Category Archives: Education

Razia di Sekolah

Gara-gara tadi pagi ngobrol sama dia ini, terus diriku jadi teringat jaman sekolah dulu. Sebelumnya, warning dulu ya, karena diriku sekolah zaman baheula, mungkin cerita di bawah agak mengherankan para generasi muda (Pemirsa: Sebenarnya mina lahirnya kapan sih?).

Yang teringat bukan tentang berbagai ujian asik di mata pelajaran ketrampilan, suasana sekolah siang penuh aroma masakan saat sekolah numpang di gedung kantor (a la pedesaan) karena sekolah habis kebakaran, guru bahasa yang gak suka muridnya punya buku pelajaran yang dia gunakan untuk mengajar, perpustakaan sekolah yang selalu menyediakan buku cerita baru dan penjaganya pilih kasih hanya menunjukkannya pada murid kesukaannya (yours truly termasuk), perasaan keren kalau senam pagi paling depan, merasa sudah kayak Beethoven waktu diminta memainkan pianika buat acara apel pagi, pergeseran penggunaan gender-based games di kalangan anak SD (anak cowok main tali, anak cewek main kelereng), dan banyak lagi. Nanti saya ceritakan kalau ada yang request.

Sebenarnya mau menceritakan tentang razia sekolah. Dia ini kan guru. Katanya sekarang sih malas kali merazia murid. Benda-benda yang curiganya akan kena razia sudah mereka titipkan duluan di paman penjual apa gitu di depan sekolah. Beda jaman dulu sih. Kurang pinter kita dulu mungkin. Dan juga karena pagar sekolah tertutup rapat kalo jam sekolah. Ini berbagai jenis razia yang pernah diriku alami: Continue reading →

Susahnya kuliah

Besok mulai UAS – Ujian Akhir Semester. Amin belajar. Dengan tekun. Sudah terkenal kalau kuliah-kuliah semester atas yang dipegang oleh dokter-dokter di Rumah Sakit biasanya bahannya nauzubillah banyaknya dan ujiannya sangat sulit. Entah memang mahasiswa jaman sekarang yang bolot atau soalnya memang tidak disesuaikan untuk menguji kompetensi mahasiswa sesuai tujuan belajar mata kuliah itu. Pokoknya Amin tidak mau sampai tidak lulus, karena dia ingin lulus 4 tahun, maklum kuliah jaman sekarang mahal. SPP naik, uang bensin naik (mana kampus di dua tempat yang berjarak 1 jam perjalanan dengan sepeda motor), diktat bahan kuliah semakin tebal dan semakin mahal, fotokopi slide kuliah yang berpuluh-puluh lembar, uang makan dan uang kos yang dengan sadisnya dinaikkan oleh ibu kos. Banyak pokoknya yang harus ditanggung orang tuanya. Untungnya Amin cukup pandai, dan IPK-nya saat ini 3,6.

Tiga minggu kemudian, semua nilai sudah keluar. Oke, A-B-A-B-A-B-C-B-B-C-E.. loh? E???? Gak mungkin! Apa tadi mata kuliahnya? Etika dan Hukum Kedokteran? Digosok-gosoknya matanya. Masak sih? E untuk Etika adalah harga mati. Tidak ada mahasiswa yang bisa yudisium kalau Etika-nya E. Di mana kesalahannya? DIa yakin jawabannya sudah sebagian besar benar, sudah dia cek jawaban-jawabannya, minimal di atas 6 nilainya. Amin juga bukan tipe mahasiswa kurang ajar atau tidak beretika.Amn melirik ke daftar nilai Etika. Hah, banyak yang E, minimal ada 10 orang. Yang D juga banyak. Sebentar. Ina juga E? Sita, Ari, Enny, Eva, Lisa, Gatot. E juga. Aneh, padahal mereka semua IPK-nya di atas 3 semua, nilai rata-rata mata kuliah mereka B. Ada juga sih yang memang nilainya rata-rata rendah yang juga dapat E.

