Category Archives: Travelling

Capek…

Ya ya ya… saya capek. Gak tau juga capek kenapa 😀 Makanya, buat para fans yang ribut-ribut mempertanyakan kelangsungan blog ini, harap bersabar ya. Paling this low mood berlangsung sebentar -sok keren-

Tapi mau bercerita sebentar nih.

Senin lalu pas saya di duduk di bis menuju pesawat di bandara Syamsuddin Noor, dengan perasaan kacau gak keruan karena disuruh presentasi di Jakarta, padahal yang dipresentasikan masih kacau dan berupa banyak tanda tanya, saya menatap nanar *halah* ke pintu masuk bis. Tertatap mata pada sesosok cowok tinggi, putih, jerawatan 😀 Kok serasa pernah lihat ya…. Dimana? -mulai membuka-buka laci lemari memori- Yakin pernah melihat. Sesudah ribuan lembar dokumen di kepala dibuka, baru nyadar bahwa itu Edric! Ya, itu Edric, sodara-sodara!

sogi.gifApa? Sodara-sodara tidak tahu Edric? Hhhhh…. kalian itu memang ndeso 😀 Itu lo, pemain baru Extravaganza. Yang suka jadi cewek itu lo, yang kalo jadi cewek malah lebih cantik dan seksi dibanding Sogi. Ngomong-ngomong tentang Sogi, perlu kalian ketahui bahwa saya sangat ngefans sama makhluk gendut ini, kalau jadi cewek dia cantik dan “dapet” femininnya, kalau jadi cowok, ya cowok banget. Kabarnya dia itu penyiar OzRadio Bandung ya? Sayang pas saya ke Bandung, teman saya (yang ngakunya kenal dia) dengan sadisnya menolak memperkenalkan.

indra_birowo.jpgBalik ke Edric. Ya, itu Edric. Berarti kalau ada Edric, maka berarti ada….. tuh kan, ada si…. lho lho, kok dia malah duduk di sebelah saya. Ya, tidak lain dan tidak bukan, si muka mesum Indra Birowo. Ternyata dia keren juga, dan, ya, tentu saja, bermuka mesum. Untung hape sudah saya matikan, jadi saya tidak tergoda berbuat bodoh semacam ngajak foto-foto. Dia duduk diem aja di sebelah saya, bawaannya banyak.

oto-ronald.gifDengan berat hati, saya menarik mata dari si Indra, lalu menatap lagi ke pintu, tu, ada si yang kayak Rhoma itu lo, siapa ya namanya, lupa terus. Ternyata wajahnya memang sangat “Rhoma”. Terus juga naik beberapa cowok lain berwajah bening, jelas bukan cowok dari kota saya 😀 Oke, jadi saya bakal sepesawat dengan orang-orang Extravaganza. Rupanya mereka pulang dari mengaudisi pemain baru Extravaganza di Banjarmasin.

Untung tidak ada Sogi. Kalo gak, saya akan berbuat sesuatu yang memalukan, pasti. Seperti minta tanda tangan di… ah, sudahlah. Orang-orang lain di bis, menatap saja tidak ke rombongan selebriti itu. Sok jaim, kalian, huh (lupa bahwa sendirinya juga sok jaim). Saya ya harus jaim, karena paling belakangan masuk bis adalah dosen saya yang sangat gorgeous walau sudah tua. Beliau malah duluan menyapa saya, jadi maluuuu…. Sampe sudah kerja begini, kalo ketemu beliau, tetap ketakutan kalau-kalau ada salah dan gak kelihatan rapi di depan beliau.

Pesawat hari itu isinya 21 baris, saya duduk di baris ke-20 sisi kiri. Dosen saya tentu saja paling depan. Edric duduk di baris ke-21 sisi kanan. Selebriti lainnya, dan Ria Irawan (ya, salah satu ikon cewek mandiri ini juga ada, saya suka banget sama mbak ini, terutama habis liat dia bawain acara Bon Appetit Metro TV, kayaknya makannya banyak) duduk agak di tengah, kok gak di kelas bisnis ya. Dua kursi di sebelah saya (saya duduk dekat jendela) kosong, hmmm, siapa ya, tadinya dah kuatir si mesum itu duduk di sebelah saya. Susah makannya tar 😀 Mosok makan harus jaim. Akhirnya naik 2 bapak gendut, pake baju item TransTV. Yang kerjaannya tidur mulu sepanjang perjalanan, padahal di belakang kami ribut. Di belakang saya (baris 21) naik 3 orang bapak-bapak yang tadinya saya sangka orang Perancis, ternyata mereka orang Arab, yang terus menerus bercakap-cakap nyaring sepanjang perjalanan, lengkap dengan tempik-sorak kayak lagi menari Arab. Pas pesawat landing dengan mulus di Jakarta, mereka bertepuk tangan, coba. Saya sampai pusing.

Ternyata di Jakarta orang lah juga cuek. Gak tau ya kalau ada Aming.

