Category Archives: Manga

Hujan Merchandise

b5ers2.jpgAkhir minggu lalu saya ke Jogja. Jogja memang bisa dibilang surga buku (baru murah dan bekas), surga internet (koneksi yang cepat dan murah, banyak wifi gratis), surga makanan (cocok dengan selera saya yang hobi manis dan harganya murah), surga mp3/ACD/VCD/DVD bajakan, surga software bajakan, surga komunitas. Untuk yang terakhir ini, saya rasa karena suasana Jogja yang bersahabat dan penuh kebersamaan, maka para penghuninya suka berkumpul, sekedar ngobrol atau memang punya aktivitas yang jelas. Komunitas paling dekat dengan saya tentu saja B5ers: saya, my best friend Woe Lan, Yeyen, Rina dan Rani, Icha, Yasmin, Mbak Izzah, Puspa, Dian, Ella, dan Mbak Medy. Siapa sih B5ers? Ya, mereka adalah eks penghuni tetap (gak pindah-pindah mulai awal kuliah sampai wisuda, kecuali Puspa) Karangwuni B5 periode saya di sana (2002-2005), salah satu kos paling ribut kalo lagi siaran main bola, dan komunitas paling berdosa menghujat acara AFI mulai awal penyiarannya dan acara Sang Lelaki yang super duper garing itu (kapan-kapan akan saya tulis mengenai ini, walau tu acara sudah moksa). Sudah tahu dua acara itu garing, tapi tiap malam acara-acara itu diputar, dengan setia semua duduk di depan tipi sambil mengunyah dinner atau makan kuaci bunga matahari. Dua acara ini telah berjasa mengeratkan B5ers -halah-

homerian.jpgNgomong-ngomong komunitas, tahu dong komunitas Forum Buku Kafegaul? Gak tahu? Oh, betapa tidak gaulnya kalian 😀 Kebetulan janjian hari Sabtu atau Minggu itu untuk bertemu anak KaGers lain di toko buku bekas milik sang detektif buku Homer dan sang nyonya, Esti. Toko bukunya bernama Homerian, lokasinya tepat di seberang Brimob Baciro, Jalan Kompol B Suprapto (Melati Kulon) no 38 A, Yogyakarta. Kalau kalian tahu si Homer, maka kalian mestinya tahu bahwa koleksi bukunya tidak biasa. Makhluk ini sangat suka buku dan movies, maka koleksinya di Homerian juga terdiri dari buku dan DVD. Sebagian besar bukunya adalah buku impor. Ada yang disewakan, ada yang dijual, ada yang cuma dipajang buat pamer koleksi, huh! -Masih mangkel karena dirinya punya buku “501 Must-Read Books” yang sangat eksklusif- Ah, tentang buku sebaiknya jangan terlalu banyak saya bahas di sini. Cerita tentang jalan-jalan dan belanja buku di Homerian akan saya tulis lebih detil di blog saya yang gak pernah di-update satu lagi. Singkatnya, karena saya pelanggan setia Homerian, dan karena pada dasarnya suami-istri pencinta buku ini emang baik hati dan tidak sombong rajin menabung, saya dikasi merchandise 2 buah pin dan beberapa pembatas buku Homerian. Pembatas bukunya belum sampe ke tangan saya karena diselipkan dalam buku-buku yang baru akan saya terima paketnya minggu ini.

cahandong.jpgKomunitas lain di Jogja yang baru saja saya kenal adalah cahandong.org (lihat banner di sidebar), yang “melihat Jogja tanpa kacamata kuda”. Bosnya hobinya jalan-jalan dan makan-makan. Ah dengar jalan-jalan dan makan-makan mengingatkan kita pada komunitas Jalansutera, bukan? Ya, si kusir andong ini memang juga anggota aktif komunitas tersebut. Sesudah ikut milis cahandong beberapa lama, saya memutuskan bahwa komunitas ini memang tidak punya urat malu dan sudah gila semua, dan HARUS dan bener-bener wajib didatengin acara kopdarnya. Tentu saja akhirnya saya tidak sempat bertemu dengan sebagian besar anggota komunitas. Saya hanya bertemu sang kusir dengan celana yellow-nya, Amma si kecil mungil, iks, Didit (bener gak ya, habis banyak sekali nama yang disebutkan, mana gelap lagi), cowoknya mansup si antobilang, toopics, syam, dan yang lain-lain lagi saya lupa. Saya bertemu mereka sekalian menagih merchandise yang Adi mereka janjikan. Kaos biru, kartu pers biru, pin cahandong, stiker, dan bahkan amplopnya pun dibuat khusus, keren. Saya gak mungkin dong memakai kaosnya lalu memfoto diri saya sendiri, karena saya tidak suka difoto, jadi saya pasang tampang Bebek aja ya, hihihi. Maaf ya Bek, fotomu tak pasang.image009.jpg

Ada satu orang lagi sebenarnya yang ketemu saya, yaitu bos Loenpia.net, dia dulu pernah menjanjikan stiker. Karena kebanyakan ndobos, lupa kali dia ya, hohoho.

image018.jpgNa, trus tadi, saya ketemu si gendut yang ngakunya seksi ini. Dengan bangga dia pamer cincin. Hoh, DB kawin? Woiii, DB kawin! *pletakz* oops, sorry, maksud saya cincin Death Note. Haduh, slurp slurp -masang tadah liur- “Di mana lo beli, Ki?” “Di Rumah Pernik Duta.” Ya, saya iri dan harus punya. Jadi, tadi saya melihat-lihat barang di Rumah Pernik. Toko ini menjual action figures anime dan macam-macam pernak-pernik yang berkaitan dengan film dan tokoh animasi. Lucu-lucu deh, ada ikat kepala dan sarung tangannya Naruto, bantal-bantal, gantungan kunci, pin, kalung, gelang, cincin, macam-macam deh. Tapi tentu saja koleksi yang saya cari adalah Death Note merchandise, berharap bahwa koleksi Rumah Pernik ini mendekati koleksi situs merchandise Death Note ini. Seperti sudah diduga, tentu saja tidak sesuai harapan. Tapi, saya sudah senang banget ketemu kalung dogtag bergravir wajah L dan Ryuku. Sayang tidak ada Raito, kalo komiknya saya lebih suka Raito sebenarnya. Ternyata kalung ini terbuat dari besi -la iya lah- dan dengan sangat menyesal, walaupun saya beli, saya mungkin tidak akan bisa memakainya karena saya alergi berat pada besi. Cincinnya juga terbuat dari besi dan ukurannya nauzubillah, nomor 18, gede amit-amit. Mereka juga jual cincin stempel dengan logo L. Yang ini ukurannya lebih amit-mait lagi gedenya. Tinggal 2 lo, yang pengen, buruan. Ada juga buku memo bergambar Death Note (bukan, bukan THE Death Note, kalo yang itu pasti sudah saya beli). Dan gak nahan untuk gak beli kalung berbentuk Zabimaru-nya Abarai Renji di Bleach. Hhhhh…. Masih banyak sih yang dipengen, tapi mbak yang jualan menatap saya dengan agak tercengang sudah, agak bingung kali ada pembeli, khikhikhi…. bleach.jpg

Hoi, para pembaca, saya ultah bulan Oktober, sebaiknya kalian mulai menabung, karena hadiah untuk saya sebaiknya tidak berbentuk barang (kecuali kalo itu buku), melainkan uang, untuk saya belikan merchandise-nya Death Note, setuju?

Pic Homerian Bookshop diambil dari Truly Jogja

Advertisements

Death Note

Judul yang mengerikan. Mengingatkan aku pada El-Maut di buku-buku cerita anak terjemahan karya Hans Cristian Andersen dulu. Bayanganku dulu El-Maut kemana-mana bawa buku hitam dimana dia nulis nama orang yang akan dicabut nyawanya olehnya.

Bermula dari *ahem* scanlation manga ini yang dikirimin via pos oleh teman yang lagi kuliah S3 di London. Hehehe…. bayangkan, sekolah S3, tapi dasar kalo memang hobi manga, tinggal di London dengan koneksi internet kampus yang lezat banget lebarnya, tersalurlah hobinya. Selain manga, dia juga hobi cersil. Wah dia baca gak ya blogku ini. Sayangnya dia baru ngirimin sampai chapter 82 (bagian awal buku 8). Padahal manga ini berakhir di buku 12.

