Category Archives: Gadgets

Telpon Tengah Malam

cat on phone

Tidak tahu apakah kalian seperti diriku: pas tidur telpon ditaruh di samping bantal, tidak di-silent. Sebagian besar orang mungkin tidur dengan henpon dimatikan. Tidak buat diriku. Bukaaaan, bukan karena ada emotional attachment dengan henpon. Um, okey, diriku punya emotional attachment pada setiap henpon yang diriku punya (setiap henpon punya cerita panjang yang akan bisa memenuhi blog ini berminggu-minggu), tapi attachment-ku bentuknya bukan gitu.

Anyway, kebiasaan meletakkan henpon dalam kondisi on dekat bantal ini bersumber dari long long time ago.

Jadi suatu hari diriku jadi dokter. Ini berarti seluruh keluarga dan orang satu kampung tempat diriku tinggal punya pikiran sama: wah, asik, bisa ngukur tensi dan berobat gampang nih, gak perlu susah-susah ke praktek dokter (diriku praktek jauh dari rumah). Anytime of the day. Mau pagi sebelum sarapan (sekaligus beli nasi kuning di warung sekalian singgah ngukur tensi), sore sebelum magrib (sekalian beli pisang goreng di warung, sekaligus singgah nanya obat sakit gigi, mumpung belum keburu magrib), tengah malam (daripada gak bisa tidur semalaman nahan sakit perut, mending ngetuk rumah si mbak dokter itu deh). Kita satu rumah sudah biasa dilihat dalam kondisi tidak appropriate: dasteran, muka bangun tidur, masih belum pada mandi, rumah belum disapu, sedang sarapan (mom dan granny orangnya baik hati berlebihan, tetangga ditawarin makan, diambilin piring, berakhir dengan tetangga numpang makan juga, not that I am complaining, tapi terpaksa makannya jadi harus agak sopan, biasa kaki diangkat sebelah, hihihi), dsb. Eh tapi kalo dipikir-pikir, biasa aja sih di kampung kami ini pergi dasteran ke warung belum mandi, cuma pake kerudung disaputkan ke kepala. Continue reading →

Advertisements

Pengalaman di Angkringan Sebul Jogja

Tadi malam dengan selamat tiba di Jogja pake Mandala. Buat teman-teman di Jogja, maaf gak kasih kabar duluan, karena mendadak sekali perginya, baru aja di”titah”kan bos di UGM untuk menyeberang ke Jogja. Yang namanya bos ini, gak ada kata tidak, dan kalau kerja tidak kenal hari libur dan jam. But I don’t mind sih. Kangen Jogja soalnya.

Dari bandara langsung ke kantor malem-malem, satpam aja bingung. Sesudah dapet info dan data, langsung cari makan, dijemputi temen. Sekarang kita cerita makanan dulu ya.

Kebetulan dari pagi makan gak keruan dan sedikit sekali, saking stressnya memberesin kerjaan karena harus mendadak pergi gini. Sebenarnya aku kepingin makan di warung (lupa namanya) daerah belakang Sadar (lupa nama jalannya) yang porsi nasgor dan capcaynya porsi kuli yang sudah gak makan 3 hari (mungkin temen-temen pencinta jalan-jalan dan makan-makan di Jogja tahu, sambil melirik grup CahAndong). Terakhir kali ke Jogja beberapa bulan lalu, sempat makan di sini. Puas deh, mana lumayan murah untuk ukuran porsi amit-amit itu.

Tapi temenku ngajakin ke angkringan. Aku sih apa aja mau, laper banget soalnya. Dulu waktu masih ngekos di Karangwuni, suka ngangkring sama teman-teman kos di angkringan deket Karangwuni itu, depan Suzuki atau Yamaha atau apa itu, sebelahnya distro baju, dulu deketan dengan Break Coffee & Books (sekarang kan Break udah gede dan pindah ke tempat lebih luas, lebih ke utara dari tempatnya yang dulu). Di sini nasinya gak dibungkus kayak nasi kucing gitu, tapi disendokin masuk piring, porsinya gede, entah karena muka kami muka laper terus kalo ke situ atau memang semua orang digituin. Lauknya enak-enak (aku apa sih yang gak enak), dan standar angkringan: tahu, tempe, telur dadar, empal, sate telur puyuh, sate usus, ayam. Wah, kalo kami makan di sini mah bernafsu, jadinya bukan makan ala angkringan. Tapi yang penting duduk-duduk santai sambil ngobrol di tempat remang itu kan hehehe….

