Category Archives: Food

Alkmaar Cheese Market

IMG_20160805_084138
Tadinya tulisan ini lebih untuk memberi tips buat yang mau ke the famous Alkmaar Cheese Market, tapi rasanya tidak lengkap kalau diriku tidak berbagi tentang kenapa diriku begitu excited mau ke sana.
Jadi buat yang ke sini cuma buat baca tips, silakan skip langsung ke bagian habis tanda ++++++.
Buat yang suka baca langsung tentang hari-H, langsung skip ke bagian ********.
Buat yang punya hobi aneh baca biografi gak penting yang panjang-lebar kemana-mana, silakan baca terus dari sini.

Jadi waktu diriku masih SMP, senang mendengarkan radio luar negeri yang mempunyai slot radio Indonesia. Dulu (mungkin sekarang masih) kita bisa menangkap siaran radio luar negeri di gelombang pendek (SW), dan ada hari-hari dan jam tertentu didedikasikan oleh radio-radio tersebut khusus untuk siaran berbahasa Indonesia oleh penyiar orang Indonesia yang tinggal di sana. Juga ada pelajaran bahasa Inggrisnya. Paling sering mendengarkan Radio Australia siaran Indonesia. Dulu mereka begitu terkenal (setidaknya menurut kami di rumah) sampe kami hapal muka-mukanya, karena suka ada artikel tentang mereka di majalah. (Gak aneh sih, secara orang rumah dulu juga bahkan hapal muka dan nama para model di majalah Femina dan Gadis). Continue reading →

Kangen ikan asin…

agi

Makan malam temen. Pic dari FB-nya.

Hari ini teman saya yang kuliah di Thailand memasang foto makanan home-made dia tadi malam: nasi panas, ikan sepat asin (Banjar: iwak karing sapat), dan telur dadar (yang saya sangka mandai). Dia sedang sekolah S3. Sudah jamak banget bahwa seseorang yang jarang atau tidak pernah memasak di rumahnya sendiri di Indonesia, ketika sekolah dan tinggal sendiri di luar negeri, mendadak jadi suka memasak dan sangat menghargai segala jenis bahan makanan dari Indonesia. Ini karena kita cenderung lebih menghargai sesuatu bila sesuatu itu sudah tidak ada atau susah didapat, dan juga karena orang sekolah dan lagi banyak kerjaan (tugas kuliah dan macam-macam yang school-related) itu suka sekali berprokrastinasi melakukan hal-hal yang dalam kondisi normalnya di rumah sendiri itu tidak suka dia lakukan. Apa pun asal jangan mengerjakan tugas wajib.

Dia beruntung masih tinggal di Asia, yang orang-orangnya juga menggunakan bumbu dan bahan makanan berbau sama kerasnya dengan kita. Tapi kalau tinggal di Eropa, bahkan di Belanda yang orang-orangnya sebagian besar suka masakan Indonesia, agak ribet kalau ingin makan ikan asin. Saya beruntung tinggal di rumah orang Turki, dengan dapur sendiri yang terpisah dari dapur mereka. Tapi karena dapur saya ini dapur-dapuran istilahnya, bukan dapur set lengkap dengan exhauster di atas stove, jadi exhauster-nya adalah jendela (kecil) yang dibuka lebar-lebar kalo lagi memasak. Saya tidak menyadari hal ini kalo di Indonesia, tapi sesudah di sini, saya sensitif sekali pada bau yang melekat di baju/rambut/segala sesuatu berbahan kain (misalnya penutup sofa, jemuran, tirai jendela) di ruangan yang sama dengan ruangan tempat kita memasak. Apalagi mereka ya kan. Mungkin karena sistem rumah yang tertutup rapat (kalau lagi tidak musim panas). Diriku bisa tahu seseorang habis duduk di dapur orang Asia atau habis makan di rumah makan Asia atau rumah makan yang dapurnya jadi satu dengan ruang makan, hanya dengan sekilas dia lewat. Continue reading →

Berlangganan … Apa Saja

Ide tulisan ini muncul gara-gara sebuah post di salah satu grup di Goodreads dari member (orang Indonesia) yang membuat sebuah survey kecil tentang pendapat kita tentang Bookbox Subscription. Saya tadinya mengisi survey aja (salah satu hobi nih) sesudah membaca latar belakang kenapa dia membuat survey ini, tanpa komen. Eh ternyata dia membuat postingan sama di grup lain di Goodreads, dan dikomen oleh salah satu temen baik di Goodreads. Lalu ngobrollah di sana. Okey, diriku akui post ini lebih cocok dipasang di blogku yang satunya, tapi karena isinya tidak hanya tentang buku, ditulis di sini deh.

Balik ke Bookbox subscription. Jadi ini sebenarnya bukan ide baru. Di US, blog-blog untuk book-podcasts dan klub buku biasanya menawarkan subscription untuk Bookbox ini. Apa sih Bookbox? Jadi tiap suatu periode (misalnya 3 bulan, atau pas momen tertentu, misalnya Natal, Valentine, dsb), mereka mengirimkan satu paket ke subscribers. Karena namanya Bookbox, isinya tentunya buku, biasanya cuma 1, tapi ada juga yang beberapa buku tergantung tipe subscriptions. Bukunya biasanya buku yang bener-bener baru terbit (masih anget istilahnya), dan biasanya edisi hardcover. Yap edisi yang tidak pernah kubeli, karena mahalnya bisa 2-3 kali lipat harga mass paperback, tapi rata-rata di luar negeri buku pertama terbit dalam edisi hardcover. (Ingat Harry Potter books? Sejak buku 5, diriku beli edisi hardcover asli saking gak sabarnya bacanya karena kuatir spoiler bertebaran di internet dari para early readers yang bacanya cuma semalaman). Selain buku, isinya juga book-related things, seperti bookmark, lampu baca, kartu pos dengan doodle tokoh di literatur, totebag, pensil warna (dikaitkan dengan coloring book), syal bertema buku, kaos kaki, macam-macam deh, beda-beda tiap edisi kiriman.

Nah yang asiknya apa. Isinya surprise! Continue reading →

Menonton Orang Makan

aaa

Tinggal di sini berarti koneksi internet yang cepat. Kabarnya Belanda mempunyai koneksi internet tercepat ke-6 sedunia (ke-4 di Eropa), dengan rerata kecepatan 15.6 Mbps. Apa akibatnya? Diriku lebih memilih nonton segala hal streaming daripada download dulu.

Sejak tahun 2014, diriku punya kebiasaan baru: kalau lagi makan di rumah (maksudnya di kosan) selalu disambi nonton streaming video yang berkaitan dengan makanan. Semuanya bermula dari hobi nonton streaming drama Korea yang lucu-lucu di Dramago, biasanya nonton 1 episode tiap kali makan. Salah satunya adalah K-drama Let’s Eat. Drama yang ringan dan lucu dengan aktor utama leader-nya Beast ini (the handsome and gorgeous Yoon Doo-joon) begitu penuh dengan makanan enak, dan setiap karakternya makan dengan begitu lahap dan penuh kenikmatan (Yoon Doo-joon melakukannya sambil membahas dengan antusias dan full-of-geekiness tentang makanan yang dia kunyah), sehingga kalau pas di tengah episode diriku sudah selesai makan, kepingin melipir ke dapur dan ngambil makanan lagi. Jadinya kayak fenomena tambah-nasi-tambah-lauk gitu. Episode belum habis, makanan habis, ambil makanan lagi, di tengah makan, episode habis, buka episode baru, makanan habis, ambil makanan, dst. The dinnertime may go on and on and on sampai persediaan makanan di dapur habis. Suatu hari akan kubahas semua K-drama dan film tentang makanan yang paling meninggalkan jejak di hatiku *halah Continue reading →

Golden Rice di Duta Mall

gambarHabis nonton, tentunya perut lapar, apalagi kalau nontonnya serba dadakan, dan tidak ada yang bawa makanan ringan atau minuman ke dalam bioskop. Apalagi kalau filmnya dimulai jam 12 dan berakhir jam 2 lewat. Sesudah celingak-celinguk di tempat makan di sekitaran bioskop, dan melihat sebagian besar tempat penuh karena itu hari libur, akhirnya kita memutuskan untuk coba-coba ke Golden Rice Restaurant.

Di DM memang sulit menemukan makanan enak.
Yang lumayan enak adalah Mie Goreng Spesial di foodcourt, kalo gak salah namanya Mie Goreng Senayan (kalo salah ya, maaf). Dulu porsinya super besar, sekarang mengecil, mengecil, dan terus mengecil (bentar lagi piringnya ikutan mengecil deh), sementara harganya tetap.
Kemudian Tongseng, di foodcourt juga, cuma lupa yang jual namanya apa, yang jelas cuma ada 1 tempat yang jualan tongseng di situ. Susah mencari tongseng enak di Banjarmasin. Tongseng terenak yang pernah kurasakan adalah di Jogja, langganannya Bu Erna, kalo gak salah di daerah Kotabaru, Jogja.
Terus beberapa pilihan makanan (saya sudah lupa apa saja, maklum lama banget gak ke sana) di Bakso Lapangan Tembak juga enak, sayangnya tempatnya super kecil dan harganya, tentunya, overprized.
Lalu Fish Fillet di KFC, tapi mahal juga, herman deh. Tapi ukurannya keciiil. Cuma menangsel perut sebentar, yah, sekitaran 15 menitan :p
Kemudian Waffle Ice Cream di A&W, wah waffle-nya hangat dan lembut sekali, es krimnya enak, terutama kalo pake yang rasa vanilla. dan Fish Fillet di sini juga enak, ukurannya lumayan besar dan lelah menghabiskannya (setidak-tidaknya bagiku). Sayang harganya melangit!
Loaf of bread isi keju yang masih panas (kalo bisa kejunya agak-agak cair, jadi dihangatkan aja lagi) di Bread Life. Satu-satunya roti yang enak di counter jualan roti ini.
Cuma itu.

