Category Archives: Travelling

Alkmaar Cheese Market

IMG_20160805_084138
Tadinya tulisan ini lebih untuk memberi tips buat yang mau ke the famous Alkmaar Cheese Market, tapi rasanya tidak lengkap kalau diriku tidak berbagi tentang kenapa diriku begitu excited mau ke sana.
Jadi buat yang ke sini cuma buat baca tips, silakan skip langsung ke bagian habis tanda ++++++.
Buat yang suka baca langsung tentang hari-H, langsung skip ke bagian ********.
Buat yang punya hobi aneh baca biografi gak penting yang panjang-lebar kemana-mana, silakan baca terus dari sini.

Jadi waktu diriku masih SMP, senang mendengarkan radio luar negeri yang mempunyai slot radio Indonesia. Dulu (mungkin sekarang masih) kita bisa menangkap siaran radio luar negeri di gelombang pendek (SW), dan ada hari-hari dan jam tertentu didedikasikan oleh radio-radio tersebut khusus untuk siaran berbahasa Indonesia oleh penyiar orang Indonesia yang tinggal di sana. Juga ada pelajaran bahasa Inggrisnya. Paling sering mendengarkan Radio Australia siaran Indonesia. Dulu mereka begitu terkenal (setidaknya menurut kami di rumah) sampe kami hapal muka-mukanya, karena suka ada artikel tentang mereka di majalah. (Gak aneh sih, secara orang rumah dulu juga bahkan hapal muka dan nama para model di majalah Femina dan Gadis). Continue reading →

Advertisements

My Pet Peeves While Travelling By Plane

Tidak kenal budaya antri. Terutama antri di loket check-in. Juga antri pas boarding. Antri pas turun pesawat. Sayang sekarang sudah tidak sepanas dulu hihihi. Dulu kalo disalip pas antri di bank, saya tarik kerah bajunya (Mana ada cowok akan memukul cewek? Yang penting buat keributan biar dia malu). Entah bagaimana ya kalau naik AirAsia yang katanya tanpa nomor tempat duduk (apakah ini benar atau hanya gosip?). Jangan-jangan kayak naik busway ya.

Penjaga loket check-in super jutek. Saya tahu saya telat. Tapi tidak perlu diomelin karena mestinya dia tahu betapa saya sudah mengomeli diri sendiri sepanjang perjalanan ke bandara.

Teman seperjalanan yang suka santai. Datang pas jam check-in hampir lewat. Padahal dia yang bawa semua tiket.

Airlines yang suka melakukan overbooking. Teman saya pernah mengalaminya. Sebagai orang yang sabar dan jadi pengantri terakhir karena terus-menerus disalip orang, akhirnya dia tiba di check-in counter pada saat pesawat sudah penuh, padahal dia sudah pegang tiket yang sudah confirmed. ternyata kata teman saya yang punya keluarga yang bekerja di airline, memang selalu dilakukan overbooking, karena katanya tidak pernah 100% datang. Hmm… aneh.

Semua juga gak suka hal ini: pesawat delay. Enak sih kalo pas di bandara yang nyaman. Kalau pas di bandara yang kecil dan tidak ada tempat atau sarana menghibur diri (toko buku, misalnya), sediiiih deh.

Orang sok pejabat yang merasa bahwa peraturan itu dibuat hanya untuk rakyat jelata. Mereka merokok di bawah tanda Tidak Boleh Merokok. Yang kalau saya tegur hanya menatap saya dengan tatapan meremehkan.

Kru pesawat memberikan sapaan ramah “Selamat Pagi” atau “Terima kasih”, sementara para penumpang yang naik atau turun sama sekali tidak menyahut. Bahkan tersenyum atau menganggukkan kepala pun tidak.

Orang yang berkeras bahwa kursi yang didudukinya memang sudah sesuai dengan nomor kursi di boarding passnya. Dan menuduh bahwa kitalah yang salah. Waktu diminta melihat boarding passnya, menuduh kita menganggapnya bodoh gak bisa membaca (membuatku jadi ikut berpikir apakah dia memang tidak bisa membaca angka). Sesudah dibantu pramugari, masih saja menggerutu sambil pindah. Oh, ya, ini juga sering terjadi di bioskop. Mungkin di seri Pet Peeves berikutnya.

Membawa tas besar-besar, lalu menjejalkannya ke dalam tempat bagasi tanpa mempedulikan apakah barang orang lain jadi penyet.

Menaikkan kedua kaki ke atas kursi.

Menumpangkan kaki, dan mengarahkan telapak kaki (yang tidak semuanya patut ditampilkan) ke arah kita.

Anak-anak kecil borju yang jelas merasa berada di dunia yang levelnya lebih tinggi dari penumpang lainnya. Terus mengoceh dengan suara keras tentang: “Pah, kok bisa sih kita tidak duduk di kelas Bisnis?” “Makanannya gak enak gini?” “Tar kita nginapnya di Hyatt kan, pah?” “Kapan kita ke Singapur lagi, Pah?”

Businessman sok eksekutif yang rupanya tidak dapat kursi di kelas Bisnis dan terpaksa harus duduk di kelas Ekonomi (tapi memesan dua kursi sekaligus, yang satu untuk tasnya yang rupanya sangat mahal dan berharga, sampe harus dipasangi seatbelt) sambil terus menerus mendesah-desah dan menatap arloji berkali-kali.

