Haiku: Gara-gara Email Berantai

31

Beberapa waktu lalu diriku dapat kiriman email berantai. Ya, semacam surat berantai. Prinsipnya kayak MLM gitu. Kayak piramida, down the chain, makin banyak orangnya secara eksponensial. Dan kayak piramida juga, dia mudah runtuh kalo 1 aja dari orang-orang di distal-nya chain tidak melanjutkan apa yang dilakukan orang-orang di proksimal.

Kirain model surat berantai ini sudah gak ada lagi di jaman surat elektronik ini. Duluuuu waktu masih sekolah, pernah dapat juga surat berantai beneran dari orang tidak dikenal. Entah dapat dimana alamatku. Mungkin dari Album Sahabat Pena di Bobo (ya pemirsa, Album ini beneran ada, lengkap dengan foto kita, alamat lengkap, dan hobi. Diriku kayaknya masih nyimpan deh di rumah). Kita diharuskan mengirim uang ke orang di nomor 1 di list, lalu nama kita sendiri ditaruh di nomor 10. Lalu surat serupa kita kirim ke 10 orang lain. Tulis tangan. Are you kidding me? Jelas tidak mungkin kulakukan, walau suratnya penuh ancaman akan kecelakaan lah, mendapat musibah keuangan lah, dsb dsb, kalau tidak meneruskan surat berantai tersebut. Mana mencari 10 alamat orang lain itu kan pe er tersendiri. Continue reading →

Advertisements

Telpon Tengah Malam

cat on phone

Tidak tahu apakah kalian seperti diriku: pas tidur telpon ditaruh di samping bantal, tidak di-silent. Sebagian besar orang mungkin tidur dengan henpon dimatikan. Tidak buat diriku. Bukaaaan, bukan karena ada emotional attachment dengan henpon. Um, okey, diriku punya emotional attachment pada setiap henpon yang diriku punya (setiap henpon punya cerita panjang yang akan bisa memenuhi blog ini berminggu-minggu), tapi attachment-ku bentuknya bukan gitu.

Anyway, kebiasaan meletakkan henpon dalam kondisi on dekat bantal ini bersumber dari long long time ago.

Jadi suatu hari diriku jadi dokter. Ini berarti seluruh keluarga dan orang satu kampung tempat diriku tinggal punya pikiran sama: wah, asik, bisa ngukur tensi dan berobat gampang nih, gak perlu susah-susah ke praktek dokter (diriku praktek jauh dari rumah). Anytime of the day. Mau pagi sebelum sarapan (sekaligus beli nasi kuning di warung sekalian singgah ngukur tensi), sore sebelum magrib (sekalian beli pisang goreng di warung, sekaligus singgah nanya obat sakit gigi, mumpung belum keburu magrib), tengah malam (daripada gak bisa tidur semalaman nahan sakit perut, mending ngetuk rumah si mbak dokter itu deh). Kita satu rumah sudah biasa dilihat dalam kondisi tidak appropriate: dasteran, muka bangun tidur, masih belum pada mandi, rumah belum disapu, sedang sarapan (mom dan granny orangnya baik hati berlebihan, tetangga ditawarin makan, diambilin piring, berakhir dengan tetangga numpang makan juga, not that I am complaining, tapi terpaksa makannya jadi harus agak sopan, biasa kaki diangkat sebelah, hihihi), dsb. Eh tapi kalo dipikir-pikir, biasa aja sih di kampung kami ini pergi dasteran ke warung belum mandi, cuma pake kerudung disaputkan ke kepala. Continue reading →

Being judgemental

dowager-countess2

Diiih judulnya. Gak ada judul yang pas dalam bahasa Indonesia? Ada yang bisa bantu? “Sok menghakimi”, mungkin?

Dari konotasinya aja terasa bahwa being judgemental itu bukan karakteristik yang bisa dibanggakan. Tapi kita ini manusia. Being judgemental itu sangat manusiawi, kok. Walau kenyataan bahwa itu manusiawi bukan berati kita bisa seenaknya saja melakukannya. Rahasianya adalah jangan menunjukkan bahwa kita being judgemental tentang seseorang. Biar nampak kayak orang baik gitu.

Nah, sebagai manusia, diriku tidak lepas dari sifat ini. Duh, kalimat ini mengingatkan pada buku agama jaman dulu hihihi. Anyway, diriku mengakui, diriku mungkin orang paling judgemental sedunia (lagi-lagi, merasa paling judgemental sedunia┬ájuga being judgemental, judgementalception gitu) untuk hal tertentu, yaitu segala sesuatu yang berkaitan dengan buku, musik, dan film. Continue reading →

Menonton Orang Makan

aaa

Tinggal di sini berarti koneksi internet yang cepat. Kabarnya Belanda mempunyai koneksi internet tercepat ke-6 sedunia (ke-4 di Eropa), dengan rerata kecepatan 15.6 Mbps. Apa akibatnya? Diriku lebih memilih nonton segala hal streaming daripada download dulu.

Sejak tahun 2014, diriku punya kebiasaan baru: kalau lagi makan di rumah (maksudnya di kosan) selalu disambi nonton streaming video yang berkaitan dengan makanan. Semuanya bermula dari hobi nonton streaming drama Korea yang lucu-lucu di Dramago, biasanya nonton 1 episode tiap kali makan. Salah satunya adalah K-drama Let’s Eat. Drama yang ringan dan lucu dengan aktor utama leader-nya Beast ini (the handsome and gorgeous Yoon Doo-joon) begitu penuh dengan makanan enak, dan setiap karakternya makan dengan begitu lahap dan penuh kenikmatan (Yoon Doo-joon melakukannya sambil membahas dengan antusias dan full-of-geekiness tentang makanan yang dia kunyah), sehingga kalau pas di tengah episode diriku sudah selesai makan, kepingin melipir ke dapur dan ngambil makanan lagi. Jadinya kayak fenomena tambah-nasi-tambah-lauk gitu. Episode belum habis, makanan habis, ambil makanan lagi, di tengah makan, episode habis, buka episode baru, makanan habis, ambil makanan, dst. The dinnertime may go on and on and on sampai persediaan makanan di dapur habis. Suatu hari akan kubahas semua K-drama dan film tentang makanan yang paling meninggalkan jejak di hatiku *halah Continue reading →

To subscribe or not to subscribe. (Ngomongin Netflix)

maxresdefault (1)

Lagi rame-ramenya kabar bahwa layanan TV internet dari Netflix yang masuk Indonesia awal tahun ini, diriku jadi berpikir-pikir kepingin. Diriku penggemar serial TV dan pernah mencanangkan kepingin nonton 1 movie per minggu. Tapi karena gak punya langganan TV kabel (TV-nya sih ada, punya bapak kos yang dulu), plus ke bioskop mahal, jadi, you know lah, main donlot. Gak usah menatap diriku seperti itu, akui saja kalian semua pernah menonton sesuatu secara tidak legal, baik streaming, donlot torrent, atau nonton video bajakan. Tapi kepingin juga melakukan semua hobi ini dengan legal, tapi kalo bisa murah meriah (*banyak maunya gini). Seperti yang sudah kumulai sejak akhir tahun lalu dengan ebooks/audiobooks via Scribd (diriku menulis tentang ini di blogku yang satunya).

Okey, balik ke kepingin langganan Netflix. Ya diriku tinggal di benua lain┬ásih, dan ketika mendengar salah satu teman di sini langganan Netflix, tidak tergugah juga kepingin. Tapi pas kehebohan Netflix di Indonesia itu muncul, trus jadi pengen *sukanya ikut-ikutan gitu. Continue reading →