Alkmaar Cheese Market

IMG_20160805_084138
Tadinya tulisan ini lebih untuk memberi tips buat yang mau ke the famous Alkmaar Cheese Market, tapi rasanya tidak lengkap kalau diriku tidak berbagi tentang kenapa diriku begitu excited mau ke sana.
Jadi buat yang ke sini cuma buat baca tips, silakan skip langsung ke bagian habis tanda ++++++.
Buat yang suka baca langsung tentang hari-H, langsung skip ke bagian ********.
Buat yang punya hobi aneh baca biografi gak penting yang panjang-lebar kemana-mana, silakan baca terus dari sini.

Jadi waktu diriku masih SMP, senang mendengarkan radio luar negeri yang mempunyai slot radio Indonesia. Dulu (mungkin sekarang masih) kita bisa menangkap siaran radio luar negeri di gelombang pendek (SW), dan ada hari-hari dan jam tertentu didedikasikan oleh radio-radio tersebut khusus untuk siaran berbahasa Indonesia oleh penyiar orang Indonesia yang tinggal di sana. Juga ada pelajaran bahasa Inggrisnya. Paling sering mendengarkan Radio Australia siaran Indonesia. Dulu mereka begitu terkenal (setidaknya menurut kami di rumah) sampe kami hapal muka-mukanya, karena suka ada artikel tentang mereka di majalah. (Gak aneh sih, secara orang rumah dulu juga bahkan hapal muka dan nama para model di majalah Femina dan Gadis).

556dfe4a0423bd742e8b4567

Foto ini adalah dok. pribadi dari orang Kalimantan ini

Nah, para penyiar ini menerima kiriman lagu/atensi. Kita tinggal kirim atensi dan pesenan lagu di kartu pos, lalu kirim ke PO Box di Indonesia untuk radio-radio ini, nanti akan dibacakan oleh mereka dari luar negeri dan diputarkan lagu. Senaaaang banget rasanya. Daftar alamat PO. Box ini suka dipublikasikan di majalah. Selain menerima kiriman lagu, mereka juga mau mengirimi berbagai buku/buklet berisi informasi wisata di negara setempat. Gratis langsung dari luar negeri! Waktu itu, sebagai anak-anak yang pergi ke luar kota aja sudah rasa kayak pergi ke surga, buku-buku kayak gini bisa bikin diriku menatap gambar-gambarnya berjam-jam. Sambil mengarang macam-macam skenario khayalan (keseringan dengerin sanggar cerita dan main role-play memainkan isi sanggar cerita itu bareng my sister), tanpa benar-benar berpikir akan pernah bisa ke sana. Selain itu, bayangkan dapat perangko dengan cap pos dari luar negeri! Jaman itu koleksi perangko luar negeri yang didapat dari surat beneran adalah hobi prestisius. Jaman sekarang perangko bercap luar negeri asli tinggal beli 1 pak harganya murah.

Diriku mengirimi semua radio luar negeri yang bisa kudapatkan alamatnya di Indonesia untuk minta buklet. Nah, di salah satu kiriman mereka, ada yang mengusulkan agar minta berbagai buklet ini di kedutaan luar negeri di Indonesia, katanya mereka punya lebih banyak lagi. Zaman itu gak ada internet ya, jadi cara mencari alamat kedutaan adalah dengan….. membuka agenda mom. Buku agenda dulu (entah sekarang) dilengkapi dengan berbagai informasi di bagian awal bukunya, termasuk alamat seluruh kedutaan luar negeri yang ada di Jakarta. Jadi kukirimi dong satu-satu pake surat, minta buklet😀 Kedutaan ternyata lebih antusias lagi mengirimi paket buku pake amplop gede-gede (terus kan keren yang ngirim Kedutaan). Mulai yang berbahasa Inggris sampai Indonesia, dengan kertas buku yang esklusif penuh foto-foto tujuan wisata. Pak pos sampe hapal dengan alamat rumah. Dan nenek sampe bilang, kalo terus-menerus begini, dia akan mulai membuangi tumpukan buku-buku “gak jelas” ini😀 Yah, nenekku sih sering ngancam buang buku (paling sering ngancam membuang buku silat sewaan), tapi gak pernah tega melakukannya, secara dia sendiri avid reader.