Mengajak ngobrol hal-hal pribadi seperti: “Rumahnya di mana?” Yang ketika dijawab secara general, masih diikuti dengan pertanyaan: “Tepatnya di jalan apa?”

Smelly, entah itu BB, bau minyak angin, bau balsem, bau parfum yang menyengat, bau baju yang tidak diganti berhari-hari, dan segala bau lainnya yang mengganggu.

Cowok-cowok yang pedekate di pesawat. Padahal jelas bertampang sudah punya keluarga. Seorang perempuan ramah duduk di sebelah seorang bapak-bapak. Perempuan itu dengan ramah mengajak mengobrol. Bapak-bapak itu rupanya menganggap ini sinyal tertarik. Setelah pesawat berjalan setengah jam, si Bapak-bapak tiba-tiba merogoh-rogoh kantong dan berdiri, melihat kursi, lalu bertanya pada si perempuan: “Lihat hape saya gak?” Perempuan: “Saya lihat tadi pas saya duduk, bapak lagi megang hape, terus gak tahu disimpan di mana.” Bapak-bapak: “Missed call-in hape saya dong, aduh, di mana ya jatuhnya?”
Sunyi beberapa detik.
Perempuan: “Kan gak boleh menelpon di pesawat.”
Bapak-bapak: “Oh iya ya.” Sambil merogoh-rogoh lagi. Dan akhirnya menemukan hapenya di kantong jaketnya.
Dasar. Mestinya trik ini dilakukan pas sudah turun. Huh!
Oya, perempuan ramah itu bukan saya.

Pramugari kasar. Ini, seperti biasa, terjadi di beberapa airlines tertentu yang kita semua sudah tahu. Tas bagasi dilemparkan, sergahan kasar, melempar Aqua ke pangkuan (emang di kereta?). Bahkan di airlines sekelas Garuda pun, pernah seorang teman (untung saya tidak pernah mengalami) bercerita bahwa dia disodori gelas dengan tangan menutup mulut gelas (tidak dengan default: memegang gelas di badan gelas atau menyerahkan gelas dengan beralas baki). Ketika teman saya menegur dengan sopan, si pramugari menjawab kasar: “Terserah saya, dong.” Saya tahu mereka tentu lelah, tetapi pramugari, sama halnya dengan dokter dan perawat di UGD, adalah pintu depan badan usaha tempat mereka bekerja, Gak peduli capek, ngantuk, harus selalu ramah walau klien menyebalkan dan sok.

Pernah memperhatikan bagaimana kondisi pesawat ketika penumpang sudah turun? Saya suka turun paling akhir (kecuali kalo sampai di bandara Banjarmasin dan kebetulan memasukkan bagasi lebih dari satu), dan melihat bahwa kita memang jorok. Koran-koran, gelas, tissue, bekas makan, bungkus kripik, berhamburan di lantai. Kenapa tidak diletakkan dengan rapi di kursi atau di kantong belakang kursi? Ini juga terjadi di Garuda.

Satu pesawat dengan rombongan kru artis. Bagasi mereka begitu banyak dan rupanya sudah bayar pada petugas bagasi agar diprioritaskan (pastinya), sehingga menunggu bagasi di bagian Kedatangan bisa lebih dari sejam.

Satu pesawat dengan rombongan Umrah yang baru pulang dari Tanah Suci Mekkah. Senang melihat mereka begitu bahagia habis datang dari Tanah Suci. Tapi tidak lagi begitu kita mengambil bagasi. Mereka kan membawa Air Zam-zam yang dimasukkan ke bagasi. Yang dibungkus dengan plastik tahan bocor bertuliskan SafeWrap. Yang tidak seperti namanya ternyata sama sekali tidak tahan bocor. Setiap kali saya mengingatkan diri untuk mengepak semua bagasi saya dengan plastik (tersedia di Bandara Soekarno-Hatta), terutama kalau bawa paket buku, tapi setiap kali lupa sesudah sampai bandara. Ya, bagasi saya dan kotak buku saya basah kuyup 😦

Setiap orang yang memasukkan barang ke dalam bagasi mestinya tahu bahwa cairan itu tidak boleh dimasukkan sebagai bagasi ataupun diletakkan di kotak bagasi di atas kepala. Ada saja yang tidak peduli. Bagasi saya pernah berlumuran cairan lengket yang ternyata adalah madu.

Pas mencari troli, habis dipegang semua oleh portir. Ini terutama terjadi di bandara Banjarmasin. Atau habis dipegang keluarga penjemput orang datang Umrah, karena mereka kan biasanya bawa barang segambreng. Oya, katanya khasnya kalo ada orang Banjar naik pesawat tuh, pasti bawaannya banyaaaaak banget, banyak dus-dus, tas tambahan, belum yang dijunjung naik pesawat. Hehehe… itu mungkin karena traveller tertinggi dari Banjarmasin adalah pedagang. Dan kalo di Bandara Jakarta menjinjing-jinjing Dunkin’ Donuts dan Rotiboy segambreng, hampir bisa dipastikan tujuannya ke Banjarmasin, karena di Banjarmasin gak ada yang jual donat dan Rotiboy. Oya, denger-denger di Padang juga gak ada.

