh…. ain’t I feel bitchy today. Now back to work.

    Pics taken from The Travel Doctor.