Anyway, yang menurutku salah satu yang paling impresif saat itu adalah kiriman dari Kedutaan Belanda. Macam-macam sih isinya, tapi salah satunya adalah sebuah illustrated map gedeee banget selebar 1/3 dinding dan setinggi 2/3 dinding. Diriku tinggal di rumah nenek yang adalah rumah jaman dulu berlangit-langit tinggi, so you can imagine how big it is. Ingat juga Belanda sebenarnya kan ukurannya cuma seuprit, jadi bayangkan detailnya. Setiap kota diberi gambar tourist attraction yang dilukis secara comical, Quentin Blake-style. (I am judging you here….). Diriku sudah gak ingat setiap gambar, tapi yang paling-paling berkesan ada 2, yaitu: gambar cheese-bearers di Alkmaar, dan ….. ilustrasi cewek-cowok nudis lagi berjemur di pantai utara dan barat Belanda plus lagi sailing gak pake baju (a la Orlando Bloom gituh).

Loncat berdekade-dekade ke depan. (Yeah, now you know how ancient I am). Diriku dapat beasiswa untuk sekolah ke Belanda dari itu tuh unit di kementerian pendidikan yang sudah gak ada lagi saat ini, yang saat itu kerjasama dengan Neso, agen pemerintah Belanda yang mengurusi pendidikan dan beasiswa ke Belanda untuk mahasiswa Indonesia. Karena ini sudah lamaaa sejak diriku menerima peta, dan petanya sendiri sudah berlubang-lubang dimakan serangga di sudut-sudutnya, sudah dilepas dari dinding karena kamar yang kupakai dulu sudah jadi kamar tamu dan kamar buku, dan petanya disimpan di salah satu dari many many laci di rumah; maka bayangkan betapa kagetnya diriku ketika berjalan masuk ke Neso dan diminta menunggu dalam library-nya yang nyaman, diriku menatap ke kanan, daaaaaan, ada peta yang sama di sana! Diriku sampe menutup mata beberapa saat lalu lihat lagi, saking gak yakinnya. It’s still there! Ketika bertemu Ibu yang mengurus beasiswa di Neso, that illustrated map adalah hal pertama yang jadi bahan pembicaraanku. Dia nampak agak overwhelmed melihat diriku begitu emosional hihihihi. Biasa aja kali, mbak, it’s just a map, gitu kali pikirnya.

484620_10151005826044209_2006679892_n

Ini nih saat berbusa-busa ngomongin peta.

Loncat berbulan-bulan kemudian, si Ibu itu meminta diriku ngasi speech di acara pelepasan mahasiswa Indonesia ke Belanda yang diadakan Kedutaan Belanda di Indonesia. Jangan kagum dulu, mereka hanya gak bisa menemukan orang yang mau ngasi speech (soalnya diriku tahu temenku yang punya CV bikin semua orang silau diminta ngasi speech tapi gak mau), dan kayaknya satu-satunya nomor telpon yang tersisa yang mereka tahu adalah nomorku. Sementara diriku orangnya tipenya kalo diminta melakukan sesuatu yang nampak menarik dan belum pernah, diriku akan bilang Ya dulu, baru mikir kemudian. Diriku diminta melakukan rehearsal dulu di Neso untuk speech ini, mungkin kuatir isinya sarat politik, jokes murahan, MLM, atau berniat makar. Not that I know all of those stuff. Nah diriku waktu itu dapat ide memasukkan cerita tentang peta Belanda itu sebagai ilustrasi “the power of dream”, dan turned out they liked it. So, there. The illlustrated map story is known by every Indonesian student yang berangkat ke Belanda tahun 2012 hihihi.

