Category Archives: environment

Rantai Makanan di Sekitar Rumah

Gara-gara ngomongin rantai di postingan sebelumnya, jadi inget komentarku bahwa my mom (tepatnya mungkin seisi rumah) menyebabkan gangguan ekologi dengan mem-bypass satu atau dua link di rantai makanan.

Seisi rumah itu orangnya gak tegaan. (Mungkin ini salah satu penyebab diriku susah bilang TIDAK. Pemirsa: Very good, mina, you blame your family for your inability to control your weakness). Dan ini berkontribusi pada perubahan rantai makanan di sekitar rumah.

Di sebelah rumah ada kolam (sebenarnya sih sungai yang buntu, dulunya dia mengalir, tapi dengan pembangunan berbagai hal dan pembuatan jalan, sungainya berubah jadi kolam). Tentunya banyak ikan, haruan terutama. Kolam dan ikan di dalamnya ini menarik seisi kampung untuk mendatangi dan memancing (atau langsung aja ditangkap pake tangan saking pemalasnya ikan-ikan ini). Continue reading →

Advertisements

Blog Action Day 2009: Air Conditioning

Hari-hari yang super panas. BMG bilang suhu maksimum hari ini dan besok sekitar 33 derajat, namun hari-hari lalu suhu maksimumnya mendekati suhu badan manusia.

Diri saya ini manusia yang lahir di negara tropis, di pulau yang kelewatan garis katulistiwa. Walau kota Banjarmasin berada lumayan jauh di selatan garis, saya sudah biasa dengan suhu panas menggelantangnya yang mungkin bisa membuat turis-turis dari Inggris  bergeletakan mati dalam kondisi kering di pinggir-pinggir jalan. Tapi tetep saja ya, rasanya panasnya hari semakin meningkat saja. Jadi manja dan inginnya ruang kantor ber-AC. Apa? Kantor kalian semua sudah ber-AC? Ya, ruangan saya memang ber-AC, tetapi, dasar banyak maunya, saya lebih senang menggusur analis saya dari mejanya yang berada di ruangan yang hanya disegarkan oleh banyak jendela dan sebuah kipas angin. Walau mungkin, itu hanya karena saya lebih senang ngobrol di ruang analis daripada bekerja serius di ruangan sendiri. Tetapi kalau panas, tetap saja mengeluh, maka, mumpung kantor lagi berfoya-foya merenovasi kantor, akhirnya ruangan analis juga dipasangi AC.

Nah, beberapa hari lalu, kantor kami yang gedungnya sangat banyak itu didatangi orang kantor pusat, diintipi ruangan-ruangannya. Pasalnya, sejak bulan-bulan terakhir ini, pada siang hari yang harusnya  merupakan waktu bagi orang-orang kantoran seperti saya sibuk-sibuknya menggunakan komputer untuk bekerja (sebelum ada yang menyela, oke, kadang untuk internetan juga), listrik di sebagian besar gedung kantor saya mati, umumnya dari jam 11 sampai waktu yang tak terbatas. Ya, kantor saya gak punya generator listrik, kecuali untuk gedung utama. Saya adalah staf yang berada di gedung non-utama, 3 gedung intervalnya dengan gedung utama. Sebagai makhluk yang tidak sanggup hidup tanpa listrik, komputer, dan telpon yang kehabisan batre, saya memilih pulang, di rumah saya lebih keren: mati lampu hanya kalo saya lagi di luar rumah atau kalau saya sedang tidur (bertolak belakang dengan mati air: selalu terjadi kalau saya ada di rumah). Nah, orang-orang kantor pusat itu datang untuk menjenguk, kenapakah kok ada laporan mati lampu melulu, padahal kapasitas listrik baru saja ditingkatkan beberapa bulan sebelumnya?