Udah ah….. Cukup kan, ya? Saya bisa hiatus lagi? 😀

Pics diambil dari Wikipedia dan Pikiran Rakyat.

Advertisements

Catching up

Lama betul tidak menulis di sini. Saking lamanya, sampai-sampai ini sudah tahun yang baru lagi. 2007 *keluh* Dan masih banyak mimpi yang belum tercapai. Wishlist sisa tahun lalu masih panjang.

Baidewei, posting tahun 2007 ini diawali dengan tidbits of my life sejak terakhir posting di sini. Hhh, padahal maunya tidak ingin menjadikan blog ini jadi diary. Kan aku gak biasa nulis diary *kaki diam-diam mendorong setumpuk buku diary ke bawah tempat tidur*

27-29 Nopember 2006 – Kalteng. 27-28 Nopember dihabiskan menjelajahi sungai Sebangau yang dulunya salah satu jalur transportasi kayu hasil penebangan ilegal. Banyak rumah-rumah sepanjang sungai yang rusak ditinggalkan penduduk, karena mereka kehilangan mata pencaharian. Desa-desa daerah Sebangau sangat sepi seperti di kota-kota Texas jaman dulu habis outlaws menembaki penduduknya. Salah satu perjalanan paling berkesan yang kulakukan di Kalteng. Dan berkenalan dengan banyak teman baru yang mengagumkan. 29 Nopember dihabiskan seharian dengan diselang-seling diare dan tidur nyenyak di Palangkaraya. Malamnya baru pulang ke Banjarmasin. Tidur sepanjang jalan walaupun jalan penuh lubang dan temenku bawa mobil kayak orang gila.

12 Desember 2006 – mulai malam menjelang 12 sampai malam 13 dihabiskan dengan membuat RIP (Rencana Implementasi Program) untuk PHK-A1 (Program Hibah Kompetisi) buat PS Kesehatan Masyarakat. Gak tau kenapa aku bisa terdampar dalam tim ini. Deadline RIP ini adalah tanggal 12 malam, sedangkan kami baru tahu deadline itu tanggal 11 sore. Setengah mati bikinnya. Tapi dasar tim kami orang-orang “last-minute-fighters” semua, RIP selesai tepat waktu, walau dengan akibat kami tepar besoknya karena kehujanan dan kelelahan.

15 Desember 2006 sampai sekarang. Masih terbenam dengan renstra Fakultas. Some people just doesn’t understand what Renstra is. Juga masih terbenam dengan proses persiapan akreditasi PS Kesehatan Masyarakat. Again, aku heran kenapa PS Kesehatan Masyarakat paling hobi ngajak diriku ikut tim mereka.

19 Desember 2006. Fakultas merasa mampu membuka satu PS lagi, yaitu PS Ilmu Keperawatan. Hari itu visitasi tim dari PPNI. Dengan hasil yang mengecewakan (bagi penggagas PS ini), tapi melegakan (menurutku).

20 Desember 2006. Diundang Rektorat untuk pelatihan E-Learning. Hanya sehari. Seperti biasa pimpinan gak bisa denger kata yang ada e-ini, e-itu, atau ada kata internet atau ada hal yang berkaitan dengan komputer dikit aja, langsung teringat pada diriku. Padahal aku kan bego soal ginian. Kelihatannya pelatihan ini bagian dari hibah ICT, mungkin dari Inherent atau IMHERE, kurang mengerti. Salah satu pelatihan dengan karakteristik khas pelatihan-didanai-hibah. Seadanya. Pelatihan E-learning kok gak bisa akses internet. Awalnya sih bisa, excellent gitu wireless connection-nya (sampe aku sempet donlot buku-buku *ehm* dan bahan kuliah). Setengah hari kemudian, pada saat mau coba bikin bahan belajar e-learning, internet connectionnya gagal total. Pelatihan berakhir tanpa mendapatkan apa-apa. Payah. Teringat tahun sebelumnya dilatih Pembuatan bahan belajar menggunakan Macromedia Flash, didanai Hibah ICT juga kalo gak salah. Ternyata 1 hari penuh teori. Besoknya harusnya praktek, tapi lampunya mati (gimana sih gedung rektorat bisa mati lampu). Bagus kan? Lebih gampang belajar dari DVD Tutorial Macromedia Flash.

31 Desember 2006. Idul Adha. Hari Raya Kurban. Yang berarti dalam seminggu berikutnya akan bosan benar makan daging, hati, dan jeroan. Apalagi nenekku hobinya bikin rendang. I hate makanan Padang.
Sekaligus malamnya adalah malam Tahun Baru. Tetep merasa sedih melihat kenyataan bahwa masih ada saja pasien harus tertunda penanganan bedahnya karena tidak punya duit. Duit. Tidak bisa hidup di dunia ini tanpa duit. Malam Tahun Baru kan selalu banyak kecelakaan akibat petasan. Entah orang gila mana yang tega melempar petasan ke sekelompok orang yang adem ayem duduk di pinggir jalan nonton kembang api. Memang malam Tahun Baru paling baik dihabiskan di rumah. Daripada penyesalan.

4 Januari 2007. Ke Gubernuran, Bagian Kesra, Subbagian Pendidikan. Ngambil duit dana penelitian. Sudah selesai sih sebenarnya, tapi uangnya memang baru keluar. Aku ke sana jam 9. Masih banyak yang belum masuk. Yang sudah masuk juga duduk-duduk santai baca koran. Beberapa malah minta tuliskan resep 😀 Gak papa lah, ntar susah duitnya keluar.

5 Januari 2007. Lagi uring-uringan. Pas kena jadwal jaga ujian Toksikologi Pangan untuk mahasiswa PS Kesehatan Masyarakat (kenapa sih aku selalu terkait dengan PS ini). Mahasiswa PS Kesehatan Masyarakat sini terkenal dengan style rambut dan berpakaian yang lebih nyeleneh daripada mahasiswa FK, dan *ehm* lebih sulit dikendalikan kalau lagi ujian. Sayangnya mereka belum ahli benar mengasah kemampuan nyonteknya. Tapi memang banyakan yang nyontek teman (sesuatu yang susah kumengerti, karena yang dicontek kan juga gak tahu jawabannya) daripada nyontek “catatan kecil”nya. Satu kedapatan olehku, karena lagi bad mood, aku sowek-sowek 😦

9-14 Januari 2007. Malam tanggal 9 malam-malam ditelpon ex-dosenku di Jogja. Disuruh ke Jogja tanggal 9, nyelesain project. Excited karena dah setengah tahun gak ke Jogja. Sekaligus miris karena berarti akan bekerja penuh tanpa lihat matahari selama seminggu. Pesawat berangkatnya dengan Mandala, agak cemas karena Adam Air diberitakan hilang awal bulan Januari. Seperti biasa, Mandala selalu telat berangkatnya, kali ini telat sejam.
Di Jogja sempet ketemu Anis (the legend) dan Dani (muridnya the legend). Pepeng juga janji muncul, entah kenapa gak datang. Juga aku sebenarnya kepingin banget ketemu dokter pembuat komik itu *hiks* mau minta selembar hasil oret-oretannya.
Internet wireless connection di Lantai 2 Gedung Radioputro is very excellent, gak ada bandingannya. FK-UGM juga kelihatan lebih bersih dan teratur. Saya suka dengan papan-papan penunjuk Food Point-nya. Kayak di luar negeri.
Alhamdulillah sempat ke Toga Mas, dan seperti biasa, kalo dah lihat harga Toga Mas, langsung gelap mata dan belanja sampai isi dompet habis *keluh*
Sempat juga nyicip durian, tapi memang kalah sama durian di sini. Kalo urusan makanan, saya tidak ada keluhan. Siang ditraktir bos, malam diajak makan teman. Makanan kenangan saya dulu tercicipi lagi. Termasuk tongseng. Di Banjarmasin sini kok gak ada ya.
Tidak lupa singgah ke Warnet favorit saya: Blue n Green di Karangwuni. Mas-masnya masih yang dulu dan ternyata masih ingat saya. Sayang Toko Komputer DTR favorit saya tidak sempat saya datangi. Kangen juga sama teknisi-teknisinya hehehe…. Jogja memang ngangenin!
Pulangnya Mandalanya telat lagi. Bandaranya lebih nyaman daripada dulu. Tidak lupa singgah ke Periplus, nyari Bartimaeus 3, yang mestinya sudah keluar Januari ini paperbacknya. Sayangnya tidak ada, yang ketemu dan bikin ngeces malah buku-buku Wordsworth Classics yang tebel-tebel dan murah dengan judul “Complete Collection of…” Ada Hans Christian Andersen, Grimm & Grimm, Sherlock Holmes, Jane Austen, Horror, hhhh, banyak pokoknya. Satu hal yang membedakan orang Barat dengan orang Indonesia, pas transit, para orang Barat itu semua ke Periplus, minimal beli Herald Tribune, lalu duduk membaca.
Oya di bandara, bagasiku dibongkar, karena dicurigai bawa bom hehehe…. Aku tu kalo kemana-mana pasti bawa setrikaan, pelembut pakaian (buat setrikaan), dan botol semprot pengharum ruangan. Nah yang terakhir ini yang disangka bom, pake dicungkil-cungkil gitu sama mereka tutupnya huh! Habis itu, gembok tasku hilang lagi. Aku ngomel-ngomel, menuduh mereka mau merusak tasku. Ternyata di rumah, gemboknya ketemu, rupanya jatuh ke dalam tas pas pemeriksaan.

15-17 Januari 2007. Pertama kali mengadakan Ujian OSCE Anamnesis di kampus. Karena mereka masih mahasiswa semester 3, maka aspek yang ditekankan adalah Aspek Komunikasi-nya. Mostly bagus sih hasilnya. Ada sih yang gugup banget sampe gemeteran gitu. Memangnya aku menakutkan ya?
Sorenya nemenin mahasiswa penyuluhan di desa Tambak Sirang Darat daerah Gambut ke dalam. Gak nyangka mahasiswa semester 3 dan 5 itu sudah pada pinter ngomongin masalah kesehatan. Meyakinkan lah pokoknya.

18 Januari 2007. Duta Besar Korea berkunjung ke Pusat Studi Korea Universitas Lambung Mangkurat. Aku diundang. Seperti pernah aku sebut dulu, Pusat Studi Korea hanya ada 3 di Indonesia, di UGM, UII, dan Unlam ini. Rupanya melihat animo yang cukup besar dari mahasiswa, dosen, dan pimpinan universitas, mereka berniat mengembangkan lebih jauh lagi, tidak hanya sekedar mengajar bahasa. Sebelumnya Dubes bertemu Gubernur, tentu membicarakan masalah ekonomi dan kehutanan. Yah kalo ke Universitas, pasti membicarakan rencana kerjasama pendidikan dan penelitian. Aku dengar sih bakal ada kerjasama yang berkaitan dengan penelitian Obat Tradisional. Mungkin juga akan ada pertukaran dosen dan mahasiswa (ini nih yang aku suka). Denger-denger juga ada summer camp untuk yang belajar di Pusat Studi Korea. Wah aku sudah sejak midterm test kemaren bolos, masuk lagi ah. Sudah lupa semua nih huruf-hurufnya.

20 Januari 2007. Ke acara tasmiyahan + akikah anaknya teman. Lalu nonton ulang Death Note. Masih nunggu DVD Death Note: The Last Name muncul. Pada tahu enggak dengan manga/anime/movie Death Note? Ntar aku tulis tersendiri deh.

Kalteng II: Terdampar di Sungai Kapuas

Tanggal 23-24 Nopember kemaren, saya kebagian jalan-jalan ke daerah sepanjang Sungai Kapuas Hilir, yaitu desa-desa Katunjung, Sei. Ahas, Katimpun, Kalumpang, Mantangai, dan Pulau Kaladan. Sungai Kapuas ini, dari hulu ke hilir, panjangnya 600 km, saya hanya menyusuri bagian hilirnya saja. Peta ini saya kopi dari situs Wetlands International.

Saya berangkat dari Pulang Pisau tengah hari, diantar seorang teman dari LSM, dan seorang driver (kali ini bukan vegetarian). Kami harus menyeberang Sungai Kapuas, naik ferry lagi. Kali ini ferry-nya lebih besar, cuma seramnya, ya itu, karena sungai sedang surut-surutnya, beda tinggi antara “pelabuhan” ferry (kami menyebutnya “batang”) dengan ferry agak jauh. Batang kayu yang diletakkan menghubungkan “batang” dan ferry mempunyai kemiringan hampir 45 derajat. Saya saja takut-takut menuruninya, maklum terpeleset adalah my middle name, cuma ya kok jarang jatuh. Jadi saya cukup kagum melihat kemampuan driver membawa mobil menuruni kayu setipis itu (diinjak aja melengkung) menuju ferry.

Perjalanan dengan ferry sekitar 10-15 menit-an, gak tahu sih tarifnya berapa. Kemudian kami meneruskan perjalanan ke Mantangai dengan mobil. Sebenarnya ada fasilitas speedboat ke Mantangai, cuma jadinya gak bisa bawa barang banyak dan berat, karena speedboat-nya speedboat reguler yang bawa penumpang. Jadi kami melaju melewati jalan yang kelihatannya hanya kami sendiri saja yang lewat: tidak ada berpapasan dengan siapa pun, kecuali beberapa sepeda motor. Rumah pun bisa dihitung dengan jari tangan. Bisa dibilang jalan yang kami lalui itu bukan jalan: kalo gak batu semua, ya jalan pasir dan tanah merah, yang karena habis hujan, benar-benar becek dan mengancam akan membuat roda mobil terjebak di tengah daerah antah-berantah itu. Untungnya mobil hari itu pakai Ranger, itu aja, haduh…. Gak bisa tidur lah pokoknya (padahal saya kan mampu tidur dalam keadaan apa pun). Omong-omong, sepanjang tepi jalan penuh dengan tanaman paku (kelakai), makanan kesukaanku (dan kesukaan mereka penduduk Kapuas Hilir).

Kami tiba di Mantangai sore jam 3-an. Dari sana, kami menyewa speedboat untuk menelusuri seluruh desa sepanjang Sungai Kapuas Hilir, lumayan mahal juga: Rp 650.000. Ternyata bukan speedboat kecil seperti yang kubayangkan, melainkan longboat: speedboat panjang. Bentuknya mirip sekali dengan kelotok, cuma jauh lebih lebar dan panjang. Sebagai orang yang selalu paranoid kalo-kalo kapalnya miring dan barang-barangku terguling-guling masuk ke air, kapal ini serasa rumah terapung.

Sungai Kapuas sangat luas. Desa-desa di sepanjang Sungai Kapuas Hilir ini cukup unik. Dan untuk ukuran saya yang suka berjalan-jalan, agak terisolasi. Bayangkan, antar desa dipisahkan dan dilingkupi oleh hutan lebat yang luas dan lebar, dan satu-satunya jalan untuk berkunjung antar desa hanya melalui Sungai Kapuas, pakai perahu kelotok. Puskesmas hanya ada satu, yaitu di desa terbesarnya, Mantangai. Untungnya di tiap desa, ada 1 bidan atau mantri (perawat laki-laki). Kebayang kan kalo penyakitnya rumit, bisa mati duluan sebelum keburu dibawa ke Puskesmas. Kalau si dokter Puskesmas (hanya ada 1 dokter umum PNS dan 1 dokter gigi PTT) tidak rajin keliling, tidak akan ada manfaatnya keberadaan Puskesmas di daerah Kapuas Hilir.

Pekerjaan utama mereka adalah petani karet. Dari cerita penduduk setempat, dan dari cerita driver kami yang punya keluarga di daerah sana, karet yang mereka tanam adalah karet lokal, yang mempunyai harga jual lebih murah daripada karet non-lokal. Masa menyadapnya juga lebih pendek. Harga jualnya sulit untuk bersaing, apalagi banyak perantara yang menekan harga jual, karena pada siapa lagi para petani itu menjual? Mau menjual sendiri, terlalu mahal biaya transpornya. Tiap hari mereka menyadap, paling cukup hanya untuk kebutuhan sehari-hari untuk beberapa hari saja. Para penduduk kelihatannya tidak punya kebiasaan menabung, karena pada musim hujan, dimana tidak bisa menyadap secara maksimal, penghasilan menurun, dan angka gizi buruk langsung meningkat.

Angka diare juga tinggi di daerah Kapuas Hilir. Kenapa? Sumber air minum dan MCK mereka adalah air sungai. Tahu kan air sungai Kapuas, coklat. Selain itu, tentu banyak E. coli-nya karena MCK masih di sungai: buang air di jamban cemplung; mandi, mencuci pakaian dan piring, serta sikat gigi di “batang”, di situ-situ juga. Untungnya di base-nya LSM tempat aku menginap pakai air PDAM, tapi melihat airnya di bak, hhhh, kok gak kalah coklat dan lengketnya dengan air sungai ya? Itu bener gak sih pemprosesannya? Akhirnya tetep aja semua minum dari Aqua botol. By the way, kamar mandi di base besar sekali, seukuran kamar tidur besar, dari kayu ulin, jadi inget jaman masih kecil dulu di Hulu Sungai 🙂

Selain sumber airnya yang dari sungai, air sumber itu tidak diproses dulu loh sebelum diminum. Pas naik longboat, saya singgah di tepi sungai, ke sebuah warung minum. Ternyata disodorin gelas berisi air berwarna agak kuning. Saya menatap ngeri ke gelas, dan bertanya, erm, ini airnya dimasak gak Pak? Dijawab: “Kalo dimasak, airnya ya tidak manis lagi, dik.” Hah? Jadi? “Ya langsung diambil dari sungai, langsung diminum.” Alamaaaak! Saya tanya: “Gak takut diare, Pak?” “Ah biasa sih diare di sini, dik. Nanti juga sembuh.” Hwaduh.

Di rumah penduduk lain, ada yang airnya jernih, ternyata ditawas dulu, tapi tetep gak dimasak. Jadi pas malam-malam kami makan di warung, teman-teman pada beli Aqua. Saya kurang suka air dingin, sebenarnya, lebih suka teh panas. Saya pikir kalo panas ya pasti direbus kan. Jadi saya pesan teh panas. Belakangan temenku bilang bahwa yang namanya teh panas tu kalo di warung bikinnya separonya saja air mendidih, separonya ya air sungai itu, kan gak kelihatan lagi kuningnya kalo udah jadi teh. Astaga! Untung saya gak diare. Salut untuk teman-teman LSM yang tinggal di Mantangai. Ada beberapa LSM di sana, paling gak ada 3 yang base-nya berdekatan.