Fiiuh…. ain’t I feel bitchy today. Now back to work.

Pics taken from The Travel Doctor.

Makan-makan di Banda Aceh

Beberapa hari lalu bebek menulis tentang pengalamannya makan Mie ganja Aceh. Dengan semangat ikut-ikutan, saya mau cerita dikit tentang makan-makan saya di Banda Aceh pas ke sana awal bulan ini. Sebenarnya hotel menyediakan makanan untuk panitia pelatihan yang kami adakan, tetapi rupanya orang Aceh memang suka makan, jatah berlebihan yang disediakan hotel tidak pernah tersisa untuk kami yang makannya umumnya belakangan karena harus mempersiapkan dan beberes ini-itu. Alhasil, untuk makan siang dan makan malam kami makan di sekitar hotel. Kebetulan hotel berada di kawasan cukup rame, banyak toko henpon huhuhu…. gak nyambung. Banyak tempat makan juga, tentunya, termasuk alun-alun tempat orang jualan langsung beratap langit (kalo gak salah namanya Rex), dimana banyak orang kumpul-kumpul ngopi, makan, dan ngobrol. Mie Razali yang disebut-sebut bebek hanya selangkah dua langkah dari hotel.

image001.jpgMalam pertama di sana, kami makan di tempat makan yang dulu pernah saya kunjungi juga waktu tahun lalu ke Banda Aceh. Restoran Banda namanya, menyajikan masakan seafood. Waktu itu kami ditraktir bos besar di sana. Siapapun yang berhadapan dengan bos besar selalu menjadi grogi dan gak bisa ngomong, apalagi mau makan banyak. Jadi ketika itu walaupun saya akui makanannya enak, kelezatannya tidak begitu terasa saking gugupnya.

Jadi ke situlah kami menuju, lokasinya di Jalan Panglima Polim. Restorannya kecil saja, bagian depannya kaca semua tembus pandang ke dalam, ruangannya ber-AC, di dalamnya berdesakan meja-meja bundar dan segiempat. Dapur terletak di lantai atas, jadi tidak ada bau masakan/asap tertinggal di baju, sesuatu yang paling saya tidak suka kalo makan di restoran atau food court di mall. Ketahuan orang kalo saya habis makan di luar hehehehe…

Balik ke Restoran Banda. Sesudah diberi daftar menu oleh pelayan (semua perempuan) berkaos kuning dan berjilbab, saya lihat-lihat harganya, hmmm, mahal juga. Tapi bukan saya yang bayar ini. Saya mengingat-ingat menu yang dulu rasanya enak pas makan di sini, oh ya, Ca Kangkung Bumbu Terasi, hmmm…. dari namanya aja dah ketahuan pasti enak. Saya ingat udang dan cuminya juga enak, cuma lupa dimasak apa. Jadi kita pesan yang direkomendasikan pelayannya: Ayam Tangkap, Cumi Goreng Tepung, Ca Kangkung Terasi, dan Brokoli Saus Tiram. Kami tidak pesan Kepiting Saus Aceh-nya, ribet. -ngelap basah-basah di dagu- Ayam Tangkap ini (ada yang bilang Ayam Sampah) sudah saya baca namanya sejak perjalanan dari bandara ke hotel, banyak yang jual ini, salah satunya adalah resto Aceh Rayeuk. Saya curiga ni makanan bakal lama keluar, karena kan ayamnya harus ditangkap dulu. Cumi Goreng Tepung dipilih karena cumi selalu enak dan goreng tepung adalah pilihan yang aman, habis rasanya bisa gimana lagi sih. Brokoli Saus Tiram. Mmmmm…. brokoli saya suka banget, sering saya jadikan cemilan kalo lagi gak ada kerjaan ada brokoli nganggur, dipotong-potong, terus digoreng pake tepung bumbu, makannya dicocol pake sambel bangkok Indofood, arggghhh…. *pasang tadah liur* Apalagi brokoli saus tiram. Apa sih yang gak enak kalo dikasi saus tiram?

Sesudah memesan, yang pertama datang adalah handuk basah buat mandi buat ngelap tangan. Kemudian muncul kacang goreng bumbu. Yang rupanya dimakan dengan kecap manis (yang kayaknya dicampur petis dan ulekan lombok) dan sambal (botolan, kayaknya), karena dua mangkok berisi kedua hal inilah yang disorongkan bersama piring kacang. Rasa kacang dan pedesnya cocolannya ngangenin.

ayam_tangkap.jpgSetelah lamaaaaa…. sampe hampir ketiduran (we want more peanuts!), datanglah pesanannya. Mmmm… ternyata Ayam Tangkap itu ayam yang ditangkap dipotong-potong kecil-kecil, digoreng crispy pake bumbu apa saya tidak tahu, dan disajikan bersama bawang goreng dan dedaunan (katanya namanya daun temurai) yang dipotong-potong segiempat dan kelihatannya disangrai bersama bumbu, membuat dedaunan itu menjadi kres-kres garing kayak krupuk, enuuuuaaaak banget. Sejak kapan coba saya suka makan daun, yang pilihan makannya niru-niru sapi itu kan Anna dan G. Btw, pic Ayam Tangkap saya pinjem dari blognya Bang Andika

