Category Archives: Movie

To subscribe or not to subscribe. (Ngomongin Netflix)

maxresdefault (1)

Lagi rame-ramenya kabar bahwa layanan TV internet dari Netflix yang masuk Indonesia awal tahun ini, diriku jadi berpikir-pikir kepingin. Diriku penggemar serial TV dan pernah mencanangkan kepingin nonton 1 movie per minggu. Tapi karena gak punya langganan TV kabel (TV-nya sih ada, punya bapak kos yang dulu), plus ke bioskop mahal, jadi, you know lah, main donlot. Gak usah menatap diriku seperti itu, akui saja kalian semua pernah menonton sesuatu secara tidak legal, baik streaming, donlot torrent, atau nonton video bajakan. Tapi kepingin juga melakukan semua hobi ini dengan legal, tapi kalo bisa murah meriah (*banyak maunya gini). Seperti yang sudah kumulai sejak akhir tahun lalu dengan ebooks/audiobooks via Scribd (diriku menulis tentang ini di blogku yang satunya).

Okey, balik ke kepingin langganan Netflix. Ya diriku tinggal di benua lain sih, dan ketika mendengar salah satu teman di sini langganan Netflix, tidak tergugah juga kepingin. Tapi pas kehebohan Netflix di Indonesia itu muncul, trus jadi pengen *sukanya ikut-ikutan gitu. Continue reading →

Advertisements

Daddy-Long-Legs (Kidari ajeossi)

HATI-HATI: spoiler.

Daddy-long-legs. Mengingatkan kita pada sebuah novel oleh Jean Webster berjudul sama. Aku sendiri tidak pernah membaca novelnya, namun pernah membaca adaptasinya berupa komik atau cerpen, aku lupa. Cerita aslinya sederhana: Seorang anak perempuan yatim-piatu yang tinggal di panti asuhan beruntung memperoleh seseeorang tak dikenal yang mau membiayai sekolahnya sampai perguruan tinggi, sehingga dia menjadi penulis. Penolongnya ini tidak mau memberitahu identitas, namun anak itu diizinkan menulis surat padanya setiap bulan, dialamatkan kepada Mr John Smith, dan tidak akan pernah dibalas. Julukan Daddy-long-legs muncul karena anak itu pernah melihat sekilas penolongnya dari belakang, dan dia tahu penolongnya itu tinggi dan mempunyai tungkai yang panjang. Sesudah anak itu berhasil dalam karirnya, akhirnya dia menemukan penolongnya.

Nah, Daddy-long-legs (Kidari ajeossi) yang ini adalah sebuah film drama Korea yang dirilis tahun 2005, dan tidak begitu terkenal. Pemain utamanya adalah Yeon Jeong-hun dan Ha Ji-won (kita mengenalnya sebagai Lee Soojung dalam miniseri TV Memories of Bali). Ide dasarnya sama. Ha Ji-won, yang dalam film ini berperan sebagai Young-mi, adalah anak yatim-piatu. Seseorang yang tidak dikenal telah mengiriminya alat-alat sekolah dan membayarkan segala keperluannya sampai dia berhasil lulus kuliah. Usahanya untuk menemukan orang itu tidak pernah berhasil, dan akhirnya Young-mi menyadari bahwa cara berterima kasih yang paling baik adalah dengan berusaha keras agar berhasil mencapai yang terbaik.

Sesudah lulus, Young-mi bekerja di sebuah stasiun lokal, dan sesudah beberapa lama, pindah ke sebuah radio nasional dan menjadi penulis program utama di sana. Kemudahan terus menyertainya, dia diizinkan tinggal gratis di sebuah rumah yang bagus di dekat stasiun radio. Penghuni rumah tersebut sedang berobat, sehingga rumah itu kosong. Di dinding kamar kerjanya banyak terdapat memo tentang kehidupan si pemilik rumah. Di dinding juga terdapat pahatan kayu wajah pemilik rumah dari samping, seorang wanita cantik berkepang.