Sesudah inspeksi tersebut, mereka memutuskan bahwa: terlalu banyak AC di kantor saya. Tentunya. Kita punya 12 ruang diskusi kecil yang masing-masing muat untuk 15 mahasiswa,plus 12 ruang skillab kecil, semua ber-AC. 5 ruang kuliah besar dengan 4 AC di masing-masing ruangan. 4 ruang kuliah kecil dengan minimal 1-2 AC per ruangan. 1 ruang kuliah teater dengan 2 AC biasa plus 1 standing AC yang besar. Ada 4 gedung dengan 3 lantai, plus 1 gedung dengan 2 lantai dan 1 gedung lagi dengan 1 lantai, tiap lantai mempunyai 2-3 ruang dosen/kepala bagian, masing-masing ber-AC. Perpustakaan dengan AC segabruk. Lab komputer dengan 3 AC. Laboratorium Biologi Molekuler yang penuh AC. Semua ruang administrasi di Gedung Utama ber-AC (ada 2 lantai dengan banyak sekali ruangan). Apalagi dengan renovasi semua gedung saat ini, ruangan-ruangan di semua gedung disekat-sekat lagi, dan dikasi AC lagi masing-masing. Apalagi kalau Aula Utama dinyalain, ada 2 standing AC yang gede, dan banyak sekali AC biasa.

Itu baru AC. Belum listrik yang digunakan untuk komputer/laptop dan segala pirantinya, LCD projector, sound system, lampu, kipas angin (ya, semua ruangan kuliah dan aula itu ada banyak kipas anginnya juga di langit-langit), kulkas, TV, jaringan internet, alat-akat laboratorium yang lapar listrik. Tapi, tentunya, alat-alat ini sangat diperlukan untuk kelancaran belajar-mengajar. Nah, kalau AC, bagaimana?

Waktu saya kuliah dulu (hahahaha, mahasiswa pasti langsung males bila kalimatnya dimulai dengan kata-kata ini), mana ada sih AC di ruang kuliah? Oke, deh. Jaman saya kuliah itu memang jaman yang cukup jadul sehingga teknologi henpon pun masih khayalan saja bisa dimiliki oleh saya, apalagi sampai bisa dimiliki tukang becak. Padahal ruang kuliah yang sekarang adalah ruang kuliah yang saya pakai dulu juga. Makanya ruangannya penuh jendela di sepanjang sisinya. Kok tenang-tenang aja ya mahasiswa waktu itu.

Mahasiswa sekarang pasti berkomentar: sekarang kan lebih panas daripada dulu (sok tau). Dan memang ternyata menurut NASA, tiap dekade, suhu rata-rata di bumi meningkat sekitar 0,2 derajat celsius selama 30 tahun terakhir. Jadi dibanding tahun 1970-an, sudah naik 0,6 derajat! Kalau ini terkesan kecil, coba bayangkan suhu naik 0,5 derajat celcius aja dari suhu normalmu, badan meriang-meriang gak enak kan? Yah kalau badan demam, bisa diturunkan dengan Parasetamol, kalau bumi yang demam? Kalau suhu bumi terus meningkat dengan kecepatan itu, maka gunung-gunung es akan mencair, permukaan laut naik, beberapa daratan akan menghilang (bye-bye Belanda, jangan-jangan Banjarmasin juga tenggelam), topan badai meningkat, hilangnya habitat dan spesies tertentu,  munculnya banyak penyakit akibat suhu dan bencana yang terjadi, dan banyak lagi.

Ayo tunjuk siapa yang menyebabkan suhu bumi naik? Menggunakan mekanisme defensif proyeksi, maunya menunjuk hidung orang lain dulu. Suhu bumi naik, konon, karena gas yang memerangkap panas di atmosfir bumi, sehingga bumi menjadi panas kayak wajan. Atau sering disebut efek rumah kaca. Bukan, bukan grup band yang itu. Bukan berarti efek rumah kaca adalah sesuatu yang jelek, malah tanpa efek ini, bumi kita akan sedingin es, bisa sampai minus 18 derajat celsius, kecoak aja gak bisa hidup.

Lalu kalau efeknya bagus begitu, kok ya diributkan? Karena manusia mengakibatkan lepasnya gas-gas yang meningkatkan efek rumah kaca ini (gak sadar mulai menunjuk hidung sendiri). Maksudnya, gas dari flatus? Jadi kita gak boleh flatus dong? (ada yang sotoy nanya). Er…. yah, walau gas flatus memang mengandung CO2 dan metana, bukan gas dari sana, ya, yang saya maksud. Gas-gas yang dimaksud antara lain adalah CO2, metana, NO, ozon, dan CFC.

