Category Archives: Photo

Prewedding, mina’s style

Posting pertama sesudah sekian lama, huuuuf. Saya tahu kalian pasti menyangka (kepedean)  posting pertama ini akan berisi kaleidoskop tahun lalu, atau paling gak resolusi tahun ini.  Huh, kalian salah.  Kali ini tulisan(-tulisan) saya di tahun 2010 akan diawali (atau jangan-jangan menjadi satu-satunya) posting ikut-ikutan tentang prewedding. Tentunya biar blog ini ikut terkunjungi kalau orang lagi nyari fatwa MUI tentang prewedding, hahahahaha….

Yap, kita tahu, pertengahan bulan ini orang ribut-ribut tentang pengharaman rambut rebonding (bener gak sih nulisnya, I don’t even know the meaning of this word), rambut rasta, rambut punk, rambut dicat (keempat masalah perambutan tersebut khusus untuk wanita single),  sampai foto prewedding. Menggelikan membaca masalah rambut ini, dan saya rasa tidak semua orang menganggapnya serius. Tetapi begitu sampai ke foto prewedding, jadi heboh deh, karena kelihatannya semua calon pengantin saat ini paling bersemangat menyiapkan pemotretan prewedding ini. Biar hasilnya bisa dipamerkan di undangan, dalam bentuk hasil cetak besar yang dipigura di hari resepsi, sampai dijadikan kalender buat gimmick acara resepsi perkawinan. Maklum, generasi ini adalah generasi narsis, yang sebagian besar dipicu oleh kemudahan menemukan fasilitas foto-memfoto ini di banyak piranti elektronik saat ini.

Saya tidak ingin membahas haram atau tidaknya urusan rambut dan urusan foto-foto prewedding ini. Yang ingin saya bicarakan tu ini: kemarin lusa (istilah apa ini?), saya membaca tulisan bagus yang mengomentari masalah pengharaman prewedding ini. Menarik sekali blognya, membawa saya ke blog-blog lain tentang prewedding. Bisa dibilang tulisan saya ini terinspirasi (sebenarnya sih meniru ide) blog yang itu. -menatap ke atas, oke kayaknya saya masih tetap bisa mempertahankan Meracau Award tahun ini- Mari kita langsung ke inti permasalahan.

Mengutip pendapat Quraisy Syihab, foto prewedding boleh saja, asal jangan melanggar tata aturan dalam agama dan budaya. Nah, ini contoh-contoh setting foto prewedding yang tidak diharamkan itu, versi saya:

  • Lokasi: padang rumput, dengan pohon-pohon rindang, atau bisa juga di taman-taman universitas keren kayak di luar negeri. Pose: Si cewek duduk di bawah pohon, sedang lost in reading, kayak gambar di bawah (kalo bisa bukunya yang keren, yang kalau mendadak mati kita tidak malu memegangnya), sedangkan si cowok duduk agak jauh, juga sedang megang buku, sambil memandang ke cewek dari jauh (jangan pasang muka mupeng, tentunya). Cocok untuk pasangan yang suka membaca buku. Foto di bawah ini diambil dari Flickr seseorang 🙂

  • Lokasi: padang hijau dengan banyak pepohonan rindang. Si cewek berlari riang di padang hijau, baju yang dipakai agak 70s berupa baju terusan selutut, sementara si cowok pake kemeja dan vest (tanpa jas), tangan di kantong celana, melihati dari belakang sambil senyum. Oke, ini terinspirasi (nyuri ide) dari foto ini (dari situs JarvieDigital Photography).

    • Kalau sang cowok-cewek waktu kecil berteman, foto preweddingnya cukup berupa kumpulan foto-foto bermain mereka berdua waktu kecil. Kalau susah mencari foto mereka berdua, bisa juga foto mereka berombongan sama teman-temannya, tapi cari foto yang pas si cowok melihat ke si cewek, atau sebaliknya. Biasa kan pas kecil suka dikasi baju-baju daerah atau baju profesi (polisi, dokter, er…..) kalo pas 17-an. Nah, siapa tahu ada yang pas berdua, kan lucu banget 🙂 Foto di bawah diambil dari situs made for mums.

    • Atau…. nah ini susah nih, tapi asik juga kalau keluarga masing-masing punya darah narsis dan punya koleksi foto lengkap. Dicari foto-foto si cewek dan si cowok dari kecil sampai besar dengan pose sama/mirip, lalu ditaruh bersebelahan, diatur pake Sotosop :p
    • Buat yang suka manga, bisa dibuat gambar coretan khas manga, dengan wajah dan ekspresi sesuai aslinya, berdiri saling bersandar punggung, dengan gaya cool. Nah ini kalau mau dibilang haram karena saling bersandar punggung, kan bisa ngeles :p Atau bisa juga kalau berani (keluarganya harus liberal sekali), sekalian aja cosplay, pilih manga serial cantik, Mei-chan no Shitsuji seperti di bawah ini, misalnya. Eh tahu gak, ada perkawinan, di mesjid, itu seluruh keluarga sampai ke penghulunya, pakai kostum Star Wars? Di Bandung loh! Menjura saya kepada kedua keluarga.