Suatu hari, ketika sedang menggunakan komputer di rumah itu, sebuah email masuk. Ternyata email itu ditulis beberapa waktu yang lalu oleh si pemilik rumah yang diset untuk terkirim kepada dirinya sendiri di masa datang. Iseng-iseng membacanya, ternyata itu adalah semacam autobiografi bersambung sang pemilik rumah, yang menderita penyakit yang menggerogoti memorinya, dan suatu hari juga akan mengambil nyawanya. Email-email tersebut bercerita tentang cinta tak terbalas si penulis kepada seseorang di masa sekolahnya, yang terus diikutinya sampai mereka berdua bekerja di stasiun radio yang sama. Sampai email terakhir, dan sampai si pemilik rumah itu harus berobat, dirinya bahkan tidak pernah dikenal oleh orang yang dicintainya. Walaupun demikian, si penulis tidak ingin suatu hari dirinya melupakan orang yang dicintainya, sehingga dia menulis banyak memo dan menulis banyak email untuk dirinya sendiri, untuk mengingatkannya apabila semua sudah dia lupakan. Semua detil cerita ini digambarkan dalam adegan-adegan yang mendetil pula, seperti film dalam film, dimainkan oleh Park Eun-hye (yang menjadi Lee Yeon-seng, sahabat Dae Jang-geum, dalam serial drama A Jewel in the Palace) sebagai perempuan pemilik rumah, dan Hyun-bin sebagai laki-laki yang dicintainya.

Young-mi merasa tersentuh dan menganggap cerita ini layak disiarkan di radio tempatnya bekerja, sekaligus berharap, orang yang dicintai si pemilik rumah mendengar cerita itu dan suatu hari akan mau menjumpai si pemilik rumah. Young-mi juga yakin bahwa orang yang dicintai si penulis itu bekerja di stasiun radio tempat Young-mi bekerja saat ini.

Sementara itu, Young-mi menyukai seorang pemuda penjaga perpustakaan, Kim Jun-ho (Yeon Jeong Hun), pemuda yang sangat sopan dan baik hati. Sesudah beberapa lama berpacaran, Young-mi menemukan sebuah jam pasir, mengingatkannya pada jam pasir yang dimiliki orang yang dicintai si pemilik rumah. Young-mi menduga, akhirnya dia menemukan laki-laki yang disebut dalam email. Merasa tidak enak hati, Young-mi memutuskan hubungan dengan Jun-ho tanpa penjelasan.

Belakangan Young-mi mengetahui bahwa keberhasilannya masuk stasiun radio nasional dan kemudahannya memperoleh tempat tinggal sebenarnya diatur oleh seseorang, yaitu sang produser, yang diduganya adalah sang Daddy-long-legs. Ternyata, Daddy-long-legs adalah saudara laki-laki sang produser yang sudah kehilangan memori masa lalunya dan sekarang bekerja di perpustakaan, Jun-ho. Cerita dalam email itu adalah cerita kehidupan Jun-ho, dan orang yang dicintai Jun-ho dan tidak pernah menyadari keberadaan diri Jun-ho adalah Young-mi sendiri. Keindahan film ini terletak di sini, adegan-adegan yang tadinya dimainkan oleh Park Eun-hye dan Hyun-bin diputar ulang persis sama, namun dengan aktor yang berbeda dan jenis kelamin berbeda. Yang tadinya dimainkan oleh Park Eun-hye, sekarang dimainkan oleh Jun-ho, dan yang tadinya dimainkan oleh Hyun-bin sekarang dimainkan oleh Young-mi. Membuat kita terhenyak atas kebodohan kita selama ini. Pemilik rumah yang didiami Young-mi adalah Jun-ho sendiri.

Tentu saja, sekarang Young-mi harus berkejaran dengan waktu, usia Jun-ho sudah tidak panjang. Apakah yang dilakukan Young-mi? Apakah Jun-ho mengenalinya sebagai anak perempuan yang dicintainya dulu? Sebuah drama yang sangat menyentuh dan sanggup membuatmu menitikkan air mata.

Mengapa kisah-kisah cinta Korea tidak cengeng, tetapi mampu membuat penontonnya jadi cengeng dan terkenang-kenang sampai lama? Latar belakang tokoh-tokohnya jarang diceritakan dengan jelas. Dasar ceritanya biasanya sederhana. Tokoh-tokohnya tidak terlalu cantik atau tampan, bagian awal dan tengah film terasa panjang dan membosankan, akting pemain-pemainnya terasa sangat standar dan datar. Namun kejutan pada sepertiga akhir benar-benar membuat film ini layak ditonton.

