My Mobile Phone(s): The Journey

girl-looking-down-roadSetahun sudah berlalu sejak postingan terakhir. Banyak yang ingin ditulis, tapi karena ilmu pengetahuan masih belum menelurkan alat untuk menuliskan segala hal yang kita pikirkan dengan kecepatan yang sama dengan proses berpikir, maka aktivitas ngeblog ini nampaknya akan terus ngadat. Sampai sesuatu yang luar biasa terjadi.

Dan untuk membuktikan bahwa diriku masih se-menyanyah yang dulu, mari kita menatap ke belakang sejenak. Bagi yang tidak sabar dan tidak berminat membaca sejarah perjalanan henpon saya, silakan langsung ke bagian The Present.

The Past

Akui saja wahai para pembaca blog, henpon yang kaian gunakan sekarang pasti bukan yang pertama. “Engkau bukan yang pertama, tapi pasti yang terakhir …..” *jebakan umur*

Sama seperti kalian, ini bukan hape yang pertama, tapi sudah yang ketujuh. Kalian mungkin bilang ini jumlah yang cukup fantastis (diriku mulai pakai hape tahun 2000). Tapi diriku tidak pernah mengganti hape (dan segala barang elektronik lainnya) kecuali rusak, atau sudah terengah-engah sekali kemampuannya, atau hilang.

  • 1 mati total (2002).
  • 1 dicuri pas turun di bis di Jogja (2004).
  • 1 ketinggalan di taksi di Jakarta (2006).
  • 1 ketinggalan di warung angkringan (dan dikembalikan) (2007). [Ini hape CDMA. Sekitar tahun itu, sebagian besar orang punya 2 hape, 1 GSM, 1 CDMA. Diriku lupa kenapa. Karena koneksi internetnya mungkin, ya?]
  • 1 dicuri pas turun di pesawat di Jogja (2010).
  • 1 sudah begitu lelah kondisinya sehingga dijadikan cermin saja (screen cover-nya yang tipe mirror, sayang kan dibuang) (2012), dan masih diriku bawa-bawa sampai sekarang. My first Android phone. My first and my only Motorola phone.

Kalian mungkin bertanya-tanya, kok hapal sampe tahun-tahunnya. Karena setiap hilang saya menuliskannya di blog :D Silakan klik link-nya heuheuheu. Cuma yang pas turun pesawat di Jogja saya tidak menuliskannya. Yah mungkin saya tulis di MP (entahlah lupa), tapi kita semua tahu apa yang terjadi dengan MP, bukan? Kalau saya rajin menggali, sebenarnya di Plurk ada jejak saya kesal dan mem-broadcast kehilangan hape ini segera setelah keluar dari ruang kedatangan (saat itu saya bawa laptop), karena harusnya saat itu saya harus punya sarana komunikasi biar bisa dijemput Kobo dan Gehu di bandara untuk langsung berangkat ke kota tempat kawinannya Miss Antie dan aaqq, Salatiga.

Waktu tahun 2006, saya bahkan bercanda bahwa ini adalah KLB 2 tahunan. Tidak pernah menyangka bahwa apa yang saya katakan ini menjadi kenyataan.

The Present

Jadi diriku sekarang memegang henpon Android kedua, sesudah Android pertamaku jadi cermin (sebut saja dia “Cermin”). Waktu masih pakai si “Cermin”, internet wifi/mobile-nya cepat, hapenya gak bisa membuka apps-nya karena kelelahan. Tinggal di Belanda tanpa hape yang kemampuannya tidak mampu mewadahi kebutuhan akses internet itu ternyata menyusahkan.

Mau naik bis? Cek dulu jadwal bis lewat di halte dekat posisi kita berada lewatnya jam berapa (karena mereka umumnya selalu tepat waktu). Kalau masih 5 menit aja, masih belum keluar ruangan, malas diterpa angin sedingin es batu.

Mau naik kereta? Cek dulu jadwal kereta dan peron nomor berapa. Kalau ada transit di stasiun tertentu, jangan lupa mengecek jam turun kereta yang satu dan jam berangkat kereta yang satu, plus peronnya apa berdekatan. Tidak ada yang mau ketinggalan kereta lanjutan karena stasiun entah kenapa selalu lebih dingin daripada tempat lain.