    • Bikin sebuah poster ukuran raksasa, dibuat dari foto cowoknya, dengan gaya khas cowok korea, termasuk  gaya rambut sampai style pakaian, dipasang di dinding sebuah gedung besar yang biasanya untuk konser musik/pemutaran film, lalu si cewek berfoto di depan poster, dengan gaya alay mengangkat jari berbentuk V :p Tentunya, cowoknya harus cukup keren yah buat dijadiin poster. oke oke, ini terinspirasi dari postingan Echan, yang dengan-urat-malu-sudah-putus berfoto alay di depan poster Rain.
    • Lokasi: museum foto/lukisan, kalo bisa di Paris atau London :p Si cewek menjadi obyek foto/lukisan surrealisme ukuran sebesar dinding, sedangkan si cowok memegang guide museum (dibikin khusus, dengan halaman-halaman berisi repro foto/lukisan di dinding), sambil menatap ke arah foto cewek. Tentunya, biar klop, cowoknya harus berpakaian elegan dan kelihatan kaya. Cocok untuk yang suka seni. Bisa dibuat lebih jauh lagi, tu museum guide bisa dijadikan gimmick pesat pernikahannya hahahahha. Macam Album Foto artis-artis Asia gitu.
    • Setting: ruang praktek dokter gigi. Jadi si cowok duduk di kursi dokter gigi, sedang menganga (cowoknya giginya harus bagus dan gak ada sariawan), sementara ceweknya sedang memasukkan kaca mulut dan sonde ke dalam mulut si cewek. Sangat cocok kalau si cewek pengen jadi dokter gigi, tapi tidak kesampaian, karena di Banjarmasin Program Studi Kedokteran Gigi baru buka tahun 2009 kemarin (*halah*). Tentunya ide main dokter-dokteran yang dokter umum is out of the question hahahahaha…
    • Ingat film My Sassy Girl, one of the most romantic movies abad ini? Nah, salah satu dari 3 adegan paling menyentuh di My Sassy Girl (selain adegan si cowok (Gyeon-woo) menjelaskan list “the ten rules” pada cowok lain yang dijodohkan ke si cewek, kemudian adegan duduk berdua di atas gunung sambil memandang ke arah berbeda, so simple, yet so romantic) adalah yang adegan di bawah pohon, 2 tahun sesudah janji bertemu mereka di tempat time capsule dikubur. Ada seorang kakek tua menjelaskan pada si cewek tentang apa yang sebenarnya terjadi, tentang pohon pelindung time capsule yang mati disambar petir, tetapi ditanam kembali oleh si Gyeon-woo, demi si cewek. Menurut salah satu interpretasi film ini, kakek tua itu adalah Gyeon-woo yang datang dari masa depan (mengikuti alur cerpen yang ditulis si cewek, yang sangat suka tema time travel). Nah, jadi, settingnya di padang rumput (what’s with me and padang rumput?) dengan pohon persis seperti di film itu, si cowok didandani agak tua, tapi masih jelas wajahnya, lalu duduk di bawah pohon besar di padang dalam posisi sedang menjelaskan, sementara si cewek (lengkap dengan baju mirip seperti di film: kemeja dilapis kemeja terbuka, celana pendek, dan tas bahu), berdiri di dekat si cowok, memandang ke kejauhan. Of course, ini hanya penonton Sassy Girl yang mengerti. Kalo gak mengerti, yang melihat foto ini di resepsi bengong: ngapain sih? Foto diambil dari blog ini.