Amin menghubungi teman-temannya sesama E. Semua yakin mereka rata-rata bisa menjawab dengan baik. Mungkinkah ada dosen yang tidak sempat memeriksa lembar jawaban mahasiswa, sehingga pada waktu mengeluarkan nilai asal tulis saja? Gak mungkin ah, dia kan dosen Etika. Akhirnya mereka sepakat untuk bertanya kepada dosen pengampu mata kuliah Etika. Tapi… sesampai di depan pintu, mereka balik kanan. Gak usah aja deh. Dosen ini terkenal menyeramkan, kalau coba-coba mempertanyakan nilai yang dikeluarkan, bisa-bisa tidak lulus-lulus, kapan selesainya kuliah? Ah sudahlah, tahun depan, tahun terakhirnya kuliah di pendidikan sarjana, sebelum pendidikan profesi atau koass, dia masih bisa mengulang. Tidak terpikir olehnya bahwa dosen pengampu mata kuliah Etika tahun depan masih orang yang sama.

Di institusi pendidikan negeri di mana-mana saat ini, masih banyak dosen yang lupa bahwa kalau sudah menerima pekerjaan sebagai dosen, maka dia menanggung seluruh tanggung jawab menyelenggarakan mata kuliah yang diampunya. Mulai menyiapkan panduan mengajar (Satuan acara Pengajaran = SAP, Kontrak perkuliahan, Study Guide, Diktat, Buku Ajar) berbasis pada kurikulum (yang pada gilirannya berbasis pada kompetensi lulusan yang ingin dicapai). Lalu melakukan proses belajar mengajar berdasarkan panduan yang telah disusunnya. Kemudian mengevaluasi keberhasilan mahasiswa (dan dirinya) dalam proses belajar mengajar itu: tercapaikah tujuan belajar yang dia tuliskan di SAP? Kalau tidak tercapai, dimanakah letak kesalahannya? Pada panduan, atau pada proses belajar-mengajar, atau pada evaluasi? Pada dirinya atau pada mahasiswa?

Kalau tunjangan dan gaji tidak naik-naik, ribut (dan langsung membandingkan gajinya dengan gaji DPR), menyalahkan sistem yang tidak mau mendukung perkembangan dunia pendidikan. Dosennya saja gajinya kecil, bagaimana bisa memberikan pendidikan dan pencerahan pada manusia kalau perut lapar? Saya jadi harus cari makan di luar juga nih. Kalau saya sampai tidak sempat mengurusi mahasiswa, jangan salahkan saya loh.
Tapi kalau sudah naik gaji, lalu diajak bicara tentang apa yang sudah dilakukannya untuk mendidik dan mencerahkan manusia didiknya seperti yang digembar-gemborkannya itu? Berkilahlah lagi dengan menyalahkan sistem pendidikan yang (lagi-lagi) tidak bisa menyediakan dana cukup untuk membeli fasilitas belajar yang lebih canggih dan ruang kuliah yang nyaman dan ber-AC. Lalu fasilitas internetnya kok tidak disediakan, bagaimana saya mengajar kalau saya tidak bisa cari bahan lewat internet?

Dengar-dengar rumpian, muncul cerita-cerita “lucu” tapi menyakitkan bagi mahasiswa tentang proses perjalanan kuliah mereka:

1. Seorang dosen yang terlalu sibuk, banyak pekerjaan nih, proyek penelitian saya yang ini sudah deadline, mana saya mesti rapat-rapat akreditasi lagi di Fakultas, saya kan sibuk karena perintah pimpinan juga. Karena waktu batas nilai akhir masuk sudah sampai, dan karena lembar-lembar jawaban mahasiswa terselip entah ke mana, ya sudahlah, nilainya dikira-kira saja. Yang namanya agak intelek, dikasih nilai bagus deh. Lah, ini namanya kok agak kampung, biasanya kurang berpendidikan, saya kasi D+ aja deh.

2. Seorang dosen yang terlalu malas. Terlalu banyak lembar jawaban yang harus diperiksa. Soalnya essay lagi. Mudah membuat, tapi malas memeriksa. Tulisannya banyak yang jelek lagi nih. Sudahlah, mana daftar namanya. Saya isi sajalah nilai yang bagus-bagus, nilai mata kuliah ini gak krusial juga, paling kalau ilmu ini mau dipakai pas mereka kerja, mereka ditraining lagi. Tenang… Gak bawa bahaya kok. Alhasil, mahasiswa yang ternyata sudah membatalkan untuk mengikuti mata kuliah itu pun (dan tidak pernah masuk sama sekali), nilainya keluar A.