image007.jpgCumi Goreng Tepung-nya seperti dugaan saya, sama dengan rasa cumi goreng tepung pada umumnya, luarnya renyah, dalamnya kenyal-kenyal seperti pada umumnya cumi. Ca Kangkung Bumbu Terasi jadi primadona pilihan bersama, karena gurih banget, rasa terasinya pas, dan pedesnya itu loh, gak terlalu pedes, juga gak ecek-ecek gitu pedesnya. Brokolinya adalah favorit saya. Besok-besoknya pas ke Banda lagi, Brokoli Saus Tiram selalu masuk pesanan. Enuaaaaak banget! Brokolinya bagus-bagus lagi bentuknya, jadi inget pohon baobab (yayaya, saya tahu, saya terobsesi dengan baobab). Oya, peringatan, Es Lemon Tea-nya jangan dipesan, rasa gulanya sintetis banget, huek. Laporan dari teman-teman, Jus Mangga dan Jus Terong Belanda-nya enak.

Sayang skrinsyut tidak pernah berhasil, karena kamera hape yang selalu memberikan gambar jelek kalo di ruangan yang tidak terlalu terang, dan karena tim kami ini hobi makan semua, lah kalo foto-foto dulu, saya kebagian sisanya doang ntar. Dalam hitungan detik, makanan sudah berpindah ke piring masing-masing. Pindahin dulu ke piring, makannya bisa perlahan-lahan hehehe…

Nah, perut kenyang, hati puas. Besok malamnya, mau nyoba yang lain. Tadinya mau ke Mie Razali yang nauzubillah penuhnya. Melihat terlalu penuh, selain malas nunggu, kita agak curiga juga, enak berarti ada bumbu “tertentu”. Oke, kita pilih warung sebelahnya lagi. Di sini sedia Nasi Goreng Seafood dan Nasi Goreng Kambing. Saya suka Nasgorkam, tapi saya memilih menunda makan Nasgorkam tar di depan ILP Jogja aja. Jadi saya pilih Nasgorsfood. Setelah cukup lama (sepertinya di Banda Aceh ini kalo mesen memang lama munculnya, mungkin kokinya masak sambil sms-an), datanglah pesanan. Loh, dikit banget porsinya (menurut temen-temen yang cowok). Nasi gorengnya coklat gitu, seafood dan nasi kelihatan jelas berbalur bumbu entah apa. Pokoknya gurih dan pedas. Dan enak. Tidak saya ambil fotonya karena toh hanya nasgor biasa. Tibalah saatnya bayar, lo? Sepiring 50 ribu? Serius, kak? Bos saya menggerutu dan bilang kalo makanannya dikit gitu, dan harganya toh sama, mending makan di Resto Banda aja lagi (saya iyakan dengan penuh semangat). Begitu sampe hotel, saya langsung terkapar dan tidak bangun-bangun sampe kesiangan besoknya, padahal saya harus presentasi. Semua telat bangun, termasuk bos, yang katanya dah nyetel weker sampe 2 biji (buset, bawa weker?). Kami jadi curiga, jangan-jangan…?

image004.jpgPendek kata, besok malamnya lagi (makaaaan melulu), kami makan di Resto Banda lagi. Kali ini, kami pesan: Ca Kangkung Bumbu Terasi (obviously), Brokoli Saus Tiram (ini pesanan saya), Udang Lada Hitam, dan Kerapu Cabe Hijau, juga sebuah masakan cumi tapi saya lupa cumi dimasak apa. Udang Lada Hitamnya, mmh, dibalur oleh ya iyalah lada hitam, jadi penampilannya hitam-hitam kotor gitu, wuih, enak deh. Sementara Kerapu Cabe Hijaunya ukurannya tidak terlalu besar dan kami sepakat bahwa itu bukan Kerapu Bumbu Cabe Hijau, tapi Cabe Hijau Bumbu Kerapu, saking banyaknya cabenya. Yang ini enak juga.image005.jpg

Besok siangnya, hari terakhir sebelum berangkat, masih ke sana lagi hehehe…. Benar-benar gak kreatif. Pelayan sampai hapal. Ca Kangkung Bumbu Terasi, Brokoli Saus Tiram, Ayam Bumbu Cabe Hijau (bercermin pada Kerapu Bumbu Cabe Hijau yang enak, sekali ini ayamnya lebih dominan), Udang Lada Hitam, dan Nasi Goreng. Rasanya tetap enak, salut buat kokinya yang sangat konsisten. Kali ini hampir-hampir gak abis. Selain karena memang banyak, hari terakhir itu kami semua terserang sakit perut, mungkin masuk angin kebanyakan AC atau karena memang lagi pada mau diare (aku sudah diare sejak malamnya, habis makan Roti Canai hehehehe).

image015.jpgOmong-omong Roti Canai, malam terakhir diajakin bebek dan 2 temennya suami-istri jalan-jalan cari oleh-oleh. Saya janji bawa kopi, jadi beli kopi dari Ulee Kareng dan Kopi dari Gunung Seulawah (toko, maksudnya), juga dendeng sapi dari toko tersebut. Diajak melihat-lihat suvenir, eh malahan bebek yang belanja huhuhu, dasar cowok hobi shopping *pletaks* Ada banyak oleh-oleh khas Aceh, mulai dari rencong (asli sampe hiasan), topi khas seperti yang dipakai Teuku Umar, kopiah, baju koko/tas/ransel/dompet/tempat henpon dengan sulaman Aceh, bros dan gantungan kunci berbentuk Pintu Aceh, dan macam-macam lagi. Na, habis itu diajak makan roti canai. Oya, kalo di Jogja, kalo malam kan orang suka duduk-duduk makan di warung lesehan. Nah, kalo di Banda Aceh, orang juga duduk-duduk makan dan ngobrol di warung-warung pinggir jalan, tapi di kursi-kursi plastik rendah dan meja-meja rendah, dengen penerangan sama remangnya dengan angkringan. Makanya pas pesan roti canai, saya gak begitu melihat penampilannya (sudah pake kacamata), apalagi mau taking pics. Roti canai kan biasa dimakan dengan kari kambing, nah yang ini tidak dimakan dengan kambing dalam bentuk apapun, melainkan diisi dengan macam-macam, ada yang diisi susu, serikaya, atau kacang. Saya beli yang diisi susu. Haduh, ukuran rotinya kecil banget, satu kali nganga juga habis, tapi karena saya imut, ya beberapa gigitan gitu deh 😀 Oleh yang jual, roti canainya dibelah, lalu diisi susu di dalamnya. Jadi makannya rada belepotan. Bebek beli martabak telor, yang anehnya martabaknya berada di dalam, telornya di luar. Perut saya masih oke waktu itu. Sesudah kemudian makan jeruk Medan di basecamp mereka, kok perut saya rasanya minta keluar semua ya lewat atas. Saya menyabar-nyabarkan isi perut sambil nunggu waktu yang tepat untuk pulang, tapi akhirnya terpaksa pas dalam perjalanan pulang mesti beli obat diare dan muntah, karena yakin begitu sampe hotel pasti tumpah semua. Belakangan saya menduga bukan karena roti canai itu saya gangguan saluran cerna, karena semua tim pelatihan juga diare ketika balik ke Jogja, mungkin karena makan makanan pedas terus. Tapi saya? Begitu sampe Jogja, perut sudah oke lagi, dan siap untuk makan-makan ke tempat kenangan.

Hujan Merchandise

b5ers2.jpgAkhir minggu lalu saya ke Jogja. Jogja memang bisa dibilang surga buku (baru murah dan bekas), surga internet (koneksi yang cepat dan murah, banyak wifi gratis), surga makanan (cocok dengan selera saya yang hobi manis dan harganya murah), surga mp3/ACD/VCD/DVD bajakan, surga software bajakan, surga komunitas. Untuk yang terakhir ini, saya rasa karena suasana Jogja yang bersahabat dan penuh kebersamaan, maka para penghuninya suka berkumpul, sekedar ngobrol atau memang punya aktivitas yang jelas. Komunitas paling dekat dengan saya tentu saja B5ers: saya, my best friend Woe Lan, Yeyen, Rina dan Rani, Icha, Yasmin, Mbak Izzah, Puspa, Dian, Ella, dan Mbak Medy. Siapa sih B5ers? Ya, mereka adalah eks penghuni tetap (gak pindah-pindah mulai awal kuliah sampai wisuda, kecuali Puspa) Karangwuni B5 periode saya di sana (2002-2005), salah satu kos paling ribut kalo lagi siaran main bola, dan komunitas paling berdosa menghujat acara AFI mulai awal penyiarannya dan acara Sang Lelaki yang super duper garing itu (kapan-kapan akan saya tulis mengenai ini, walau tu acara sudah moksa). Sudah tahu dua acara itu garing, tapi tiap malam acara-acara itu diputar, dengan setia semua duduk di depan tipi sambil mengunyah dinner atau makan kuaci bunga matahari. Dua acara ini telah berjasa mengeratkan B5ers -halah-

homerian.jpgNgomong-ngomong komunitas, tahu dong komunitas Forum Buku Kafegaul? Gak tahu? Oh, betapa tidak gaulnya kalian 😀 Kebetulan janjian hari Sabtu atau Minggu itu untuk bertemu anak KaGers lain di toko buku bekas milik sang detektif buku Homer dan sang nyonya, Esti. Toko bukunya bernama Homerian, lokasinya tepat di seberang Brimob Baciro, Jalan Kompol B Suprapto (Melati Kulon) no 38 A, Yogyakarta. Kalau kalian tahu si Homer, maka kalian mestinya tahu bahwa koleksi bukunya tidak biasa. Makhluk ini sangat suka buku dan movies, maka koleksinya di Homerian juga terdiri dari buku dan DVD. Sebagian besar bukunya adalah buku impor. Ada yang disewakan, ada yang dijual, ada yang cuma dipajang buat pamer koleksi, huh! -Masih mangkel karena dirinya punya buku “501 Must-Read Books” yang sangat eksklusif- Ah, tentang buku sebaiknya jangan terlalu banyak saya bahas di sini. Cerita tentang jalan-jalan dan belanja buku di Homerian akan saya tulis lebih detil di blog saya yang gak pernah di-update satu lagi. Singkatnya, karena saya pelanggan setia Homerian, dan karena pada dasarnya suami-istri pencinta buku ini emang baik hati dan tidak sombong rajin menabung, saya dikasi merchandise 2 buah pin dan beberapa pembatas buku Homerian. Pembatas bukunya belum sampe ke tangan saya karena diselipkan dalam buku-buku yang baru akan saya terima paketnya minggu ini.