Mari kita balik ke AC tadi. Hari panas (kadang, pada hari tidak panas pun), AC dinyalakan. Untuk menyalakan AC, memerlukan listrik. Menurut perhitungan Carbonrally.com, 1 AC saja sudah menghabiskan 16% rekening listrik tahunan sebuah rumah, atau diperkirakan hampir 950 kWh listrik per tahun untuk rumah dengan AC model window unit. Kalau di sini biaya listrik 700 rupiah-an per kWh, maka rata-rata sistem AC itu berharga 665.000 rupiah setahun. Mungkin angka yang kecil buat orang yang mampu memasang AC di rumah, tetapi kalau kita lihat harga yang harus dibayar akibat pelepasan CO2 karena penggunaan listrik bersumber sumber daya minyak, gas alam, dan batu bara untuk menyalakan AC ini? Kita tahu bahwa suplai listrik yang suka bergiliran mati-nyala di Kalselteng ini selain diperoleh dari tenaga air dari PLTA Riam Kanan, juga dari tenaga uap dan diesel dari PLTU Asam-asam, dan beberapa PLTD.

Jadi, kantor saya kelihatannya merupakan salah satu penyumbang pelepasan CO2 yang besar di Kalimantan Selatan. Saya rasa kantor anda juga. Himbauan kantor pusat untuk melepas sebagian AC ditanggapi dengan rengutan oleh para staf. Apa? Panas-panas gini disuruh mendinginkan diri dengan kipas? Permintaan seekstrim itu di bulan-bulan panas akan ditanggapi seperti angin lalu. Lalu bagaimana dengan efek rumah kaca dan segala peningkatan suhu bumi itu?

Kalau tidak tahan hidup tanpa AC, paling tidak kita bisa:

  • Memposisikan AC di tempat yang tidak kena sinar matahari langsung. Penggunaan listriknya akan lebih tinggi bila kepanasan.
  • Mengatur suhu AC. Kalau tidak terlalu panas, posisikanlah suhu AC pada suhu kamar, sekitar 24-25 derajat Celsius. (Kalau nenek saya malah menganggap suhu 25 derajat itu masih sangat dingin, walau salah seorang dosen saya bilang suhu begitu seperti berada dalam neraka).
  • Mematikan AC kalau meninggalkan ruangan dalam waktu cukup lama.
  • Sering-sering membersihkan filternya, agar tidak berdebu. Semakin sulit AC-nya mengisap udara melalui filter, semakin tinggi penggunaan listriknya. Lagian, filter berdebu bisa mendatangkan penyakit pernafasan.
  • Gunakan kipas angin, man. Penggunaan listriknya lebih kecil daripada AC.
  • Kalau tidur (ada ya yang tidur di kantor? hehehhe maksud saya, ini kalau AC-nya di rumah), diatur secara otomatis agar mati pada jam tertentu. Umumnya, kecuali pada puncaknya musim kemarau, mulai tengah malam ke pagi suhu cenderung lebih dingin. Kalau perlu, buka jendela (warning: ini hanya berlaku kalau jendela terbuka tidak menarik maling, atau kelelawar, masuk. Tahu-tahu pas bangun sudah jatuh miskin atau menjadi vampir. Atau dua-duanya).
  • Kalau ini dilakukan di Jepang: staf gak usah pakai jas, gak usah pakai dasi. Kalo ini mah sudah saya lakukan sejak dahulu kala sejak saya tahu saya bekerja di kota sebelah. Kalau orang ke kantor pakai blazer, saya pakai kemeja atau blus pendek. Sebuah perusahaan di jepang, meadownics, malah memproduksi baju yang eco-friendly: baju ber-“AC”, jadi badan tetap dingin walau di luar panas. Jadi bajunya dikasih kipas angin (diameter 10 cm) 2 biji, dengan dial buat mengatur aliran udaranya. Sounds primitive :p

Walau AC hanya satu hal kecil yang meningkatkan salah satu gas rumah kaca, tapi perubahan kecil yang kita lakukan di kantor kita mungkin bisa memberi kontribusi bagi melambatnya terjadinya peningkatan pemanasan bumi.

Bagaimana di kantor Anda?

Tulisan ini dibuat dalam rangka Blog Action Day 2009 (Topik: Climate Change).