3. Seorang dosen yang baik hati. Buat apa sih menyusahkan mahasiswa. Bikin soal tu tidak usah sulit-sulit. Nanti kalian akan saya beri kisi-kisi. Soalnya nanti ada 5. Essay semua lo. Catat ya, nomor satu soalnya tentang jenis-jenis bentuk sediaan obat beserta keuntungan dan kerugiannya. trus nomor 2, ….. dst. Oya, kalau soal pilihan berganda, kan sulit bikinnya. Mesti banyak mikir. Sudahlah, mana soal tahun lalu, saya tandai, kita campur-campur dengan soal yang tahun lalunya lagi deh. Yang gampang-gampang aja. Yang sulit-sulit nanti nilai mereka jelek. Kasian kan.

4. Seorang dosen super pintar. Kalau ngajar gak bawa apa-apa. Bisa langsung nyerocos di luar kepala. Tidak perlu apa itu namanya, SAP? Bikin kaku mengajar. DIktat kuliah? Study Guide? Keenakan mahasiswa tidak perlu susah-susah nyari bahan belajar. Nanti tidak mau belajar dari buku lain lagi. Slide kuliah? Menguntungkan tukang fotokopi saja.

5. Dosen yang tidak terorganisir. Mau ujian akhir. Bagian akademik menagih soal. Oke, nih soalnya. Ujian berjalan. Mahasiswa protes, ini ujian Mata 2, kok soalnya bahan dari Mata 1? Bu, kok soalnya dari Mata 1? $#%#^&^$^*&%%!!! Gak lulus kamu!

6. Dosen hobi cari duit. Saya persulit saja soal semester ini. Tuh kan, mahasiswa banyak yang tidak lulus. 75% nilainya D ke bawah. Ah mahasiswa payah, kurang belajar. Oke kita adakan semester pendek yah. Mahasiswa yang tidak lulus kuliah saya di reguler, silakan ikut semester pendek. Oh ya saya lupa bilang, 1 SKS-nya bayar 100ribu ya? Satu lagi, saya mau ngadain seminar tentang masalah yang berkaitan dengan kuliah kamu ini. Besok acaranya. Kalian semua wajib ikut ya. Bayarannya Rp 150.000 per orang. Nanti soalnya semua dari makalah saya di seminar itu.

7. Dosen super rajin. Bagi yang ingin membuat skripsi, sini saya mau jadi dosen pembimbing. Eh ssst, ini ada proposal sudah jadi saya bikinkan, kamu tinggal seminar aja. Ya gak papa, aduh, kamu tidak perlu sampai menyembah-nyembah saya begitu. Saya kan pembimbing kamu. Ngomong-ngomong, depan rumah saya itu sering banjir, maklum musim hujan gini. Sudah lama saya berniat meninggikan tanahnya, yah, sekaligus membuat taman kecil lah di depan rumah, biar asri. Oh, kamu tidak tahu alamat rumah saya? Ini kartu nama saya. Silakan kapan-kapan bertandang ke rumah.

8. Dosen super mesum. Tidak usahlah ini dipanjanglebarkan.

Jadi mahasiswa ternyata susah.

Pic taken from University of Kent website.

Pusat Studi Korea di Banjarmasin

Hari Senin kemaren, aku tergesa-gesa pulang kantor supaya masih sempat belajar. Ya, hari itu aku ujiaaan! *hiks* Ujian apa sih? Ujian Bahasa Korea. Aku datang ujian dengan perasaan gugup tapi excited. Gugup karena sering bolos. Excited karena sudah belajar, gitu loh. Tahu deh hasilnya. Kelihatannya setiap orang yakin banget dengan dirinya.

Asal mulanya, setengah tahun yang lalu, ketika jaga UMPTN di Rektorat Unlam, aku iseng-iseng jalan-jalan ke gedung di belakang Rektorat, habis lunch. Gedung di belakang Unlam itu dulunya perasaan cuma perpustkaan pusat deh, tapi sekarang bagian kanannya sudah menjadi Laboratorium Bahasa (pindahan dari gedung depan, setelah terbakar), dan sebelah kirinya kini menjadi seperti yang tertulis di depannya: Pusat Studi Korea.

