Category Archives: Culture

Minat Baca Warga Kalsel Rendah (?)

Judul di atas adalah salah satu headline di halaman Radar Banua di harian Radar Banjarmasin kemaren (26 Juni 2008). Sering menjadi pendapat umum bahwa minat baca orang Banjar, atau warga Kalsel, atau bahkan orang Indonesia rendah, entah dari mana mereka menyimpulkan hal itu. Saya selalu tergelitik (baca: tersinggung) kalau ada pernyataan seperti ini. Kenapa? Minat baca rendah identik dengan pengetahuan yang kurang luas dan tidak mutakhir. Bermuara pada kebodohan. Siapa yang mau dibilang begitu?

Saya teruskan membaca paragraf-paragraf di bawah headline tersebut. Maklum, dengan ledakan informasi baru setiap hari, saya terbiasa hanya membaca berita koran yang headline-nya menarik.

Dibandingkan dengan masyarakat Pulau Jawa, maka minat baca warga Kalsel terhitung masih rendah. Pendapat di atas diutarakan Kabid Pelestarian dan Pelayanan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (Bapustarda) Kalsel, Drs. Ridwan Map.

Oh, mungkin beliau menilainya pasti dari angka kunjungan perpustakaan dan jumlah transaksi harian di perpustakaan daerah akhir-akhir ini. Oh ya, betul, di paragraf di bawahnya dikatakan kunjungan hanya 70-80/hari. Hmmm… sebelum membahas itu, saya ingin mengenang tentang perpustakaan-perpustakaan dan taman bacaan di kota Banjarmasin pada dekade-dekade lalu.

Duluuu sekali, waktu saya masih SD sampai SMA (mungkin juga pas saya kuliah), semua Perpustakaan di kota Banjarmasin adalah tempat kunjung favorit saya.

Dimulai dari Perpustakaan Balai Wartawan yang dulunya berada tepat di lokasi halaman Hotel Batung Batulis sekarang (yang ada Rumah Makan Wong Solo). Saya dulu pulang sekolah selalu singgah dulu di kantor my mom di Departemen Agama Kodya Banjarmasin yang dulunya masih menghadap ke Jalan S. Parman (sekarang sudah menghadap ke Jalan Pulau Laut). Setiap habis makan siang, saya, my mom, dan teman my mom akan meneruskan melangkah ke Perpustakaan Balai Wartawan yang menurut saya dulu arsitekturnya bagus sekali. Sepanjang sisi luarnya yang melingkar terdapat teras. Pintunya menghadap agak serong ke arah jembatan dekat Mesjid Sabilal Muhtadin sekarang, namun sepanjang dindingnya berupa jendela kaca, sehingga perpustakaan itu terang-benderang. Buku favorit saya waktu itu adalah Dongeng Hans Christian Andersen yang terdiri dari beberapa jilid buku tipis, dengan ilustrasi yang sangat indah (membuat saya sampai sekarang senang dengan buku yang mempunyai ilustrasi bagus), dan Si Penidur, entah siapa pengarangnya, saya sudah lupa. Pada waktu itu saja, bukunya sudah berlubang-lubang hasil kreativitas hewan pelubang buku hihihi…. Perpustakaan ini beserta Balai Wartawannya kemudian dihancurkan, dan perpustakaannya pindah ke Pasar Baru. Sekarang Perpustakaan itu sudah tidak ada lagi di sana, entah pindah ke mana.

Pada waktu saya SMP dan SMA, perpustakaan favorit saya tentu saja perpustakaan sekolah dan Perpustakaan Daerah di Jalan Pierre Tendean (Pacinan kalo kita dulu menyebutnya). Counter peminjaman di Perpustakaan sekolah di SMPN 2 Seroja Banjarmasin dulu dikepalai oleh seorang ibu-ibu gemuk yang baik hati dan selalu menyimpankan buku baru untuk para fans beliau. Karya Agatha Christie, Trio Detektif, Tintin, Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Malory Towers, Noni, Astrid, sampai buku wayang dan banyak lagi saya peroleh dari sana. Saya sampai bersedia tidak jajan asal dapet minjam buku baru. Saingan waktu meminjam buku ini banyak sekali, sampai sekarang mereka semua masih jadi sahabat saya.

Jaman saya SMA, Perpustakaan SMAN 2 Banjarmasin juga mempunyai angka kunjungan yang sangat tinggi. Tersedia mulai dari segala ensiklopedi menarik yang serius-serius sampai terbitan Disney, majalah-majalah berbahasa asing (yang walau tidak mengerti artinya, tapi gambarnya bagus-bagus), sampai, tentu saja fiksi, baik berupa sastra Indonesia sampai fiksi terjemahan. Sastra Indonesia dulu cukup disukai, karena dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, sering diberi tugas menulis tokoh dan plot cerita, sehingga waktu saya SMA dulu, kita semua fasih sekali kalau suka mendadak ditunjuk menjelaskan sebuah karya terkenal dari penulis sastra Indonesia. Tidak tahu sekarang apa masih begitu. (Gara-gara ini, saya sampai tertarik dengan ilmu bahasa dan sastra, bahkan sampai sekarang.) Selain itu, jaman saya di sana, oleh Depdiknas (mungkin) diberlakukan Perpustakaan Bergulir, jadi setiap beberapa minggu, ada koleksi buku yang berpindah-pindah dari 1 perpustakaan sekolah ke perpustakaan sekolah lain. Buku-buku ini rata-rata buku baru, sehingga selalu ada koleksi baru untuk dibaca. Saya kenal serial Musashi, Senopati Pamungkas dan buku-buku Pearl S. Buck melalui perpustakaan bergulir ini. Saking nyamannya perpustakaan sekolah, dulu kalau ada waktu kosong, murid-murid duduk-duduk di perpustakaan. Kalau tidak membaca, kita menonton siaran TPI yang dulu masih menyiarkan acara-acara pendidikan.

Perpustakaan Daerah di Jalan Pierre Tendean berada di sebuah bangunan gelap gulita. Waktu itu buku-bukunya belum banyak, mungkin karena sebagian disiapkan untuk Perpustakaan Daerah yang lebih besar di Pal 6 yang waktu itu baru dibangun. Tetapi koleksinya cukup menarik bagi saya, sayangnya buku-bukunya begitu banyak yang rusak dan robek-robek.

Ketika Perpustakaan Daerah di Pal 6 akhirnya dibuka, saya lebih suka ke sana, dan akhirnya yang di Jalan Pierre Tendean ditutup. Bangunan Perpustakaan Daerah yang di Pal 6 bagus sekali, berbentuk rumah Banjar, dengan jendela-jendela tinggi. Sekitar bangunan itu tidak ada apa-apa, kecuali tanah kosong dan persawahan penduduk, sehingga kalau membaca dekat jendela, enak sekali, karena terasa angin segar sepoi-sepoi bertiup masuk, selain ruangan yang terang-benderang karena banyak cahaya masuk. Lantai terbawah untuk referensi, sedang lantai 2 untuk buku-buku yang bisa dipinjam. Favorit saya di perpustakaan ini adalah Reader’s Digest Condensed Books, kumpulan buku-buku populer dari pengarang terkenal yang dalam bentuk abridged (saya membaca To Kill A Mockingbird-nya Harper Lee dan Agony & Ecstasy-nya Irving Stone dari salah satu buku RD ini). Saat itu ruang bacanya sangat nyaman.

Bagaimana sekarang? Saya tidak tahu bagaimana perpustakaan sekolah jaman sekarang. Tetapi kalau melihat angka kunjungan perpustakaan kampus tempat saya bekerja, angka kunjungan dan transaksi cukup memprihatinkan. Mengapa memprihatinkan? Mahasiswa mengatakan koleksinya sangat tidak up-to-date. Kalaupun ada buku-buku baru, hanya tersedia 1 biji, sehingga menjadi buku referensi yang tidak boleh dibawa pulang. Sesudah itu, kilah mereka, dalam bahasa Inggris pula (!). [Entah ini menunjukkan bahwa kita perlu menyiapkan anak didik kita sejak SD untuk mau dan mampu membaca teks berbahasa Inggris, atau ini menunjukkan bahwa perlu ditingkatkan penerjemahan buku-buku ilmiah mutakhir yang berkualitas]. Belum bukunya sudah dicari, katanya, tidak sesuai katalog. Ini berlaku untuk perpustakaan di fakultas, maupun di universitas.

Bagaimana dengan Perpustakaan Daerah yang selalu saya bangga-banggakan kalau bercerita pada teman-teman dari luar daerah itu? Sepupu saya, yang tahun lalu mencari bahan untuk menyelesaikan skripsinya dengan membolak-balik buku-buku koleksi Perpustakaan Daerah Pal 6 mengatakan kepada saya: “Hih, kotor, kak! Masak ada t*i tikus di mana-mana, di kursi, di buku, di lantai” Oh Tuhan. Sudah koleksinya menyedihkan, kotor pula. Apa mereka tidak mempunyai petugas kebersihan? Apa itu berarti para staf jarang melongok ke rak buku dan ruang baca? Lalu apa dong yang mereka lakukan? Tidak heran angka kunjungan rendah, bukan? Dalam mimpi saya tentang negara utopis, toko buku dan perpustakaan ditangani oleh orang-orang terbaik dengan gaji di level atas. Mereka adalah orang-orang terpilih yang luas pengetahuannya dan pandai berkomunikasi, serta mencintai buku.