Tadinya scanlation manga ini tersimpan manis di folder ebooks. My sister yang berinisiatif baca duluan, dan dia bilang serial manga yang satu ini sangat direkomendasikan untuk dibaca. Aku pun mulai baca, ternyata walaupun banyak sekali dialog panjang dan pemikiran-pemikiran rumit dari 2 tokoh utama serial ini, Raito dan L, alur ceritanya sangat memikat. Karena tema yang dipilihnya, sudah jelas manga yang satu ini tidak akan lolos diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Cerita bermula dari kebosanan Ryuku, salah seorang shinigami (dewa maut), dengan dunianya yang lembam, dan kebosanan Raito, seorang cowok gorgeous berotak encer di sebuah SMA di Jepang, yang terobsesi dengan mimpinya menciptakan dunia utopia yang damai tanpa ada kejahatan. Ryuku iseng-iseng menjatuhkan salah satu Death Note-nya (Ryuku punya 2 biji) ke dunia manusia. Raito memungutnya dengan skeptis, menganggap Death Note kosong itu hanyalah keisengan orang. Ada petunjuk “How-to-Use” di bagian dalam sampul Death Note.
1. Manusia yang namanya ditulis di buku ini akan mati.
2. Wajah orang yang ditulis namanya harus terbayang di pikiran si penulis saat menulis nama orang tersebut, untuk menghindari kematian pada orang lain yang namanya sama dengan orang tersebut.
3. Bila penyebab kematiannya ditulis dalam 40 detik sesudah menulis nama orang tersebut, maka hal itu akan terjadi. Bila tidak ditulis, maka orang tersebut akan mati karena serangan jantung.
4. Sesudah menulis penyebab kematian, detail kematiannya harus ditulis dalam 6 menit 40 detik.

Sesudah 2 kali ujicoba, ternyata Death Note itu for real. Apalagi setelah Ryuku muncul di depan Raito (siapa pun yang memegang Death Note itu, akan melihat shinigami pemiliknya). Masih ada aturan-aturan lain yang baru diketahui saat kita mengikuti perjalanan Raito menggunakan Death Note untuk mewujudkan impiannya, dengan membunuhi kriminal-kriminal di Jepang (belakangan juga di dunia) dengan kecepatan yang tidak masuk di akal kalau dilakukan secara face-to-face.

Kematian yang tidak masuk di akal ini menarik perhatian Interpol, dan seorang detektif kawakan internasional yang tidak diketahui identitas aslinya, yaitu L. Pada akhirnya, serial ini adalah pertarungan antara 2 jenius ini, yang masing-masing merasa yakin bahwa dirinya adalah keadilan. Pertarungan mereka dilakukan dengan bertanding dengan strategi yang kompleks. Dua-duanya menghalalkan segala cara. L, tokoh yang kalau beneran ada di dunia kita mungkin akan terlihat menggelikan, tetapi dalam manga dimana kita menerima saja hal paling absurd sekalipun, mempunyai perilaku dan penampilan sangat unik, berbeda jauh dengan Raito yang elegan. Pada bagian akhir (kalau tidak salah, karena aku belum dapat buku 8-12), ada 2 tokoh jenius lain, yaitu Near dan Mello. Manga ini dibuat oleh Tsugumi Ohba (story) dan Takeshi Obata (pics).

Seperti biasa kalau manganya sukses, animenya akan dibuat. Sayang animenya belum selesai, sehingga aku belum bisa beli. Movienya telah dibuat, direncanakan ada 3 movies. Yang pertama, yang dikeluarkan bulan 17 Juni 2006 (di Jepang), berjudul Death Note. Movie ini berada di puncak box office sampai 2 minggu di Jepang, mengalahkan Da Vinci Code. Yang kedua, dikeluarkan bulan 3 Nopember 2006, berjudul Death Note: The Last Name. Yang ini sampai 4 minggu di puncak tangga, termasuk film dengan perolehan terbesar. Yang ketiga, mungkin dikeluarkan tahun 2007 ini, akan berisi spin-off tentang L sebelum bertemu Raito. Bagi yang sudah membaca manganya, ada beberapa perbedaan dengan movienya. Jadi bakal ada kejutan tidak terduga.