Sejak masih di Jogja, aku sudah tertarik untuk ikut kursus bahasa Korea, sekaligus berminat dengan budayanya. Mulanya tertarik dengan film-filmnya (terutama anything by si cantik Jeon Ji-hyun dan Choi Min-shik) dan musik populernya. Lalu gara-gara Yeyen, teman sekos dulu, yang dapet kesempatan kuliah di Korea selama setahun, aku jadi iri dan pingin bisa juga bahasanya, biar kalo nonton dan nyanyi aku bisa paham.

Mahasiswa yang mempromosikan Pusat Studi Korea di acara Pameran UGM sangat bersemangat sekali, kelihatan seperti orang-orang Korea di film-film. Mereka meyakinkan diriku bahwa belajar Korea itu sangat-sangat-sangat mudah, cukup 1 bulan pasti sudah bisa nulis dan baca huruf-hurufnya yang aneh, yang banyak segiempat dan bulat-bulatnya itu, begitu kata mereka. Waktu itu aku sudah mau mendaftar, tapi karena kesibukan, tidak sempat-sempat.

Sebenarnya, aku selalu berniat mendaftar ke kursus bahasa, tapi tidak pernah kesampaian hehehe. Sebelumnya, aku ingin mendaftar kursus di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Jalan Sagan 3 Jogjakarta yang kelihatan cozy dan menyenangkan, lengkap dengan cafe dan perpustakaannya. Bahkan di auditoriumnya sering diadakan acara diskusi sastra, teater, pemutaran film, termasuk pentas baca dan peluncuran Serat Centhini. Aku juga berniat mendaftar kelas di kursus Bahasa Jepang, juga di Lembaga Indonesia Jepang Jalan Sagan. Asiknya kursus-kursus seperti ini, mereka mencampurkan belajar bahasa dengan belajar budaya. Aku juga sempat mau kursus Bahasa Jerman di Pusat Studi Jerman di daerah Sekip (Jalan Asem Kranji Jogjakarta), tapi gak jadi, karena nauzubillah mahalnya.

Balik ke Pusat Studi Korea di Banjarmasin. Pas aku iseng-iseng ke sana, aku disapa oleh seorang mahasiswa Indonesia dan seorang ibu-ibu dari Korea dengan sapaan khas Korea (waktu itu gak ngerti dia ngomong apaan): “Annyonghaseyo” sambil membungkukkan badan. Aku cuma senyum-senyum gak jelas, sambil menjawab: “Good afternoon.” Bego kan. Habis gak tahu mau ngomong apa, aku sudah kuatir jangan-jangan si ibu itu gak bisa ngomong Inggris. Ternyata, dia bisa ngomong Indonesia!

Aku pun bertanya tentang kursus yang diberikan dan langsung mau mendaftarkan diri. Ternyata, hiks, kursus dikhususkan untuk mahasiswa. Wah diskriminasi ini. Akhirnya, karena aku kelihatan begitu kepingin kursus, aku disuruh meninggalkan nomor telpon, siapa tahu mereka suatu hari membuka kursus untuk umum.

Begitulah, 3 bulan yang lalu aku di-sms, diminta datang ke Pusat Studi Korea, karena mereka membuka kesempatan untuk umum untuk ikut kursus, gratis lagi (paling demen sama yang gratisan). Dengan bersemangat, dari kantor aku langsung ke sana. Ternyata, hiks hiks, ternyata aulanya penuh dengan anak-anak krucil, mahasiswa tingkat awal kalau melihat keimutan mereka. Mereka menatap bajuku yang memang aneh sendiri: baju kerja, pake rok lagi. Mahasiswa sekarang kan pada jarang pake rok. Belum aku juga bawa tas kerja, untung hari itu gak menyeret-nyeret laptop. Minder deh. Setelah 1 jam kemudian, ternyata ada juga yang tuaan yang ikut, bapak-bapak dan ibu-ibu berbaju Pemda. Terus ada para dosen juga.

Menurut bapak-bapak berbangsa Korea yang membuka acara, Pusat Studi Korea saat ini hanya ada di 3 tempat, yaitu di Universitas Gadjah Mada, Universitas Islam Indonesia Jogjakarta, dan Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Yang di tempat lain aku gak tau, tapi yang di Banjarmasin tempatnya nyaman dan dingin, jendela di sepanjang dinding ruang-ruang belajarnya. Aulanya luas dan tinggi, lantainya kayu. Di dinding berjejer rak-rak rendah dimana tersusun rapi majalah-majalah populer dari Korea (berhuruf Korea), tourist guide, buku-buku tentang negeri Korea, buku cerita, boneka, sepatu, dan macam-macam kerajinan tangan.