cahandong.jpgKomunitas lain di Jogja yang baru saja saya kenal adalah cahandong.org (lihat banner di sidebar), yang “melihat Jogja tanpa kacamata kuda”. Bosnya hobinya jalan-jalan dan makan-makan. Ah dengar jalan-jalan dan makan-makan mengingatkan kita pada komunitas Jalansutera, bukan? Ya, si kusir andong ini memang juga anggota aktif komunitas tersebut. Sesudah ikut milis cahandong beberapa lama, saya memutuskan bahwa komunitas ini memang tidak punya urat malu dan sudah gila semua, dan HARUS dan bener-bener wajib didatengin acara kopdarnya. Tentu saja akhirnya saya tidak sempat bertemu dengan sebagian besar anggota komunitas. Saya hanya bertemu sang kusir dengan celana yellow-nya, Amma si kecil mungil, iks, Didit (bener gak ya, habis banyak sekali nama yang disebutkan, mana gelap lagi), cowoknya mansup si antobilang, toopics, syam, dan yang lain-lain lagi saya lupa. Saya bertemu mereka sekalian menagih merchandise yang Adi mereka janjikan. Kaos biru, kartu pers biru, pin cahandong, stiker, dan bahkan amplopnya pun dibuat khusus, keren. Saya gak mungkin dong memakai kaosnya lalu memfoto diri saya sendiri, karena saya tidak suka difoto, jadi saya pasang tampang Bebek aja ya, hihihi. Maaf ya Bek, fotomu tak pasang.image009.jpg

Ada satu orang lagi sebenarnya yang ketemu saya, yaitu bos Loenpia.net, dia dulu pernah menjanjikan stiker. Karena kebanyakan ndobos, lupa kali dia ya, hohoho.

image018.jpgNa, trus tadi, saya ketemu si gendut yang ngakunya seksi ini. Dengan bangga dia pamer cincin. Hoh, DB kawin? Woiii, DB kawin! *pletakz* oops, sorry, maksud saya cincin Death Note. Haduh, slurp slurp -masang tadah liur- “Di mana lo beli, Ki?” “Di Rumah Pernik Duta.” Ya, saya iri dan harus punya. Jadi, tadi saya melihat-lihat barang di Rumah Pernik. Toko ini menjual action figures anime dan macam-macam pernak-pernik yang berkaitan dengan film dan tokoh animasi. Lucu-lucu deh, ada ikat kepala dan sarung tangannya Naruto, bantal-bantal, gantungan kunci, pin, kalung, gelang, cincin, macam-macam deh. Tapi tentu saja koleksi yang saya cari adalah Death Note merchandise, berharap bahwa koleksi Rumah Pernik ini mendekati koleksi situs merchandise Death Note ini. Seperti sudah diduga, tentu saja tidak sesuai harapan. Tapi, saya sudah senang banget ketemu kalung dogtag bergravir wajah L dan Ryuku. Sayang tidak ada Raito, kalo komiknya saya lebih suka Raito sebenarnya. Ternyata kalung ini terbuat dari besi -la iya lah- dan dengan sangat menyesal, walaupun saya beli, saya mungkin tidak akan bisa memakainya karena saya alergi berat pada besi. Cincinnya juga terbuat dari besi dan ukurannya nauzubillah, nomor 18, gede amit-amit. Mereka juga jual cincin stempel dengan logo L. Yang ini ukurannya lebih amit-mait lagi gedenya. Tinggal 2 lo, yang pengen, buruan. Ada juga buku memo bergambar Death Note (bukan, bukan THE Death Note, kalo yang itu pasti sudah saya beli). Dan gak nahan untuk gak beli kalung berbentuk Zabimaru-nya Abarai Renji di Bleach. Hhhhh…. Masih banyak sih yang dipengen, tapi mbak yang jualan menatap saya dengan agak tercengang sudah, agak bingung kali ada pembeli, khikhikhi…. bleach.jpg

Hoi, para pembaca, saya ultah bulan Oktober, sebaiknya kalian mulai menabung, karena hadiah untuk saya sebaiknya tidak berbentuk barang (kecuali kalo itu buku), melainkan uang, untuk saya belikan merchandise-nya Death Note, setuju?

Pic Homerian Bookshop diambil dari Truly Jogja

Tidbits 01: Juni-Juli 2007 (Badai Foto)

Hmm… hanya mau kasi kabar buat temen-temen yang nanya apa saja yang kami (kami? siapa itu kami? -sambil berusaha melepaskan symbiote-) lakukan Juni-Juli 2007 *nyari-nyari alesan buat posting gambar* Sebel karena Yahoo!Photos bakal gak ada lagi, padahal aku suka banget. Flickr dan Photobucket dari tempatku lemot. Mana Flickr dan Kodak sangat limited penyimpanannya. Terpaksa simpen di harddisk aja deh, padahal dulu aku menggunakan tempat penyimpanan online digunakan untuk backup harddisk.