Dalam movie, Raito diperankan oleh Tatsuya Fujiwara, pemeran Nanahara di film Battle Royale yang sadis dan menghebohkan itu. Tadinya aku kecewa dan skeptis mendengar si Fujiwara yang maen jadi Raito yang keren. Fujiwara terkesan agak… em… lemah. Ternyata di movie ini dia keren sekali. Masih langsing pinggangnya (haduh), masih chubby pipinya, tetapi menuju akhir film, mata dan senyumnya semakin lama memang semakin psycho. Cocok sekali memerankan Raito yang “gila” termakan idealismenya sendiri. Di akhir movie, terlihat bahwa tokoh Raito ini lebih gila daripada di manga-nya.

Pemeran L adalah si “seribu wajah” Kenichi Matsuyama yang maen jadi Shin di Nana dan jadi Yuji Kawamoto di Ichi ritoru no namida. Tidak disangka tokoh L yang berperilaku “unik” di manga bisa ditampilkan di movie dengan begitu bagus. Salah satu penampilan terbagus di film ini. In fact, kalo di manga aku menyukai Raito, di movie aku suka betul pada L. Tokoh satu ini sampai habis buku 12, kabarnya tidak ketahuan nama panjangnya. L juga sangat hobi makan. Seram sekali melihat L menyantap tumpukan makanan manis dan berlemak itu sambil memilah-milah bukti. Tokoh seperti ini mestinya mati muda.

Tokoh shinigami Ryuku tentu saja harus dibuat dengan komputer. Mulut lebar sampai ke telinga (teringat Humpty Dumpty deh), mata kayak orang hipertiroid, bajunya yang dijahit ke kulit (masalah jahit-menjahit kulit ini jadi teringat sama tokoh keren dan kesepian Carrion di Abarat-nya Barker), pinggang yang langsing amit-amit, anting panjang di telinga kiri, tas pinggang yang keren berisi Death Note, dan sayap gede yang kelihatan seperti beneran. Tokoh ini punya keunikan tersendiri, karena walaupun dia mengiringi Raito ke mana-mana (just for fun), dia sama sekali tidak berpihak. Jangan harap dia akan memberitahukan apa-apa yang tidak diketahui Raito, walau itu untuk melindungi Raito dari kematian. By the way, tokoh ini sangat suka apel merah, semacam rokok bagi shinigami, sangat addictive.

Movie yang pertama ini akan berjalan sampai peristiwa berakhirnya pembuntutan Raito oleh agen FBI. Ceritanya agak berbeda di bagian ini dibanding manganya. Movie kedua akan menghabiskan sisa bukunya, tanpa memuat peristiwa yang berkaitan dengan perusahaan Yotsuba.

Oya, juga ada novelisasi Death Note, ditulis oleh Nisio Isin. Dan jangan lupa, ada juga game-nya dikeluarkan oleh Nintendo, tapi belum dirilis.

Ada hal lucu nih, aku baca di Wikipedia: “The Shenyang Incident“. Beberapa sekolah di Shenyang, Cina, telah melarang manga ini sesudah beberapa murid mulai mengganggu teman-teman dan guru-gurunya dengan membuat sebuah Death Note dan menulisi nama-nama mereka di dalamnya, hehehhe… gak berbahaya gitu loh.

Merchandise-nya banyak juga, dan bikin drools, terutama necklace berbentuk Death Note, trus Death Notebook-nya sendiri lengkap dengan rules-nya di dalamnya, ada gantungan kunci berbentuk L’s coffeecup yang penuh kubus-kubus gula seperti yang ditampilkan dalam filmnya, ada gantungan kunci berbentuk shinigami’s gambling bowl, ada yang berbentuk laci rahasia-nya Raito, haduuh…..

Sangat bagus untuk koleksi. Worth to watch, worth to buy.