[Blog Action Day]: Kantong Plastik

plastik1.jpg Kalau pas berbelanja di sebuah toko, saya paling senang apabila mendapat kantong belanjaan, yang biasanya terbuat dari kertas atau plastik -paling sering sih plastik- dengan nama toko itu tertulis jelas. Banyak keuntungannya, mulai dari: Kalau ditanya orang, wah kuenya enak, beli dimana? bisa pesen gak ya? Saya tinggal membongkar tempat penyimpanan plastik, dan menyebutkan dengan fasih nama, alamat, dan sekaligus nomor telpon toko penjual kue tersebut. Sangat bermanfaat karena saya sangat pelupa. Kantong plastik juga bisa buat membawa kertas-kertas saya yang seabrek-abrek ke kantor. Keren pula, ada nama tokonya. Oh, begitu duniawi. Nenek saya suka memberikan kantong plastik bekas ke penjual sayur di pasar, katanya biar gak susah beli. Kantong plastik yang sudah agak jelek bisa punya fungsi ganda jadi tempat sampah.

Kantong plastik belanjaan biasanya terbuat dari polietilen, dan kita tahu polietilen terbuat dari minyak mentah, gas alam atau hidrokarbon lain, yang merupakan sumber daya alam yang tidak bisa diperbaharui. Bahan bakar dari fossil ini juga diperlukan untuk menyuplai energi saat produksi. Kabarnya, produksi kantong plastik menggunakan 8% produksi minyak dunia. Namun, biaya produksinya yang murah dan kemampuan dahsyatnya untuk tidak memakan tempat membuat kantong plastik menjadi populer di Indonesia.

Sebenarnya, dengan kemampuannya tidak memakan tempat, dalam model pembuangan sampah landfill, semestinya sampah kantong plastik juga tidak akan banyak memakan tempat. Tetapi tunggu dulu, apakah kantong plastik akan pernah sampai ke tempat pembuangan akhir (TPA)? Tidak, sebagian akan terapung-apung di selokan atau di sungai, di sudut-sudut jalan, bahkan nyangkut di atap rumah nenek saya (karena ada layangan seseorang yang dibuat dari kantong plastik bekas nyangkut di sana). Setiap tahun, orang Amerika membuang 100 milyar kantong plastik bekas, dan hanya 0,6 persennya yang sampai ke tahap recycling. Bagaimana dengan Indonesia? Tentu lebih banyak, karena, kalau Trish bilang, orang Indonesia itu menderita “plastic-bag mania”. Dan jangan harap akan di-recycle. Kalaupun sampai ke TPA, paling-paling kantong plastik ini akan menjadi polusi visual, dan yang akan peduli dengan nasib kantong-kantong plastik itu hanya para pemulung yang berharap menemukan barang yang bisa dijual, tikus, anjing dan kucing jalanan, serta segala mikroba di TPA.

plastic2.jpgDalam kondisi normal, kantong plastik ini butuh waktu sangat lama untuk hancur, beratus-ratus tahun loh kalo dibiarkan di TPA tanpa diapa-apakan. Bayangkan, kalau kita ke pasar tradisional saja setiap hari, dan anggap kita hanya membeli dari 3 pedagang, pedagang ikan, pedagang sayur, dan pedagang buah, yang masing-masing memberikan hanya satu kantong plastik, kita akan membuang plastik bekas sebanyak 3 buah sehari ke lingkungan. Belum ditambah dengan kantong plastik yang kita jadikan lapisan dalam tempat sampah. Belum kantong plastik yang disumbang oleh penghuni rumah lain. Setiap rumah tangga dalam sehari akan menyumbangkan kurang-lebih 5-7 kantong plastik terkontaminasi dalam sehari. Bayangkan kalau yang membuang 1 kecamatan, satu kota, satu negara. Kalikan 30 hari. Kalikan 12 bulan. Semakin lama semakin banyak, sedangkan penghancurannya di TPA bisa dibilang stagnan, membuat timbunan sampah semakin tinggi.

Itu kalau kita rajin mengumpulkan sampah dan tukang sampah rajin mengumpulkannya ke TPA. Bagaimana kalau kantong sampah itu bernasib lain seperti yang telah saya sebut di atas? Selain tidak enak dilihat, bisa membuat selokan buntu sehingga berpotensi banjir di musim hujan, jadi sarang nyamuk, membuat sungai mampet dan berbau, serta membunuh hewan air. Ada penelitian yang mengatakan bahwa kantong plastik dan sampah plastik lainnya mampu membunuh sampai 1 juta burung laut dan 100.000 ikan paus, anjing laut, dan penyu setiap tahunnya.

