Category Archives: Food

Lima Rasa

Hwah… dah lama banget saya tidak posting 😀 Banyak sekali komen, email, sms, kartu pos, cambukan, bahkan isyarat asap dari fans memohon-mohon kepada saya agar posting lagi. Entah apa yang mereka harapkan saya tulis, karena saya tidak suka menulis. Saya sukanya membaca, sodara-sodara, bukan menulis!

Yah, selain itu saya lama sekali tidak mereview makanan. Alasan utama karena kamera saya rusak, dan belum beli baru -berharap ada yang membelikan, sebenarnya- Jadi, untuk memenuhi kekangenan para pembaca terhadap review makanan dari saya, saya memaksakan diri menulis di sela-sela kesibukan saya meracau di MP :p

Bagi saya, my cousin Nida, dan two of my best friends Adi dan Woelan (sayang Woelan sedang di Jakarta), makan-makan adalah suatu bentuk rekreasi. Enak-gak enak itu urusan belakangan. Yang penting berani mencoba sesuatu yang baru dan dilakukan beramai-ramai. Walau tentu kami tidak mau jatuh ke comberan yang sama sampai dua kali.

Jadi kemaren Adi muncul untuk mendiskusikan menu makan siang hari ini. Tentu saja mendiskusikan menu tidak lengkap tanpa disambi makan-makan, jadi kami membicarakan makanan sambil mengunyah siomay yang porsinya segede gaban. Sesudah siomay habis dan menghabiskan berbotol-botol (it was a very very hot night) air minum, kami memutuskan bahwa menu makan siang tidak lengkap kalau tidak ada berbagai jenis hewan dimasukkan ke dalamnya. Selain itu, kami sudah lama sekali tidak makan steamboat. Restoran terakhir yang menyediakan steamboat memutuskan untuk tutup sesudah kami sampai 3 kali ke sana datang hanya untuk makan steamboat, gara-gara harganya yang murah dan porsinya yang besar. Jadi dipilihlah Lima Rasa sebagai tujuan makan siang di hari Minggu in

Jam 1 siang, makan siang dimulai. Delapan (satu diantaranya masih TK) dari 10 orang yang diundang duduk mengelilingi meja. Pertama-tama datang teh es dan air putih. Kemudian, ahh… yang saya tunggu-tunggu, Steamboat! Tapi… tapi kok pancinya tidak seperti steamboat? Pancinya seperti panci besar yang diisi panci kecil di dalamnya (kayak orang melelehkan coklat). Panci luar berisi kuah steamboat dan sayur-sayuran. Panci dalam berisi benda-benda panjang-panjang dan bulat-bulat. Bakso dan benda-benda dari cumi dan entah apa lagi yang dibentuk jadi panjang-panjang dan bisa kita jumpai begitu banyak bertumpuk dan bisa dibeli secara curah di Hypermart. Ya, yang ada rasa pengawetnya itu. Dan jumlahnya, ya Tuhan, sedikit sekali, untuk porsi steamboat yang harganya 40 ribu. Saya membayangkan isinya bakal ada serpihan ayam, telur, cumi, udang, baso, tahu, jamur, ikan, pokoknya segalanya deh. Dan, manaaaa asapnya? Gak ada bagian tengah yang mengeluarkan api. Steamboat itu ya rasa steam :p Jadi steamboat yang ini pancinya diletakkan saja di atas api. Rasanya? Boleh lah, saya cukup suka, sayang gak berasa asap 😀

Kedua, datang Sop Sehat. Kalau makan sop ini, maka akan sehat selamanya. Sebuah panci diletakkan di atas api. Kami menatap ke dalam panci, dan menemukan kesulitan untuk membedakan antara Sop Sehat dan Steamboat. Kecuali bahwa Steamboat-nya terdiri dari 2 panci, dan sayurannya terpisah. Waktu waiternya ditanya, ternyata katanya kuahnya sama, cuma yang Sop Sehat itu ada sapo tahu, cumi, bakso, dan ayam. Haaa…. Buat apa memesan Steamboat, kalau begitu? Menurutku tentu saja rasanya sama, tapi menurut Adi, lebih enak Steamboat. Tapi Adi sih gak bisa dengar Steamboat, pasti dibilang enak. Kayaknya anak ini sudah jatuh cinta sama nama makanan satu ini.

Kemudian datang beruntun-runtun berbagai makanan sehingga saya agak-agak overwhelmed. Supaya kalian tidak merasa stress, saya bahas satu-satu yaaa… :p

Ayam Bakar Lima Rasa. Ayam Bakar biasa, mungkin, saya tidak mencicipinya. Bosan dengan ayam. Padahal mungkin ada sebabnya, ada ciri khasnya, kenapa makanan ini disebut bersama nama restonya.

Gurame Mangga Muda. Ahh.. pas kami membayangkan menu ini, kayaknya bikin ngeces. Mangga muda gitu lo. Saya kan penggemar rujak. Penampilannya boleh lah. Guramenya digoreng utuh, tidak dipotong-potong dulu. Masalahnya dengan model gurame yang disajikan seperti ini, kalo pada malas menggunakan tangan, maka akan banyak yang bersisa di piring. Saya sendiri kurang suka gurame. Tulangnya menyebalkan. Terus sering ada rasa lumpur, seperti halnya nila, ikan mas, dan bandeng. Dan, ya, yang ini, ada rasa lumpurnya. Saya hanya mencicipi sedikit, dan merasakan mangganya. Saya gak suka. Skip.

Gurame Masak Thailand. Kenapa ada 2 jenis masakan gurame padahal saya gak suka gurame? Karena porsi pesanan gurame itu untuk 2 ekor, jadi kita minta aja 2 macam masakan gurame. Tadinya kami sangka Masak Thailand itu pasti asam-asam pedas kayak Tom Yum. Tapi kata si mbak-mbaknya waktu kita reservasi: enggak, kayak asam manis, tapi lebih enak. La iyalah dia bilang gitu, masak dia bilang: “kayak asam manis, tapi, hih, gak enak loh, mbak”. Ternyata penampilannya kayak asam manis, tapi agak pedas, dan ada bumbu aneh (berbau) yang saya gak tau apa. Enak, 4 dari 5 deh. Tapi pada akhir-akhir waktu mau habis, saya merasakan rasa lumpurnyaaaa! Mungkin karena kuahnya dah abis dijilatin.