Oke, kupikir mau diajakin makan di situ, ternyata aku diajak jauuuuuh banget ke daerah Timoho, selatannya Happy Land, di Jalan IpdaTut Harsono (depan kantor Taspen), gitu sih alamat yang tertulis di depannya. Ada namanya: Sebul (foto-foto diambil dari situsnya Truly Jogja dan blognya Ariep). Pertama lihat, ya aneh aja, ini mah bukan angkringan. Mana ada angkringan pake spanduk nama di depannya? Trus bentuknya. Halaman luas, ada gazebo-gazebo di depan, ada meja-meja panjang reyot dikelilingi kursi. Ada sih gerobak khas angringannya itu. Ada tempat makan lesehan pake tikar (tapi pake meja). Tapi yang unik, ada “gubuk” bambu bertingkat dua di belakang gazebo-gazebo dan gerobak angkringannya. Parkirnya luas, penuh motor dan mobil (itu kan malam minggu).

Wah, ini mah angkringan yang terkontaminasi modernisasi hehehehe… tapi keadaannya memang tetap dibuat remang-remang, gerobaknya memang kayak angkringan, kita makan dan minum pake piring kecil dan cangkir kaleng (haduh, aku jadi kangen rumah, nenekku kalo bikin teh selalu di cangkir seng besar), menu khas angkringan: wedang jahe, kopi, teh, tape, sego kucing (nasi porsi kecil -buanget- dibungkus daun, di luarnya sih dibungkus lagi dengan kertas pembungkus nasi biasa, ada nasi oseng mercon, nasi sambal hati, nasi sambal teri, nasi kerang, nasi oseng tempe, nasi teri), dan gorengannya yang pilihannya buanyaaaaaak sekali: tahu, tempe, berbagai macam empal, ceker, burung, sate usus, sate telur puyuh, lele, rempelo ati, sampe yang modern macam sate bakso, sate kerang, sate sosis, semua ditaruh di atas gerobak. Juga ada sayur-sayuran, sambel bikinan dan sachetan. Gak tahu harganya ya, bukan saya yang bayar sih. Mungkin harganya agak mahal kali ya dibanding angkring biasa, atau sama?

Terus suasana ngangkring yang gak diburu waktu itu loh yang saya suka. Mau ngobrol sampe tengah malam di situ hanya ditemani kopi dan gorengan juga gak ada yang ngusir. Malam tadi banyak banget orang bermobil datang, isinya penuh cowok dan cewek. Apa mahasiswa, apa orang LSM, atau apa gak tahu. Mungkin saja mahasiswa, mahasiswa jaman sekarang kan lebih kaya dari dosennya. Rata-rata milih di Lantai 2.

Di sebelah gerobak diletakkan kursi menghadap samping, menghadap screen kain tempat memproyeksikan acara TV. Waktu itu channel ditaruh di TransTV, maenin Extravaganza. Wah, kalo pas musim bola, pasti asik nih.

Aku makannya agak nafsu, habis semua bikin kepengen dan keliatan enak sih. Walau sebenarnya sama aja rasa semua menu angkringan dimana-mana, menurutku. Dan menu gorengannya biasanya dingin, padahal di rumah, semua harus aku goreng lagi biar panas, rasanya kalo makan makanan dingin serasa dingin di hati *halah*

Jadi agak lama duduk disana, karena HARUS menghabiskan semua yang diambil *ihiks* Tehnya enuak loh, manis seperti teh-ku di rumah. Oke, sambil ngobrol-ngobrol (sayang gak bisa ngambil foto, karena kamera HP-ku gak mampu ngambil gambar gelap gitu, sedang batre kamera habis huh!), kami saling membandingkan HP Flexi, harap maklum, akua baru saja pake CDMA, jadi agak-agak bengong gitu. Karena banyak gangguan dari pengamen, akhirnya kami angkat kaki. Pas aku balik ke kamar, loh, hape CDMA-ku mana? Aku telpon-telpon, berdering, tapi gak diangkat. Hadoh. Aku yakin tu HP pasti dipungut sama mas-mas yang ngelayanin, soalnya kan sebelum tamu datang, dia beres-beres piring dulu. Aduh. Pasti aku “ketulahan”, karena sebel sama pengamen. Mereka salah apa, coba?