Akhirnya, kursuslah saya. Karena tempat kerja dan Rektorat yang beda kota, aku harus memilih hari Senin untuk kursus. Jam 2 lagi, gila kan. Mesti pulang jam 12 dari kantor. Untung cuma sekali seminggu. Sudah itu, hari Senin itu semua pengikutnya para krucil itu. Untungnya tidak ada yang menduga aku bukan mahasiswa, soalnya aku ditanya fakultas mana dan baru (!) semester berapa. Huh, ternyata diriku masih imut rupanya mukanya yah *narsis sendiri*

Boleh sih bangga dengan wajah sendiri, tapi pas begitu sudah ngomongin belajar bahasa, memang otak tua susah dibandingin dengan otak bayi-bayi itu, ketahuan deh bahwa sudah uzur. Lagian model belajarnya benar-benar model jaman baheula ding. Sang guru (si ibu-ibu Korea itu) membaca satu kalimat, semua mengikuti, terus satu-satu disuruh membaca, terus pada akhir session, satu-satu ke depan disuruh menghapal satu halaman percakapan dalam bahasa Korea. Haduh, otakku ini kan sudah gak punya laci lagi! Hu… bete. Para bayi itu dengan mudahnya nyerocos sampai berbusa di depan menghapalkan kalimat-kalimat panjang.

Setelah berminggu-minggu, terbukti kata-kata mahasiswa di Jogja dulu bohong adanya. Huruf-hurufnya yang kelihatan lebih sederhana daripada huruf Jepang dan Cina itu ternyata tidak semudah itu diingat-ingat. Ada banyaks ekali vokal, ada 3 jenis penulisan huruf e, ada 2 jenis huruf o. Belum pengucapannya, huruf j kadang dibaca c, huruf g kadang dibaca k, huh! Kok tidak seperti huruf-huruf Indonesia, what you see is what you get. Kalo didiktekan, susah deh, mau nulis pake huruf e yang mana, o yang mana, apa pake j atau c atau ch, dsb. Belum ngapalin vocabulary-nya. Kamus kecil yang kubeli bener-bener tak berguna, mestinya membeli kamus yang pake tulisan Korea asli. Nah, tetapi kalo tata bahasanya, ternyata tidak seribet bahasa Inggris yang kebanyakan tenses dan irregular verbs. Atau belum?

Sampai sejauh ini, kursusnya agak membosankan. Kulturnya gak diajarin sama sekali. Orang-orang Korea yang tadinya ada di awal-awal masa kursus, sekarang entah pada ke mana, mungkin lagi liburan pulang kampung ke Korea. Sekarang yang ngajar orang Indonesia. Gak ada nyanyi-nyanyi atau maen game 😦 Diktatnya juga sederhana sekali, bagian tata bahasanya tidak begitu jelas, kalau tidak dengan bantuan situs Learn Korean, aku pasti agak bingung. Tapi mungkin juga itu karena gratis ya. Kalau sudah cukup banyak dapet dasar-dasarnya, aku mau berhenti aja kursus, belajar otodidak saja lah.

Gosipnya, semester-semester ke depan, bahasa Korea ini akan dimasukkan ke kurikulum semua fakultas, mungkin sebagai mata kuliah pilihan. Kalau bukan orang yang memang tertarik pada bahasa, kelihatannya mata kuliah ini akan kurang populer. Yang ikut pun pasti terpengaruh romantika film-filmnya. Waktu gosip ini aku sampaikan ke Dekan dan Pembantu Dekan, mereka cuma tertawa meremehkan, mendengar gosip itu. Pelajaran bahasa kelihatannya sulit mendapat tempat ya di FK? Sekarang Bahasa Inggris saja dihapuskan dari kurikulum hampir semua FK se-Indonesia, dianggap tidak penting, menuh-menuhi transkrip, dan buat mengurangi beban mahasiswa kedokteran yang sudah overwhelming itu. Padahal tanpa Bahasa Inggris, bagaimana mereka bisa memahami artikel-artikel ilmiah dan buku-buku teks yang ditulis dalam bahasa Barat itu? Mungkin disuruh “learning by doing” seperti kebanyakan ilmu di keprofesian dokter 😀