Pengalaman terburuk makan di DM ya di sebuah resto dekat Golden Rice itu. Sudah pelayanannya supeeer lama (sampe kita ubanan dan sudah lupa apa yang kita pesan), langsung bayar dulu begitu pesan (langsung di meja kita duduk), makanannya datang sudah dingin, dan pernah dikasi garpu mainan (plastik) buat makan karena katanya garpunya habis. Plis deeeh, memangnya aku lagi main boneka-bonekaan? Perlu ditraining lagi SDM-nya tuh.

Oke, balik ke topik. Golden Rice. Nida bilang harga-harga makanan di sana kayak di resto yang lambreta itu, tapi rasanya lebih enak, dan yang penting: pelayanan lebih cepat. Tempatnya juga lebih cozy, banyak sekali sofanya, agak terlindung dari mata orang lalu-lalang kalo kita pilih yang agak ke dalam, dan gak banyak orang duduk-duduk di sana, entah kenapa. Mungkin keder dengan tampilan tempat makannya. Pelayan-pelayannya ramah, buku menunya banyak (jadi gak rebutan atau tunggu-tungguan), makanan cepat datang (minimal minuman dan sup pembukanya datang duluan), bisa berlama-lama di sana sampai bosan dan gak ditegur, serta ada free wifi. Kekurangannya cuma 2: harga overprized dan tidak ada colokan listrik buat charging laptop (besok-besok kami berencana mau bawa kabel gulung yang puanjang hihihihi).

tehSekarang kita ke menu. Aku, seperti biasa, pesan es teh. Sebenarnya mau pesan Freshtea Jasmine, tapi kayaknya gak ada, dan toh aku selalu bawa ni minuman di tas. Gelasnya berukuran besar dan berbentuk lucu, segiempat, kalo dilihat dari depan, satu sisi agak lordosis, satu sisi agak kyphosis, hihihihi. Pengen nyuri buat dibawa pulang. Rasa tehnya standar lah, yang penting gulanya gula beneran. Dan berapa harganya? Enam ribu, saudara-saudara, cukup untuk makan seporsi makan lengkap dan kenyang plus minum es teh di Jogja, masih bersisa 1000 rupiah.

jagIni pesenan temen, namanya Long Jag. Kelihatan mengerikan, ada pipilan baby corn gitu. Itu minuman apa kuah, pak? Cairannya itu air buah  leci. Katanya sih, ini terakhir kali dia pesan minuman aneh itu. Dan harganya? Enam belas ribu rupiah.

supMakanan pembuka kita adalah yang hangat-hangat (saat itu hujan lebat), yaitu Corn Soup with Crab Meat. Enaaaak banget, kental, daging kepitingnya banyak. Lumayan menghangatkan perut dan membangkitkan selera. Walau kalo dibagi-bagi orang berlima terasa sedikit sih. Harganya delapan belas ribu.

seafoodIni adalah Mie Tarik Seafood Szechuan. Gak sempat nanya apanya yang “tarik” pada mie ini. Tahunya kan teh tarik, ditarik-tarik. Mungkin bikin mie ini pake ditarik-tarik. Tidak begitu senang aku membayangkannya. Harganya delapan belas ribu ribu, dan enaaaak deh. Porsinya besar, si Rina sampai tidak habis. Rasanya agak-agak pedas, dan bumbunya tajam.

beefKalau yang ini Mie Tarik Black Pepper Beef. Bedanya dengan yang seafood, ya tentu saja kalo yang ini pake beef. Enak juga, dan porsinya juga besar, sampe bersisa. Sepertinya mie tarik ini seharusnya dimakan bersama kuahnya (mungkin diperlakukan seperti mie ayam), karena kami disodori kuahnya semangkuk kecil. Menurutku tanpa ditambah apa-apa pun sudah enak. Tapi aku kan hobinya nambah pepper. Apa-apa dikasih pepper. Jadi menurutku ni Black Pepper Beef perlu tambahan ceceran merica yang banyak di atasnya. Harganya sama dengan Mie Tarik Seafood.

mieLupa ini apa Fried Bihun Seafood atau Plain Fried Bihun. Gak nyobain juga, dan Anna gak habis. Tu porsinya gede banget looh. Kalo yang Plain, rasanya pedas. Yang Plain harganya sepuluh ribu sedangkan yang Seafood harganya delapan belas ribu rupiah. Atau bisa juga itu Hongkong Fried Noodle (mulai kehilangan pegangan).

nasiYang ini nasi putih biasa dengan Black Pepper Beef. Kuahnya lupa apa itu namanya, yang pesan aja lupa, hihihihi. Menurutnya kuahnya rasanya agak aneh, namun Beef-nya lumayan. Black Pepper Beef ini tiga puluh dua ribu ckckckckck….

brokoliNah yang ini gak tahu namanya, yang jelas itu brokoli, dan dilumuri hancuran daging kepiting. Enaaaaak! Yang ini lumayan juga rasanya.

Hmm… kapan-kapan, kalo ada yang mau nraktir di DM, seret ke sini aja ah.

Foto paling atas diambil dari situs Duta Mall.