Aku balik lagi ke Sebul *jauh banget hiks hiks* sambil berdoa pake amalan yang biasa dipake my mom kalo kehilangan barang. Sesampai di sana, tempatku duduk sudah diduduki banyak orang. Jadi aku deketi masnya yang lagi bikin teh. “Minum apa, mbak?” tanya si mas, tidak melihat ekspresi rusuh di wajahku. Emmm…. mas, tadi ada lihat hape ketinggalan gak? Dia natap temennya. Temennya liatin aku (mungkin nginget-nginget apa aku tadi ada duduk ngangkring di situ, ya iyalah, emang ada yang bisa lupain muka-ku? *kege-eran*). Terus dia merogoh kantong: “Ini ya mbak?” Waaaaah! Aku langsung terharu dan mau nangis-nangis. Mas ini baik banget siiih! Kalo dia mau bilang gak ada juga, apa saya bisa maksa? Ternyata, masih banyak orang baik di dunia ini. Aduh! Saya lupa nanyain namanya! Kalo ada yang ke sana dan lihat mas agak tinggi, rambut agak keriting, pake kacamata, gak tau item apa putih, wong remang-remang gitu, dia orangnya baik 🙂 Dan tolong tanyain namanya ya!

Layanan 3G oleh Telkomsel

Waktu baca sekilas-sekilas Kompas pagi Rabu, aku lihat iklan Telkomsel sehalaman penuh. Tentang ajakan jadi 10.000 orang pertama yang akan dapat menikmati serunya dunia 3G Telkomsel. Bagi yang punya ponsel 3G, bisa mengirim ke SMS dengan isi pesan “3G” (tanpa tanda petik) ke nomor 3636 untuk mengaktifkan fasilitas 3G.

Dengan demikian, paling lambat sebulan lagi (kata Telkomsel sih ini), pelanggan 3G-nya bisa menikmati fasilitas video call, mobile TV, video streaming, content download, high-speed data access, dsb. Telkomsel sudah menandatangani kerjasama dengan Nokia, Ericsson, dan nantinya Siemens, untuk mendukung layanan ini. Telkomsel juga bekerjasama dengan SCM, Metro TV, Bizcom and Elasitas untuk penyedia content untuk mobile TV dan video-streaming. Sialnya, untuk tahap awal, layanan 3G baru akan tersedia di 9 kota (dan itu tak termasuk Banjarmasin): Medan, Palembang, Batam, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Makassar and Balikpapan. Pada akhir 2006, katanya akan meningkat menjadi 20 kota.

Para early-adopters yang 10 ribu orang itu (lagi-lagi katanya) akan dapat penawaran gratis dan tarif khusus. Gak tau deh berapa tarifnya yang dibilang khusus itu. Mudahan setara dengan layanannya. Sampai saat ini, aku tetep puas dengan pelayanan Telkomsel (Red: ini bukan iklan, tapi kalo mau kasih honor karena nyebut2 gini, nanti saya sms-kan nomor rekening saya, Telkomsel).

Dengan demikian, Telkomsel adalah provider seluler pertama di Indonesia yang memperkenalkan 3G secara komersial. Mungkin sebentar lagi Indosat dan XL juga akan meluncurkan layanan 3G, karena mereka juga punya lisensinya. Di Asia, Indonesia adalah nomor 3 sesudah Singapura dan Malaysia yang meluncurkan 3G. Oya, sejak tahun lalu Indonesia juga meluncurkan jaringan 3G lainnya, yaitu CDMA2000 1xEV-DO, dan sudah diujicoba oleh Telkom, Mobile-8, dan Indosat.

Apaan sih 3G? Aku tadinya juga tidak tahu. Waktu nyari-nyari ponsel yang ada kemampuan EDGE-nya, kupikir itu sudah 3G, ternyata belum. Waktu baca review ponsel dan artikel-artikel terkait ponsel di tabloid ponsel atau di internet, banyak istilah-istilah yang tidak dimengerti, macam HCSCD, EV-DO, W-CDMA, UMTS, EGPRS, dan banyak lagi. Habis jalan-jalan ke Wikipedia, ternyata itu adalah istilah-istilah untuk teknologi transfer data. Aku coba sarikan di sini sesuai pemahamanku ya. Siapa tahu berguna bagi orang awam sepertiku yang lagi pengen beli ponsel.