Karedok. Makanan ini kok nyempil ya, gak nyambung kayaknya 😀 Itu gara-gara dalam paket makanan yang kita pesan masak ada nasi goreng dan mie goreng? Gak banget. Jadi minta ganti, tapi gantinya malah karedok hihihi… Saya, maap-maap saja, gak makan karedok. Ada taugenya! Saya benci taoge! Hih! -bergidik- Mana sayurannya mentah pula. Gak sehat -menggeleng-gelengkan kepala melihat karedok ludes dengan cepat- Saya hanya memperoleh jatah krupuk melinjonya.

Kepiting Telor Asin. Hwaaa… dua makanan yang saya sukai, dicampur jadi satu *ngelap dagu* Waktu makanannya datang, penampilannya gak seperti yang dibayangkan. Saya membayangkan bongkahan kepiting lengkap dengan capitnya plus telor asin guling-gulingan di sekitarnya. Ternyata dari jauh penampilannya kayak nasi goreng. Tapi enak lo. Telor asinnya penampilannya kayak telor orak-arik, tapi asin, sedang daging kepitingnya dikeluarkan dari cangkangnya dan digoreng pake tepung bumbu.

Sapi Lada Hitam. Menu standar. Tidak ada yang berminat menyentuh makanan ini, saking bosannya dengan menu ini, omnipresent banget. Tapi sesudah semuanya menipis, akhirnya yang satu ini dicicipi juga, ternyata enaaaaaak *slurp* Sayang porsinya kecil banget.

Udang Asam Manis. Udangnya digoreng tepung, lalu ditumpahi kuah asam manis. Kuah Asam Manis paling tidak enak seumur-umur saya hidup. Entah terdiri dari apa. Udangnya udang ukuran sedang.

Udang Goreng Tepung. Biasa. Kurang gurih. Dan omong-omong, kuantitas goreng tepungnya hampir sama banyaknya dengan udangnya. Tahu kan, saya gak terlalu suka goreng tepungnya, suka sayau kuliti dan ditinggal. Cuma bikinan mom yang enak.

Terakhir, buah segar: nenas, semangka, pepaya. Porsi kecil dan gak tiap orang dapet.

Hah, sudah sepuluh menu ya? Dibilang gak enak gitu, abis juga ternyata. Bersisa sedikit. Total kerusakan ternyata tidak terlalu mahal.

Siapakah para pengganyang makanan ini? Mereka adalah (dari kiri ke kanan): Nida, Adi, Bahri, Didik, Ditto, Tria, Memet, dan saya. Oya, kami dapet meja nomor 13 loooo 🙂

Foto-foto makanan lainnya silakan dilihat di galeri foto saya di MP.

Advertisements

Kue Banjar

Lama sekali tidak meng-update blog ini.

Baiklah, untuk menutup (kalau saya malas menulis lagi sesudah ini) tahun ini, saya akan menampilkan……. JENG JENG JENG (orkestra pengiring, bukan situs jalan-jalan dan makan-makan yang itu)….. kue Banjar! Endah bilang, di tangan (atau mungkin maksudnya, di mulut) saya, topik apa saja selalu berubah menjadi topik tentang makanan. Apakah ini sebuah keinginan tersembunyi di lubuk hati untuk menjadi gemuk? Itu analisis dia. Menurut saya sih tidak. Saya suka makanan enak, seperti orang normal lainnya, itu saja.

Sebentar, sebagai orang yang sering ber-“flight-of-idea“, saya mau bilang dulu di sini, sebelum lupa:

  • Selamat Hari Raya Idul Adha
  • Selamat Liburan (saya tidak libur -keluh-)
  • Pak Ersis yang seleb itu sudah jalan-jalan ke sini! -kok bisa ya beliau terjerumus ke sini-

OK, kembali ke topik.

pasar-wadai.jpgKalau bulan Ramadhan, di Banjarmasin ada sebuah agenda rutin berkaitan dengan makanan, yaitu Pasar Wadai. Wadai itu bahasa Banjar untuk kue. Untuk tujuan pariwisata, diterjemahkan juga ke Bahasa Inggris menjadi Ramadhan Cake Fair. Walau saya kok tidak pernah bertemu turis asing di sana. Tapi jangan percaya saya, ya, karena setiap tahun, saya pernah menginjakkan kaki ke Pasar ini cuma sekali, padahal jaraknya dengan rumah saya tidak sampai 5 menit naik sepeda motor. Kenapa? Bukankah Pasar Wadai ini sama dengan pesta makanan atau sama dengan surga belanja buat saya? Karena, eh, karena kue-kue dan makanan (walau namanya Pasar Kue, Pasar ini juga jualan makanan dan seabrek benda lain) di sana harganya agak tinggi dibanding banyak “Pasar Wadai” berskala lebih kecil lainnya dan tentu saja lebih tinggi dari warung pinggir jalan yang kagetan jualan kue Banjar dengan rasa yang tidak kalah enaknya (kalau kita tahu yang mana). Kenapa kok lebih mahal? Karena stand-nya disewakan dengan harga mahal. Foto di atas itu diambil dari blognya Khairil.

image002.jpgNah, tahun ini tadi, awal Oktober, saya terpaksa melangkah ke Pasar Wadai ini karena teman saya ini titip dibelikan Ipau. Ipau? Terdengar seperti nama khas orang Banjar. Di tempat saya, semua nama (terutama jaman dulu) yang bagus-bagus itu akan berubah menjadi begitu Banjar dengan menambahkan awalan I pada suku kata depan atau suku kata belakang nama itu. Misalnya: Juhriah akan dipanggil Ijuh, Murni menjadi Imur, Badaruddin menjadi Ibad, Helmi menjadi Imi, dan, tentu saja, Fauziah menjadi Ipau. Apakah teman saya minta carikan perempuan? Oho, tidak. Yang dia maksud adalah sejenis makanan sejenis schotel atau pizza bertingkat yang di Banjar bernama Ipau.

image003.jpgIpau terbuat dari campuran tepung terigu dan telur, wortel, bawang bombay, sayur, kentang dan daging yang dibuat berlapis-lapis (bisa sampai 10 lapis). Biasa disajikan dengan kari kambing plus kuahnya (my mom bilang, makanan ini sebenarnya berasal dari Arab, karena yang jualan memang yang juga menjual masakan kambing), bisa juga disajikan dengan kuah santan (ada yang mencampurnya dengan susu) plus taburan daun sop dan bawang goreng, ada juga yang menjual hanya dengan taburan daun sop dan bawang goreng. Sedangkan saya, saya lebih suka memakannya dengan saus tomat dan sambel Bangkok. Enaaaak banget. Manis bercampur gurih. Harganya untuk ukuran kota besar cukup murah, Rp 7.000 seperempat loyang, tapi menurut ukuran urang banjar, itu mahal.

Omong-omong, ada yang bilang, kue ini disebut juga Petah Asia. Apa itu Petah? Kue dari tepung beras yang dimakan dengan tahi lala. Ups, jangan antipati dulu. Tahi lala hanya jorok di nama (dan mungkin agak mengerikan kalau dilihat) tapi enak banget di lidah: suatu saos yang dibuat dari kepala santan (santan yang direbus lalu diambil bagian atasnya saja yang kental) yang digarami. Kalau Petah berbentuk padat dan sering diberi warna dengan pandan, kalau Ipau kenyal, putih dan berlapis-lapis.

image005.jpgKue-kue lainnya yang dijual bisa dilihat pada gambar di samping. Di latar depan, kalian tentu sudah kenal, berbagai jenis agar campur bolu. Yang paling depan sebelah kanan, itu namanya Sari Mokka. Bagian atasnya yang coklat itu terbuat dari tepung, santan, telur dan gula merah (atau mokka ya? aku lupa nanya tadi), rasanya manis sekali. Bagian bawahnya yang putih itu (kata nenekku: “kasar burit”, saya lebih baik tidak usah menerjemahkannya hehehe) terdiri dari kelapa parut, tepung dan garam. Jadi atasnya manis banget, bawahnya asin. Perpaduan yang sempurna 😀 Di belakang Sari Mokka, yang putih itu, namanya Amparan Tatak. Mengingatkan pada lagu Ampar-ampar Pisang ya? Ya, Amparan Tatak ini terdiri dari tepung dan pisang. Bagian atasnya itu agak lembek, terdiri dari santan kental dan garam, bagian bawah lebih padat terdiri dari tepung, santan dan pisang yang diiris-iris melintang. Jadi, bagian atas asin, bagian bawah manis. Sedap banget kalo yang bikin pinter. Paling ujung belakang kiri yang berbentuk seperti bunga itu adalah kue Bingka. Beberapa blogger beruntung saya bawakan kue ini. Almarhum Kang Bebek bilang, seperti kue lumpur, tapi lebih enak. Saya tidak pernah bertemu kue lumpur, jadi tidak bisa berkomentar.

image007.jpgKue bingka di Banjarmasin terenak adalah buatan nenek saya. Tapi nenek saya kan tidak jualan. Dan sudah males bikin, karena kalau beliau bikin berlemaknya dan manisnya gak ketulungan, sehingga para cucunya pun tidak sanggup menghabiskan lebih dari satu potong. Bahan dasarnya adalah dari gula, tepung, santan masak dan telur. Secara komersial, paling enak (dan mahal) adalah Bingka Bunda. Default type-nya adalah Bingka Kentang. Kalau mau rasa tertentu, mesti pesan jauh-jauh hari: rasa durian, nangka, keju, gula merah, tape ketan hijau (ini favorit saya, anak-anak Sari Mulia kalau buka bersama saya selalu ingat membelikan saya ini), dan lain-lain.

image006.jpgIni kue lapis biasa. Yang depan itu coklat karena cacao, yang belakang (hijau) itu diberi pandan. Ada kue lain yang tidak bisa saya berikan fotonya di sini. Namanya Kueh Lam. Ini kue super enak dan cukup mahal, sering jadi oleh-oleh. Dan kalau diingat-ingat, cuma 2 orang yang pernah saya bawakan kue ini, 1 untuk yang jaga kos saya di Jogja dulu. Satu loyang ukuran kotak kue ukuran sedang itu minimal Rp 75.000. Membuatnya sulit. Ada 2 jenis sebenarnya, yang dikukus dan dibakar. Yang dikukus, ini hanya tahan 3 hari, itu pun dalam kulkas. Dengan harga yang cukup mahal, serta rasa yang super manis dan berlemak sehingga cepat kenyang, rugi juga beli yang kukus, karena 3 hari belum cukup waktu untuk menghabiskannya. Lagipula kalau untuk oleh-oleh, yang kukus begitu fragile sehingga kalo dibawa di pesawat (pengalaman si Yudha waktu membawakan dosennya dan ehem-ehem-nya) bisa megal-megol bentuknya, dan waktu tiba di tempat tujuan bentuknya sudah gak keruan, walau rasa masih yahud. Biasanya untuk oleh-oleh kita bawa yang bakar. Oya, sebenarnya, dalam istilah Banjar, yang kukus saja yang disebut Kueh Lam, sedang yang bakar disebut kue lapis, tapi sebenarnya bahannya kan sama dan mahalnya sama hohoho…. Belakangan, semua disebut Kueh Lam saja.

Kueh Lam. Bahan dasarnya adalah tepung, gula, santan, susu, telur sebanyak mungkin (kurangi putih telurnya), cacao. Kueh Lam ini berlapis-lapis seperti lapis coklat di atas, jadi bagian coklatnya dari cacao. Biasanya lapisannya sangat tipis, dan untuk yang model bakar, itu bukan dibakar. Lah, terus diapain? Ditaruh aja di atas meja (nenekku bilang: “kue masak di lantai”) selapis, lalu ditutupi dengan tutup dari “panai” (gerabah dari tanah) yang sudah dipanaskan di atas api dapur (yang disebut dapur ini adalah tungku terbuka dengan bahan bakar kayu). Tutup dibiarkan sampai lapisan itu masak. Lalu kalau sudah masak, dikasih satu lapisan lagi, lalu ditutup lagi. Terbayang tidak berapa lama kue ini jadi kalau lapisannya saja minimal 10 lapis? Satu malam mungkin hanya jadi 1 kue. Pembuat Kueh Lam yang paling ahli adalah urang Barabai, ibukota Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Kalau mau membawa yang bikinan urang Barabai, mesti pesan 3 hari sebelumnya. Saya dulu pesan di warung oleh-oleh Banjar yang kecil di sebelah Depdiknas Jalan S. Parman. Sayang, dia kadang mau, kadang enggak (orang yang aneh, mau jualan gak sih?). Akhirnya saya beli saja di Warung Makan Cendrawasih dekat Bundaran Bank Panin dulu. Di sana juga jual Bingka Bunda.

Sebenarnya mau cerita satu kue lagi, yaitu Lapis India. Saya pernah melihat proses pembuatannya. Lagi-lagi yang bikin nenek saya. Haduh…. bikinnya lama banget, selapis-selapis seperti Kueh Lam, tapi bentuknya bergelombang, karena setiap jadi, dilipat, jadi, dilipat, capek deh. Mana pake tangan lagi melipatnya, di atas kuali besar dan agak datar tengahnya. Lama-lama eneg dan pas kue jadi, gak ada yang kepingin lagi saking bosennya melihatnya dibuat. Mana manis banget. Orang diabetes pasti langsung koma hiperglikemik. Nanti lah kapan-kapan saya tulis tentang yang ini ya. Sebenarnya banyak sekali lo kue Banjar, semua manis banget, berlemak banget, selalu bersantan, gak heran aku jadi hiperkolesterolemia. Banyakan sudah lupa, dan dari tadi nenekku sudah sebal padaku karena nanya-nanya bahan kue terus, padahal beliau mau mengaji hehehe…

Mudah-mudahan para blogger yang baca ini lantas tidak menyuruh saya bawa oleh-oleh kue-kue Banjar ya…. Sebagian besar kue di atas adanya hanya di bulan Ramadhan lo….

Makan-makan di Banda Aceh

Beberapa hari lalu bebek menulis tentang pengalamannya makan Mie ganja Aceh. Dengan semangat ikut-ikutan, saya mau cerita dikit tentang makan-makan saya di Banda Aceh pas ke sana awal bulan ini. Sebenarnya hotel menyediakan makanan untuk panitia pelatihan yang kami adakan, tetapi rupanya orang Aceh memang suka makan, jatah berlebihan yang disediakan hotel tidak pernah tersisa untuk kami yang makannya umumnya belakangan karena harus mempersiapkan dan beberes ini-itu. Alhasil, untuk makan siang dan makan malam kami makan di sekitar hotel. Kebetulan hotel berada di kawasan cukup rame, banyak toko henpon huhuhu…. gak nyambung. Banyak tempat makan juga, tentunya, termasuk alun-alun tempat orang jualan langsung beratap langit (kalo gak salah namanya Rex), dimana banyak orang kumpul-kumpul ngopi, makan, dan ngobrol. Mie Razali yang disebut-sebut bebek hanya selangkah dua langkah dari hotel.

image001.jpgMalam pertama di sana, kami makan di tempat makan yang dulu pernah saya kunjungi juga waktu tahun lalu ke Banda Aceh. Restoran Banda namanya, menyajikan masakan seafood. Waktu itu kami ditraktir bos besar di sana. Siapapun yang berhadapan dengan bos besar selalu menjadi grogi dan gak bisa ngomong, apalagi mau makan banyak. Jadi ketika itu walaupun saya akui makanannya enak, kelezatannya tidak begitu terasa saking gugupnya.

Jadi ke situlah kami menuju, lokasinya di Jalan Panglima Polim. Restorannya kecil saja, bagian depannya kaca semua tembus pandang ke dalam, ruangannya ber-AC, di dalamnya berdesakan meja-meja bundar dan segiempat. Dapur terletak di lantai atas, jadi tidak ada bau masakan/asap tertinggal di baju, sesuatu yang paling saya tidak suka kalo makan di restoran atau food court di mall. Ketahuan orang kalo saya habis makan di luar hehehehe…

Balik ke Restoran Banda. Sesudah diberi daftar menu oleh pelayan (semua perempuan) berkaos kuning dan berjilbab, saya lihat-lihat harganya, hmmm, mahal juga. Tapi bukan saya yang bayar ini. Saya mengingat-ingat menu yang dulu rasanya enak pas makan di sini, oh ya, Ca Kangkung Bumbu Terasi, hmmm…. dari namanya aja dah ketahuan pasti enak. Saya ingat udang dan cuminya juga enak, cuma lupa dimasak apa. Jadi kita pesan yang direkomendasikan pelayannya: Ayam Tangkap, Cumi Goreng Tepung, Ca Kangkung Terasi, dan Brokoli Saus Tiram. Kami tidak pesan Kepiting Saus Aceh-nya, ribet. -ngelap basah-basah di dagu- Ayam Tangkap ini (ada yang bilang Ayam Sampah) sudah saya baca namanya sejak perjalanan dari bandara ke hotel, banyak yang jual ini, salah satunya adalah resto Aceh Rayeuk. Saya curiga ni makanan bakal lama keluar, karena kan ayamnya harus ditangkap dulu. Cumi Goreng Tepung dipilih karena cumi selalu enak dan goreng tepung adalah pilihan yang aman, habis rasanya bisa gimana lagi sih. Brokoli Saus Tiram. Mmmmm…. brokoli saya suka banget, sering saya jadikan cemilan kalo lagi gak ada kerjaan ada brokoli nganggur, dipotong-potong, terus digoreng pake tepung bumbu, makannya dicocol pake sambel bangkok Indofood, arggghhh…. *pasang tadah liur* Apalagi brokoli saus tiram. Apa sih yang gak enak kalo dikasi saus tiram?

Sesudah memesan, yang pertama datang adalah handuk basah buat mandi buat ngelap tangan. Kemudian muncul kacang goreng bumbu. Yang rupanya dimakan dengan kecap manis (yang kayaknya dicampur petis dan ulekan lombok) dan sambal (botolan, kayaknya), karena dua mangkok berisi kedua hal inilah yang disorongkan bersama piring kacang. Rasa kacang dan pedesnya cocolannya ngangenin.

ayam_tangkap.jpgSetelah lamaaaaa…. sampe hampir ketiduran (we want more peanuts!), datanglah pesanannya. Mmmm… ternyata Ayam Tangkap itu ayam yang ditangkap dipotong-potong kecil-kecil, digoreng crispy pake bumbu apa saya tidak tahu, dan disajikan bersama bawang goreng dan dedaunan (katanya namanya daun temurai) yang dipotong-potong segiempat dan kelihatannya disangrai bersama bumbu, membuat dedaunan itu menjadi kres-kres garing kayak krupuk, enuuuuaaaak banget. Sejak kapan coba saya suka makan daun, yang pilihan makannya niru-niru sapi itu kan Anna dan G. Btw, pic Ayam Tangkap saya pinjem dari blognya Bang Andika

image007.jpgCumi Goreng Tepung-nya seperti dugaan saya, sama dengan rasa cumi goreng tepung pada umumnya, luarnya renyah, dalamnya kenyal-kenyal seperti pada umumnya cumi. Ca Kangkung Bumbu Terasi jadi primadona pilihan bersama, karena gurih banget, rasa terasinya pas, dan pedesnya itu loh, gak terlalu pedes, juga gak ecek-ecek gitu pedesnya. Brokolinya adalah favorit saya. Besok-besoknya pas ke Banda lagi, Brokoli Saus Tiram selalu masuk pesanan. Enuaaaaak banget! Brokolinya bagus-bagus lagi bentuknya, jadi inget pohon baobab (yayaya, saya tahu, saya terobsesi dengan baobab). Oya, peringatan, Es Lemon Tea-nya jangan dipesan, rasa gulanya sintetis banget, huek. Laporan dari teman-teman, Jus Mangga dan Jus Terong Belanda-nya enak.

Sayang skrinsyut tidak pernah berhasil, karena kamera hape yang selalu memberikan gambar jelek kalo di ruangan yang tidak terlalu terang, dan karena tim kami ini hobi makan semua, lah kalo foto-foto dulu, saya kebagian sisanya doang ntar. Dalam hitungan detik, makanan sudah berpindah ke piring masing-masing. Pindahin dulu ke piring, makannya bisa perlahan-lahan hehehe…

Nah, perut kenyang, hati puas. Besok malamnya, mau nyoba yang lain. Tadinya mau ke Mie Razali yang nauzubillah penuhnya. Melihat terlalu penuh, selain malas nunggu, kita agak curiga juga, enak berarti ada bumbu “tertentu”. Oke, kita pilih warung sebelahnya lagi. Di sini sedia Nasi Goreng Seafood dan Nasi Goreng Kambing. Saya suka Nasgorkam, tapi saya memilih menunda makan Nasgorkam tar di depan ILP Jogja aja. Jadi saya pilih Nasgorsfood. Setelah cukup lama (sepertinya di Banda Aceh ini kalo mesen memang lama munculnya, mungkin kokinya masak sambil sms-an), datanglah pesanan. Loh, dikit banget porsinya (menurut temen-temen yang cowok). Nasi gorengnya coklat gitu, seafood dan nasi kelihatan jelas berbalur bumbu entah apa. Pokoknya gurih dan pedas. Dan enak. Tidak saya ambil fotonya karena toh hanya nasgor biasa. Tibalah saatnya bayar, lo? Sepiring 50 ribu? Serius, kak? Bos saya menggerutu dan bilang kalo makanannya dikit gitu, dan harganya toh sama, mending makan di Resto Banda aja lagi (saya iyakan dengan penuh semangat). Begitu sampe hotel, saya langsung terkapar dan tidak bangun-bangun sampe kesiangan besoknya, padahal saya harus presentasi. Semua telat bangun, termasuk bos, yang katanya dah nyetel weker sampe 2 biji (buset, bawa weker?). Kami jadi curiga, jangan-jangan…?

image004.jpgPendek kata, besok malamnya lagi (makaaaan melulu), kami makan di Resto Banda lagi. Kali ini, kami pesan: Ca Kangkung Bumbu Terasi (obviously), Brokoli Saus Tiram (ini pesanan saya), Udang Lada Hitam, dan Kerapu Cabe Hijau, juga sebuah masakan cumi tapi saya lupa cumi dimasak apa. Udang Lada Hitamnya, mmh, dibalur oleh ya iyalah lada hitam, jadi penampilannya hitam-hitam kotor gitu, wuih, enak deh. Sementara Kerapu Cabe Hijaunya ukurannya tidak terlalu besar dan kami sepakat bahwa itu bukan Kerapu Bumbu Cabe Hijau, tapi Cabe Hijau Bumbu Kerapu, saking banyaknya cabenya. Yang ini enak juga.image005.jpg

Besok siangnya, hari terakhir sebelum berangkat, masih ke sana lagi hehehe…. Benar-benar gak kreatif. Pelayan sampai hapal. Ca Kangkung Bumbu Terasi, Brokoli Saus Tiram, Ayam Bumbu Cabe Hijau (bercermin pada Kerapu Bumbu Cabe Hijau yang enak, sekali ini ayamnya lebih dominan), Udang Lada Hitam, dan Nasi Goreng. Rasanya tetap enak, salut buat kokinya yang sangat konsisten. Kali ini hampir-hampir gak abis. Selain karena memang banyak, hari terakhir itu kami semua terserang sakit perut, mungkin masuk angin kebanyakan AC atau karena memang lagi pada mau diare (aku sudah diare sejak malamnya, habis makan Roti Canai hehehehe).

image015.jpgOmong-omong Roti Canai, malam terakhir diajakin bebek dan 2 temennya suami-istri jalan-jalan cari oleh-oleh. Saya janji bawa kopi, jadi beli kopi dari Ulee Kareng dan Kopi dari Gunung Seulawah (toko, maksudnya), juga dendeng sapi dari toko tersebut. Diajak melihat-lihat suvenir, eh malahan bebek yang belanja huhuhu, dasar cowok hobi shopping *pletaks* Ada banyak oleh-oleh khas Aceh, mulai dari rencong (asli sampe hiasan), topi khas seperti yang dipakai Teuku Umar, kopiah, baju koko/tas/ransel/dompet/tempat henpon dengan sulaman Aceh, bros dan gantungan kunci berbentuk Pintu Aceh, dan macam-macam lagi. Na, habis itu diajak makan roti canai. Oya, kalo di Jogja, kalo malam kan orang suka duduk-duduk makan di warung lesehan. Nah, kalo di Banda Aceh, orang juga duduk-duduk makan dan ngobrol di warung-warung pinggir jalan, tapi di kursi-kursi plastik rendah dan meja-meja rendah, dengen penerangan sama remangnya dengan angkringan. Makanya pas pesan roti canai, saya gak begitu melihat penampilannya (sudah pake kacamata), apalagi mau taking pics. Roti canai kan biasa dimakan dengan kari kambing, nah yang ini tidak dimakan dengan kambing dalam bentuk apapun, melainkan diisi dengan macam-macam, ada yang diisi susu, serikaya, atau kacang. Saya beli yang diisi susu. Haduh, ukuran rotinya kecil banget, satu kali nganga juga habis, tapi karena saya imut, ya beberapa gigitan gitu deh 😀 Oleh yang jual, roti canainya dibelah, lalu diisi susu di dalamnya. Jadi makannya rada belepotan. Bebek beli martabak telor, yang anehnya martabaknya berada di dalam, telornya di luar. Perut saya masih oke waktu itu. Sesudah kemudian makan jeruk Medan di basecamp mereka, kok perut saya rasanya minta keluar semua ya lewat atas. Saya menyabar-nyabarkan isi perut sambil nunggu waktu yang tepat untuk pulang, tapi akhirnya terpaksa pas dalam perjalanan pulang mesti beli obat diare dan muntah, karena yakin begitu sampe hotel pasti tumpah semua. Belakangan saya menduga bukan karena roti canai itu saya gangguan saluran cerna, karena semua tim pelatihan juga diare ketika balik ke Jogja, mungkin karena makan makanan pedas terus. Tapi saya? Begitu sampe Jogja, perut sudah oke lagi, dan siap untuk makan-makan ke tempat kenangan.

Tidbits 01: Juni-Juli 2007 (Badai Foto)

Hmm… hanya mau kasi kabar buat temen-temen yang nanya apa saja yang kami (kami? siapa itu kami? -sambil berusaha melepaskan symbiote-) lakukan Juni-Juli 2007 *nyari-nyari alesan buat posting gambar* Sebel karena Yahoo!Photos bakal gak ada lagi, padahal aku suka banget. Flickr dan Photobucket dari tempatku lemot. Mana Flickr dan Kodak sangat limited penyimpanannya. Terpaksa simpen di harddisk aja deh, padahal dulu aku menggunakan tempat penyimpanan online digunakan untuk backup harddisk.

Tadi ke tempat Jojo, tasmiyahan anaknya yang bernama… hmmm… panjang banget… nginget-nginget dulu: Salsabila Nayla Johar Syahputri. Mungkin. Pokoknya semacam itu lah. Dan dari nama-yang-panjang-dan-bakal-bikin-pusing-guru-pas-mengabsen-itu, dia hanya akan dipanggil Asa. Menurut bapaknya, dan ibunya, anak itu mirip bapaknya. Menurutku, dia belum mirip siapa-siapa, tapi semua bersukur dia gak mirip Adi hehehehe…. Anyway, tu anak kabarnya sudah diimunisasi BCG, dan menurut bapaknya (yang pelit hehehe, sorry Jo), anak ini gak akan diimunisasi apa-apa lagi kecuali campak. Trus, ketika dikomentari tentang anting dan tindikan di telinga anaknya itu, dia cerita bahwa dia dibujuk-bujuk yang jual emas untuk membelikan anaknya gelang juga. Dia jawab enteng: “Nanti saja dia beli gelang kalo sudah bisa nyari duit sendiri.” Sang pedagang emas langsung melongo dan terdiam, kaget berhadapan dengan makhluk ajaib yang satu ini 😀 Peace….. Kabarnya nih, kabarnya, anaknya yang baru setengah bulan itu dah bisa baca resep huhuhu…. Katanya biar bisa disuruh jaga apotek.

jojo.jpgNa itu dia foto si Jojo dan istri, harap maklum kalo kabur dan jelek, maklum pake hape (lagi kepingin Kodak Seri Z. Di belakang ada lengkap tuh, para Pharmacology crews: Pak Agung, Anna, Juhai, Ida, Ibai, plus tamu rutin Mbak Anna, Ajie my faithful assistant (yang sukses melangsingkan perut sejak ada si ehm-ehm), dan Vera mahasiswa PSKM bimbingan Jo. Kekenyangan makan kambing dan bingka mini bikinan maminya Jojo. Halah, jadi teringat aku gak memfoto makanannya! Oya, tentu kalian tahu semua, kalo milih masakan kambing, jangan pilih yang berbongkah besar, karena pasti tulang 😀

cheesecake.jpgYap, ini salah satu kue modern favorit saya, Cheesecake, gak pernah berhasil mengambil skrinsyut jarak dekat, karena selalu keburu abis atau tinggal dikit pas inget sama kamera. Cheesecake ini bagian atasnya diberi lapisan agar-agar tipis, di bawah lapisan agar-agar itu ditumpahin coklat. Chesecakenya lembuuuuut banget, gak ada mirip-miripnya dengan Cheesecake-nya Hypermart yang lebih mirip kue bolu (kue klemben kata orang Banjar). Bagian bawahnya ada lapisan selai blueberry, agak serem juga ada warna biru gitu. Cheesecake ini bisa didapet di BreadLife, Duta Mall. BreadLife ini sebuah usaha penjualan roti yang konsepnya mirip banget dengan Bread Talk (gak pernah sih ke Bread Talk, cuma pernah denger aja): dapur yang kelihatan, roti-roti bernama aneh-aneh, dan pelayan berok pendek. Oya, yang di sebelah Cheesecake itu Cheesecake juga, namanya Blue Lagoon, di atasnya itu selai blueberry juga. Yaiks, gak suka banyak selai.

promo.jpgYang ini kelihatannya promo cat rambut. Kok ada ya yang mau ngecat rambut (kayaknya gratis) di tempat terbuka gitu ya. Kelinci percobaan gitu. Posisi: tepat di sebelah BreadLife, depan Hypermart.

bakmititi.jpgIni Bakmi Ayam Jamur. Enak deh. Dan dimana saya beli ini, sodara-sodara? Ya tidak lain dan tidak bukan, di Bakmi Titi. Yang saya bilang gak halal kemaren. Ndilalah kok pas saya lewat ada cap Halal di papan nama Bakmi Titi ini. Ya singgahlah saya, karena inget kuah dan rasa mi-nya enak. Alhasil 3 hari berturut-turut makan di sana, dan abis itu jadi bosen 😀 Gak boleh sering-sering mestinya.

eskrim.jpgIce cream over Brownies. Gak tahu namanya apa, salah satu es krim di stand Kayavu di food court DM. Rasanya ya biasa aja kayak rasa es krim vanilla pada umumnya. Harganya overprized, as usual.

az.jpgAyam goreng AZ Banjarbaru. Murah loh. Kalau KFC dua biji gini berapa ya. Ini ayam gede-gede dua (boleh milih mau bagian mana), nasi, dan minum (catatan: gak ada softdrink di sini, mereka mana mau jual) cuma 15ribu loh. Sampe kekenyangan. Dan tentu saja tidak boleh dilupakan Garlic Sauce-nya yang tajam banget rasanya (dijamin bau bawang putih deh pas pulang).

cakridwan.jpgYap, ini foto warung kepiting asam manis terenak di Banjarmasin, Warung Cak Ridwan. Enak dan mahal heheheh… Kabarnya nih, kabarnya, menurut salah seorang vokalis dari sebuah grup band kafe yang cukup terkenal di Surabaya, bahkan di Surabaya gak ada yang seenak ini, katanya. Kalo menurut teman-teman, kalo makan kepiting ini, bisa membuat kita melupakan sejenak segala kesulitan di dunia. Lagi-lagi gak ada skrinsyut, karena siapa yang mau mengambil foto-foto saat teman-teman lain sudah bernafsu menyerang isi piring?

anyang.jpgYang ini bukan kucing saya. Suka ngedeprok tidur di sofa, tapi kalo pas kita ribut-ribut mau memfoto dia, dia langsung ngambil posisi-posisi aneh yang bukan-kucing-banget. Sampe gemetar kakinya menahan posisi anehnya. Gak usah ditampilin di sini ah. Tar disangka kucing jadi-jadian lagi.

mercure.jpgIni foto teras salah satu dari 2 hotel kesukaan saya di Jakarta. Yang pertama: Hotel Bumikarsa di Kompleks Bidakara, hotel tempat seminar/pelatihan/acara yang breakfast buffetnya saya suka. Tiga kali berturut-turut pelatihan di sini, pulangnya selalu sakit, karena kebanyakan makan hehehehe. Lunch dan snacknya enak, sehingga supaya pada kedatangan ketiga saya tidak sakit, saya makannya pake strategi. Mosok selama acara pelatihan, yang kepikiran strategi makan melulu. yah daripada ngantuk. Hotel kedua: ini nih Mercure Ancol. Makanannya tak terlalu oke lah, tapi saya suka karena breakfastnya bisa di teras yang menghadap pantai. Mana dekat Dufan lagi (haaa, pengennya naik Tornado!). Trus, wifi dari lobby sampe ke kamar. Gratis, yang di lobby dan kafe. Yang di kamar gak tau gratis apa gak, karena saya buka-buka Google sih bisa.

image052.jpgIni di kebun strawberry di, er, mana ya, Ciwidey Bandung ya? Karena memang gak pernah suka strawberry, jadi gak terlalu excited. Ide tentang memetik strawberry itu ternyata benar-benar dilebih-lebihkan. Kebanyakan strawberry yang masak-masak dan bagus-bagus bentuknya sudah dipetik tentunya oleh si pemiliknya kan? Banyakan yang masih muda yang tertinggal. Kalo yang gak begitu masak kan asam. Sudah gitu, gak tahan lama lagi. Jadi kalo mau metik mesti dikit aja, buat dimakan. Kalo mau beli, mending yang masak semua yang dijual orang di pinggir jalan atau di tempat wisata, seperti di Kawah Putih.

Apa lagi ya yang di Bandung menurut saya dibilang enak, tapi menurut saya tidak? Ah ya, Batagor Riri. Saya kok gak suka ya. Bakso dan tahu nya dicampur gitu jadi satu bongkahan. Beda dengan batagor yang dijual paman bergerobak dorong depan kantor saya. Dipisah. Jadi saya minta baksonya saja, tanpa tahu. Sambel kacangnya juga enak. Yang di Riri saya gak suka. Mana mahal lagi. Hehehe… gimana ini ya, kok malah menuduh makanan aslinya yang gak enak. Maaf gak ada skrinsyut. Maunya sih memfoto cowok-cowok berambut panjang yang keren di meja sebelah 😀

yoghurt.jpgTrus Yoghurt Cisangkuy. Ternyata yoghurt yang dimacem-macemin itu gak enak. Saya kok lebih suka yoghurt biasa. Tapi suasananya memang asik. Rumah model asli zaman dulu, trus kita bsia duduk di teras atau halaman dinaungi pohon-pohon rindang. Ah, enak juga berlama-lama di sini. Di Bandung memang warung makan lebih kepada jual suasana daripada jual makanan.