Tadi ke tempat Jojo, tasmiyahan anaknya yang bernama… hmmm… panjang banget… nginget-nginget dulu: Salsabila Nayla Johar Syahputri. Mungkin. Pokoknya semacam itu lah. Dan dari nama-yang-panjang-dan-bakal-bikin-pusing-guru-pas-mengabsen-itu, dia hanya akan dipanggil Asa. Menurut bapaknya, dan ibunya, anak itu mirip bapaknya. Menurutku, dia belum mirip siapa-siapa, tapi semua bersukur dia gak mirip Adi hehehehe…. Anyway, tu anak kabarnya sudah diimunisasi BCG, dan menurut bapaknya (yang pelit hehehe, sorry Jo), anak ini gak akan diimunisasi apa-apa lagi kecuali campak. Trus, ketika dikomentari tentang anting dan tindikan di telinga anaknya itu, dia cerita bahwa dia dibujuk-bujuk yang jual emas untuk membelikan anaknya gelang juga. Dia jawab enteng: “Nanti saja dia beli gelang kalo sudah bisa nyari duit sendiri.” Sang pedagang emas langsung melongo dan terdiam, kaget berhadapan dengan makhluk ajaib yang satu ini 😀 Peace….. Kabarnya nih, kabarnya, anaknya yang baru setengah bulan itu dah bisa baca resep huhuhu…. Katanya biar bisa disuruh jaga apotek.

jojo.jpgNa itu dia foto si Jojo dan istri, harap maklum kalo kabur dan jelek, maklum pake hape (lagi kepingin Kodak Seri Z. Di belakang ada lengkap tuh, para Pharmacology crews: Pak Agung, Anna, Juhai, Ida, Ibai, plus tamu rutin Mbak Anna, Ajie my faithful assistant (yang sukses melangsingkan perut sejak ada si ehm-ehm), dan Vera mahasiswa PSKM bimbingan Jo. Kekenyangan makan kambing dan bingka mini bikinan maminya Jojo. Halah, jadi teringat aku gak memfoto makanannya! Oya, tentu kalian tahu semua, kalo milih masakan kambing, jangan pilih yang berbongkah besar, karena pasti tulang 😀

cheesecake.jpgYap, ini salah satu kue modern favorit saya, Cheesecake, gak pernah berhasil mengambil skrinsyut jarak dekat, karena selalu keburu abis atau tinggal dikit pas inget sama kamera. Cheesecake ini bagian atasnya diberi lapisan agar-agar tipis, di bawah lapisan agar-agar itu ditumpahin coklat. Chesecakenya lembuuuuut banget, gak ada mirip-miripnya dengan Cheesecake-nya Hypermart yang lebih mirip kue bolu (kue klemben kata orang Banjar). Bagian bawahnya ada lapisan selai blueberry, agak serem juga ada warna biru gitu. Cheesecake ini bisa didapet di BreadLife, Duta Mall. BreadLife ini sebuah usaha penjualan roti yang konsepnya mirip banget dengan Bread Talk (gak pernah sih ke Bread Talk, cuma pernah denger aja): dapur yang kelihatan, roti-roti bernama aneh-aneh, dan pelayan berok pendek. Oya, yang di sebelah Cheesecake itu Cheesecake juga, namanya Blue Lagoon, di atasnya itu selai blueberry juga. Yaiks, gak suka banyak selai.

promo.jpgYang ini kelihatannya promo cat rambut. Kok ada ya yang mau ngecat rambut (kayaknya gratis) di tempat terbuka gitu ya. Kelinci percobaan gitu. Posisi: tepat di sebelah BreadLife, depan Hypermart.

bakmititi.jpgIni Bakmi Ayam Jamur. Enak deh. Dan dimana saya beli ini, sodara-sodara? Ya tidak lain dan tidak bukan, di Bakmi Titi. Yang saya bilang gak halal kemaren. Ndilalah kok pas saya lewat ada cap Halal di papan nama Bakmi Titi ini. Ya singgahlah saya, karena inget kuah dan rasa mi-nya enak. Alhasil 3 hari berturut-turut makan di sana, dan abis itu jadi bosen 😀 Gak boleh sering-sering mestinya.

eskrim.jpgIce cream over Brownies. Gak tahu namanya apa, salah satu es krim di stand Kayavu di food court DM. Rasanya ya biasa aja kayak rasa es krim vanilla pada umumnya. Harganya overprized, as usual.

az.jpgAyam goreng AZ Banjarbaru. Murah loh. Kalau KFC dua biji gini berapa ya. Ini ayam gede-gede dua (boleh milih mau bagian mana), nasi, dan minum (catatan: gak ada softdrink di sini, mereka mana mau jual) cuma 15ribu loh. Sampe kekenyangan. Dan tentu saja tidak boleh dilupakan Garlic Sauce-nya yang tajam banget rasanya (dijamin bau bawang putih deh pas pulang).

cakridwan.jpgYap, ini foto warung kepiting asam manis terenak di Banjarmasin, Warung Cak Ridwan. Enak dan mahal heheheh… Kabarnya nih, kabarnya, menurut salah seorang vokalis dari sebuah grup band kafe yang cukup terkenal di Surabaya, bahkan di Surabaya gak ada yang seenak ini, katanya. Kalo menurut teman-teman, kalo makan kepiting ini, bisa membuat kita melupakan sejenak segala kesulitan di dunia. Lagi-lagi gak ada skrinsyut, karena siapa yang mau mengambil foto-foto saat teman-teman lain sudah bernafsu menyerang isi piring?