Ada beberapa standar pelayanan transfer data, mulai dari 0G sampai 4G, mulai yang kecepatan terendah sampai tercepat. Aku kenal ponsel sejak era 1G, waktu itu temenku, yang jadi dosen komputer, ponselnya masih AMPS. AKu baru beli ponsel waktu sudah era GSM, yang termasuk 2G. HCSCD dan GPRS masuk antara teknologi 2G dan 3G, biasa disebut 2.5G. CDMA2000 1x dan EDGE disebut dengan teknologi 2.75G. W-CDMA dan 1xEV-DO masuk kategori 3G.

GSM (Global System for Mobile Communications) adalah standar ponsel paling populer saat ini, sehingga kita bisa membawa ponsel GSM kemana-mana di dunia. Kualitas suaranya tingginya, tetapi biaya relatif murah. GSM merupakan jaringan seluler, yang artinya ponsel berhubungan dengan jaringan GSM dengan mencari sel yang terdekat. Ada 4 range frekuensi yang digunakan, tapi paling banyak di 900 dan 1800 MHz.

HCSCD (High-Speed Circuit-Switched Data) adalah pengembangan dari sistem GSM (CSD), dimana dia menyediakan beberapa slot sekaligus, sehingga bahkan pada cuaca buruk, transfer datanya berkali-kali lipat lebih baik dari GSM. Cuma, ya itu, harganya jadi lebih mahal.

GPRS (General Packet Radio Service) berbeda dari GSM, dimana kalau pada GSM, begitu terhubung, maka sirkuit itu hanya bisa dipakai oleh si pemakai, sedangkan pada GPRS, pada satu saluran bisa dipakai beberapa orang sekaligus, dan bandwidth hanya digunakan bila lagi mentransfer data. Dengan demikian, walaupun GPRS bekerja dalam jaringan GSM, pemakaian GPRS tidak ditagih berdasarkan lama koneksi, tapi berdasarkan besar data yang ditransfer. Kalau kalian baca juga di iklan-iklan ponsel, ada GPRS class ini, class itu, ada yang GPRS 4+1, GPRS 3+2 dan macam-macam lagi. Nah class itu maksudnya memberikan indikasi seberapa banyak slot yang bisa dia pakai. Ada GPRS class 1 sampai class 12, semakin tinggi class-nya, semakin tinggi kecepatan transfer datanya. Kalo ditulis GPRS 4+1, itu maksudnya downlink slots-nya 4, dan uplink slot-nya 1 (= GPRS class 8). GPRS class 10 = GPRS 4+2. Kalau dibandingkan dengan HCSCD yang sama-sama termasuk 2.5G, GPRS lebih murah. Tapi kalau untuk download, HCSCD lebih baik, sih, katanya, karena circuit-switched data selalu lebih diprioritaskan daripada packet-switched data di sebuah mobile network.

CDMA2000 menggunakan CDMA (Code division multiple access), yaitu teknologi radio digital mobile yang mentransmisikan data dalam saluran yang dibagi-bagi menggunakan kode-kode (opo siy ini maksudnya). CDMA memungkinkan banyak radio sekaligus menggunakan saluran frekuensi yang sama. Jadinya, tentu lebih cepat dari GSM. Ada macam-macam standar CDMA2000, mulai CDMA2000 1x (1x disini maksudnya bekerja pada 1 pasang saluran radio 1,25 MHz), CDMA2000 3x (3×1,25 = 3,75 MHz –> belum rilis), CDMA2000 1xEV-DO (CDMA2000 1x plus kemampuan high data rate: downlink data sampai 3,1 Mbps dan uplink sampai 1,8Mbps) dan CDMA2000 1xEV-DV (lebih cepat lagi dari 1xEV-DO). CDMA2000 1x masih masuk 2.75G, sedang yang lain-lainnya sudah masuk 3G.

EDGE (Enhanced Data rates for GSM Evolution) atau sering juga disebut EGPRS (Enhanced GPRS) adalah pengembangan GPRS. Karena juga merupakan GPRS, EDGE bekerja dalam jaringan GSM, tetapi membutuhkan mobile set yang sudah mempunyai teknologi EDGE. Secara kecepatan, sebenarnya EDGE sudah bisa masuk kategori 3G.