The Chronicles of Narnia: Prince Caspian

Walt Disney Pictures & Walden Media
Sutradara: Andrew Adamson
Tagline: Everything you know is about to change forever.

Satu lagi film yang didasarkan pada sebuah buku, dan kali ini bukunya adalah salah satu dari serial klasik The Chronicles of Narnia oleh CS Lewis, yang terdiri dari 7 buku. Salah satu judul dari seri ini, The Lion, The Witch and the Wardrobe sudah difilmkan dan dirilis pada tahun 2005, dan cukup berhasil meraup keuntungan serta memenangkan Oscar untuk Best Make-Up. Aku sendiri menganggap film pertama tersebut so-and-so, dan walaupun pemainnya cakep-cakep, tetap saja aku beri bintang 3 (dari 5).

FIlm Prince Caspian ini masih dimainkan oleh 4 pemain utamanya dulu, yaitu William Moseley sebagai Peter, Anna Popplewell sebagai Susan, Skandar Keynes sebagai Edmund, dan Georgie Henley sebagai Lucy. Tentu saja mereka kelihatan sudah lebih dewasa dan semakin keren. Lucy yang dulu masih imut sekarang sudah lebih besar dan cantik. Susan pipinya semakin endut dan bibirnya semakin seksi, dan Edmund, ya ampun cakep bener, pengen mengijon deh. Skandar Keynes adalah keturunan Lebanon, dan menurut isu, anak ini menyatakan dirinya adalah ateis, ya ampun. My cousin bilang, wajah Edmund kok mirip dengan salah satu tokoh keren Adam Banks (dimainkan oleh Vincent Larusso) di trilogi klasik Mighty Ducks. [Dia mah setiap orang cakep berwajah ke-Inggris-Inggrisan langsung teringat si Larusso ini.] Kenapa ya orang-orang Inggris ini cakep-cakep?

Ah sudahlah, balik ke film ini. Prince Caspian adalah buku ke-4 (secara kronologis) dari serial ini, entah kenapa yang ini yang dipilih, tapi diduga karena inilah urutan logis sesudah The Lion, The Witch and the Wardrobe, sekaligus menyempati agar pemainnya tidak terlalu tua. Film fantasi ini berdurasi 2 jam 35 menit.

Cerita dimulai dengan Prince Caspian (Ben Barnes) yang terpaksa melarikan diri dari istana Telmarine karena pamannya, Lord Miraz (Sergio Castellitto), bermaksud membunuhnya untuk menyerahkan tahta yang seharusnya menjadi milik Caspian kepada anak laki-lakinya yang baru lahir. Pelariannya membawa Caspian bertemu dengan makhluk-makhluk dari dunia Narnia yang dianggap sudah punah, karena sudah ratusan tahun ditinggalkan oleh keempat Raja dan Ratunya dan terpinggirkan oleh tekanan orang-orang Telmarine. Terjepit di antara makhluk-makhluk Narnia dan para prajurit yang mengejarnya, Caspian mengeluarkan sebuah terompet (horn) yang diberikan gurunya, Doctor Cornelius, dengan pesan bahwa benda itu hanya boleh digunakan kalau berada dalam keadaan darurat. Terompet itu ditiup, dan layar berganti ke dunia nyata.

Anak-anak keluarga Pevensie sedang duduk di kursi stasiun di London, dan nampak keren. Aku sudah bilang belum bahwa Edmund, yang pemainnya di dunia nyata hebat taekwondo ini, jadi jauuuh lebih cakep daripada film Narnia yang pertama? Bagi kalian yang familiar dengan cerita Narnia, atau sudah menonton film pertamanya, tentu mengetahui bahwa terompet yang ditiup Caspian adalah terompet milik Susan yang digunakan untuk memberitahukan bahwa Narnia dalam bahaya dan memohon bantuan. Tiupan terompet ini mampu menarik keempat bersaudara Pevensie yang dulunya adalah Raja-raja dan Ratu-ratu Narnia, untuk kembali ke Narnia. Dulunya? Yayaya, rupanya dunia Narnia bergerak dalam hitungan jauh lebih cepat daripada dunia kita. One lifetime di Narnia mungkin hanya beberapa detik di dunia kita.