SPMB 2006 Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin

Kemaren dan hari ini, tanggal 5-6 Juli 2006, Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin padat dengan manusia. Maklum pada tanggal-tanggal itu, para calon mahasiswa baru mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB) atau UMPT kalo istilah jaman aku dulu. Nah, tahun ini, sesudah terakhir bertahun-tahun yang lalu, aku kembali kebagian tugas mengawas. Bukan sesuatu yang aku sukai sebenarnya, hiks hiks, bosennya itu loh gak ketulungan, kan jadi ngantuk kalo tidak melakukan apa pun selama berjam-jam.

Tahun ini, di seluruh Indonesia terdapat 340.348 cama atau calon mahasiswa (hmmm, cama-cami kok mengingatkan pada istilah perpeloncoan ya?) yang berkompetisi memperebutkan 90 ribu kursi di 1799 program studi di 53 perguruan tinggi negeri. Sekitar 1 banding 4, lah. Banjarmasin termasuk Regional II, bersama-sama daerah Kalimantan lainnya, Jateng, dan DIY. Yang ikut ujian di Regional II sebanyak 56.708 orang. Yang ujian di Unlam Banjarmasin sebanyak 3.080 orang yang terdaftar, tetapi sebanyak 103 orang ternyata tidak hadir pada hari pertama SPMB, tidak tahu kenapa. Mungkin ada yang sudah lulus PMDK dan harus mengikuti matrikulasi.

Tahun ini Unlam mentargetkan menerima mahasiswa baru sebanyak 2.675, terdiri dari penerimaan melalui jalur SPMB sebanyak 1.430 orang, jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan) sebanyak 1.100 orang, jalur mandiri alih jenjang sebanyak 40 orang, dan jalur mandiri reguler sebanyak 105 orang. Apaan ya itu jalur mandiri?

Yang mandiri alih jenjang di sini sepertinya yang dimaksud penerimaan mahasiswa alih jenjang PS Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kedokteran Unlam, yang memang ditujukan untuk lulusan D3 kesehatan yang ingin meningkatkan pendidikannya menjadi sarjana. Kebanyakan sih yang ikut orang yang sudah bekerja, makanya kuliahnya cuma Sabtu-Minggu, selesai cuma dalam 4 semester.

Yang jalur mandiri reguler ni kelihatannya benar-benar jalur mandiri, tanpa tes. PS Kesehatan Masyarakat jalur reguler memang hanya dibuka untuk jalur mandiri, biasanya yang tidak lulus PMDK di FK (PMDK untuk masuk FK Unlam memang diberikan tes tambahan yaitu tes kemampuan akademik, psikotest, dan tes kesehatan; makanya namanya PMDK Plus) ditawari masuk ke PS Kesehatan Masyarakat. Selain itu, PS Farmasi (di bawah Fakultas MIPA) juga hanya menerima mahasiswa melalui jalur mandiri. Menurutku jalur mandiri ini membuat input mahasiswa kurang kompetitif, kenapa tidak dibuka jalur SPMB saja?

Ini denah pelaksanaan SPMB. Menurutku kurang akurat nih denahnya, aku kan jaga di Lantai 3 Gedung Rektorat, kebagian jaga yang IPC (IPA & IPS). Di denah kok dibilang IPS?