W-CDMA (Wideband Code Division Multiple Access) adalah teknologi yang berada di belakang UMTS (Universal Mobile Telecommunications System), yang masuk dalam teknologi 3G. UMTS menggunakan infrastruktur GSM, dan mampu mentrasfer data sampai 1920 kbps.UMTS menggunakan sepasang saluran 5MHz, satu di range 1900 untuk downlink, dan 2100 untuk uplink. Walaupun menggunakan infrastruktur GSM, ponsel GSM biasa tidak bisa digunakan di jaringan UMTS. Ponsel yang mendukung 3G biasanya mempunyai dual mode: GSM & UMTS, jadi ponsel itu bisa menelpon memakai jaringan GSM. Kalau sedang menelpon sambil berpindah tempat ke daerah tanpa jaringan UMTS, maka dengan halusnya ponsel akan berpindah ke jaringan GSM. Jeleknya, ponsel seperti ini boros batre.

So, are you ready for broadband internet connection from your mobile?

Pic from: http://detikinet.com/

KLB* 2 tahunan (Subject: My Cell Phone)

Artikel Kompas Minggu lalu (edisi 13 Agustus 2006) berjudul “Separuh Otakku Kujinjing Semua” membicarakan tentang seberapa besar arti sebuah benda bagi seseorang. “Benda” yang dibicarakan di sini adalah gadgets yang sudah begitu lengket dengan kita, macam laptop, ponsel, PDA. “Apabila kehilangan itu mampu membuat dia melakukan refleksi diri yang mendalam dan berpikir ulang tentang hidup, benda itu pastilah sesuatu yang sangat bermakna dalam hidupnya.” Hmmm, aku mengalami hal serupa dua kali, terakhir awal bulan ini, walau tidak sampai segitunya bikin “refleksi mendalam dan berpikir ulang tentang hidup”, hihihi….

Pada tahun-tahun 90-an, aku sering melihat dosen menenteng-nenteng hape segede batu bata ke sana kemari, dan waktu itu aku berpikir: bodoh banget sih mau-maunya bawa barang gak penting (bagiku) sebesar itu kemana-mana, dan diam-diam bilang dalam hati bahwa aku tidak akan pernah tertarik trend telpon genggam seumur-umur.

Mulai bekerja sambil kuliah pada akhir tahun 1990-an, mulai merasakan enaknya punya gaji sebagai seorang single. Bingung mau ngapain dengan gaji itu, mulailah hobi belanja buku. Tahun 2000 akhir, sesudah kenal internet dan jadi banyak kenalan yang rata-rata punya hape, kok jadi berpikir-pikir punya. (Tanda bahwa dengan peningkatan pendapatan, kebutuhan kita juga bertambah.) Akhirnya terbelilah Nokia 5110, “henpon seribu umat” yang tebal itu. Waktu itu harga barunya masih Rp 1 juta. Wah, bangganya bukan kepalang (sudah lupa dengan celaan pada dosen bertahun-tahun sebelumnya). Sejak itu jadi hobi baca berita ponsel (saking sedikitnya perkembangan ponsel waktu itu). Tapi aku tidak ketergantungan dengan ponsel. Belum.

Tahun 2002, ketika mau sekolah lagi, Nokia 5110 mulai ngadat. Harap maklum, aku sering sekali menjatuhkannya. Ponsel yang satu ini kan memang tahan banting. Karena bakal pindah tinggal, orang-orang rumah protes dong kalo susah dihubungi. Berpindahlah aku ke Nokia 3110: lebih tipis, tapi masih cukup besar. Tahun 2004, ponsel ini dicopet di bis di Jogjakarta (gara-gara ini, jadi kenal yang mana copet, yang mana yang cuma bertampang copet padahal mahasiswa biasa).