Cerita selanjutnya kemudian dipenuhi dengan berbagai perang memperebutkan tahta untuk Caspian, yang memiliki seluruh Narnia di pihaknya. Sebagai cerita anak, tentu sudah bisa diduga bagaimana endingnya, dengan Aslan yang selalu datang terakhir sebagai sang penyelamat, dan cairan “anti-death” dari Lucy. Tetapi film ini jelas dibikin untuk orang dewasa. Adegan-adegannya kelam dan perangnya penuh dengan adegan-adegan kekerasan dan kematian (walau dengan jumlah darah yang segelas pun gak sampai). Pokoknya, bagi orang dewasa, OK, maksudku bagi aku, adegan perangnya cukup memuaskan, jauuuh lebih banyak daripada film pertamanya, lengkap dengan taktik perang yang keren dari pihak Narnia. Selain itu banyak adegan dan kalimat lucu, seperti komentar-komentar sarkastis dari Trumpkin, dwarf yang menemani perjalanan Pevensies di Narnia; serta tokoh-tokoh komikal seperti tikus Reepicheep yang berpenampilan seperti Puss in Boots dalam Shrek 2, cuma lebih haus darah. Bahkan monster hag pendukung the White Witch pun terlihat lucu, dengan gaya berjalan seperti Aming :p Kayaknya yang cekakakan terus cuma kami deh. Aslan, lagi-lagi, terlihat kurang besar dan gahar untuk karakternya yang mestinya sebagai The Noble One. Apalagi adegannya dengan Lucy di bagian dekat-dekat ending yang hampir-hampir seperti anjing dan tuannya, cuddling each other. Edmund digambarkan jauh lebih dewasa dalam film ini, kontras dengan Peter yang masih berkutat dengan kesombongan dan kesadaran diri bahwa dia adalah the High King.

Lokasi pengambilan gambar juga sangat indah, apalagi pada scene ketika keempat Pevensie kembali dari dunia nyata ke Narnia. Sebuah pulau indah yang dipenuhi pohon dan reruntuhan istana Cair Paravel, dikelilingi laut yang sangat biru. Kabarnya film ini di-shoot di berbagai lokasi di berbagai negara, dan tentu saja Selandia Baru termasuk di antaranya. Istana-istananya juga believable sekali, maklum ini yang bikin Disney yang paling pengalaman bikin istana. Aslan’s How, istana bawah tanah Narnia dibangun di Praha. Adegan perang di jembatan diambil di Slovenia, sedangkan adegan perang besarnya diambil di Ceko.

Menonton film ini serasa menonton film Lord of the Rings dalam skala imut. Mungkin dirasakan secara tidak sengaja karena tampilan alamnya yang kurang-lebih sama, adanya dwarf yang berlidah tajam (Trumpkin), pangeran yang ingin merebut tahtanya kembali, serta adegan perang yang mengerahkan berbagai makhluk dari dunia fantasi, termasuk burung purba (dalam film ini gryphon) dan pohon (ingat Treebeard?) .

Cerita di film ini agak berbeda dengan di bukunya. Perangnya tidak diceritakan mendetail seperti di film, White Witch sebenarnya tidak pernah muncul dalam seri ini, dan tentu tidak ada adegan romantis antara Susan dan Caspian. BBC pernah memproduksi Prince Caspian pada tahun 1999 dalam satu seri Chronicles of Narnia (hanya 4 yang difilmkan). dengan pemain utama Richard Dempsey sebagai Peter, Sophie Cook sebagai Susan, Jonathan Scott sebagai Edmund, dan Sophie Wilcox sebagai Lucy. Rasanya aku punya deh, karena CD film ini dijual murah di Gramedia dan Hero, tapi belum ditonton hihihi…

Tahun 2010, seri lain juga akan diangkat ke layar lebar, yaitu The Voyage of the Dawn Treader. Apakah keempat pemainnya masih sama? Mudah-mudahan. Kalau mengikutinya bukunya, Prince Caspian akan muncul lagi dalam film ini.

Jadi, apakah film ini layak tonton? Layak sekali. Wajib. Layak koleksi juga.

Beberapa info diperoleh dari Wikipedia. Pics diambil dari The New York Times dan imdb.