    • Lokasi: halte bis. Hari sedang hujan rintik-rintik, dan si cewek memegang payung, sementara si cowok memegang daun pisang. Si cowok tinggi besar, berwarna biru dengan perut putih, serta agak kelihatan mirip kucing, dan sangat excited setiap daun pisangnya ketitikan hujan. Er……. salah artikel. *deleted*
    • Ingat tidak dengan serial film Korea berjudul Hotelier? Ingat pada pembuka atau penutup, itu ada foto resmi seluruh karyawan hotel? Sebuah foto yang sangat romantis. Semua menatap ke depan, kecuali si Manajer (Han Tae Jun) yang sedang menatap ke kiri ke arah wanita yang dicintainya (Suh Jin Young), sedangkan Suh Jin Young tersenyum pura-pura tidak tahu tetapi sambil melirik ke kanan, mereka berdiri terpisah beberapa orang. Sayang tidak menemukan fotonya di internet. Tinggal ditiru saja, misalnya dibuat foto akhir tahun kuliah (gak mungkin kan foto akhir tahun SD atau SMP atau SMA, kecuali pasangan yang menikah masih di bawah umur),  semua menatap ke depan dan serius, sedangkan si cowok dan si cewek yang terpisah berdiri saling menoleh sambil senyum cerah. Kalo perlu pake nama tempat kuliah dan tahun, warnanya dibuat sephia atau black & white. Lebih asik lagi kalau pasangan ini beneran seangkatan, dan teman-teman seangkatan diajak berfoto. Tuh susah gak, harus reuni dulu hahahahha.
    • Lokasi: taman di Belanda. Si cewek dibuatkan patungnya ukuran manusia atau lebih besar, si cowok sedang menyandar di sebelahnya, atau sedang berdiri di bawah payung. Cocok untuk cewek yang gak suka difoto. -hah, diriku dong-
    • Lokasi: Toko buku. Difoto sebuah rak buku-buku New Release atau buku-buku Laris, di cover buku ada foto berdua. Atau bisa juga berlokasi di sebuah cafe, yang disorot adalah seseorang yang sedang duduk di meja lagi ngopi, mukanya gak kelihatan, karena sedang memegang buku yang covernya ada foto mereka berdua. Bisa juga yang ditampilkan adalah orang sedang duduk di cafe, sedang browse internet di laptop, dia sedang membuka situs foto wedding, dan ada foto mereka berdua di sana. Cafe ini bisa sekaligus jadi sponsor foto preweddingnya, dengan penempatan merk di latar belakang :p
    • Trotoar ramai penuh orang di daerah bisnis (supaya pakaian orang-orang yang lewat bagus, kecuali memang mau mengerahkan figuran banyak dengan wardrobe yang disediakan), si cowok dan si  cewek berjalan ke arah berlawanan, dari jauh tersenyum, warna untuk mereka berdua dibuat cerah (di-Sotosop tentunya), yang lainnya disephia atau di-hitam putih. Cocok untuk yang budget dan waktunya gak banyak, tapi kebetulan bekerja di daerah bisnis di Jakarta. Pas makan siang, tinggal telpon sang fotografer, lalu berfoto-foto di jalan. Kerugian: kelaparan sampai sore karena gak akan sempat makan siang.
    • Foto diambil di 2 ruang kerja/duduk/kamar, sesuai style masing-masing, gambar diambil dari samping, menunjukkan masing-masing sedang mengetik di komputer dengan wajah ceria (soalnya lagi chatting atau fesbukan). Cocok banget untuk yang ketemu pasangan di internet.

    Ada lagi yang mau menambahkan?

    Advertisements

    Kaleidoskop 2008 versi Mina

    Tahun 2008 sudah berlalu, ckckckck…. Lagi-lagi tidak terasa. Apa resolusiku tahun lalu? *ngubek-ngubek postingan sendiri* Ah ini dia.

    Hmmm…  ternyata cuma nomor 6 yang kulakukan dengan agak serius. Kalau gitu tidak usah bikin resolusi baru, cukup meneruskan resolusi lama :p

    Kali ini aku ingin menulis tentang apa yang terjadi sepanjang tahun ini aja deh.   Tahun ini aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-teman (dibanding tahun sebelumnya). Bukaaan, bukan mengurangi intensitas online, justru nambah hehehehe… Teman offline dan online sekarang batasnya jadi kabur. Di online ketemunya yang itu, di offline ketemunya itu lagi. Tahun ini juga mulai jelas siapa di antara sohib-sohibku yang gila jalan-jalan. Aku juga banyak bertemu orang baru dan orang “baru” (yang sudah lama kenal online, tapi baru bertemu sekarang). Pokoknya tema 2008 adalah bersosialisasi :p

    03Dari awal tahun 2008 sampai Juli 2008, aku masih jadi mahasiswa Magister di FKUI , jadi masih bolak-balik sebulan sekali ke Jakarta. Sesuatu yang tadinya kupikir asyik banget, tapi ternyata bikin tepar dan kurus (memangnya bisa lebih kurus lagi?). Untungnya teman-teman seangkatan semua lucu, semua cepat lapar, dan seperti semua mahasiswa berusia tua di dunia:  semua ngantuk kalau dengar kuliah, jadi semua sibuk dengan laptop sok mencatat, padahal browsing dan download. Oke, Rizki mungkin tidak. Selama bulan-bulan terakhir, kami tinggal di Apartemen, dan sialnya dosen pembimbingnya juga. Gak heran kalau konsultasi dan bimbingan sering sampai jam 2 pagi. Kami jadi semakin tepar dan gak fokus kalo sudah siang. Aku kok merasa dosen pembimbingnya sebenarnya insomniak tulen, yang butuh teman ngobrol di malam hari. Sementara kami semua manusia siang yang butuh tidur kalo malam.

    Tahun ini aku memegang project pendanaan hibah untuk FK, sehingga agak cepat marah. Dan kurus juga hihihi. Asisten-asistenku juga jadi cepat marah. Panduan yang berganti-ganti dan aturan yang tidak baku membuat sebal. Segala paperworks-nya jauh lebih menyebalkan daripada pelaksanaan kegiatannya yang mesti ngutang ke FK dulu, karena model pendanaan dari departemen selalu begini: buat proposal, lakukan, buat laporan, baru deh keluar uangnya. Lah memangnya kita punya duit? Makanya ikut hibah, kalo sudah kaya sih gak usah ikut-ikut cari dana.