anyang.jpgYang ini bukan kucing saya. Suka ngedeprok tidur di sofa, tapi kalo pas kita ribut-ribut mau memfoto dia, dia langsung ngambil posisi-posisi aneh yang bukan-kucing-banget. Sampe gemetar kakinya menahan posisi anehnya. Gak usah ditampilin di sini ah. Tar disangka kucing jadi-jadian lagi.

mercure.jpgIni foto teras salah satu dari 2 hotel kesukaan saya di Jakarta. Yang pertama: Hotel Bumikarsa di Kompleks Bidakara, hotel tempat seminar/pelatihan/acara yang breakfast buffetnya saya suka. Tiga kali berturut-turut pelatihan di sini, pulangnya selalu sakit, karena kebanyakan makan hehehehe. Lunch dan snacknya enak, sehingga supaya pada kedatangan ketiga saya tidak sakit, saya makannya pake strategi. Mosok selama acara pelatihan, yang kepikiran strategi makan melulu. yah daripada ngantuk. Hotel kedua: ini nih Mercure Ancol. Makanannya tak terlalu oke lah, tapi saya suka karena breakfastnya bisa di teras yang menghadap pantai. Mana dekat Dufan lagi (haaa, pengennya naik Tornado!). Trus, wifi dari lobby sampe ke kamar. Gratis, yang di lobby dan kafe. Yang di kamar gak tau gratis apa gak, karena saya buka-buka Google sih bisa.

image052.jpgIni di kebun strawberry di, er, mana ya, Ciwidey Bandung ya? Karena memang gak pernah suka strawberry, jadi gak terlalu excited. Ide tentang memetik strawberry itu ternyata benar-benar dilebih-lebihkan. Kebanyakan strawberry yang masak-masak dan bagus-bagus bentuknya sudah dipetik tentunya oleh si pemiliknya kan? Banyakan yang masih muda yang tertinggal. Kalo yang gak begitu masak kan asam. Sudah gitu, gak tahan lama lagi. Jadi kalo mau metik mesti dikit aja, buat dimakan. Kalo mau beli, mending yang masak semua yang dijual orang di pinggir jalan atau di tempat wisata, seperti di Kawah Putih.

Apa lagi ya yang di Bandung menurut saya dibilang enak, tapi menurut saya tidak? Ah ya, Batagor Riri. Saya kok gak suka ya. Bakso dan tahu nya dicampur gitu jadi satu bongkahan. Beda dengan batagor yang dijual paman bergerobak dorong depan kantor saya. Dipisah. Jadi saya minta baksonya saja, tanpa tahu. Sambel kacangnya juga enak. Yang di Riri saya gak suka. Mana mahal lagi. Hehehe… gimana ini ya, kok malah menuduh makanan aslinya yang gak enak. Maaf gak ada skrinsyut. Maunya sih memfoto cowok-cowok berambut panjang yang keren di meja sebelah 😀

yoghurt.jpgTrus Yoghurt Cisangkuy. Ternyata yoghurt yang dimacem-macemin itu gak enak. Saya kok lebih suka yoghurt biasa. Tapi suasananya memang asik. Rumah model asli zaman dulu, trus kita bsia duduk di teras atau halaman dinaungi pohon-pohon rindang. Ah, enak juga berlama-lama di sini. Di Bandung memang warung makan lebih kepada jual suasana daripada jual makanan.

bumbudesa1.jpgMakanan di Resto Bumbu Desa. Segala macem ada, katanya sih makanan rumahan. Ya, memang makanan rumahan. Tapi karena pada dasarnya saya tidak suka makanan Sunda yang hambar-dan-pedas-aneh itu, ya saya tidak terlalu berselera sih.

bumbudesa2.jpgDi sini lalapan dan sambelnya all-you-can-grab. Kok bukan lauknya ya yang gitu. Hhh, kapan sih ada resto all-you-can-eat di Banjarmasin?

combro.jpgAkhirnya saya ketemu combro, yang telah dibangga-banggakan oleh mbakyu Indie. Enak, pedes. Sayang saya lagi sariawan. Anehnya kalo ke kota lain saya kok suka sariawan ya?

timbel.jpgIni nasi timbel merah di Lapangan Gasibu, pada hari Minggu pagi. Saya sangka timbel itu semua dibungkus berbentuk piramid. Ternyata ada juga yang berpenampilan seperti bungkusan lontong kayak gini. Itu nasinya merah, hiiii, gak tau enak apa gak, bukan saya yang makan. Saya makan yang nasi putih saja. Sebelah kanannya gepuk, kesukaan saya tuh.

after-lunch.jpgAbis nemeni anak-anak TBM sunatan massal di Cempaka Putih. Tampang-tampang anak TBM kok selalu ceria gini ya, heran. Ooo, mungkin karena abis dikasi makan 😀 Duh, masih ngiler dengan seragam mereka. Mana ya janji Upik untuk membikinkan saya satu set seragam ini juga? Itu Upik, The Big Boss of TBM di belakang kiri, yang gede, pake seragam. Kali ini yang dateng banyak, anak koass juga pada dateng. Itung-itung nyari udara segar habis sumpek di RS, kali.

Oke, sekian dulu badai foto ini. Kapan-kapan disambung lagi.