Mau keluar rumah pake jaket dan sepatu yang mana? Cek dulu cuaca hari ini yang bisa akurat asal dicek tiap jam. Apa perlu jaket tebel dan sepatu bot buat salju, jaket dan sepatu tahan air buat hujan, jaket tahan angin di hari berangin kencang, jaket tipis dan sepatu keds pada hari yang cerah, atau tanpa jaket dan sandal teplek di musim panas.

Mau shalat? Cek dulu apps jam shalat karena jadwal shalat bergeser terus setiap hari. Dan karena umumnya tidak ada tempat shalat, arah qiblat dicek dulu pake henpon.

Mau pergi ke suatu tempat yang kita tahu alamatnya tapi belum pernah ke sana? Tinggal nyalakan Google Maps yang akurat sampe ke jalan kecil-kecil buat sepeda, setidaknya begitulah menurut orang lain. Buatku, Google Maps is still a map to get lost, not to get there.

Hmmm, ini sebenarnya mau membicarakan apa ya.

Okey, mari kita kembali ke tokoh utama. Henpon yang sekarang.

Sabtu lalu, seperti yang saya post di Facebook, ada acara Sale-by-Weight (5 euro per kilo) di ABC bookstore yang di Amsterdam dan Den Haag, toko buku independen yang menjual buku berbahasa Inggris di Belanda. Mungkin kalian semua sudah muak karena saya terus-menerus mengulang informasi berikut ini, tapi ini kan blog saya hihihi: Toko buku ini adalah salah satu dari 20 toko buku paling beautiful di dunia versi Flavorwire. Kalian yang kenal diriku tentu tahu bahwa event seperti ini tidak mungkin bisa kutolak, tidak peduli apakah memang ingin beli atau tidak. Pokoknya dilihat dulu.

Jadi, walau saat itu diriku sedang demam, sakit tenggorokan, dan pilek berat, diriku tetap pergi. Mungkin ini salah satu penyebab diriku kurang konsen dan tidak begitu memperhatikan sekitar.

Diriku keluar rumah, dan di depan pintu rumah mengecek jadwal bis. Tepat waktu, 3 menit lagi bisnya datang. Di bis, diriku mengirim pesan ke teman dan mengecek jadwal kereta dan peronnya. Masih bertanda merah, yang berarti nomor peron untuk naik kereta mungkin bisa berubah. Ini biasa terjadi pada weekend, karena perbaikan rel selalu dilakukan pas weekend, sehingga bisa ada gangguan pada jalur kereta. Sesampai di halte terakhir di stasiun, diriku mendadak bersin. Jadi saat diriku sibuk dengan tisu, orang-orang mulai turun. Diriku segera berdiri, eh tali ransel nyangkut di sela kursi. Karena diriku sudah pernah mengalami sangkut tali ini, dan tahu bahwa melepaskan tali dari sela kursi ini butuh waktu lama, diriku agak panik dan menarik-narik tali tas dengan agak ganas, sampai akhirnya lepas. Diriku adalah penumpang terakhir yang turun dari bis. Di luar bis, masih mau bersin, tapi mengingat jadwal kereta sudah dekat, diriku bersin sambil heboh naik elevator ke stasiun. Pas sampai stasiun, diriku mendengar pengumuman dalam bahasa Belanda tentang pindahnya kereta ke Amsterdam ke peron sekian sekian. Untuk memastikan, diriku merogoh kantong jaket kiri untuk mengecek lagi posisi kereta ada di peron mana.

Merogoh. Dan merogoh. Rogoh saku kiri jaket, saku kanan jaket, saku celana jins, buka ransel. Okey. Calm down.

Diriku segera lari balik turun dari stasiun dan ke halte. Bis tadi sudah tidak ada di haltenya. Menatap berkeliling, oh itu ada beberapa bapak-bapak berdiri pake seragam bus driver yang keren dan elegan. Diriku menjelaskan situasinya, lalu oleh mereka dipanggilkan petugas yang lagi kena shift hari itu, dia yang bertanggung jawab untuk segala sesuatu yang terjadi di halte tersebut. Dia kemudian mem-broadcast beritanya via walkie-talkie. Sesudah menunggu setengah jam, dan belum ada kabar, diriku memutuskan bahwa menunggu gak ada gunanya, mending melakukan sesuatu yang berguna, seperti, er, jalan-jalan. Jadi sesudah mendapat info lokasi dimana aku bisa bertanya nanti tentang keberadaan henponku ini beserta nomor telpon customer service, diriku lanjut ke Amsterdam.