    01Salah satu akibat project ini adalah: Anna harus magang Farmakologi ke UGM. Dia senang, kami senang, karena jadi ada alasan jalan-jalan ke Jogja. Maaf, bukan dengan uang project ya, semua dengan uang sendiri. Gimana mau pakai uang project, pelaksanaan project aja pake ngutang dulu ke FK. Anyway, ini pertama kali kami bepergian dalam formasi lumayan lengkap. Bahri, Rina, Anna, aku. Nida kali ini gak ikut, dan Adi gak tahu kenapa gak ikut waktu itu. Foto-foto ke mana-mana, terutama ke depan Gedung Pascasarjana dong.

    02Mei 2008. Kopdar akbar pertama Kubugil ‘n friends. Gerombolan bawah tanah ini akhirnya go public. Dulu kenal hanya dari nama dan fotonya doang, akhirnya bertemu dengan sebagian besar dari mereka. Sebelumnya cuma pernah ketemu saya Yuli di Jogja, dan Miss Antie, Maria dan Imgar di Bandung. Senang banget dan terharu juga dengan partisipasi teman-teman friends of kubugil. Juga tercengang dengan partisipasi para penerbit, tapi tentunya ini berkat orang-orang hebat di dunia review buku seperti Tanzil dan Perca, serta para editor di penerbit yang juga anggota Kubugil.

    04Juni 2008, maunya kopdar dengan anak-anak  Goodreads Indonesia. Akhirnya yang muncul cuma Silvana dan Roos. Aku ngajak juga Vina dan Cippy. Jadilah itu  kopdar gabungan  forum Kafegaul, Webgaul, EMO, Kubugil, dan Goodreads Indonesia.

    08Juni 2008 adalah bulan jalan-jalan. Buat gerombolan Bahri, Rina, Anna, Nida, dan Adi, tentunya. Kebetulan aku masih di Jakarta habis kuliah. Jadilah kami ke Bandung dan Jakarta selama beberapa hari. Sesi foto-foto anehnya banyak banget, dan tidak layak sama sekali ditampilkan di sini, bisa menurunkan harkat dan martabat orang-orang tertentu hihihi… Di Bandung kita ke hampir semua tempat makan yang disebut di buku Jalan-jalan di Bandung yang kubeli, dan mendatangi hampir semua FO dan tempat wisata yang bisa dicapai. Dan diriku tidak belanja sama sekali, hebat kan? Kecuali makanan.  G ikut gabung sehari dua, tapi dia sedang sakit, sehingga yang dasarnya sudah pendiam, ya tambah pendiam.

    09Jakarta diisi dengan ke Dufan pastinya. Gak kehitung lagi aku ke Dufan berapa kali tahun ini. Sampai bosan, kecuali untuk Tornado-nya. Mau seratus kali sehari juga hayuk. Oya, kami nginap di Mess Pemda Kalsel yang di Genjing, dan omong-omong, walau murah, sangat tidak disarankan *masih seram dengan muncratan air kalo lagi membuka shower* Mana aku lagi PMS 😀 Aku heran ya, para anggota DPR katanya suka nginap di sini, kenapa seh mereka, gak ada dapat duit akomodasi ya? Saran juga buat Pemda Kalse, Mess Pemda kok menyedihkan seperti itu. Aku tidak pernah lagi menginap di sana, kecuali sangat sangat sangat terpaksa.

    10Juli 2008. Ke Bandung lagi, kali ini dengan Perca. Acaranya ber-itu-nya Maria ini dihadiri dengan heboh oleh hampir semua Kubugil kecuali Pengasap dan Rahib, dan hampir semua Friends of Kubugil tumplek blek di Bandung. Acara pernikahan yang keren, diadakan malam, dengan konsep acara yang terstruktur.

    11Sesudah pulang ke Banjarmasin, diajakin Mansup ke acara pendirian Komunitas Blogger Kayuh Baimbai. Bertemu dengan banyak gajah-gajah blogger Kalsel yang terkenal, seperti Pakacil, Arsyad Indradi, Harie, dan banyak lagi. Agak berat acaranya, sehingga aku pulang duluan. Habis ada acara mau menetapkan AD-ART segala, ya ampun, santai aja kenapa? Untungnya akhirnya tidak seribet itu. Dalam waktu dekat akan ada acara Aruh Blogger, kalian blogger Kalsel sudah pada tahu belum?