bumbudesa1.jpgMakanan di Resto Bumbu Desa. Segala macem ada, katanya sih makanan rumahan. Ya, memang makanan rumahan. Tapi karena pada dasarnya saya tidak suka makanan Sunda yang hambar-dan-pedas-aneh itu, ya saya tidak terlalu berselera sih.

bumbudesa2.jpgDi sini lalapan dan sambelnya all-you-can-grab. Kok bukan lauknya ya yang gitu. Hhh, kapan sih ada resto all-you-can-eat di Banjarmasin?

combro.jpgAkhirnya saya ketemu combro, yang telah dibangga-banggakan oleh mbakyu Indie. Enak, pedes. Sayang saya lagi sariawan. Anehnya kalo ke kota lain saya kok suka sariawan ya?

timbel.jpgIni nasi timbel merah di Lapangan Gasibu, pada hari Minggu pagi. Saya sangka timbel itu semua dibungkus berbentuk piramid. Ternyata ada juga yang berpenampilan seperti bungkusan lontong kayak gini. Itu nasinya merah, hiiii, gak tau enak apa gak, bukan saya yang makan. Saya makan yang nasi putih saja. Sebelah kanannya gepuk, kesukaan saya tuh.

after-lunch.jpgAbis nemeni anak-anak TBM sunatan massal di Cempaka Putih. Tampang-tampang anak TBM kok selalu ceria gini ya, heran. Ooo, mungkin karena abis dikasi makan 😀 Duh, masih ngiler dengan seragam mereka. Mana ya janji Upik untuk membikinkan saya satu set seragam ini juga? Itu Upik, The Big Boss of TBM di belakang kiri, yang gede, pake seragam. Kali ini yang dateng banyak, anak koass juga pada dateng. Itung-itung nyari udara segar habis sumpek di RS, kali.

Oke, sekian dulu badai foto ini. Kapan-kapan disambung lagi.

Cafe Baghdad

Tadi pas cari-cari sandal -maklum gak punya sandal dan mumpung lagi diskon 50-75%- di beberapa toko, me and my cousin kecapekan (dah tua sih hehehe). Kami memutuskan untuk makan dulu -padahal baru saja makan siang-

Sudah lama pengen nyobain Cafe Baghdad di Food Court Duta. Saya karena memang sering kelaparan. My cousin karena katanya dia pengen nyoba salad buah keju.

baghdad2.jpgYa, jadi kami menatap daftar menu. Ada nasi kebuli dan kari. Nasi kebuli ni asli mana sih sebenarnya. Ada Roti Mariam yang dikombinasi dengan macam-macam, mulai dari hanya Madu sampai Kare (sapi). Ada juga Lempeng Kare Daging Sapi. Lempeng ni bahasa Banjar untuk dadar (bukan dadar telur, tapi dadar tepung dan telur). Dari gambarnya sih seperti dadar digulung lalu dipotong-potong miring. Dulu aku selalu bikin ginian untuk buka puasa, dimakan dengan sirup merah (my family) atau saos sambel (me). Minus Kari. Ada Mie Baghdad. Ada Salad Buah Keju (yang ini terdengar sangat menggiurkan, karena saya bukan anak singkong hobi makan keju).

lempeng.jpgKami pesan Lempeng Kare Daging Sapi, Mie Baghdad, dan Salad Buah Keju. Makanan datang lumayan cepat, gak sempet kuatir kalo-kalo mereka lupa pesenan. Lempeng-nya persis seperti di gambar di menu, tapi karenya lebih sedikit. Rasa lempengnya ya standar lah, kayak apa lagi sih rasa lempeng. Kari ini, saya gak suka kare sebenarnya. Orang-orang bilang kare bikinan nenek saya sangat sangat enak. So Kare, katanya, apa pun maksudnya itu. Saya kok gak suka bau dan rasa kare yang keras. Apalagi my granny kalo bikin gak kira-kira, bisa berhari-hari baru habis. Tapi Kare yang disajikan bersama lempengnya ini gak terlalu berbau kare, rasanya juga mild. Is this a good thing untuk penggemar kare saya tidak tahu. Yang jelas, Kare ini edible banget buat saya. Dagingnya kecil-kecil, dan tidak liat, nyam nyam. Lempengnya dicocolin ke sambal kare, trus disusul dengan acar mentimun dan nanas plus lombok. Seger gak tuh.

miebaghdad2.jpgMie Baghdad-nya seperti I Fu Mie. Saya sangaaaat suka I Fu Mie, sampai di level mau-maunya cari caranya untuk bikin di rumah (ternyata gampang banget). Jadi Mie Baghdad ini mirip I Fu Mie, cuma mienya sudah duluan dicampur dengan sosis sapi (atau ayam, saya gak tau, my cousin yang makan), telur dadar, apa lagi ya, yang jelas irisan cabe merah dan hijau. Enak. Dan melihat porsinya yang dikit, kupikir my cousin bisa habis, ternyata mengenyangkan banget katanya. Tapi mungkin itu karena dia habis lunch.

Salad Buah Keju-nya enuaaaaaaak banget! Sayang gelasnya kok gak gede seperti di menu sih 😦 Gelasnya jadi kayak gelas red wine gitu, berwarna merah. Paling atas pastinya tumpukan keju parut dong (teringat jagung rebus yang dipipili dan ditaburi keju dan susu yang kalo lagi depresi sering saya dan woelan beli di lokasi nongkrongnya di belakang Sadhar Jogja). Isi di bawahnya adalah agar-agar dipotong-potong kubus warna hijau, nata de coco, pepaya, bengkuang, melon direndam dalam susu. Slurp banget kan. Rasa susu bercampur keju itu gak ada duanya deh. Sampe beli satu lagi hehehehe….. Yang ini gak ada skrinsyutnya, karena keburu habis ;p

Jadi, overall, makanannya enak. Tapi overpriced banget *sigh*