Trus kalian pikir, mestinya begitu sampe Belanda, the cheese-bearers of Alkmaar ini adalah hal pertama yang ingin kulihat kan, ya. NO. Pertama, diriku sampe di Belanda di akhir musim gugur, sedangkan cheese market ini adanya cuma di satu hari per minggu yaitu hari Jumat jam 10-12 pagi di bulan April sampai September, dan Alkmaar itu 1 jam dari Utrech pakai kereta, mahaaal (baru datang, jadi semuanya dikonversi ke rupiah). Dua, sama seperti semua mahasiswa Indonesia baru sampai ke negeri jauh untuk sekolah: tiga bulan pertama isinya bertanya-tanya kenapa diriku mengambil keputusan bodoh ini, kenapa diriku pergi jauh-jauh untuk sekolah, dan sejuta kenapa lainnya khas fase denial. Sesudah itu, diriku adaptasi cepat, terutama karena kemudian menemukan accommodation I really love, trus lupa mau ke Alkmaar, karena begitu banyak yang harus dikerjakan.

Tahun 2014, temenku ngajak ke sana, sesudah kehabisan ide mau kemana lagi di Belanda. Kenapa kok diriku terus menunda ke Alkmaar? Tidak lain tidak bukan adalah karena menurut temanku yang satu ini (our private near-pro photographer kalo jalan-jalan), kalo mau ke Alkmaar dan bisa melihat eventnya dengan jelas dan berdiri paling depan (maklum orang Belanda kan tinggi-tinggi), kita harus nginap di Alkmaar. Sebagai penganut keyakinan bahwa tempat tidur terenak adalah tempat tidur sendiri, mau kayak apa pun sederhana dan jeleknya, diriku terus menolak. Sampe akhirnya dia pulang ke Indonesia tanpa melihat Alkmaar.

Minggu lalu, temenku mengusulkan untuk ke Alkmaar, mumpung supervisor kami lagi liburan. Jumat adalah hari meeting-ku dengan supervisor. Jadi bisa dibilang Jumat kemaren itu adalah satu-satunya hari diriku bisa pergi. Kami memutuskan memulai hari sejak suhubuh. Oya, shubuh di sini saat ini jam 03.25 pagi.

So, here is the story of the day:

*************************

Sekali dirimu merasakan keju di Belanda, sulit untuk menghargai rasa keju di negeri sendiri. Yah, rasa kejunya bukan yang kayak life-changing gitu sih, berasa biasa aja pas di sini. Tapi pas balik, rasanya gak puas lagi dengan rasa keju, berasa asinnya doang.

Sebenarnya keju di Belanda tidak dijual secara tradisional lagi, jadi traditional cheesemarket di Alkmaar ini lebih kayak re-enactment dari pasar keju tradisional jaman dulu. Ada 3 tempat lain lagi yang mengadakan event ini di hari berbeda, yaitu di Edam, Gouda, dan Hoorn, cuma tidak ada yang selama di Alkmaar, rata-rata paling 2 atau 3 bulan aja dalam setahun. Jadi tidak heran Alkmaar yang paling terkenal. Tahun ini, Cheese market di Alkmaar diadakah tiap Jumat jam 10-12.30 mulai 25 Maret sampai 30 September. Yang dipamerkan di Alkmaar ini keju Gouda.

Sesuai dengan petunjuk teman yang sudah balik itu, kami harus berangkat pagi-pagi kalau ingin melihat seluruh prosesnya dengan jelas tanpa kealingan orang lain. Dengan kereta paling pagi yang kami bisa dapatkan (dengan insiden lari-lari menyeberangi lapangan karena salah naik bis ke stasiun, dan drama ketiduran habis bangun shubuh), kami berhasil tiba di Alkmaar Station jam 7.30 pagi. Sesudah menunggu teman yang tiba jam 8.00, kami mengikuti the Cheese Route dari stasiun. Ada kotak-kotak kuning pake panah menuju Waagplein (= weighing square), lokasi cheese market yang akan diadakan nanti jam 10. Sempat bingung pas sampai persimpangan, dan seorang ibu-ibu penduduk lokal, yang melihat kami menatap hape sambil berdebat, memutuskan bahwa kami ini pasti turis yang kepagian dan memberi kami petunjuk. Ternyata luruuuus aja dari stasiun sampe ketemu kanal, lalu belok kiri susuri kanal, gampang banget. Bagi yang datang agak siangan, tinggal mengikuti orang-orang lain aja yang berbondong-bondong ke sana.