    12Agustus 2008. Akhirnya lulus juga fiiuuuuh… No more jalan-jalan sebulan sekali ke Jakarta. Begitu rupanya acara wisuda Pascasarjana. Semuanya serba simbolis (kayak di UGM juga). Yang duduk di depan para lulusan cumlaude, jadi tentunya kami gak kesorot tivi. Acara wisudanya ini agak kisruh, terutama waktu ngambil buku Wisudanya.  Kalo gak ada Hendri yang mau berdesak-desak berebutan buku Wisuda, aku mending gak usah bawa pulang buku itu.  Habis gitu, dengan cerdasnya, semua pirantiku: jubah wisuda, topi wisuda, buku wisuda, bahkan my high heels, ketinggalan di mobil yang kami sewa, yang baru aku sadari besoknya. Minta uruskan temanku yang kenal sama pemilik mobil sewaan, sampai sekarang belum diurusin karena dia sibuk keliling Indonesia. Huh.

    13Oktober 2008. Ke Banda Aceh lagi, kali ini lebih ribet, karena harus me-manage acara pelatihan Manajemen Obat dan Obat Rasional buat dokter Puskesmas di sana. Biasanya bukan aku yang urusin, aku tinggal datang saja. Awalnya rada ribet, untungnya Mbak Dewi dari UGM dan Enrico dari GITEC sangat membantu. Sedihnya warung makan Banda yang dulu sudah tutup, bangkrut katanya. Mahal gitu kok bangkrut ya. Jadinya aku makan ayam sampah di tempat lain, sampai 3 kali, dan gak ada yang enak, walau menurut orang asli sana, enak.

    19Nopember 2008 adalah bulan perayaan Dies Natalis FK-Unlam. Sekalinya jadi juri, malah disuruh jadi juri Cheers for Him. Harusnya si B, tapi dia milih jadi juri Dangdut hihihi…. Terperangah melihat lomba ini sesudah bertahun-tahun tidak melihat anak-anak cowok yang sudah putus urat malu ini nge-dance. Omong-omong, awalnya cheerleaders itu memang cowok ternyata.  Lagi-lagi, angkatan 2006 yang menang, bagaimana lagi, koreografinya asik, gerakan kompak, dan 2 yang terdepan: Gondes dan Tarigan, menjiwai banget astagaaaa…. Sebuah penghargaan juga diberikan untuk Kedokteran Angkatan 2008, yang begitu sibuk dengan himpitan kuliah, tutorial, skills lab, praktikum, study skills, tugas mandiri, tapi masih sempat latihan untuk ikut acara ini dan berhasil memperoleh juara II.

    20Desember 2008, kami ke Jogja lagi. Sebenarnya sudah berbulan-bulan merencanakannya, tapi mundur-mundur terus gara-gara ada visitasi untuk project-ku dan project-nya Adi. Akhirnya kami berangkat sendiri-sendiri ke Jogja, kecuali diirku, yang bareng Rina. Asyik banget, karena segalanya serba tanpa rencana di sana, termasuk arung jeram.

    Tahun 2008 ditutup dengan keberangkatan one of my close friends: Razi, untuk sekolah lagi. Sudah 2 nih yang pergi, Yuda dan Razi. Aku pengen sekolah lagi!

    Untuk melihat foto-foto dengan resolusi sedikit lebih tinggi, silakan ke blog saya yang satunya.

    Tidbits 01: Juni-Juli 2007 (Badai Foto)

    Hmm… hanya mau kasi kabar buat temen-temen yang nanya apa saja yang kami (kami? siapa itu kami? -sambil berusaha melepaskan symbiote-) lakukan Juni-Juli 2007 *nyari-nyari alesan buat posting gambar* Sebel karena Yahoo!Photos bakal gak ada lagi, padahal aku suka banget. Flickr dan Photobucket dari tempatku lemot. Mana Flickr dan Kodak sangat limited penyimpanannya. Terpaksa simpen di harddisk aja deh, padahal dulu aku menggunakan tempat penyimpanan online digunakan untuk backup harddisk.

    Tadi ke tempat Jojo, tasmiyahan anaknya yang bernama… hmmm… panjang banget… nginget-nginget dulu: Salsabila Nayla Johar Syahputri. Mungkin. Pokoknya semacam itu lah. Dan dari nama-yang-panjang-dan-bakal-bikin-pusing-guru-pas-mengabsen-itu, dia hanya akan dipanggil Asa. Menurut bapaknya, dan ibunya, anak itu mirip bapaknya. Menurutku, dia belum mirip siapa-siapa, tapi semua bersukur dia gak mirip Adi hehehehe…. Anyway, tu anak kabarnya sudah diimunisasi BCG, dan menurut bapaknya (yang pelit hehehe, sorry Jo), anak ini gak akan diimunisasi apa-apa lagi kecuali campak. Trus, ketika dikomentari tentang anting dan tindikan di telinga anaknya itu, dia cerita bahwa dia dibujuk-bujuk yang jual emas untuk membelikan anaknya gelang juga. Dia jawab enteng: “Nanti saja dia beli gelang kalo sudah bisa nyari duit sendiri.” Sang pedagang emas langsung melongo dan terdiam, kaget berhadapan dengan makhluk ajaib yang satu ini 😀 Peace….. Kabarnya nih, kabarnya, anaknya yang baru setengah bulan itu dah bisa baca resep huhuhu…. Katanya biar bisa disuruh jaga apotek.

    jojo.jpgNa itu dia foto si Jojo dan istri, harap maklum kalo kabur dan jelek, maklum pake hape (lagi kepingin Kodak Seri Z. Di belakang ada lengkap tuh, para Pharmacology crews: Pak Agung, Anna, Juhai, Ida, Ibai, plus tamu rutin Mbak Anna, Ajie my faithful assistant (yang sukses melangsingkan perut sejak ada si ehm-ehm), dan Vera mahasiswa PSKM bimbingan Jo. Kekenyangan makan kambing dan bingka mini bikinan maminya Jojo. Halah, jadi teringat aku gak memfoto makanannya! Oya, tentu kalian tahu semua, kalo milih masakan kambing, jangan pilih yang berbongkah besar, karena pasti tulang 😀

    cheesecake.jpgYap, ini salah satu kue modern favorit saya, Cheesecake, gak pernah berhasil mengambil skrinsyut jarak dekat, karena selalu keburu abis atau tinggal dikit pas inget sama kamera. Cheesecake ini bagian atasnya diberi lapisan agar-agar tipis, di bawah lapisan agar-agar itu ditumpahin coklat. Chesecakenya lembuuuuut banget, gak ada mirip-miripnya dengan Cheesecake-nya Hypermart yang lebih mirip kue bolu (kue klemben kata orang Banjar). Bagian bawahnya ada lapisan selai blueberry, agak serem juga ada warna biru gitu. Cheesecake ini bisa didapet di BreadLife, Duta Mall. BreadLife ini sebuah usaha penjualan roti yang konsepnya mirip banget dengan Bread Talk (gak pernah sih ke Bread Talk, cuma pernah denger aja): dapur yang kelihatan, roti-roti bernama aneh-aneh, dan pelayan berok pendek. Oya, yang di sebelah Cheesecake itu Cheesecake juga, namanya Blue Lagoon, di atasnya itu selai blueberry juga. Yaiks, gak suka banyak selai.

    promo.jpgYang ini kelihatannya promo cat rambut. Kok ada ya yang mau ngecat rambut (kayaknya gratis) di tempat terbuka gitu ya. Kelinci percobaan gitu. Posisi: tepat di sebelah BreadLife, depan Hypermart.

    bakmititi.jpgIni Bakmi Ayam Jamur. Enak deh. Dan dimana saya beli ini, sodara-sodara? Ya tidak lain dan tidak bukan, di Bakmi Titi. Yang saya bilang gak halal kemaren. Ndilalah kok pas saya lewat ada cap Halal di papan nama Bakmi Titi ini. Ya singgahlah saya, karena inget kuah dan rasa mi-nya enak. Alhasil 3 hari berturut-turut makan di sana, dan abis itu jadi bosen 😀 Gak boleh sering-sering mestinya.

    eskrim.jpgIce cream over Brownies. Gak tahu namanya apa, salah satu es krim di stand Kayavu di food court DM. Rasanya ya biasa aja kayak rasa es krim vanilla pada umumnya. Harganya overprized, as usual.

    az.jpgAyam goreng AZ Banjarbaru. Murah loh. Kalau KFC dua biji gini berapa ya. Ini ayam gede-gede dua (boleh milih mau bagian mana), nasi, dan minum (catatan: gak ada softdrink di sini, mereka mana mau jual) cuma 15ribu loh. Sampe kekenyangan. Dan tentu saja tidak boleh dilupakan Garlic Sauce-nya yang tajam banget rasanya (dijamin bau bawang putih deh pas pulang).

    cakridwan.jpgYap, ini foto warung kepiting asam manis terenak di Banjarmasin, Warung Cak Ridwan. Enak dan mahal heheheh… Kabarnya nih, kabarnya, menurut salah seorang vokalis dari sebuah grup band kafe yang cukup terkenal di Surabaya, bahkan di Surabaya gak ada yang seenak ini, katanya. Kalo menurut teman-teman, kalo makan kepiting ini, bisa membuat kita melupakan sejenak segala kesulitan di dunia. Lagi-lagi gak ada skrinsyut, karena siapa yang mau mengambil foto-foto saat teman-teman lain sudah bernafsu menyerang isi piring?

    anyang.jpgYang ini bukan kucing saya. Suka ngedeprok tidur di sofa, tapi kalo pas kita ribut-ribut mau memfoto dia, dia langsung ngambil posisi-posisi aneh yang bukan-kucing-banget. Sampe gemetar kakinya menahan posisi anehnya. Gak usah ditampilin di sini ah. Tar disangka kucing jadi-jadian lagi.

    mercure.jpgIni foto teras salah satu dari 2 hotel kesukaan saya di Jakarta. Yang pertama: Hotel Bumikarsa di Kompleks Bidakara, hotel tempat seminar/pelatihan/acara yang breakfast buffetnya saya suka. Tiga kali berturut-turut pelatihan di sini, pulangnya selalu sakit, karena kebanyakan makan hehehehe. Lunch dan snacknya enak, sehingga supaya pada kedatangan ketiga saya tidak sakit, saya makannya pake strategi. Mosok selama acara pelatihan, yang kepikiran strategi makan melulu. yah daripada ngantuk. Hotel kedua: ini nih Mercure Ancol. Makanannya tak terlalu oke lah, tapi saya suka karena breakfastnya bisa di teras yang menghadap pantai. Mana dekat Dufan lagi (haaa, pengennya naik Tornado!). Trus, wifi dari lobby sampe ke kamar. Gratis, yang di lobby dan kafe. Yang di kamar gak tau gratis apa gak, karena saya buka-buka Google sih bisa.

    image052.jpgIni di kebun strawberry di, er, mana ya, Ciwidey Bandung ya? Karena memang gak pernah suka strawberry, jadi gak terlalu excited. Ide tentang memetik strawberry itu ternyata benar-benar dilebih-lebihkan. Kebanyakan strawberry yang masak-masak dan bagus-bagus bentuknya sudah dipetik tentunya oleh si pemiliknya kan? Banyakan yang masih muda yang tertinggal. Kalo yang gak begitu masak kan asam. Sudah gitu, gak tahan lama lagi. Jadi kalo mau metik mesti dikit aja, buat dimakan. Kalo mau beli, mending yang masak semua yang dijual orang di pinggir jalan atau di tempat wisata, seperti di Kawah Putih.

    Apa lagi ya yang di Bandung menurut saya dibilang enak, tapi menurut saya tidak? Ah ya, Batagor Riri. Saya kok gak suka ya. Bakso dan tahu nya dicampur gitu jadi satu bongkahan. Beda dengan batagor yang dijual paman bergerobak dorong depan kantor saya. Dipisah. Jadi saya minta baksonya saja, tanpa tahu. Sambel kacangnya juga enak. Yang di Riri saya gak suka. Mana mahal lagi. Hehehe… gimana ini ya, kok malah menuduh makanan aslinya yang gak enak. Maaf gak ada skrinsyut. Maunya sih memfoto cowok-cowok berambut panjang yang keren di meja sebelah 😀

    yoghurt.jpgTrus Yoghurt Cisangkuy. Ternyata yoghurt yang dimacem-macemin itu gak enak. Saya kok lebih suka yoghurt biasa. Tapi suasananya memang asik. Rumah model asli zaman dulu, trus kita bsia duduk di teras atau halaman dinaungi pohon-pohon rindang. Ah, enak juga berlama-lama di sini. Di Bandung memang warung makan lebih kepada jual suasana daripada jual makanan.

    bumbudesa1.jpgMakanan di Resto Bumbu Desa. Segala macem ada, katanya sih makanan rumahan. Ya, memang makanan rumahan. Tapi karena pada dasarnya saya tidak suka makanan Sunda yang hambar-dan-pedas-aneh itu, ya saya tidak terlalu berselera sih.

    bumbudesa2.jpgDi sini lalapan dan sambelnya all-you-can-grab. Kok bukan lauknya ya yang gitu. Hhh, kapan sih ada resto all-you-can-eat di Banjarmasin?

    combro.jpgAkhirnya saya ketemu combro, yang telah dibangga-banggakan oleh mbakyu Indie. Enak, pedes. Sayang saya lagi sariawan. Anehnya kalo ke kota lain saya kok suka sariawan ya?

    timbel.jpgIni nasi timbel merah di Lapangan Gasibu, pada hari Minggu pagi. Saya sangka timbel itu semua dibungkus berbentuk piramid. Ternyata ada juga yang berpenampilan seperti bungkusan lontong kayak gini. Itu nasinya merah, hiiii, gak tau enak apa gak, bukan saya yang makan. Saya makan yang nasi putih saja. Sebelah kanannya gepuk, kesukaan saya tuh.

    after-lunch.jpgAbis nemeni anak-anak TBM sunatan massal di Cempaka Putih. Tampang-tampang anak TBM kok selalu ceria gini ya, heran. Ooo, mungkin karena abis dikasi makan 😀 Duh, masih ngiler dengan seragam mereka. Mana ya janji Upik untuk membikinkan saya satu set seragam ini juga? Itu Upik, The Big Boss of TBM di belakang kiri, yang gede, pake seragam. Kali ini yang dateng banyak, anak koass juga pada dateng. Itung-itung nyari udara segar habis sumpek di RS, kali.

    Oke, sekian dulu badai foto ini. Kapan-kapan disambung lagi.

    Fotografer amatir

    Beberapa hari lalu aku baca di blog-nya Fahmi (dia sendiri dikasi tau paman tyo), tentang link pameran foto bagi fotografer amatir di sebuah museum fotografi di Lausanne, Perancis, yaitu Musee de l’Elysee. Dengan mengusung tema ‘We are all photographers now!’, mereka mengajak semua fotografer amatir di seluruh dunia untuk mengirimkan hasil besutan mereka untuk dipamerkan di museum itu antara tanggal 8 Pebruari sampai 20 Mei 2007 (bukan Maret, Mi!), untuk meng-explore “the rapid mutation of amateur photography in the digital age”. Pastinya paman tyo punya banyak foto yang dipamerkan di sana. Fahmi memasukkan foto bis (yang mana ya ini, Mi, aku ingat pernah ada di salah satu postingan di blogmu ya?).

    Aku jadi penasaran, pengen juga. Terus terang saja, aku bukan fotografer. Ngambil foto hanya dengan kamera digital tanpa optical zoom, merk Kodak, udah lama banget, hadiah dari my dad, makanya gak diganti-ganti. Kalau lagi gak bawa kamera, ya pake kamera hape. Jadi hasilnya mohon dimaklumi.

    Waktu masih di Jogja, aku dapet temen baik banget, namanya Woe Lan (cara menulis namanya yang tidak akurat ini sepenuhnya kesalahanku), tetangga kamar. Dia makhluk terunik di dunia, dan satu-satunya teman yang bisa ngertiin hobi dan tujuan hidupku yang berubah dalam hitungan menit. Soalnya dia juga sama hehehe… Sewaktu kami masih di Jogja, kami biasa berkeliaran setiap malam (setelah paginya mengecek halaman iklan pameran di koran KR dan Kompas Jogja) menjelajah pameran, pertunjukan musik, pasar seni, pawai (yang kayaknya sering banget diadakan di Jogja), dsb, sambil membawa-bawa kamera: aku membawa kamera digital di atas, dia membawa kamera analog lengkap dengan lensa tele warisan ayahnya. Aku dengan batre kamera yang selalu habis di saat-saat penting, dan Woe Lan dengan film yang selalu habis gara-gara digunakan untuk hal-hal duniawi (seperti cowok, cowok, dan cowok). Waktu itu kami merasa sebagai fotografer amatir, dan jadi punya alasan ngobrol-ngobrol dan berkenalan dengan fotografer-fotografer keren itu hihihi… Sampai kami bertemu dan berkenalan dengan Ajie (fotografer profesional), dan dia begitu baik dan sabar sampai kami sendiri akhirnya sadar, bahwa di atas langit masih ada langit (ini hanya tentang foto-memfoto loh, hehehe…).

    Pendeknya, jadi gak pede urusan foto-memfoto ini. Tetapi, apa salahnya iseng-iseng nyoba? Aku mengirim ke pameran itu (dengan agak bernafsu) 7 foto: 3 foto yang diambil di Mantangai (desa hilir sungai Kapuas, Kalteng), 1 di Tumbang Nusa (desa di tepi sungai Kapuas, Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng), 1 foto di Timpah (desa di hulu Sungai Kapuas, Kalteng), dan 2 foto di Sungai Sebangau (Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng). Tadi dapat email dari Museum tersebut, bahwa 3 foto Mentangai masuk pameran.

    Date: Mon, 5 Mar 2007 13:35:30 +0100
    Subject: All Photographers Now! – Your photos have been displayed!
    From: “Musee de l’Elysee”

    Dear Photographer,
    Your images were shown in the Musee de l’Elysee’s exhibit ‘We are all photographers now!’ in the last few days. Enclosed you will find some installation views of your images that show them in the wall…

    Ini satu dari 3 attachmentnya:

    Weh, gak nyangka, yang kupikir gak menarik, malah masuk. Tentu saja ketiga foto ini hanya masuk installation view, jadi belum tentu akan masuk permanent collection dari museum itu (kejauhan kali angan2nya). Ini ketiga foto tersebut.

    Yang ini foto waktu menyeberang dari Kapuas ke Mantangai. Di sini aku jatuh terduduk pas pulangnya.

    Yang ini foto jembatan ke arah “batang”, tempat mandi, mencuci, dsb. Waktu itu aku harus mengambil sampel di titik terujung desa, adanya ya di sini. Tu jembatan panjang banget, dan karena aku paling takut menginjak sesuatu yang tidak solid menancap ke tanah, aku hanya sukses berjalan sampai setengah jembatan, lalu balik. Tiap langkah membuat jembatan reyot itu bergoyang-goyang. Jadi inget jembatan gantung di Loksado.

    Ini foto teman, cewek paling rajin dan inovatif dari Mantangai. Satu dari 2 teman baru dari Kalteng yang bikin aku kagum (satunya adanya di Sebangau, cowok). Ini dia sedang membantu aku mengambil sampel air minum. Tidak habis pikir aku, dia bisa lari-lari naik turun seperti itu tanpa patah kaki.

    Gimana? Tertarik untuk join the exhibition?