Mari kita bahas episode toko buku lain kali, hihihihi.

Pendeknya, diriku balik lagi 2,5 jam kemudian, dan pergi ke customer service. Ternyata katanya belum ada. Pulanglah diriku.

Hal pertama yang keingat adalah bahwa henponku tidak pake screen lock (diriku selalu merasa heran kenapa orang-orang pake screenlock yang menurutku penemuan yang sungguh menyusahkan. now, I understand why). Dan kartu langganan mobile-nya pascabayar. Kemudian internetnya always on, dan semua interaksi via email, Gtalk, twitter, plurk, WA, dsb dsb tentu terus masuk dan bisa dibaca oleh siapa pun yang mengambil/menemukan hape itu. Teringat pernah menshare info tentang kartu kredit via email ke teman. Diriku masih berasumsi hape itu sebenarnya jatuh, bukan diambil. Tapi tetap saja, kalau kebetulan ditemukan oleh orang yang iseng dan melihat-lihat, bisa saja tergoda. Begitulah kupikir.

Jadi sore itu diriku sibuk mengganti semua password segala account yang appsnya ada di henpon dan me-revoke semua account dari koneksinya dengan henpon. Not that people will be interested to open Goodreads or things like that. I just want to be thorough. Atau diriku hanya OCD. Jadi salah satu yang kuubah password (dan username)-nya adalah internet banking bank di sini. Yuk mari. Diriku tidak tahu betapa hal ini menyusahkan diriku nantinya.

Kemudian tiba ke langkah yang lebih advanced. Sesudah searching di internet, diriku menemukan berbagai langkah me-lock henpon Android dari jarak jauh. Diriku mencoba 2 cara yang nampak meyakinkan (sebenarnya sih cuma 2 cara ini yang aku paham hihihi). Yang menarik, ada yang mampu mengirim pop-up message yang nanti akan muncul di layar henpon. Okey, jadi aku tulis “**** ******* ***********, David de Wiedgebouw, 3rd floor”. Bintang-bintang yang cantik itu adalah nama dari yours truly, yang untuk kemaslahatan bersama mari kita sensor *sok misterius* David de Wiedgebouw adalah gedung tempat diriku kerja. I mean, it is not safe to put your home address there, isn’t it?

*Catatan: diriku pernah melakukan mirip seperti ini saat kehilangan henpon tahun 2004. Saat itu teknologi belum secanggih sekarang, tapi teman-teman di kosan (B5ers) dengan ganasnya mengirim sms ke nomor hape yang hilang, mulai mem-bully sampai meminta agar dikembalikan, trus dikasi alamat kos. Hasilnya? SIM card dikirim via pos ke kosan. Saat itu penting sekali mendapatkan SIM card kembali, karena address book henpon susah di-retrieve, tidak seperti sekarang.

Okey, walau diriku tidak tahu apakah segala hal yang dilakukan di atas berhasil mengunci henponnya, mari berharap bahwa upayanya sukses. Tinggal satu hal yang belum dilakukan: me-lock SIM card, ini penting karena diriku pakai kartu pascabayar. Diriku belum me-lock karena malas urusannya kalau meng-unlock harus ke toko mobile providernya (yang umumnya buka jam 12, tutup jam 6). Diriku bermaksud menunggu sehari. Toh aktivitas kartu bisa dilacak di website.

Hari Minggu, diriku kembali ke stasiun, maksudnya mau ke Customer Service bis lagi. Alamak. Tutup. Sebagai info, di Belanda tidak umum toko buka di hari Minggu di kota kecil, kecuali toko tertentu seperti supermarket Albert Heijn, atau beberapa toko lain, yang bukanya pun jam 12 dan tutup jam 6 atau 7. Untungnya toko mobile provider buka. Diriku lock-lah SIM cardnya. Sudah sehari, cukuplah. Diriku diberi SIM card baru dengan nomor sama. Tentunya sambil ditawari bundling dengan hape.

Sepulang dari sana, iseng-iseng membuka email dan mengirim email ke teman di Divisi bahwa hapeku hilang dan kalau ada sms atau telpon itu bukan dariku. Bener-bener iseng.

Beberapa saat kemudian, masuk email, jelas spam: “When you lost something, please call 06-2*******”. Hmmmm, ini pasti karena aku mengirim email dengan isi kata “lost”. Sudah beberapa bulan ini email di Divisi kena bombardir banyak email spam.

Senin pagi, diriku menemukan masalah baru: account e-banking yang kuganti username dan passwordnya ke-lock karena username dan password barunya terus ditolak entah kenapa. Damn! Kenapa pula diriku ganti username dan passwordnya? Oh iya, karena henpon hilang.

Apa yang menyebalkan dari hal ini? Kalau di Indonesia hal ini bisa diselesaikan dengan datang ke bank dan beres hari itu juga, kalo di sini mulai hari kita datang ke bank sampai dapat username itu 5 hari. Username-nya dikirim pake pos. Kemudian, kita dapat surat via pos yang terpisah hari itu juga atau besoknya, berisi undangan datang ke bank untuk mengambil password. Terus kita harus menyeret diri ke bank yang alamatnya tertulis dalam surat undangan, yang kadang lokasinya bukan di bank, tapi…. di toko buku yang juga merangkap counter post office, yang satu perusahaan dengan bank tempat diriku punya rekening. Sungguh, pertama kali dulu mendapat undangan ini, diriku terus berkeliling di sekitar situ mencari bank ini, ternyata diberitahu lokasinya di dalam toko buku. Diriku tidak melihat logo bank di atas pintunya. Mana diriku menyangka ada bank dalam toko?

Dan masalah kedua yang kualami adalah: SIM card baru gagal diaktivasi. Diriku sementara dipinjami henpon oleh temen untuk mencoba SIM-nya.

Jadilah diriku sesorean Senin mengurus hal ini: ke bank, ke mobile provider, dan ke customer service bis. Nampaknya memang segalanya tidak beres hari itu. Di mobile provider, komputernya mendadak hang, sampai 2 kali. “Maybe the computer doesn’t like me,” kataku. “No, it’s not personal,” si CS Turki cakep yang sore-sore kok masih seger itu jadi geli sendiri. Di bank, upaya meregistrasikan username dan password baru juga gagal, karena komputernya juga ikut-ikut hang. Sampai akhirnya CS-nya bilang dia akan melakukannya nanti sorean lagi, dan dia akan menelpon diriku begitu sudah berhasil.

Dan apa kata customer service bis? Saat ini tidak ada henpon ditemukan. “Tapi coba kamu hubungi pusat di Nieuwegein”, lalu diriku diberi nomor telpon.

Sampai di kos, aku telpon pusat di Nieuwegein. Sebentar, kata si mbaknya, saya cek dulu di database. Wow. Ternyata tidak ada. Diriku diminta menelpon lagi besoknya. The drama continues….

Habis itu, diriku sibuk mencoba menggunakan hape pinjaman, tapi ternyata sulit juga ya menggunakan hape merk berbeda yang belum pernah digunakan sebelumnya. Saat hampir putus asa menemukan bagaimana menyalakan mobile datanya (sambil browsing caranya di internet), masuk telpon ke hape tersebut. Nomor tidak dikenal. Oh, pasti dari bank, pikirku.

Kuangkat.

Kurang lebih seingatku percakapannya seperti berikut ini.

Terdengar: “Hallo, this is the receptionist. Is this ****?”

Hah? Resepsionis? Resepsionis bank? Tapi suaranya berasa aku kenal.

“Yes, I am.”

“Okey, would you please come down to the lobby?” Ummmm….. diriku berasa mimpi. Lobi? Di kosan?

Sesudah loading beberapa saat, diriku mendadak ingat itu suara siapa. Resepsionis David de Wiedgebouw! Diriku kenal sekali suaranya dan kayaknya semua resepsionis David de Wied itu hapal denganku deh, karena tiap hari pinjam kunci ruangan P3K buat shalat. Dan untuk pinjam kunci, kita mesti mengisi sebuah logbook dengan nama dan nomor telpon kita. So, that’s how he knows my phone number.

“Oh, I am sorry, I am not in the office right now, I am already home.”

“Okey, there is a present for you here. Someone wants to talk to you.”

*terdengar percakapan di latar belakang dalam bahasa Belanda*

“Hi, I am Michael, from the bus company. Did you lost something?”

!!!!!!

“Yes, I did. A cellphone. I think I dropped it somewhere on the bus last Saturday.”

“I have it here with me. What do you want me to do? Would you come here to the building? Do you live nearby?”

!!!!!!!

“What? Ow my God! How did you find it?”

“It was quite a strange story. A lady, a foreigner, came to me on Sunday and said that she found it sometime ago, but she did not have time then, and she forgot about it completely until that day. I looked at the phone and there was this message: a name, and the name of this building. I don’t know how to contact you, because there was no phone number. So I searched on the web for your name and the name of this building, and found your email address in uu.nl (note: ini alamat emailku di universitas). I sent you an email that day and gave you my contact number, but you didn’t answer. So today after work, I come here to the building.”

Jadi phone lock berhasil dan pop-up message itu terkirim dengan sukses!

“Ah, yes, I remember that email, but I thought that was a spam. We have received a lot of them lately. So, I just deleted it.”

“No, it’s not. So will you come down here? Where do you live?”

“In ******. That’s quite far from where you are right now.”

“I will go home to Leidsche Rijn anyway, I can drop by.”

Di sini diriku sibuk berterimakasih dan menolak dia membawakan ke rumah, kasihan juga. Jadi akhirnya henpon itu dititipkan ke resepsionis. “Are you sure?” katanya. “Yes, I am completely sure. I know the guy.”

Hooooo, sampai sekarang masih tidak percaya dengan keajaiban ini, dan mendoakan semoga bapak ini dan si mbak-mbak foreigner yang menyerahkan henpon ini selalu diberikan kebahagiaan, keberuntungan dan rezeki yang berlimpah-limpah. Mudahan suatu hari akan sempat ketemu si bapak itu untuk berterimakasih.

Lessons learned:

  • Jangan pernah memprediksi segala hal menyeramkan. Bad wishes come true more often than the good ones. Dan berhati-hatilah setiap tahun genap! :p
  • Disiplin dalam meletakkan barang. Pastikan tidak ada barang yang ketinggalan setiap kali berpindah tempat. Easier said than done, memang. Kalau payung yang pernah saya hilangkan selama ini disusun sambung-menyambung ke atas, mungkin sudah mencapai rumah raksasa di Jack dan Pohon Kacang.
  • Kalau henpon hilang, dirimu harus memilih: percaya pada dunia di luar sana dan berharap henpon ditemukan orang berhati malaikat, atau berprasangka buruk pada dunia dan meyakini bahwa henpon ditemukan orang jahat. Masing-masing pilihan mengarahkan pada langkah preventif yang sama sekali berbeda: pilihan pertama mengharuskan kita memastikan bahwa henpon itu bisa diakses datanya (nama pemilik, nomor atau alamat yang bisa dihubungi), sehingga bisa dengan mudah dikembalikan; pilihan kedua mengharuskan kita memastikan bahwa henpon itu bisa di-lock dari jarak jauh, kalau perlu dihapus seluruh isinya, tapi kemungkinan untuk dikembalikan rendah. Payahnya adalah karena dunia berisi orang berhati malaikat dan orang berhati jahat, kita tidak pernah tahu henpon akan jatuh ke tangan siapa. Dirimu akan memilih yang mana? Henponku beruntung ditemukan oleh orang-orang yang begitu baik sampai menyusahkan diri mengantarkan barangnya ke alamat yang diberikan. I mean, why does he even care?
  • Teknologi henpon dan software berjalan lebih cepat dari yang mampu dimengerti oleh orang gaptek seperti diriku. Persitiwa seperti ini membuatku menemukan bahwa software tertentu memang ampuh. Terutama Android Device Manager dan Android Lost. Mungkin, kalo diriku rajin, diriku akan menceritakan detil teknis yang kulakukan. Plus sebuah to-do checklist kalau dirimu kehilangan henpon.
  • My life motto is still valid: When you wish so hard, as long as it is for a good thing, it will be granted. Jadi, sesudah melakukan segala hal yang bisa dilakukan, waktunya berdoa dengan sangat :) Apa sih yang mustahil di tangan Tuhan? Kata resepsionis David de Wiedgebouw: “you are the luckiest girl, indeed.”

Picture was taken from Sean Nisil’s page.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 29 other followers