Bertahan 2 minggu tidak pake ponsel, akhirnya sesudah didesak-desak teman dan family, aku beli lagi, Nokia 3100. Fitur organizernya benar-benar simpel tapi memuaskan plus kemudahan aku upload macam-macam midi: aku maunya ringtone yang orang lain gak ada yang punya. Ponsel yang satu ini ketahanannya luar biasa, sama dengan N5110, sudah kebanting ribuan kali, masih bagus-bagus aja. Palingan cuma beset-beset. Perilakuku terhadap ponsel yang sebenarnya paling aku sukai ini tetap macam enggak butuh: sering ketinggalan di mana-mana. Di laci kantor pas weekend, di meja rumah makan, di meja orang lain, di mana-mana. OK, aku akui deh, aku orangnya pelupa.

Nah, awal bulan ini, akhirnya kena batunya juga. Ponsel itu, habis dipakai nelpon-nelpon dan sms-an, ketinggalan di taksi di Jakarta. Aku baru menyadarinya sekitar 1,5 jam kemudian. Huh. Langsung misuh-misuh, karena itu kan lagi di luar kota. Aku perlu banyak nomor telpon, mulai teman di Jakarta, bos proyek di Jogja, taksi, penginapan, dsb. Baru sadar ternyata tu barang penting banget. Sebagai orang yang sulit mengingat angka, yang ada di otak cuma nomor hape sendiri dan nomor rumah 😛 Sesudah usaha memperoleh kembali hape yang hilang (minimal kartu SIM-nya deh *sok gak perlu ponselnya*) tidak berhasil, akhirnya aku beli juga. Kali ini cuma tahan gak punya ponsel 4 hari. Tanpa perlu refleksi diri mempertanyakan tentang arti hidup. Pokoknya aku gak bisa pisah dengan ponsel, titik.

Sialnya, tidak seperti dulu, sekarang pilihan ponsel begitu bervariasi sehingga aku langsung pusing begitu masuk toko ponsel. Padahal sudah doing research di internet, tetap aja serasa ditimbuni dengan produk-produk ponsel. Akhirnya, lagi-lagi, beli Nokia. Oya, ini bukan iklan Nokia lo ya. Aku itu sebenarnya gak “brand-minded” (ah bohong kamu min), tapi karena temen saya (yang orangnya keren dan karismatik) kerja di Nokia, jadinya kebeli Nokia deh (paling lemah hati sama yang karismatik).

Apa kalian melihat ada pola di sini? 2000: pertama beli. 2002: rusak dan beli lagi. 2004: dicopet dan beli lagi. 2006: hilang dan beli lagi. Ini kejadian yang berulang tiap 2 tahun sekali! Sudah digariskan Tuhan kali ya? -sok penting- Berarti 2008, bakal beli lagi, hmmm….. Kali ini, hilangnya lebih keren dong lokasinya: jatuh dari puncak Himalaya, gitu. Atau dicopet gorila di hutan Amazon. Atau ketinggalan di Mars pas survey kelayakan air bersih di sana.

* KLB = Kejadian Luar Biasa. Istilah Ilmu Kesehatan Masyarakat. Biasa digunakan untuk menyatakan kejadian luar biasa (*roll your eyes*) dari penyakit di daerah tertentu. Misalnya wabah diare, wabah demam berdarah, dsb, yang muncul musiman dan berulang setiap periode tertentu.

Gadget yang kontroversial, aneh, atau tak berguna

Dari beberapa newsfeed:

Di Phonedaily, ada macam-macam pembungkus hape, salah duanya adalah ini nih:
Poops dan rerumputan (idih…)

Coklat:

Mouse yang pasti disukai cowok-cowok (tapi mungkin bakal terjerat UU APP):

Penemuan sinting dari situs Medgadget: Rape Trap aka Rapex! Apaan itu? Katanya sih senjata kalau-kalau diperkosa. Semacam kondom yang bagian dalamnya ada alat yang akan menjepit, er, penis si pemerkosa, dan hanya bisa dilepas dengan cara bedah. Hiiii…. Katanya lagi sih tidak akan menyebabkan kerusakan secara fisik. Tujuannya katanya biar si pemerkosa kesakitan sehingga si korban sempat lari. Jangan-jangan terus malah saking sakitnya si pemerkosa memukuli si korban? Lagian mosok iya si korban sempet-sempetnya masangin kondom? 😀


Terus ini desain untuk “Computer Obsessive” yang sangat mementingkan privacy berkomputernya (maen game? chatting? liat situs porno?). Satu lagi yang diperlukan: mesti putus urat malu make ini. Juga mesti mempersiapkan alasan-alasan logis kalo polisi mau nangkep.