Kalau begitu apa yang harus dilakukan? Mari kita mencontoh negara lain yang telah mengalami kesulitan dengan sampah dari kantong plastik.

  • Di Bangladesh, kantong plastik dilarang karena pembuangan kantong plastik yang semena-mena terhadap lingkungan telah membuat buntu selokan, sampai banjir. Di Perancis, ban terhadap kantong plastik akan dilakukan mulai tahun 2010. Taiwan, Zanzibar, dan beberapa daerah di Alaska juga melarang penggunaan kantong plastik.
  • Di Irlandia, setiap kantong plastik akan dikenakan denda 15 sen, sehingga menurunkan penggunaan kantong plastik.
  • Pemerintah Afrika Selatan mewajibkan produksi kantong plastik yang lebih tebal (minimal 30 mikron) dan lebih tahan lama, yang mudah di-recycle, serta tentu lebih mahal, sehingga penggunaan kantong plastik menjadi menurun. Karena kantong plastiknya tahan lama dan tidak cepat rusak, makan kantong-kantong ini bisa digunakan berulang kali. Kalaupun dibuang, bisa di-recycle.
  • Pemerintah Australia mengkampanyekan “Say NO to plastic bags“, yang mendorong pembeli dan penjual untuk menggunakan kantong alternatif dan meningkatkan recycle kantong plastik.
  • Chain supermarket, seperti Carrefour, memberikan diskon apabila membawa kantong plastik sendiri, atau apabila pembeli meminta kantong plastik, mereka harus membeli. Yang terakhir ini diberlakukan di Makro di kota saya. Sempat jadi misuh-misuh para ibu, dibilang supermarket yang pelit. Entah mereka memang pelit atau mereka memang punya tujuan lebih mulia.
  • Pemerintah Taiwan mewajibkan restoran dan supermarket untuk menagih biaya tambahan apabila pembeli membeli kantong plastik dan barang dari plastik. Penggunaan barang dari plastik menurun dengan cepat.
  • Pemerintah kota Sydney mengadakan kampanye selama 2 bulan untuk mendorong masyarakat menukarkan 20 kantong plastik dengan 1 tas dari calico, dengan harapan mereka akan menolak apabila suatu hari diberi kantong plastik, dan menggunakan tas calico atau tas lainnya yang bisa di-recycle.
  • Produksi kantong plastik yang biodegradable, sehingga bisa di-recycle, menurunkan jumlah bahan alam non-renewable yang diperlukan untuk memproduksi kantong plastik. Kriteria biodegradable ada 3, yaitu: kantong plastik harus habis tanpa meninggalkan jejak, penghancurannya harus terjadi dalam 3-6 bulan, dan tidak boleh menyisakan residu yang toksik. Di Austria dan Swedia, McD sudah menggunakan kantong plastik yang biodegradable.
  • Penggunaan kantong belanjaan dari kertas atau kain yang bisa digunakan kembali, seperti yang sering kita lihat di film-film.

Terus, itu kan usaha orang lain untuk skala lebih besar. Bagaimana dengan diri kita sendiri? Saya tidak tahu apakah kantong plastik yang biodegradable tersedia di sini. Tetapi paling tidak kita bisa melakukan hal berikut:

  • Tidak perlu meminta kantong plastik kalau belanjaan sedikit. Tirulah Trish yang membawa backpack kalau mau belanja.
  • Simpan kantong plastik yang masih bisa dipakai, untuk dipakai ulang kalau diperlukan. Kurangi membuang kantong plastik ke lingkungan. Wah, gak kepikir nenek saya sudah melakukannya sejak dulu.
  • Apabila menggunakan kantong plastik sebagai kantong sampah, tunggu sampai penuh dulu baru menyerahkannya pada tukang sampah.
  • Ajak orang lain untuk melakukan hal serupa.

Semoga dunia kita akan menjadi dunia yang lebih bersih, sehat, dan berumur panjang.

Tulisan ini dibuat untuk Blog Action Day. Tadinya saya lupa, sampai saya membuka Thunderbird dan membaca RSS feed dari blognya anto dan zam. Yah, mudahan masih bisa dihitung posting tanggal 15 Oktober 🙂

Beberapa informasi saya peroleh dari Wikipedia. Pics diambil dari situs Flexible Packaging Plastic Bags dan Metroblogging Karachi.