Sepanjang jalan dari jembatan dekat stasiun sampai ke Waagplein, kita memasuki area kota tua dengan berbagai titik lokasi yang disebut di Wikitravel kelewat semua: Canadaplein, Sint Laurenskerk, Stadhuis, dan akhirnya di Waagplein kita tiba di the Waag, tempat The Cheese Museum. Mulai dari Sint Laurenskerk udah banyak stall tempat orang jualan keju, makanan khas, sampe suvenir. Kalo kalian datang jam 8, masih sempat lihat-lihat suvenir karena lumayan lucu-lucu, dan kali dikasi harga jam buka (diskon). Kalo sudah jam 9, lupakan, cari tempat di Waagplein lebih penting. Begitu mendekati Waagplein, bau kejunya kenceeeeng banget. Yang gak suka keju kali akan pusing.

IMG_3962

Keju Gouda berlatar belakang  gedung the Waag.

Walau sudah sering lihat fotonya, cukup amazed juga lihat pemandangan begitu banyak keju Gouda dijejer di lapangan di hari secerah ini (cerah tapi dingin, you know, Belanda). Jadi tiba jam 8 bener-bener pas, cuma ada beberapa turis yang kelihatan, banyakan bawa kamera pro. Keju ini dikelilingi oleh pagar, jadi kita hanya boleh nonton dari luar pagar, tapi karena masih pagi, kita bisa foto-foto dalam pagar, karena di ujungnya pagarnya masih dibuka. Ada suami-istri kebangsaan Cina lumayan berumur berfoto-foto selfie dengan gaya-gaya amazing kami sampai kagum, lengkap dengan jari dibentuk huruf V ditaruh di sisi kepala, kaki diangkat sebelah ke belakang, dsb. Melihat mereka, mau bilang kami berasa tua, mereka lebih tua; kayaknya kami aja yang gak bisa bergaya kalo berfoto. Sambil nunggu, kami muterin area, karena di gang-gang samping, ada berbagai lorong, ada Museum Bir, dan di tepi kanal ada adegan orang menaik-turunkan gelondongan keju Gouda ini ke kapal mesin (kayak kapal kelotok di Bajarmasin). Mereka pake klompen (sepatu kayu Belanda).

IMG_3969Di ujung terjauh dari gedung The Waag di sisi kanan dekat kanal dan tepat di belakang pagar, ada “tribun” kayu bertingkat berukuran sedang, ya 6 tingkat gitu lah. Karena masih jam 8.30 waktu itu, kami pikir sambil nunggu, kami duduk aja dulu di sisi kiri tribun (sisi terdekat ke event) di kursi di level 5 biar tinggi, tar kalau sudah mulai banyak orang, kami akan turun dan berdiri paling depan di pagar.

Ternyata keasikan ngobrol ngomongin orang, tau-tau penuh aja sudah lapangannya dan penonton di pagar sudah berlapis-lapis, jadi kami memutuskan duduk aja, toh kelihatan. Selain itu, ada layar TV dipasang di the Waag, yang akan menunjukkan event-nya dari dekat. Keputusan yang salah. Kami memang duduk paling kiri, tapi ada tangga naik di sebelah kiri kami, jadi ya penuh aja orang berdiri di tangga, kita jadi kealingan. Ibu-ibu di sebelah kami, orang Belanda yang tekenal selalu vokal mengatakan pendapatnya, mendatangi orang-orang yang berdiri dan bilang bahwa mereka harusnya duduk aja di lantai tangga, jangan berdiri, karena kita-kita yang datang lebih pagi harusnya dapat keuntungan bisa melihat event tanpa kealingan. Sebagian besar pada turun, tapi trus ada lagi orang baru yang gak tahu kemudian berdiri di tempat yang sama. Sesudah kecapekan tuh ibu menegur dan makin penuh orang, akhirnya semuanya yang di tribun berdiri.