Hari I, ujian mulai jam 9 sampai jam 11.30 WITA, menguji Kemampuan Dasar: Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Matematika-nya aduh mak! Kok sulit sekali ya (atau aku yang sudah kelamaan tidak ketemu soal matematika ya)? Malah lebih mudah soal-soal Matematika pada Hari II (Kemampuan IPA). Kasian kan yang IPS, yang juga harus mengerjakan soal-soal Kemampuan Dasar ini. Bahasa Indonesia-nya sepertinya pilihan jawabannya mirip-mirip, belum pilihannya yang aneh-aneh kalimatnya (seperti di-copy and paste dari kalimat-kalimat di koran atau buku). Kesalahan struktur bahasa dibilang kesalahan ejaan. Atau mungkin aku yang sudah tidak mengerti lagi bahasa Indonesia. Bahasa Inggrisnya lumayan mudah lah.
Hari II, ujian mulai jam 08.30 sampai jam 11.00 WITA, menguji Kemampuan IPA: Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, dan IPA Terpadu. Jam 12.00 sampai jam 13.30 WITA menguji Kemampuan IPS: Sejarah, Ekonomi, Geografi, dan IPS Terpadu. Seperti biasa, IPA Terpadu dan IPS Terpadu selalu menjadi soal paling sulit dan “aneh”. Cuaca panasnya minta ampun. Para cama-cami itu kelihatan kuyup, tidak hanya karena soal, tapi juga karena 4 AC dan 2 kipas angin yang tidak berfungsi.

Soal dibuat dengan 2 tipe, ganjil dan genap. Yang nomor ujian ganjil dapet soal ganjil, begitu pula sebaliknya. Tempat duduk diatur sehingga secara horisontal dan vertikal mereka tidak mendapatkan soal yang sama. Enak yang menjadi pengawas, bisa santai.
Sebenarnya bukan soal yang berbeda sama sekali sih, cuma nomornya yang dipertukarkan. Bahaya betul kalo yang memeriksa (komputer Labkom UI ya?) sampai salah kunci jawaban. Seperti biasa, jawaban benar diberi nilai 4, yang salah minus 1, yang dikosongin dapet nilai 0. Jadi menjawab ngasal tidak mungkin. Ada satu orang cama yang 1 jam sudah selesai mengerjakan soal pada Hari I. Aku sampe tercengang. Sisa waktu dia habiskan dengan menggambar-gambar di bagian belakang buku soal. Aku pikir ni anak jenius apa ya? Ternyata pada Hari II dia sudah tidak muncul lagi. Rupanya hari I itu dia pusing dan menjawab asal saja.

Menurut situs SPMB 2006, pengumuman akan dilakukan secara online di situs tersebut pada tanggal 4 Agustus mulai jam 6 sore. Beda dengan apa yang dikatakan oleh pejabat di Unlam yang mengatakan bahwa pengumuman akan dilakukan pada 5 Agustus. Mungkin pengumuman secara offline, kali ya.

Kelihatannya persiapan untuk SPMB ini bagus juga. Unlam menyediakan fasilitas untuk ujian SPMB di RS bagi yang tidak bisa ujian bersama di Unlam karena sakit. Bahkan disediakan soal ujian dalam huruf Braille, walau ternyata tidak ada cama tunanetra yang mendaftar. Di Indonesia memang belum umum bagi tunanetra untuk mendapat perlakuan yang sama, sehingga wajar kalau si tunanetra sendiri tidak tahu bahwa disediakan fasilitas seperti ini untuknya. Tapi mestinya tidak berhenti di situ saja. Kalau sudah lulus, apakah cara belajarnya juga diadaptasi agar bisa diakses oleh tunanetra? Kalau ternyata tidak, ya, sia-sia saja.

Huff… SPMB. Banyak sekali yang berminat, dan jelas sekali hampir semua berusaha keras untuk menjawab dengan baik. Tapi tahukah mereka apa dan seperti apa nanti kuliah mereka? Apa saja mata kuliahnya nanti, apakah sesuai dengan pasar kerja, apakah mendorong mereka untuk mandiri, apakah sistem pendidikannya obyektif? Jarang sekali cama-cami yang mencari info sampai ke situ. Pokoknya kuliah, yang penting lulus di uni pilihan. Mau kurikulumnya kayak apa, cara ngajarnya kayak apa, lulusannya siap kerja atau tidak, itu bukan jadi acuan untuk memilih program studi/fakultas/universitas. Ujung-ujungnya, lulus jadi sarjana tanpa punya kemampuan untuk bekerja, tidak mampu bersaing, dan tidak mengerti mau jadi apa mereka sebenarnya. Akhirnya, kuliah bertahun-tahun hanya pemborosan saja. Sayang sekali, padahal biaya pendidikan semakin mahal. Ada gak ya pembimbingan di SMA untuk memilih program studi yang pas dari segi kemampuan akademik, minat, bakat, kemampuan finansial, trend pasar kerja, dan cita-cita?

Pics taken from: Banjarmasin Post