Karena kebanyakan ngomel dalam hati mengomentari air minum orang, rupanya saya kualat. Jam 6 sore, masih di perjalanan lewat sungai, hujan turun dengan lebatnya, disusul dengan mesin longboat yang tiba-tiba mati. Terapung-apunglah kami di tengah Sungai Kapuas. Hari mulai gelap, dan kapal yang lewat tidak mau singgah menarik kapal kami (mungkin kami disangka perampok hehehe, mosok ada perampok naik longboat?). Terpaksa kami berkayuh perlahan ke tepi, sesampai di tepi, kami bermaksud minta tarik dengan perahu kelotok. Ternyata tidak ada yang mau. Seram juga sih sudah gelap, soalnya. Haduh, mana sampelku harus terus-menerus dingin, kalo es batu yang kubawa sudah mencair, rusaklah sampel air yang kuambil seharian. Jadi kami terpaksa turun ke desa untuk beli es batu di Pulau Kaladan, dan mencari perahu kelotok. Akhirnya ada yang mau, tapi bukan untuk menarik longboat. Kamilah yang harus pindah ke kelotok mereka. Jadilah, kami naik kapal kelotok yang kecil banget cuma muat badan, tidak beratap, sebentar-sebentar perahunya miring, mengarungi sungai yang bergelombang besar, di bawah hujan lebat, langit yang berkilat-kilat menyeramkan dan guntur menyambar-nyambar. Mana saya dipayungi lagi, padahal saya protes, takut disambar petir, kan gak lucu kalo paginya aku ditemukan sudah moksa. Dinginnya amit-amit, mana gelap, kelotok kan gak punya lampu. Jadi ya cumpa lampu senter yang kadang dinyalakan. Dan tahu kan bagaimana kecepatan kelotok, seperti siput, mana melawan arus lagi. Rasanya berjam-jam baru sampai. Mana gak kelihatan lagi mau singgah di mana. Untung orang-orang di base, yang heran kok kami gak pulang-pulang, terus menyorot-nyorotkan lampu senter dari “batang”. Besoknya saya bener-bener flu.

Esok paginya baru saya sempat melihat-lihat desa Mantangai. Mantangai Hulu mayoritas beragama Kristen, karena banyak orang Dayak. Mantangai Tengah dan Hilir mayoritas menganut agama Islam. Penduduknya ramah-ramah, tapi itu mungkin karena saya dikelilingi orang LSM. Mantangai, dibanding dengan desa-desa lainnya, jauh lebih mirip kota kecil, tetapi jalanannya hanya bisa dimuati 1 mobil. Seperti di desa Timpah, di sini orang pada punya parabola, ada yang 2 sekaligus.

Pagi-pagi ada penjaja kue yang singgah, juga bibi jamu. Ada kue gagatas (ketan ditumbuk dengan terigu dan kelapa parut, digoreng, dan digulingkan pada gula halus), apam, pais (nagasari), donat, roti pisang, dan bikang. Nyam-nyam-nyam, lupa bahwa pastinya tu kue pasti terkontaminasi E. coli juga. Jamu juga diserbu, lagi-lagi lupa bahwa airnya pasti tidak masak. Kebetulan di base lagi penuh sesak orang-orang nginap, dari badan non-pemerintah dan pemerintah. Yang tadinya masih bergelimpangan tidur di lantai, langsung terbangun mendengar ada kue.

Ada hal lucu tentang es batu. Saya kan perlu es batu dalam jumlah besar untuk pengawetan sampel air. Agak ribet, karena sama seperti kebanyakan desa di Kalteng, di Mantangai listrik hanya menyala mulai jam 6 sore sampai jam 6 pagi. Pada malam hari saya menggunakan kulkas, pada siang hari saya beli es batu. Kebetulan belinya kebanyakan, jadi es itu saya tinggal di base, sambil saya bilang: “Hati-hati lo, ni es batu jangan diminum, airnya pasti gak dimasak.” Apa jawaban teman-teman LSM yang orang asli Kalteng? “La iya lah! Mana mungkin es batu dibuat dari air masak? Kalo pakai air masak, mana bisa beku!” Halah halah…

Besoknya saya pulang ke Palangkaraya dulu, dan kali ini, gara-gara sesumbar gak pernah jatuh, pas menuruni kayu dari “batang” ke ferry, saya terpeleset, dan tahu-tahu saya sudah terduduk di atas kayu itu. Anehnya gak terus menggelincir ke air, hehehe. Abis deh lecet-lecet di mana-mana, gara-gara refleks menyelamatkan benda-benda kaca, kamera, dan hp yang saya bawa. Waduh, kalau bercerita sama orang rumah, pasti diultimatum harus pijat nih *hih geli* Dari Palangkaraya, saya pulang ke Banjarmasin dengan teman-teman yang kebagian jalan ke Timpah. Istirahat dulu nih, karena Senin-nya saya mesti berangkat lagi ke Sebangau.

"Jalan-jalan" ke Kalteng

Jumat dan Sabtu minggu lalu, dalam rangka prasurvey penelitian, saya berkesempatan berkunjung ke salah satu desa di Kalimantan Tengah. Dulu, tahun 2000 kalau tidak salah, sebelum kerusuhan Dayak-Madura itu, saya sempat ke Palangkaraya, ikut acara pengabdian masyarakat, kerjasama dengan Universitas Palangkaraya, sekaligus menjenguk teman. Waktu itu, jalan ke Palangkaraya masih menyedihkan banget, belum beraspal, tanah merah semua, mana banyak lubang lagi. Kami pakai bis, dan karena jendelanya terbuka, tas hitam saya sudah berubah menjadi merah muda pas sampai lagi di Banjarmasin. Badan serasa aneh, karena kena vibrasi sepanjang jalan.

Sekarang, sangat jauh berbeda, semua jalan sampai Palangkaraya sudah di aspal bagus sekali. Pakai mobil travel ber-AC (Kijang), Banjarmasin-Palangkaraya dicapai dalam 4 jam, termasuk singgah 30 menit di Pulang Pisau untuk makan *halah* Pulang Pisau ini memang jadi persinggahan untuk makan bagi perjalanan antara Kalsel-Kalteng (ke barat), sama seperti Binuang dan Pulau Pinang untuk perjalanan dari Banjarmasin ke Hulu Sungai (ke utara).

Ada beberapa rumah makan di sana, dan rumah makan tempat saya singgah aneh juga, karena dindingnya, kecuali bagian bawah, semuanya adalah cermin. Maksudnya rupanya supaya kelihatan luas (padahal sudah gede bener tu rumah makan), tapi yang ada jadinya pusing (paling gak itu terjadi pada saya). Sempat tercengang melihat jendela yang sepertinya melayang, tetapi ternyata itu karena letaknya di sudut ruangan. Sayang hasil foto tidak kelihatan seperti saya melihatnya di dunia nyata. Omong-omong, makanannya gak enak hehehe… Pilihannya banyak banget, apa saja ada, berbagai masakan ayam, ikan, udang (kecil sampai besar), macam-macam sayuran, belum berbagai snack dan minuman. Saya cuma nyobain “Gery Salut Coklut” (kenapa sih bukan coklat?), dan saya jadi memahami makna kata “salut” di bungkusnya. Pulangnya saya juga menyempatkan beli buah kuini (orang-orang non Banjar bilangnya kweni), haduh baunya itu loh, memabukkan! Rasanya juga syedap tidak ada duanya (mungkin cuma kalah sama buah kesturi).

Dulu, waktu saya singgah di sini bersama teman-teman adik angkatan (ketahuan ya suka gaul sama daun muda), maklum masih muda dan cuek, makanannya bawa sendiri, singgah ke restoran hanya buat pesen teh manis dan pinjem piring dan sendok, bikin cemberut yang punya restoran.

Palangkaraya juga sudah berubah besar, bersih, tapi masih sepi seperti dulu, padahal sudah tengah hari. Saya lihat banyak bangunan baru, bertingkat lebih dari satu. Dulu, cuma satu-dua gedung yang punya tingkat di atas lantai dasar. Maklum tanahnya luas, kantor-kantor seluruh kegiatannya bisa di lantai dasar. Nyaman sekali dilihatnya. Saya lihat juga ada pembangunan Mall Palangkaraya. BCA juga sudah buka cabang di sana.

Dari kantor LSM tempat kami kerjasama survey, kami (saya dan teman-teman dari kantor dan LSM) berangkat ke Kabupaten Kapuas Upstream, yang diperkirakan 4 jam lagi dari Palangkaraya, diantar pake mobil. Saya pikir pasti ketiduran (paling tidak tahan duduk kelamaan di mobil), ternyata tidak bisa, karena jalannnya sebagian besar masih berbatu-batu. Sepanjang tepi jalan tampak bekas kebakaran lahan, serasa lewat di neraka, eh, belum pernah ya. Begini saja, pada pernah main game Silent Hill kan? Atau paling gak sudah nonton? Nah, penampilan lahan di tepi jalan itu persis seperti penampilan Silent Hill saat masuk ke Alternate World. Hitam-kuning mengerikan. Terbayang bagaimana seramnya pas masih terbakar, pasti serasa lewat di neraka. Untungnya kabut asap sudah terangkat sebagian, jarak pandang cukup jauh, di atas 400 m. Di kota Palangkaraya malah bersih sekali.

Sebelum sampai ke desa tujuan, yaitu Timpah, mobil harus melalui 2 sungai kecil, yang sayangnya tidak ada jembatan penghubung antara 2 sisi sungai. Yang ada cuma “ferry” yang dibuat dari 2 buah kelotok (perahu bermesin, berbunyi tok-tok-tok-tok) yang di atasnya dipasangi papan, cuma muat 2 mobil dan 2 kendaraan. Lumayan biayanya Rp 30.000 per mobil. “Ferry” pertama tidak menyeberangkan, tapi mengikuti arus sungai, paling 5-7 menit sudah sampai. Yang lama adalah proses menaikkan dan menurunkan mobil dari “ferry”. Saya takut duduk di dalam mobil, jadi saya memilih turun dan duduk langsung di atas “ferry”. Wah, kalo driver-nya gak ahli, pasti kecemplung.

Saya juga kagum pada tim “ferry” yang terdiri dari 4-5 orang. Mereka menarik dan mempaskan posisi “ferry” agar mobil bisa naik dengan selamat. Ada beberapa “ferry” yang ada di tepi sungai, kelihatannya mereka gantian. Ada yang saya lihat wajah-wajahnya mirip sekali, rupanya masing-masing “ferry” dipegang satu keluarga. Waktu pulang, kami kepagian, dan mereka masih mandi di sungai, cuma pake celana dalem hihihi… rupanya mereka tinggal di “ferry”-nya itu.

“Ferry” untuk sungai kedua lebih konyol lagi. Yang ini bener-bener menyeberangkan, tidak sampai 1 menit deh perasaan sudah sampai ke seberang. Lurus gitu. Yah mau gimana lagi, tidak ada jembatan. Lebih lama naik-turun dan bayarnya daripada perjalanannya sendiri.

Saya sampai di Timpah hanya dalam waktu 2,5 jam, lebih cepat dari perkiraan. Di sana penduduknya ramah sekali, erm, maksud saya ramah sama orang-orang LSM yang datang bersama saya. Mana kenal mereka sama saya. Untung mereka bisa bahasa Indonesia sedikit-sedikit, jadi saya gak bingung. Kadang mereka bicara bahasa Dayak, yang menurut saya terdengar mirip sekali dengan bahasa Madura (maaf), minus logatnya. Rumah-rumahnya sederhana, dari kayu, tapi…. setiap rumah punya parabola loh. Saya saja tidak punya.

Di Timpah saya tidur di rumah penduduk yang disewa LSM itu. Untuk ukuran rumah penduduk yang sehari-harinya MCK-nya di sungai, teramat sangat bagus, karena ternyata ada kamar mandinya, ada pompa air (dari sumur), dan ada septic tank yang meyakinkan. Air (hasil pompa)-nya bersih sekali, jernih, kalah dengan Palangkaraya yang airnya kuning. Cuma memang berbau dan berasa logam.Tadinya saya sudah kuatir harus mandi dan ke toilet di jamban di sungai. Fffiuh. Padahal waktu kecil saya juga MCK di sungai, sekarang kok jadi takut ya.

Tujuan ke sini sebenarnya mau ketemu sama orang LSM yang kebagian urusan GIS, untuk pemetaan daerah survey, dan kebetulan base-nya di Timpah. Mereka sedang sibuk sekali, sehingga daripada kasian mereka yang turun ke kota, kamilah yang ke sana. Lucunya, listrik di desa Timpah hanya menyala mulai jam 6 sore sampai jam 12 tengah malam. Jadi, sesudah makan malam di rumah penduduk, kami cuma punya waktu 3-4 jam untuk diskusi. Laptop kan tahannya paling berapa lama. Gak tahu juga orang-orang yang punya parabola itu apa worth it ya, wong nyala lampu cuma 6 jam. Sejak keluar Palangkaraya juga tidak ada sinyal hape samasekali, termasuk Flexi. Di Timpah malah tidak ada sambungan telpon, ada wartel telpon satelit. Jadi kalau sudah ke desa di Kalteng sudah lepas hubungan dengan mana-mana, gak tahu deh apa sakit, apa tenggelam, apa diculik.

Oya, makanannya enak sekali, tadinya saya kuatir juga, karena orang Dayak kan makan apa saja, ada yang beternak babi segala. Untung makanannya “aman”, oseng kelakai pedas (enaknya!) dan masak habang haruan. Kelakai (Stenochlaena palustris) adalah sejenis paku-pakuan, yang dimakan adalah bagian pucuknya (katanya pucuknya yang merah berkhasiat obat). Haruan itu ikan gabus (daging ikan haruan dipercaya memperceoat penyembuhan luka, sering disuruh makan pada anak habis disunat). Padahal saya tidak suka haruan, karena sejak kecil dicekoki haruan, sampai bosen. Tapi malam itu kok enak ya. Driver kami yang vegetarian (keren amat sih ni orang) terpaksa digorengkan telur. Lucu juga loh, karena punya driver yang vegan gini, kalo makan, kita mesti milih, supaya dia juga bisa makan.

Tengah malam, tup, lampu mati. Ya sudah, tidur deh. Jam 4 pagi ayam sudah berkokok, ya ampyun. Aku tidur lagi, heran tidak ada nyamuk, padahal dinding dan lantai tidak rapat. Juga tidak dingin. Jam 5 terdengar anjing berkelahi di bawah rumah (yap, rumahnya didirikan di atas tiang), saya terbangun. Jam 6 kami harus segera berangkat kembali ke Palangkaraya, karena driver kami penganut Advent yang taat, hari Sabtu jam 9 harus ke gereja.

Jam 8 sudah sampai di Palangkaraya, dan dari sana langsung ke Banjarmasin pake bis. Sumpah, saya gak mau lagi naik bis. Sudah panas (padahal pake AC), lebih mahal dari mobil travel, terguncang-guncang keras lagi. Oke, besok saya jalan-jalan ke Kalteng lagi, mudahan tidak hujan, karena saya akan ke Kabupaten Kapuas Downstream, menyusuri sungai Kapuas pake speedboat. Waduh, pertama kali nih naik speedboat. Doakan saya ya!

Karena saya tidak sempat mengambil foto oseng kelakai, maka saya ambil pic di atas dari postingan JustKay di forum eGullet.