Balik lagi ke minat baca yang rendah yang dikaitkan dengan angka kunjungan perpustakaan yang rendah. Saya menganggap minat baca di sini adalah minat baca secara umum terhadap semua bahan bacaan. Bagaimana kita menilai minat baca? Tidak dari kunjungan atau transaksi peminjaman di perpustakaan, selama perpustakaannya masih belum mampu memuaskan keinginan konsumen pembaca. Angka itu hanya memenuhi sebagian kecil pembaca buku. Minat baca juga bisa dilihat dari:

  • Angka penjualan buku di toko-toko buku. Yang mempunyai uang akan langsung ke toko buku untuk membeli buku terbaru, tidak akan menunggu perpustakaan menyediakannya
  • Jumlah transaksi peminjaman buku di taman bacaan dan rental buku. Taman bacaan dan rental buku ini terkenal sangat sensitif pada buku yang populer, yah, tentu saja, sebagian besar berupa fiksi dan komik.
  • Jumlah pelanggan koran dan majalah di agen-agen.
  • Transaksi belanja buku online yang dilakukan dengan kartu kredit dan debit yang pemiliknya beralamat di Banjarmasin/Kalsel. Toko buku di Banjarmasin, apalagi Kalsel, isa dihitung dengan jari. Apalagi harga buku yang dijual di sini jauuuh lebih mahal dibanding harga buku yang sama yang dijual di toko buku di Jawa. Toko buku online memberikan opsi yang lebih menarik dengan diskon-diskonnya yang besar-besaran.
  • Jumlah peminjam buku dari koleksi buku saya (-lirik mereka-) hihihi. Tidak, kok, koleksi saya sedikit sekali, cuma kebetulan saja akhir-akhir ini dapat buntelan gratis.

Saya sangat yakin kalau angka-angka tersebut bisa ditelusuri, terbukti bahwa orang Kalsel itu suka membaca.

Terlepas dari apakah betul atau tidak minat baca orang Kalsel itu rendah, kalau konteksnya adalah perpustakaan, bagaimana agar kunjungan perpustakaan bisa tinggi? Mulai dari yang gampang-gampang dulu saja deh.

  • Jaga kebersihan dan kenyamanan perpustakaan. Tidak perlu ruangan keren ber-AC (konon, suhu tertentu akan merusak buku, silakan baca di sini dan di sini tentang pengaruh suhu, kelembaban dan cahaya terhadap buku) dengan rak-rak modern dan kursi-kursi sofa yang nyaman ala cafe buku. Cukup bersih dan tidak berdebu. Kalau kotor dan masuk perpustakaan saja kita jadi gatal-gatal dan bersin-bersin, bagaimana bisa suka ke sana?
  • Pemeliharaan buku. Buku yang rompal-rompal, kuning-coklat-merah bekas makanan, atau keriting karena basah sangat tidak menarik. Perlu ada penjadwalan pemeliharaan buku, misalnya setiap 2 bulan sekali, untuk menemukan buku-buku yang rusak, agar bisa diperbaiki atau dijilid ulang.
  • Katalogisasi yang up-to-date. Walaupun masih berbentuk lemari katalog, belum digital, selama selalu dimutakhirkan dan buku-bukunya diletakkan sesuai dengan yang tertulis di kartu katalog, tentu akan jauh lebih memudahkan daripada katalog digital tetapi peletakan yang asal-asalan. Keluhan sulit menemukan buku di rak juga membuat pengunjung malas balik lagi.
  • Alokasi dana untuk pembelian bahan pustaka baru. Kenapa kok bisa mampu membangun gedung keren untuk perpustakaan, tetapi tidak mengalokasikan dana untuk pemutakhiran koleksi? Selalu lebih cepat reaksi kalau ada permintaan AC, kursi dan meja tambahan untuk ruang baca dibanding apabila minta koleksi buku baru. Pendanaan tidak harus selalu melalui dana pemerintah. Perpustakaan bisa mengadakan kegiatan-kegiatan terkait buku yang bisa mendatangkan dana. Perpustakaan juga bisa bekerjasama dengan LSM-LSM, donatur-donatur, dan komunitas-komunitas baca yang mempunyai misi meningkatkan minat baca buku.
  • Penyediaan koleksi dalam bentuk elektronik. Sekarang pengunjung perpustakaan adalah generasi yang selalu silau dengan segala hal berbau elektronik. Selain memang lebih mudah dalam melakukan pencarian bahan spesifik, koleksi elektronik tidak memakan tempat dan kadang-kadang lebih menarik karena sebagian berbentuk interaktif, serta memadukan audio dan visual yang menarik.
  • Terakhir, tapi yang paling penting, membuat masyarakat merasa membutuhkan bacaan. Di zaman serba sibuk dengan jam belajar/kerja yang semakin panjang, dan daya tarik hiburan televisi yang tidak membutuhkan otak untuk berpikir, membuat waktu dan kemauan untuk melakukan kegiatan membaca buku for fun semakin kecil. Agaknya kebutuhan membaca ini harus ditanamkan sejak kecil. Saya saja, yang mempunyai keluarga besar penggila buku, masih sulit untuk duduk membaca lebih dari 1 jam, entah karena tidak ada waktu, mengantuk (OK, mungkin ini faktor U), sampai godaan Plurk, hihihi…… Acara review buku di radio atau televisi bisa meningkatkan minat baca penonton televisi. Sayang, di Indonesia belum ada ya?

Balik ke koran.

“Untuk meningkatkan minat baca masyarakat Kalsel, maka Pemerintah melalui Bapustarda pada tahun 2008 ini membuat dua program. Yaitu mengadakan penambahan tenaga kearsipan dan pustakawan masing-masing sebanyak 30 orang. … Selain ditambahnya tenaga profisional [sic] bidang perpustakaan, maka pemerintah Kalsel dalam waktu dekat akan menggelar perpustakaan sampai ke desa-desa.”

Agak kurang pas, bukan? Bukan tenaga pustakawannya yang kurang, bukan jumlah perpustakaannya yang kurang. -keluh-

Foto perpustakaan Isaac Newton Institute for Mathematical Sciences di atas diambil dari situsnya.

Advertisements

Kue Banjar

Lama sekali tidak meng-update blog ini.

Baiklah, untuk menutup (kalau saya malas menulis lagi sesudah ini) tahun ini, saya akan menampilkan……. JENG JENG JENG (orkestra pengiring, bukan situs jalan-jalan dan makan-makan yang itu)….. kue Banjar! Endah bilang, di tangan (atau mungkin maksudnya, di mulut) saya, topik apa saja selalu berubah menjadi topik tentang makanan. Apakah ini sebuah keinginan tersembunyi di lubuk hati untuk menjadi gemuk? Itu analisis dia. Menurut saya sih tidak. Saya suka makanan enak, seperti orang normal lainnya, itu saja.

Sebentar, sebagai orang yang sering ber-“flight-of-idea“, saya mau bilang dulu di sini, sebelum lupa:

  • Selamat Hari Raya Idul Adha
  • Selamat Liburan (saya tidak libur -keluh-)
  • Pak Ersis yang seleb itu sudah jalan-jalan ke sini! -kok bisa ya beliau terjerumus ke sini-

OK, kembali ke topik.

pasar-wadai.jpgKalau bulan Ramadhan, di Banjarmasin ada sebuah agenda rutin berkaitan dengan makanan, yaitu Pasar Wadai. Wadai itu bahasa Banjar untuk kue. Untuk tujuan pariwisata, diterjemahkan juga ke Bahasa Inggris menjadi Ramadhan Cake Fair. Walau saya kok tidak pernah bertemu turis asing di sana. Tapi jangan percaya saya, ya, karena setiap tahun, saya pernah menginjakkan kaki ke Pasar ini cuma sekali, padahal jaraknya dengan rumah saya tidak sampai 5 menit naik sepeda motor. Kenapa? Bukankah Pasar Wadai ini sama dengan pesta makanan atau sama dengan surga belanja buat saya? Karena, eh, karena kue-kue dan makanan (walau namanya Pasar Kue, Pasar ini juga jualan makanan dan seabrek benda lain) di sana harganya agak tinggi dibanding banyak “Pasar Wadai” berskala lebih kecil lainnya dan tentu saja lebih tinggi dari warung pinggir jalan yang kagetan jualan kue Banjar dengan rasa yang tidak kalah enaknya (kalau kita tahu yang mana). Kenapa kok lebih mahal? Karena stand-nya disewakan dengan harga mahal. Foto di atas itu diambil dari blognya Khairil.

image002.jpgNah, tahun ini tadi, awal Oktober, saya terpaksa melangkah ke Pasar Wadai ini karena teman saya ini titip dibelikan Ipau. Ipau? Terdengar seperti nama khas orang Banjar. Di tempat saya, semua nama (terutama jaman dulu) yang bagus-bagus itu akan berubah menjadi begitu Banjar dengan menambahkan awalan I pada suku kata depan atau suku kata belakang nama itu. Misalnya: Juhriah akan dipanggil Ijuh, Murni menjadi Imur, Badaruddin menjadi Ibad, Helmi menjadi Imi, dan, tentu saja, Fauziah menjadi Ipau. Apakah teman saya minta carikan perempuan? Oho, tidak. Yang dia maksud adalah sejenis makanan sejenis schotel atau pizza bertingkat yang di Banjar bernama Ipau.

image003.jpgIpau terbuat dari campuran tepung terigu dan telur, wortel, bawang bombay, sayur, kentang dan daging yang dibuat berlapis-lapis (bisa sampai 10 lapis). Biasa disajikan dengan kari kambing plus kuahnya (my mom bilang, makanan ini sebenarnya berasal dari Arab, karena yang jualan memang yang juga menjual masakan kambing), bisa juga disajikan dengan kuah santan (ada yang mencampurnya dengan susu) plus taburan daun sop dan bawang goreng, ada juga yang menjual hanya dengan taburan daun sop dan bawang goreng. Sedangkan saya, saya lebih suka memakannya dengan saus tomat dan sambel Bangkok. Enaaaak banget. Manis bercampur gurih. Harganya untuk ukuran kota besar cukup murah, Rp 7.000 seperempat loyang, tapi menurut ukuran urang banjar, itu mahal.

Omong-omong, ada yang bilang, kue ini disebut juga Petah Asia. Apa itu Petah? Kue dari tepung beras yang dimakan dengan tahi lala. Ups, jangan antipati dulu. Tahi lala hanya jorok di nama (dan mungkin agak mengerikan kalau dilihat) tapi enak banget di lidah: suatu saos yang dibuat dari kepala santan (santan yang direbus lalu diambil bagian atasnya saja yang kental) yang digarami. Kalau Petah berbentuk padat dan sering diberi warna dengan pandan, kalau Ipau kenyal, putih dan berlapis-lapis.

image005.jpgKue-kue lainnya yang dijual bisa dilihat pada gambar di samping. Di latar depan, kalian tentu sudah kenal, berbagai jenis agar campur bolu. Yang paling depan sebelah kanan, itu namanya Sari Mokka. Bagian atasnya yang coklat itu terbuat dari tepung, santan, telur dan gula merah (atau mokka ya? aku lupa nanya tadi), rasanya manis sekali. Bagian bawahnya yang putih itu (kata nenekku: “kasar burit”, saya lebih baik tidak usah menerjemahkannya hehehe) terdiri dari kelapa parut, tepung dan garam. Jadi atasnya manis banget, bawahnya asin. Perpaduan yang sempurna 😀 Di belakang Sari Mokka, yang putih itu, namanya Amparan Tatak. Mengingatkan pada lagu Ampar-ampar Pisang ya? Ya, Amparan Tatak ini terdiri dari tepung dan pisang. Bagian atasnya itu agak lembek, terdiri dari santan kental dan garam, bagian bawah lebih padat terdiri dari tepung, santan dan pisang yang diiris-iris melintang. Jadi, bagian atas asin, bagian bawah manis. Sedap banget kalo yang bikin pinter. Paling ujung belakang kiri yang berbentuk seperti bunga itu adalah kue Bingka. Beberapa blogger beruntung saya bawakan kue ini. Almarhum Kang Bebek bilang, seperti kue lumpur, tapi lebih enak. Saya tidak pernah bertemu kue lumpur, jadi tidak bisa berkomentar.

image007.jpgKue bingka di Banjarmasin terenak adalah buatan nenek saya. Tapi nenek saya kan tidak jualan. Dan sudah males bikin, karena kalau beliau bikin berlemaknya dan manisnya gak ketulungan, sehingga para cucunya pun tidak sanggup menghabiskan lebih dari satu potong. Bahan dasarnya adalah dari gula, tepung, santan masak dan telur. Secara komersial, paling enak (dan mahal) adalah Bingka Bunda. Default type-nya adalah Bingka Kentang. Kalau mau rasa tertentu, mesti pesan jauh-jauh hari: rasa durian, nangka, keju, gula merah, tape ketan hijau (ini favorit saya, anak-anak Sari Mulia kalau buka bersama saya selalu ingat membelikan saya ini), dan lain-lain.

image006.jpgIni kue lapis biasa. Yang depan itu coklat karena cacao, yang belakang (hijau) itu diberi pandan. Ada kue lain yang tidak bisa saya berikan fotonya di sini. Namanya Kueh Lam. Ini kue super enak dan cukup mahal, sering jadi oleh-oleh. Dan kalau diingat-ingat, cuma 2 orang yang pernah saya bawakan kue ini, 1 untuk yang jaga kos saya di Jogja dulu. Satu loyang ukuran kotak kue ukuran sedang itu minimal Rp 75.000. Membuatnya sulit. Ada 2 jenis sebenarnya, yang dikukus dan dibakar. Yang dikukus, ini hanya tahan 3 hari, itu pun dalam kulkas. Dengan harga yang cukup mahal, serta rasa yang super manis dan berlemak sehingga cepat kenyang, rugi juga beli yang kukus, karena 3 hari belum cukup waktu untuk menghabiskannya. Lagipula kalau untuk oleh-oleh, yang kukus begitu fragile sehingga kalo dibawa di pesawat (pengalaman si Yudha waktu membawakan dosennya dan ehem-ehem-nya) bisa megal-megol bentuknya, dan waktu tiba di tempat tujuan bentuknya sudah gak keruan, walau rasa masih yahud. Biasanya untuk oleh-oleh kita bawa yang bakar. Oya, sebenarnya, dalam istilah Banjar, yang kukus saja yang disebut Kueh Lam, sedang yang bakar disebut kue lapis, tapi sebenarnya bahannya kan sama dan mahalnya sama hohoho…. Belakangan, semua disebut Kueh Lam saja.

Kueh Lam. Bahan dasarnya adalah tepung, gula, santan, susu, telur sebanyak mungkin (kurangi putih telurnya), cacao. Kueh Lam ini berlapis-lapis seperti lapis coklat di atas, jadi bagian coklatnya dari cacao. Biasanya lapisannya sangat tipis, dan untuk yang model bakar, itu bukan dibakar. Lah, terus diapain? Ditaruh aja di atas meja (nenekku bilang: “kue masak di lantai”) selapis, lalu ditutupi dengan tutup dari “panai” (gerabah dari tanah) yang sudah dipanaskan di atas api dapur (yang disebut dapur ini adalah tungku terbuka dengan bahan bakar kayu). Tutup dibiarkan sampai lapisan itu masak. Lalu kalau sudah masak, dikasih satu lapisan lagi, lalu ditutup lagi. Terbayang tidak berapa lama kue ini jadi kalau lapisannya saja minimal 10 lapis? Satu malam mungkin hanya jadi 1 kue. Pembuat Kueh Lam yang paling ahli adalah urang Barabai, ibukota Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Kalau mau membawa yang bikinan urang Barabai, mesti pesan 3 hari sebelumnya. Saya dulu pesan di warung oleh-oleh Banjar yang kecil di sebelah Depdiknas Jalan S. Parman. Sayang, dia kadang mau, kadang enggak (orang yang aneh, mau jualan gak sih?). Akhirnya saya beli saja di Warung Makan Cendrawasih dekat Bundaran Bank Panin dulu. Di sana juga jual Bingka Bunda.

Sebenarnya mau cerita satu kue lagi, yaitu Lapis India. Saya pernah melihat proses pembuatannya. Lagi-lagi yang bikin nenek saya. Haduh…. bikinnya lama banget, selapis-selapis seperti Kueh Lam, tapi bentuknya bergelombang, karena setiap jadi, dilipat, jadi, dilipat, capek deh. Mana pake tangan lagi melipatnya, di atas kuali besar dan agak datar tengahnya. Lama-lama eneg dan pas kue jadi, gak ada yang kepingin lagi saking bosennya melihatnya dibuat. Mana manis banget. Orang diabetes pasti langsung koma hiperglikemik. Nanti lah kapan-kapan saya tulis tentang yang ini ya. Sebenarnya banyak sekali lo kue Banjar, semua manis banget, berlemak banget, selalu bersantan, gak heran aku jadi hiperkolesterolemia. Banyakan sudah lupa, dan dari tadi nenekku sudah sebal padaku karena nanya-nanya bahan kue terus, padahal beliau mau mengaji hehehe…

Mudah-mudahan para blogger yang baca ini lantas tidak menyuruh saya bawa oleh-oleh kue-kue Banjar ya…. Sebagian besar kue di atas adanya hanya di bulan Ramadhan lo….

Nepotism. Sometimes it’s not a bad thing.

Today I was invited by phone by some NGO to attend their meeting. The objective was still vague to me, but since it’s a health-related popular NGO, I said I would come. No, I won’t say what’s the name of the NGO.

I came a little late, it rained very heavily. But as usual in Indonesia, everyone was late. The meeting began with lunch: soto banjar. Yummy, but not as yummy as the one popularly called as Soto Pak Amat (under the bridge).

The one who invited me introduced me to the Chairman, er, Chairwoman, I mean, and who is she? The wife of our popular ex-governor. I looked around (not so many person present, and all of them are women, ah no feast to the eyes at all) and everyone seemed to know each other.

Turned out it’s a meeting for appointing new management of the NGO. In their draft, I am the chief of one of the board: Cancer research and registration. Whoever put me there? And guess who my team are? One of them is my lecturer in medschool, the one I am so adore and respected: the district chief of our professional organization himself! What on earth?

I looked more closely into the draft while the meeting slowly elapsed (boring and one of the members of the board was so intimidative she took all the decision by herself, but then again, who cares?). Seemed that almost all (except me, of course) are in some structural position in some department, or the wife of someone important, someone “up-there”, or someone very rich: the wife of the ex-governor, the wife of a big hotel owner, the wife of a contractor, the wife of specialist doctors (they sure looked smug), the wife of a hospital director, the wife of the head of governmental department, etc. I assume that a NGO must survive, and survival needs fund. Besides, those wives are so enthusiastic (being the wife of someone important) to do something social-related (this is a volunteer job) and some of them just have nothing to do.

And what’s more: a lot of the people in the new management are relatives or at least in close relationship. The chairwoman and the vice chairwoman No I are sisters-in-law. The chairwoman and the secretary No I are sisters-in-law, also. Me and the vice chairwoman No I are relatives, through marriage, although I am not so sure how (now I understand why they pick me!). The vice chairwoman No I’s husband and one member of the board are brothers. And lots other example. Nepotism? so New-Order-like. But then if you think again, in a volunteer job like this, you always want to choose people you really know in your team, people you know would work hard and have competence in their own “expertise”. And which other people that you know better than your own family? Maybe nepotism sometimes not a bad thing at all.

Rituals

Me and my friends, the usual ones plus plus (this time: Pharmacology feat. Mbak Ana IKM), congregated as usual in one of our haunts after work, this time in that quasi-café. After not-so-big a portion of fried noodles (we knew that the portion is smaller than usual, because Juhai can gobbled up all her portion) and milkshake, we’re got snoozed down and started the petty talk.

Started with the routine quarrel between Juhai and Jo, and she threw crushed leaves to his chest. This reminded me to the rituals of Banjarese wedding. Like Javanese, it’s a long one, that is, I’ve read the book about this once; actually I had the book, but now I don’t know where it is. Yes, one of the rituals is when the bride throws sirih (betel) leaves (Piper sermentosum) to the chest of the bridegroom who stands one meter or so in front of her. This is goes back to the old time when sometimes the bridegroom is not a human being, but a snake impersonating human *shudders* the sirih leaves will change the snake back into the original shape.

Banjar people, like any other tribes in Indonesia, has their own rituals for any occasions.
I remember when I was in my elementary school, the roads were not like today. There were no asphalted roads, only sand, soils and clays, sometimes just planks put over streams. There were not as many houses as now. The roadsides consisted of grassy lands, cemeteries, lots of coconut trees with roots wents up out of soils high enough to climb, small streams, small wood bridges, many water puddles when it’s raining. Everything looked so rural, despite the fact that I lived in the heart of the biggest city of South Kalimantan. We used to run fast home in the afternoon after school with shoes in our hands, schoolbags looked like suitcase (there were no backpacks) banging at our legs, school uniforms got wet bacause of rain and perspiration, tried to tread the road as far as we can from the cemetery, hid in the bushes if we met the grassmower with his grass-waggon and his sharp arit (scythe). It was believed that grassmowers cut the heads of children and hid them under the grass in their grass-waggon. I don’t know were our parents just tried to scare us so we would go straight home or because the grassmowers really did that. In South Kalimantan, when you made a big bridge, you need to sacrifice a black chicken or a black goat, beheaded the animal, and put the head in one of the cast iron pipe supporting the bridge. For whom the sacrifice was given? It was said to the Power who have and control the land, a remnants of animism. Sometimes, the bridge-in-progress could never be finished, there was always some collapse in this part or landslide in that part (won’t be surprised, South Kalimantan consisted mostly of swamp), and they said, the Power wanted the head of a small child (this is where the grassmowers came into the stage). If you don’t give Him that, there will be a child killed. In my lifetime, I experienced this once: a big bridge in Teluk Dalam, one of the major road in Banjarmasin, was build, and a small boy just fell into one of the narrow supporting pipes (I can’t imagine how), couldn’t be brought out of the pipe until a black chicken was sacrificed. All local newspapers were full of the pictures. Creepy.

There was this small well I usually passed when I got home from school through one of the shortcuts in my elementary years (there were some of them: bypass next to the well, or passing through the coconut tree roots forest –up-and-down-until-I-fell-down-once– or run through the cemetery or through the Madurese houses). Don’t expect any Sadako things. No. But any children passed the well without picking this certain leaves from the bushes next to the well, tied it with itself, and threw the leaves into the well and said “Umpat lalu, Datu” (free translation: “Please let me pass, Eldest.”) will got fever at the night after. The ritual of doing things to avoid bad things happened to you called “bepidara”, and events when bad things happened to you because you don’t do the ritual are called “kepidaraan”.

When I told my friends about this, Jo came up about this story about Jingah tree. He said that if you pass a Jingah tree (he could’t describe the tree), you have to say: “Jingah, biniku” (free translation: “Jingah is my wife”) if you are a male, or “Jingah lakiku” (free translation: “Jingah is my husband) if you are a female. If you don’t do that, you will get pruritus (itch). Maybe the tree has some defensive apparatus in the form of small needles that caused itch (“miang” in Banjarese), like you usually get when you touch bamboo. So Jingah has so many husbands and wives (it is a bisexual, then). Maybe the area in Banjarmasin called Sungai Jingah once full of Jingah trees.

There are a lot of rituals like this, and AFAIK, I never knew there is a book about Banjarese rituals. A book about Banjarese wedding, or about traditional games, or Banjarese folklores, I have seen them. But none on the rituals and myths. Young people of today never know these stories, and their parents are too busy to tell them or too educated to tell mystical things to their children. It’s a pity, these stories are treasures of Banjarese culture. If not we, who else will make it last?

Girls can do nothing

I took this public transport from Bundaran, which is near the magazine stands. I looked for PCPlus computer tabloid, but it wasn’t delivered yet, so I bought Komputek instead. Unlike several years ago, when money were easier to get and things were a lot cheaper, now I only buy computer magazines and tabloids when they contain something interesting and useful. I put the Komputek in the black plastic handbag, and brought it with me. I sat in front, and waited until the car was filled. A woman, 40-something, with clothes like those fish retailers in the traditional market, sat next to me. She smiled at me, and then looked at the visible end of the Komputek tabloid in the plastic handbag (only the “Kom” is visible). She suddely called out to someone outside:
Woman: “Bah, bah, tukarkan Komputek lah kena bulikan.”
Man: “Belum keluar lagi kalo hari ini.”
Woman: (looks at me) “Itu Komputek kalo?”
Me: “Hm-mh.”
Woman: “Dimana tadi nukarnya?”
Me: “Di wadah yang paling ujung.”
Woman: (called out again) “Sudah keluar Bah ai, di yang di ujung tuh.”
Man: “Hi-ih, kena menukarakan.”

I was impressed.

(Free translation:
Woman: (to her husband) “Buy me Komputek when you get back, ok?”
Man: “Not delivered yet.”
Woman: (looks at me) “That’s Komputek, right?”
Me: “Hm-mh.”
Woman: “Where did you buy that?”
Me: “At that farthest stall.”
Woman: (calls out again) “It’s already delivered, you can find it in that farthest stall.”
Man: “Ok, I will buy it for you.”)

I was soooooo impressed of this conversation, and I still smiled until Km 6 bus terminal. I mean, this woman, the one who I think was archaic, traditional, have-no-time-and-interest-to-read-anything-let-alone-read-computer-tabloid woman, read the same computer articles like me! I think I thought too high of myself. I thought I was the only girl who read Komputek in 3 kms radius around me (this is Banjarmasin, and maybe this is true), and then, right next to me, a woman old enough to be my mother, read the same thing. I think I have to readjust my mind. Don’t get me wrong. As a female, I am very proud. What I am concerned about is that I have this mainstream opinion about females, an opinion that have been fertilized since we were kids by the boys-girls division of toys (boys plays with small motor vehicles, girls with dolls and fake kitchen utensils), boys-girls division of job choices (boys get the managerial jobs, girls get the secretarial jobs), boys-girls division of education choices (most boys go to Faculty of Engineering, most girls go to Faculty of Education). Culture, and religion, also oblige boys/men to be leaders, while girls/women are followers. Boys/men deal with electric, machines, repair, and things outside the house; while girls/women deal with domestic things, except electric and repairs. Have you seen the car commercials (or something, I don’t remember) about “It’s A Boy Thing”? Bah!

I remember when I shopped for some computer accessories in some computer fair in a city where men and women usually are considered equal, even in those things above. You only buy hardwares after you compare several brands, bearing in mind about the specs, the stability, the price, the competitors. So, that’s what I asked the male customer service, who answered me ignorantly, and sometimes rolled his eyes. It’s very different when a boy came up and asked stupid things, they answered it like they answer the President himself.

And it was worse when the customer service are girls. It was when I asked about cable and satellite television services. They had no knowledge about the things they sold, and when I asked (happily, because I expected girls would answer you nicer and expected them to understand what they represent) about basic things you would ask when you want to subscribe to the service, they looked at me sourly and didn’t answer at all, or gave some vague lines that answered nothing, while pointed their cute fingers to the pamphlets (the cable television customer service even had no pamphlets, nor the list of the TV channels). I had suspicion that it was these kinds of girls who made us females were looked down by our male counterparts. If you were asked to do something, a customer service, for example, you would do some simple research like some basic things about cable television service, what are the packages, the area of coverage, the TV channels, the TV guides, the payment (turns out this is the only thing the girls understand very much), how many TVs that can access the service, is it parallel, etc; so that your prospective subscriber would be interested.

A lot of boys supporting girls to be equal. I remember, there is this only place comfortable for asking things about computer, which is in a place near my rented house in Jogja. It’s a computer service, a very small one, with huge fans, especially girls. Well, aside from the fact that the boys work there are mostly young and gorgeous (Bandung boys, dialeknya itu oi!) ihihihihik… they have respect of their customers, boys and girls alike. You can ask stupidest things to them, and they will answer you from basic to advanced, without getting that rolled-up eyes thingie. They also sell things cheaper. And they will help you fix-your-computer-yourself through sms, free of charge; a very good support for computer education. They gave you bonus in the form of mp3s in genre of music they found in your PCs. And they send their loyal customers “Ucapan Selamat Hari Raya”. A good marketing. Miss them.

There has been commotion also about there were not enough women represented in the Parliament. But when the opportunity were given, the number of women actually interested in politics are too small. I am sure this is not because the women are not as smart as the men. This is because the cultural brainwash has gone too deep.

So, girls, it is up to us to change the stigma. Search for information, study, read books, and try to do things yourself. Trial and error is not a bad thing. I dare you.