Acaranya dimulai sekitar jam 10 kurang, dibuka oleh MC embak-embak bersetelan jas kuning keju (dan berambut pirang), menyampaikan dalam 4 bahasa: bahasa Belanda, Inggris, Jerman, dan Spanyol, tentang event apakah ini. Lalu acara dibuka oleh satu grup orang berpakaian formal (biasanya selebriti atau orang penting di Belanda atau dari luar negeri yang jadi guest), lengkap dengan wawancara (semuanya dalam bahasa Belanda). Sambil nungguin pembukaan ini, di ujung terjauh dari the Waag, ada 2 gerobak kayu jualan dibawakan oleh cowok-cewek berpakaian tradisional Belanda, menjual 1 tas goodie bag berisi 4 keju (potongan segitiga, bukan 1 gelondongan), 1 scarf, dan 1 tikus mainan. Harganya 10 euro. Laku banget dijual ke penonton.

IMG_3982

Itu mbak-nya.

Kemudian acara dilanjutkan dengan demonstrasi tawar-menawar dan transpor keju secara tradisional. MC menjelaskan dalam bahasa Belanda, jadi kebayang para pengunjung yang gak bisa Belanda bingung melihat aktivitas sibuk di dalam pagar. Sesudah panjang lebar, MC pindah ke bahasa Inggris, tapi nampaknya informasinya gak sepanjang yang diberikan dalam bahasa Belanda. Buat para turis berbahasa Inggris, begitu dia switch ke Bahasa Jerman, itu saatnya kalian meninggalkan lokasi (biasanya sekitar jam 11.30-an), karena aktivitasnya sama aja, dan si MC akan mengulangi lagi acara dari awal sekali untuk pengunjung yang baru datang. Kecuali kalian ingin melihat carillonnya, tunggu sampai MC selesai menjelaskan pake bahasa Spanyol. We are just too hungry to wait (dan diriku terlalu pusing melihat lapangan penuh manusia).

Jadi “singkatnya” begini: Sejarahnya, cheese-bearers ini punya guild, ada 4 guild dan ditandai dengan warna berbeda di topi jeraminya dan di cheese barrow-nya: merah, kuning, biru, dan hijau. Seragamnya sendiri putih-putih. Tiap awal season, mereka akan melempar dadu untuk menentukan guild mana yang aktif dan timbangan guild mana yang dipake season ini. Setiap guild punya timbangan dan tasman (= man with purse) sendiri yang akan menimbang dan mencatat transaksi. Setiap kali, hanya ada 3 guild yang aktif, 1 guild lagi tugasnya ngurus transpor. Waktu kami disana, guild berwarna merah, kuning, dan hijau yang aktif, sementara yang biru bantu-bantu transpor dan ngisi posisi kalo ada yang kosong di guild lain untuk jadi cheese-bearer. Jadi cheese-bearer ini cukup prestisius kayaknya, karena perlu 2 tahun untuk menunggu dari cadangan sampai beneran jadi cheese-bearer, dan ada rulesnya: jadi selama cheese market, mereka gak boleh smoke, drink, and swear. Jadi misalnya gak sengaja menjatuhkan keju, gak boleh mengumpat. Selain itu, juga ada 2 cheesemaids, tugas mereka berkeliling jualan majalah tentang keju, serta berfoto dengan turis, tentunya.

IMG20160805101312

Cheese-carriers’ dribble

Prosesnya dimulai dari menginspeksi keju. Kejunya diketok-ketok, dibelah dua, lalu dicek lubang-lubangnya, kemudian alat khusus kayak pipa panjang dimasukkan ke keju, lalu keju yang diambil dengan alat itu, dirasakan dengan jari, dicium, dan dirasai. Sesudah puas dengan kualitas, lalu ceritanya para calon pembeli tawar-menawar secara tradisional. Diriku tidak begitu jelas proses tawar-menawarnya, karena gak kelihatan, tapi katanya pake clapping hands dan nyebut harga. Begitu harga disetujui, lalu keju dibawa oleh cheese-bearers ke timbangan, kemudian sesudah dibayar, lalu cheesebearer membawa keju-keju ini ke gerobak kayu pembeli. Tiap cheese-barrow dibawa oleh 2 cheese-bearers, dan karena bentuknya, maka mereka harus berjalan dengan cara khusus (cheese-carriers’ dribble terjemahannya) agar barrownya seimbang dan gak banyak bergoyang untuk menghindari gelondongan kejunya terguling keluar. Tiap barrow diisi 8 gelondongan keju, dan kabarnya berat totalnya 130-an kilo. Gerobak kayu penuh berisi keju akan didorong keluar pagar.

IMG20160805101828

Ini gerobaknya.

Supaya penonton bisa melihat bagaimana keju dicek, bapak-bapak yang bertugas mengecek ini berkeliling ke penonton di pagar menunjukkan caranya. Kami berharap dapat sampel, ternyata enggak😀

Kami meninggalkan Alkmaar jam 11.30. Sepanjang jalan balik ke stasiun, kami melihat masih banyak orang berbondong-bondong ke arah Waagplein. Gak bisa lihat apa-apa, mbak, mas, lapangannya penuh orang sampe susah mau keluar aja.

Kata akhir, another one in my bucket list is checked!

++++++++++++++++++++++++

Sekarang tips untuk bisa melihat event pasar keju di Alkmaar dengan jelas:

  1. Datang sepagi mungkin. Gelondongan keju sudah diletakkan di Waagplein sejak jam 7 pagi. Pastikan kalian tiba di Waagplein paing lambat jam 8.30 pagi, kalau masih ingin bisa berfoto dengan keju berlatar belakang The Waag tanpa ada kelihatan banyak orang dan bebas mau gaya apa aja, langsung di dalam pagarnya.
  2. Sambil nunggu jam 9, bisa sempat melihat-lihat suvenir, atau melihat-lihat gang sekitarnya. Pastikan pagi-pagi menjenguk gang kecil di sebelah jembatan, karena mereka memindahkan keju ke kapal di tepi kanal. Instagrammable deh pokoknya.
  3. Begitu jam 9, pastikan kalian berdiri di pagar di sisi kanan (kalo kalian membelakangi
    The Waag) sedekat mungkin dengan The Waag, karena kalau kalian berdiri di sisi kiri, silau, foto-foto gelap semua, karena menghadap matahari. Jangan pindah-pindah lagi, karena sesudah itu crowdnya sudah penuh. Pertahankan posisi paling depan.
    Kalau kalian berbahasa Inggris, kalau si mbaknya sudah selesai menjelaskan prosesi dalam bahasa Inggris, saatnya meninggalkan tempat dan explore the city (so many things to explore, silakan lihat Wikitravel-nya). Semuanya sesudah itu hanya ulangan.

    IMG20160805101058

    Kayak gini loh penuhnya sampe tepi kanal.

  4. Kalau kalian memilih untuk duduk aja di tribun dan punya kamera dengan lensa bagus, pastikan kalian duduk di sisi paling kiri dan paling atas, karena gak mungkin kealingan siapa pun dan posisimu adalah posisi tertinggi di seluruh lapangan Waagplein. Dan kalau kalian memutuskan untuk berdiri, gak ada yang akan protes.
  5. Diriku selalu kepingin ke toilet, makin dipikirin, makin kepingin. Biasanya toilet di stasiun kecil agak meragukan. Karena kami datang pagi, resto di sisi kiri Waagplein umumnya mempunyai toilet bersih dan umumnya mau dipakai gratis. Mungkin karena yang nanya cuma 1 orang, kalo segerombolan mungkin gak mau juga. Selain itu, kalau kalian jalan balik ke stsiun, pasti lewat Bibliotheek (the Library), masuk aja, di dinding ada tanda arah toilet, siapkan 0.50 euro. Bersih. Nyaman.

Have fun!

Credits: selain foto penyiar Radio Australia, foto-foto adalah koleksi pribadi penulis, digabung dengan koleksi si A dan si B, my traveling buddies.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: